
Suasana sore hari sangat enak untuk di nikmatti setiap orang apalagi pasangan yang sedang kasamara.
Waktu waktu seperti ini akan mereka manfaatkan untuk bisa memadu kasih mengahabiskan wakti bersama mengukir kenangan indah untuk dikenang.
Tapi berbeda dengan gadis cantik yang berseragam pegai Negeri Sipil yang datang hanya sendirian melepas rindunya.
Nara, kembali lagi datang di danau ini, danau tempat yang dia habiskan untuk bersama Reyhan sebelum perpisahan mereka, sebelum jarak membuat mereka tidak sekalipun bertemu.
"Ini kali kedua aku datang ke tempat ini Rey dan tetap aku datang sendiri, padahal kamu tau waktu itu? aku sudah berjanji hanya akan datang kembali jika sudah bersama denganmu, tapi rindu ini tidak bisa mencegah ku untuk tidak datang kemari karena aku sangat merindukanmu" batin Nara.
Entah kenapa perasaan dan harapan Nara terlalu besar pada Reyhan, dia terlalu mendambakan Reyhan, terlalu mengharapkan lelaki itu menjadi masa depannya dan hidup bersama dengannya.
Tidak tau apa yang dia cari dari pria itu padahal ada banyak pria diluar sana yang menanti dan ingin menjadi bagian dari hidup Nara termasuk Dilon yang hingga kini masih menunggunya.
Tapi tidak sekalipun Nara berniat untuk menduakan Reyhan, karen baginya Reyhan adalah dewa cintanya, dewa yang tidak pernah memberi luka sedikitpun padanya walau hanya sekedar bentakan.
Baginya Reyhan tidak ada duanya dan tidak ada yang menyamai Reyhan dalam memperlakukannya, tanpa tau kalau akan ada luka yang paling mendalam dia dapatkan dari cinta yang dia perjuangkan.
"Rey, aku harap tahun ini kamu bisa pulang sayang, menepati janjimu dan menikahiku, walau nanti Ayah tidak setuju maka aku siap jika harus meninggalkan mereka demi bersama cintaku"
Entah kenapa alam ikut merasakan hati Nara, untuk kedua kalinya dia datang sendiri dan hujan kembali turun membasahi bumi, membasahi Nara yang ada di bumi.
"Hujan pun merasakan apa yang aku rasakan Rey, dia datang untuk meredamkan rindu yang sudah meluap ingin di obati"
Dari kejauhan seorang pria tampan berada dalam mobilnya, sedang menatap tanpa berpaling ke arah Nara.
Tidak sekalipun matanya berapaling, sejak awal Nara datang hingga kini hujan mengguyur bumi tidak teralihkan pandangan itu.
"Kenapa dia suka sekali bermain hujan? bagaimana kalau dia sakit" gumamnya bercampur rasa khawatir.
Lagi lagi orang yang menjadi bawahannya sangat terkejut mendengar gumaman tuannya, ia mengerdarkan pandangannya dan mengarah pada arah yang sama dengan atasannya.
"Bukankah dia wanita satu tahun yang lalu? ya, dia wanita itu! apa tuan Rajesh menyukai wanita itu" batinnya.
Rajesh Fernandes pria tampan dan seorang pengusaha yang terkenal sangat dingin dan tidak tersentu oleh wanita kecuali ibu dan mendiang adiknya, tidak pernah jatuh cinta lada wanita manapun.
Tapi satu tahun yang lalu seorang wanita pegawai negeri sipil mampu membutanya tertarik hingga kini.
"Tuan, apa tuan ingin aku menghampiri gadis itu?" tanyanya.
Pria itu tidak mengalihkan pandangannya tapi dia menjawab "tidak perlu!" jawabnya singkat.
__ADS_1
"Apa apaan Tuan ini? bukankah dia menyukai gadis itu?" batinnya.
"Apa Tuan menyukainya?"
Rajesh terkekeh mendengar pertanyaan asistennya, apa begitu terlihat kalau dia tertarik pada gadis itu.
"Apa begitu terlihat Leo Rendra?"
Leo Rendra asisten sekaligus orang kepercayan Rajesh Fernandes sejak awal dirintisnya perusahaan sedari nol hingga sukses sekarang ini.
"Maafkan saya Tuan muda" ucap Leo.
"Tidak, saya bertanya apa begitu terlihat.
"Tentu saja jelas terlihat Tuan, karena ini baru pertama kalinya anda mengabaikan rapat dan membiran yang milyaran rupian terbang dan hangus hanya untuk menatap seorang wanita pegawai pemerintahan" batin Leo.
