SECRET OF SANDRA

SECRET OF SANDRA
Kenyataan


__ADS_3

Pesawat yang di naiki oleh Leo, Sandra, dan Rafi telah tiba di Bandara tujuan. Saat ini mereka bertiga tengah berada di mobil yang di kemudikan oleh anak buah Leo yang tadi datang menjemput ketiganya. Mereka bertiga menuju rumah sakit setempat karena informasi yang telah di dapat bahwa korban yang berada di dalam mobil yang mengalami kecelakaan sudah di bawa ke rumah sakit, tentunya informasi di dapat dari anak buah Leo dan Sandra.


Setelah sampai di rumah sakit yang dituju, ketiganya segera masuk ke dalam rumah sakit. Terlihat dari raut wajah Sandra dan Rafi yang sangat khawatir, sedangkan Leo sendiri hanya menampilkan wajah datarnya namun ada sedikit pancaran khawatir di sana. Tanpa bertanya, mereka bertiga menuju ruangan yang sedang dijaga ketat oleh anak buah Leo dan kepolisian setempat.


"Maaf kalian tidak bisa masuk karena dokter sedang melakukan tindakan pada pasien" Ucap salah satu polisi menghalangi.


"Dan ada hubungan apa anda dengan pasien korban kecelakaan di dalam?" lanjutnya. Sedangkan anak buah Leo sudah menunduk hormat melihat kedatangan bos nya.


"Saya anak dari pemilik mobil yang mengalami kecelakaan" ucap Rafi dengan lirih namun masih bisa terdengar oleh semuanya.


"Baiklah jika anda keluarganya, silahkan duduk dulu di situ, menunggu sampai korban selesai ditangani oleh dokter" ucap polisi itu seraya menunjuk ke arah tempat duduk tunggu.


Tanpa menjawab, ketiganya duduk di kursi tunggu seraya sedikit memejamkan mata untuk menghalau rasa lelah dan khawatir yang mereka rasakan.


***


Tak berselang lama, ruang IGD terbuka menampilkan beberapa perawat dan dokter yang keluar dengan peluh keringat yang bercucuran.


"Bagaimana keadaan papa saya dok?" tanya Rafi tergesa-gesa setelah melihat pintu ruangan terbuka.


Dokter hanya menatap mata Rafi dalam seraya mengembuskan nafasnya pelan.

__ADS_1


"Mohon maaf, kami sudah melakukan yang terbaik. Namun pasien tidak dapat bertahan karena banyaknya luka bakar di tubuhnya, bahkan hampir 90% wajahnya tak bisa dikenali. Serta ada pendarahan di otaknya yang sangat sulit kami hentikan akibat benturan saat kecelakaan terjadi. Jadi kami simpulkan bahwa korban kecelakaan tersebut telah menghadap Tuhan" ucap dokter dengan rasa bersalah yang teramat apalagi melihat Rafi yang mematung dengan tatapan kosongnya.


"Nggak... Nggak mungkin... Itu pasti bukan Papa, coba cek DNA antara papa dan Rafi. Siapa tahu korban itu bukan Papa Luis, bukankah tadi anda bilang kalau wajahnya tak bisa di kenali. Ya walaupun kemungkinannya kecil karena mobil yang dikendarai itu memang milik papa kami, tapi apa salahnya kita mengecek kebenarannya" ucap Sandra tak percaya.


"Iya, aku juga yakin itu bukan papa ku. Coba cek kecocokanku dengan orang itu" ucap Rafi menimpali permintaan Sandra sambil mata menatap dokter dengan tatapan permohonan setelah sadar dari keterpakuannya.


Terlihat dari binar mata Rafi, ia masih berharap bahwa yang di dalam bukan papa nya.


"Bagaimana pak?" tanya dokter pada pihak kepolisian. Mau bagaimanapun juga dokter harus melakukan semuanya atas persetujuan dari kepolisian.


"Lakukan saja, kita juga harus memastikan bahwa orang di dalam apakah sama dengan identitas yang kita temukan" titah salah satu polisi menyetujui usulan itu.


"Baik. Siapkan semua peralatan dan perlengkapan untuk identifikasi jenazah" titah dokter itu pada beberapa perawat yang ada disana.


"Semoga saja itu bukan papa ya kak" ucap Sandra lirih.


"Aku nggak bisa bayangin kalau itu beneran papa. Orang yang paling berjasa dalam kesuksesanku, bahkan ia juga memberikanku kasih sayang seorang ayah yang sudah lama tak ku dapatkan tanpa membedakan kalau aku bukan anak kandungnya akan pergi meninggalkanku di sini tanpa pamit. Aku juga nggak bisa bayangin gimana hancurnya Rafi harus menerima kenyataan itu hiks..." lanjutnya sambil menangis di pelukan Leo.


"Kita berdo'a saja yang terbaik untuk semuanya. Seandainya itu benar Papa Luis, kita hanya bisa mendo'akannya dan tabah menghadapi semua. Dan tentu kita akan usut tuntas kecelakaan ini" ucap Leo sambil membalas pelukan Sandra.


"Apa kak Leo tahu sesuatu mengenai kecelakaan ini?" tanya Sandra heran dengan ucapan Leo yang seakan-akan mengetahui bahwa kecelakaan ini di sengaja.

__ADS_1


"Ya, kamu tahu aku kan baby. Aku nggak akan diam saja menunggu hasil penyelidikan kepolisian dan percaya begitu saja dengan kata seseorang. Jelas aku sudah menyelidiki semuanya" ucap Leo dengan tegas.


"Jadi? Kecelakaan ini di sengaja atau memang murni kecelakaan?" tanya Sandra penasaran.


"Di sengaja, baby. Jangan bahas hal ini disini, takutnya ada yang mendengar pembicaraan kita" ucap Leo dengan pelan dan diangguki oleh Sandra. Sandra percaya Leo tak mungkin memberikan informasi yang salah.


***


Satu jam menunggu, akhirnya Rafi keluar dari ruang pemeriksaan dengan tubuh yang sedikit lemah. Dengan sigap, Leo berdiri dan memapah tubuh Rafi untuk duduk dan memberikannya makanan.


"Kak, aku takut" ucap Rafi lirih.


"Kamu nggak perlu takut, apapun yang terjadi kakak dan yang lainnya akan selalu ada di samping kamu" ucap Leo sambil mengusap punggung rapuh Rafi.


"Benar kata kak Leo, kami ada disini. Nggak akan pernah ninggalin kamu sendirian" ucap Sandra menenangkan.


Mereka bertiga berpelukan untuk saling menguatkan apapun yang akan terjadi ke depannya.


***


Tibalah saatnya hasil dari identifikasi jenazah di beritahukan kepada polisi. Dokter keluar dengan raut muka yang sulit diartikan. Sandra, Leo, dan Rafi saling berpegangan tangan erat.

__ADS_1


"Silahkan dok" ucap salah satu polisi menginstruksikan untuk segera di bacakan hasilnya.


"Sesuai dengan hasil pemeriksaan, menyatakan bahwa..."


__ADS_2