
Sesuai janji Sandro dan Yusuf kemarin setelah mendapatkan hadiah motor baru dari pihak sekolah, mereka akan pergi jalan-jalan ke pasar malam bersama saudara-saudaranya. Namun ternyata bukan hanya saudara-saudaranya saja yang ikut, namun teman-teman dari Willy ternyata ingin ikut juga ke pasar malam, Leo, Andri, Nino, dan Ferdi.
Mereka semua sudah berkumpul di mansion Sandra, mereka akan menggunakan sepeda motor dengan saling berboncengan. Sandra dengan Leo, Willy dengan Alin, Sandro dengan Fatah, Yusuf dengan Damar, Andri dengan Nino, sedangkan Ferdi sendiri.
Mereka berangkat mengendarai motor dengan kecepatan rata-rata sambil menikmati hiruk pikuk jalan malam hari di kota Jakarta. Sekitar 30 menit akhirnya mereka sampai di tempat diadakannya pasar malam.
"Ramai banget" gumam Sandra dengan mengedarkan matanya ke sekeliling pasar malam untuk ikut mencari tempat parkir kendaraan mereka.
Setelah mendapat tempat untuk parkir dan memarkirkan kendaraannya dengan aman, mereka segera masuk ke dalam area pasar malam.
"Jangan sampai terpisah" peringat Willy dan diangguki setuju semuanya.
***
"Ayo kita naik itu" tunjuk Alin pada permainan bianglala.
"Kalian aja kita jaga disini" ucap Ferdi dan diangguki oleh Nino, Willy, Leo, dan Andri. Sedangkan Sandra, Sandro, Yusuf, Alin, dan Fatah segera membeli karcis untuk naik bianglala.
Selama sekitar 6 menit mereka menaiki bianglala, akhirnya mereka pindah ke area permainan kora-kora. Awalnya Ferdi, Nino, dan Andri tak ingin ikut main namun mereka dipaksa.
"Ayolah kak Ferdi, kak Nino, kak Andri masa kalian nggak ikut sih. Nggak seru ah" rajuk Alin pada ketiganya yang enggan ikut menaiki kora-kora.
"Apa jangan-jangan kalian takut lagi hahaha" seru Damar setengah teriak membuat beberapa orang disana mengalihkan perhatiannya ke arah mereka.
"Siapa bilang kita takut, kita nggak takut ya. Iya kak Nin, Dri?" tanya Ferdi meminta persetujuan dari kedua temannya.
"Iya kita nggak takut kok" ucap Andri menyetujui apa yang diucapkan temannya itu.
"Kalau begitu ayo naik" ajak Sandra mendorong ketiganya untuk segera naik ke atas kora-kora diikuti yang lainnya.
Saat permainan kora-kora dimulai, peristiwa tak terduga terjadi membuat semua yang ada disana seketika tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Huaaa.... Berhenti woyyy
Gue pengen pipis nih
Duh ngompol nih gue
Berhenti tolong
Huaaa gue terbang
Huekkk... Gue mual njirrr
Jangan tinggi-tinggi aaaaaa
Setelah beberapa menit permainan itu selesai, semua turun tak terkecuali Sandra dan yang lainnya.
"Hahaha kak Ferdi ngompol" seru Alin sambil tertawa terbahak-bahak diikuti Damar dan Sandra sampai memegang perutnya yang terasa sakit karena tak berhenti tertawa. Sedangkan yang ditertawakan hanya menahan malu.
"Liat noh Andri mukanya udah pucet banget" tunjuk Willy pada temannya yang sedari tadi memegang perutnya karena mual.
"Kita istirahat dulu yuk cari minuman anget biar perut kak Andri juga enakan, sekaligus cari toilet biar kak Ferdi bisa bersih-bersih" saran Sandra. dan diangguki semuanya.
Ferdi menuju parkiran untuk mengambil celana gant, untungnya ia membawa ganti yang ditaruh di jok motor karena memang mereka berniat menginap di mansion Willy jadi masing-masing dari mereka membawa perlengkapan ganti. Sedangkan yang lainnya sudah duduk di warung lesehan dengan memesan berbagai cemilan dan minuman hangat.