"Kenapa kau diam Leo!" sentak Rajesh.
"Maaf Tuan muda, tapi cara anda membuat saya yakin jika anda menyukainya, karena anda rela mengabaikan rapat penting kita" jawab Leo dengan hati hati.
"Iya kau benar sekali!" jawab Rajesh yang kini susah kembali pada posisi lurus menghadap ke depan.
"Jalan!" titah Rajesh.
***
Di belahan dunia lain seseorang sedang termenung memikirkan nasib cintanya akan seperti apa, bekali kali menghela napasnya dengan berat.
Masih teringat jelas di pikirannya apa yang terjadi kemarin dan hari ini.
Flashback...
Dalam ruang tepatnya di ruangan Presdir perusahan Abraham, dua orang saling berhadapan antara pimpinan dan bawahan, mereka adalah Abraham dan Reyhan Leondra.
"Bagaiman Rey? apa kau akan pindah kerja?" tanya Abraham setelah lama terdiam.
"Jadi tuan, ada orang yang harus aku temui yang sudab menungguku" jawab Reyhan dengan tegas.
"Sayang sekali padahal saya masih membutuhkan dirimu disini" ucap Abraha dengan raut yang sedikit kecewa.
"Maafkan saya tuan"
__ADS_1
"Baiklah, kebetulan saya punya cabang perusahan disana, dan jabatan Direktur sangat dibutuhkan! aku ingin kau mengisinya tapi ada satu hal yang harus kau lakukan untukku" ucap Abraham dengan tegas.
"Apa yang bisa saya lakukan tuan?"
"Menikahlah dengan Cleora!" jawab Abraham dengan tegas.
"Jangan bergurau tuan, mana mungkin anda mengajukan syarat seperti itu? itu sama saja anda mau mengahancurkan hubunganku dengan kekasihku" ucap Reyhan tidak terima.
"Apa kau pikir jika hanya menjadi Manager disana, calon mertuamu akan menerima dirimu! aku tau siapa keluarga kekasihmu dan aku juga tau apa alasan mereka menolakmu!" ucap Abraham denga senyum mengejek.
Reyhan terdiam mendengar perkataan Abraham karena memang benar adanya jika penghalang hubungan mereka hingga kini adalah derajat sosial.
"Ku beri waktu dua hari untuk kau pikirkan! tapi ingat pikirkan baik baik jangan gegabah dan utamakan logika dan pandangan umum!" ucap Abraham kemudian melesat pergi meninggalakn Reyhan yang masih bergelut dengan pikirannya.
Flashback off...
Reyhan kembali mendesah mengusap wajahnya dengan kasar, di sisi lain dia sangat mencintai Nara tapi di sisi lain juga dia butuh kemapanan dan ketenaran nama serta kekayaan untuk bisa menjadikan Nara miliknya.
Menjadi seseorang yang pantas dan setara dengan keluarga Anan Sakher yang kekayaanya tidak perlu diragukan lagi, setidaknya menjadi direktur sebuah perusahaan yang hampir menyamai kekayaan Anan Sakher bisa membuat dirinya di terima.
Flashback...
Reyhan duduk di sebuah kafe menunggu seseorang yang tak lain adalah wanita yang akan harus dia nikahi agar bisa mendapatkan jabatan sebagai penimpin perusahaan.
"Maaf aku terlambat, baru pulang kuliah soalnya" ucap gadis yang tak lain adalah Cleora.
"Katakan! kenapa kau menggunakan kekuasaan Ayahmu untuk menjeratku!" ucap Reyhan dengan sura dinginnya dan tatapan yang nyalang ke arah Cleora.
"Aku tidak tau! jadi jangan tanyakan itu padaku" ucao Cleora yang tidak takut dengan tatap Reyhan.
"Jangan bohong kamu!" bentak Reyhan, "AKu tau kau menyukaiku dan kau memanfaatkan kekuasaan Ayahmu agar bida menjeratku kan!"
"Hahaha senior, semua ada padamu pilihannya, tapi mari ku permudah untukmu, kita menikah dan kau dapatkan jabatanmu, setelah enam bulan kita bisa bercerai dan aku pastikan jika kamu tidak akan kehilangan pekerjaanmu" ucap Cleora yang kini menatap tajam pada Reyhan dan wajahnya mendadak dingin.
"Pikirkan lagi senior, saya tidak akan memberi penawaran kedua kali, gunakan kesempatan yang baik ini, hanya enam bulan kok" ucap Cleora kemudian berlalu begitu saja.
Flashback Off...
.
Bersambung...
__ADS_1