
"Suka di temani duduk sama ulat gatal?" sindir Sandra pada Leo yang tengah menghela nafas lega karena Aurora telah pergi dari hadapannya.
Leo yang mendengar hal itu pun sontak langsung menghadap ke arah Sandra yang berada di sampingnya.
"Mana ada suka sih baby? Aku aja risih gitu ada dia di sini" elak Leo tak terima.
"Coba jelaskan darimana kau mengenal perempuan itu, baby?" tanya Leo. Sandra memang belum memberitahu mengenai kejadian kemarin saat di mall.
"Kemarin aku ketemu dia di mall lebih tepatnya di toko jam. Aku mengambil pesanan jam tangan yang ku buat waktu itu eh sewaktu aku akan mencobakan jam itu ke tangan Rafi ia langsung merebut jam itu. Akhirnya kami berdebat karena dia ingin memiliki jam itu, sampai aku di hadang sama satpam pula dikira pencuri. Sialan bener tuh perempuan" ucap Sandra dengan berapi-api.
Melihat Sandra yang kesal dengan ekspresi yang lucu, Leo hanya geleng-geleng kepala.
"Kecantikanmu bertambah berkali lipat jika kamu sedang kesal seperti ini, baby" ucap Leo setelah Sandra menyelesaikan ceritanya.
"Ish... Gombal" elak Sandra kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Hahaha cieee... cieee... Baru di gombalin gitu aja pipinya udah merah apalagi kalau aku lamar kamu saat ini juga" goda Leo dengan terkekeh pelan.
"Kak Leo..." kesal Sandra.
"Hahaha baiklah. Ini untuk kesayanganku yang lagi kesal, capek, dan cemberut" ucap Leo sembari menyerahkan sebuah coklat pada Sandra.
"Wah... Kakak tahu aja" ucap Sandra dengan berbinar seperti anak kecil yang mendapatkan mainan.
Sandra segera membuka bungkus coklat itu dan memakannya tanpa mempedulikan Leo yang sedari tadi menatapnya.
"Pelan-pelan baby. Nggak ada yang minta kok" ucap Leo sambil membersihkan pipi Sandra yang terkena noda coklat menggunakan tisue.
"Udah yuk... Pulang" ucap Sandra setelah menyelesaikan makan coklatnya.
"Kamu nggak balik ke kantor, baby?" tanya Leo.
"Enggak, pekerjaanku udah selesai. Selebihnya ada kak Erick yang mengurusnya" jawab Sandra.
__ADS_1
"Baiklah" ucap Leo yang kemudian berdiri dan berjalan ke arah kasir untuk membayar pesanannya tadi.
Setelah selesai dengan urusannya, Sandra dan Leo keluar dari cafe beriringan.
"Aku sama kak Leo ya, tadi aku naik taksi ke sini" ucap Sandra saat mereka sudah ada di tempat parkir.
"Iya, ayo" ajak Leo yang segera berjalan ke arah sisi kiri mobil.
"Nggak usah kak, biar aku saja yang membuka pintu mobilnya sendiri" tolak Sandra ketika melihat Leo akan berjalan ke arah pintu mobil sisi sebelah pengemudi dan diangguki oleh Leo.
Sandra berjalan ke arah pintu mobil sebelah kiri yang berada pada tepat di bahu jalan. Kejadian sangat cepat tiba-tiba saja terjadi.
Brummmm...
Brukkk...
Shhtt...
Sandra...
"Sialan... Gagal" gumam seseorang yang ada di dalam mobil mengepalkan tangannya emosi saat melihat targetnya selamat. Kemudian ia segera melajukan pedal gas nya dengan kencang agar tak ada yang bisa mengejarnya.
***
Sandra begitu shock, bahkan kini pandangannya terlihat kosong. Kejadian yang benar-benar tak ia duga, pasalnya saat tadi ia akan membuka pintu mobil ia sudah melihat jalanan yang tak terlalu ramai kendaraan.
"Baby... Hei..." seru Leo seraya memberikan pelukan untuk menenangkan Sandra.
"Sandra..." panggil Leo dengan sedikit menggoyangkan kedua bahu Sandra agar Sandra kembali dari dunianya.
"Eh..." Sandra akhirnya sadar, namun ia masih linglung seperti orang yang tak tahu apa-apa.
"Kamu membuatku panik, baby" ucap Leo khawatir.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja kak" ucap Sandra menenangkan Leo.
"Orang yang tadi menolongku dimana kak?" tanyanya kemudian melihat di sekitarnya masih ada beberapa kerumunan orang di satu titik di dekat mobil Leo.
Tanpa mendengar jawaban Leo, Sandra melangkahkan kakinya ke arah kerumunan itu diikuti oleh Leo di belakangnya.
"Maaf permisi" ucap Sandra dengan sopan membelah kerumunan itu. Akhirnya kerumunan itu sedikit mereda untuk memberi jalan pada Sandra yang berjalan sedikit tertatih.
"Nenek tidak apa-apa?" tanya Sandra pada saat melihat seorang nenek-nenek dengan pakaian lusuhnya di sertai karung di sebelahnya terduduk di bahu jalan dekat mobil Leo.
"Tidak apa nak. Lain kali hati-hati ya" pesan nenek itu pada Sandra.
"Terimakasih nek, sudah menyelamatkan Sandra. Tapi nenek harus ikut Sandra ke rumah sakit agar bisa di periksa kondisinya secara keseluruhan" ucap Sandra yang langsung membantu nenek itu berdiri di bantu oleh beberapa orang disana tanpa mendengar jawaban nenek itu.
"Makasih pak, bu, kak. Sudah menolong kami" ucap Sandra berterimakasih pada orang-orang disana dengan sedikit membungkukkan kepalanya setelah mereka semua memasukkan nenek itu di mobil milik Leo.
"Sama-sama. Oh ya pemilik mobil yang akan menyerempet nona tadi tak berhasil kami kejar karena pengemudinya melajukan mobilnya dengan kencang" ucap salah satu orang disana.
"Tak apa pak, biar nanti kami yang mengurusnya di belakang. Kalau begitu kami permisi" ucap Sandra kemudian masuk ke dalam mobil milik Leo. Leo sudah masuk ke dalam mobil setelah nenek itu di bantu Sandra dan beberapa orang disana untuk masuk ke mobilnya.
***
"Nenek nggak apa-apa nak, lebih baik bawa nenek pulang ke rumah saja. Lagipula nenek nggak ada biaya kalau periksa di rumah sakit, ini juga hanya keseleo sedikit kok" tolak nenek itu untuk di bawa ke rumah sakit.
"Nanti biar nenek pijat pakai minyak angin saja nak, ini juga cucu saya takutnya nunggu lama di rumah kalau saya di bawa ke rumah sakit" lanjutnya.
"Mau hanya keseleo itu juga berbahaya nek, harus di periksa takutnya nanti membengkak dan ada keretakan bagian tulang gimana? Untuk biaya nenek nggak usah pikirin, Sandra yang akan membiayainya sebagai ucapan terimakasih karena telah menolong Sandra" tanya Sandra memberi pengertian.
"Tapi cucu nenek nanti kelamaan sendirian di rumah, jadi lebih baik bawa nenek pulang saja ya" ucap nenek itu memohon.
"Ah... Gini aja, kita pulang ke rumah nenek untuk jemput cucu nenek. Kemudian nenek kami bawa ke rumah sakit" saran Leo.
"Nah bener kata kak Leo" setuju Sandra dan diangguki pasrah oleh nenek itu.
__ADS_1
"Nama nenek siapa?" tanya Sandra.
"Nenek..."