***
Ferdi telah kembali, mereka berkumpul sambil berbincang-bincang santai.
"Ini kita jadikan nginap di tempat Willy? Kalau pulang ke rumah kayanya kemaleman" tanya Ferdi pada Leo, Nino, dan Andri.
"Iya kalau dibolehin" jawab Andri karena memang sebelumnya mereka belum bicara tentang hal ini pada Sandra, Willy hanya bilang akan ijin dulu dengan Sandra namun sampai sekarang belum ada konfirmasi.
__ADS_1
"Oh iya dek, kakak lupa bilang. Temen-temen kakak mau nginap di mansion boleh kan?" tanya Willy yang merasa disindir oleh teman-temannya.
"Boleh dong kak. Lagian itu rumah kakak juga jadi nggak perlulah ijin dari aku kalau ada teman kakak yang mau nginap atau main ke rumah" jawab Sandra dengan santai.
"Tuh dengar sendirikan udah diijinin" sindir Willy pada teman-temannya yang tengil itu.
"Iya-iya bos"
Ditengah perbincangan seru mereka, ada seorang ibu-ibu yang menggendong anak berusia 3 tahun sedang berlari kecil seperti sedang di kejar orang di hadapan mereka tanpa alas kaki dan memakai pakaian lusuh. Hal itu membuat perhatian mereka disana terpusat ke arah ibu-ibu itu. Sandra yang merasa kasihan pun menghampiri ibu itu dan memberi kode pada Leo untuk membantunya. Seakan paham akan kode dari Sandra, Leo segera menghubungi seseorang untuk melakukan sesuatu.
"Ibu" panggil Sandra dengan sedikit berlari menyusul ibu itu, sedangkan saudara-saudaranya yang lain tetap duduk melihat sesuai perintah Leo. Ibu yang dipanggil itupun menghentikan aksi berlarinya setelah merasa seperti ada yang memanggilnya.
"Ada apa nak? Ibu sedang buru-buru mau ke kantor polisi agar polisi bisa segera menyelamatkan anak ibu yang pertama" ucap ibu itu dengan panik sedangkan anak yang digendongnya masih diam karena tak mengerti.
"Emang anak ibu kenapa? Kantor polisi dari sini lumayan jauh bu kalau hanya dengan berlari" tanya Sandra yang terus mengorek informasi.
"Anak ibu yang pertama mau dijual sama suami saya nak. Ibu bingung mau minta tolong siapa kalau bukan ke polisi, ini saja ibu bisa kabur untuk mencari bantuan" ucap ibu itu semakin panik.
"Sekarang tunjukkan dimana suami dan anak pertama ibu, biar saya dan teman-teman saya bantu bebaskan anak ibu" ajak Sandra.
"Beneran nak? Ya Allah terimakasih" ucap syukur ibu itu lalu menggandeng Sandra untuk ditunjukkan tempat dimana suami dan anak ibu itu berada. Saudara Sandra dan yang lainnya segera mengikuti Sandra dan ibu itu, Leo juga sudah menghubungi anak buahnya agar mengawasi sekitar lokasi setelah mencari semua informasi tentang ibu dan anak itu.
"Kenapa nggak minta tolong ke saudara terdekat atau tetangga dulu bu? Setidaknya bisa mengulur waktu atau mencegah suami ibu" tanya Sandra di tengah-tengah mereka berlari.
"Ibu nggak punya saudara disini karena dulu ibu menikah tanpa persetujuan keluarga ibu, ibaratnya kawin lari nak. Tetangga pada nggak mau tau kalau tentang urusan orang nggak punya kaya saya nak" ucap ibu itu dengan terengah-engah karena dari tadi belum istirahat.
"Lalu kenapa suami ibu ingin menjual anak ibu?" tanya Sandra lagi.
"Kebutuhan nak" jawab ibu itu.
"Itu nak suami dan anak ibu" tunjuk ibu itu pada suaminya yang tengah menarik-narik tangan anaknya namun sang anak memegang erat pintu rumah agar tak bisa dibawa sang ayah.
__ADS_1
Next?