STORY OF NARA

STORY OF NARA
Part 3


__ADS_3

Dua bulan sejak hari ulang tahun Nara berakhir dan kini sudah tiba Reyhan untuk berangkat ke Spanyol untuk melanjutkan studi S2 nya sesuai perkataanya pada Nara dua bulan yang lalu kalau ini akan menjadi awal dia menuju kesuksesan dan akan bisa memantaskan diri pada keluarga Sakher.


"Aku pergi sayang" ucap Reyhan.


Saat ini mereka sudah berada di Bandara dan Nara mengantar kepergiannya "Hati hati dan kau jaga diri disana" ucap Nara.


"Tentu dan kau juga jaga diri dan yang paling penting adalah hatimu agar hanya tertuju padaku" ucap Reyhan dan langsung menarik Nara dalam pelukannya.


Mereka berpelukan dengan erat, menyalurkan rasa cinta dan kehangatan, saling menguatkan dan meyakinkan kalau keadaan ini pasti akan mereka lalui san pasti akan berakhir dengan buah yang manis.


Pelukan terlepas saat istruksi keberangakatn dengan tujuan Spanyol akan segera lepas landas, dan mau tak mau kedua pasangan yang sebenarnya berat berpisah itu akhirnya harus terpisah.


"Pergilah, pesawatmu mau berangkat" ucap Nara berusaha untuk tersenyum.


"Iya, aku akan pergi dan kau jagalah dirimu dengan baik. Tunggu aku pulang sayang"


Reyhan memeluk kembali tubuh mungil kekasihnya dan kemudian mengecup kening Nara dengan lembut dan hangat.


Nara kembali setelah pesawat yang membawa Reyhan sudah mendarat bebas di atas awan, sekatika air matanya luruh begitu saja tidak dapat lagi membendung sakit dan sedihnya.


"Semoga kamu biaa mencapai apa yang kamu inginkan sayang, agar kita bisa secepatnya bersatu" lirih Nara.


Keesokan harinya, Nara sedang bersiap, hari ini dia akan mengikuti seleksi CPNS yang di adalan setiap harinya, dengan penuh semangat dan optimis yang kuat dia berangkat menggunakan taxi online yang suda di pesan.


"Semangat Nara, kamu pasti bisa" ucap Nara menyemangati dirinya sendiri.


"Hallo Ibu"


Nara masih sempat menerima telpon dari Ibunya walau dia memutuskan pergi tapi bukan berarti mereka tidak berkomunikasi, hanya Ayah saja yang tidak mau karean gengsinya yang masih tinggi.


"Apa kau akan ikut seleksi hari ini sayang?"


"Iya Ibu, doakan anakmu ini agar bisa berhasil dan lewat dalam selekasinya"


"Tentu sayang, Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk anak anak Ibu" jawab ibu dengan tulus.


"Bailah Ibu, aku harus masuk" ucap Nara yang merasa hampir terlambat.


"Baiklah sayang, hati hati"

__ADS_1


Panggilan terputus digantikan dengan pesan masuk dari orang terkasih pesan singkat yang menyemangati Nara "Selamat berjuang sayqng, doa terbaik selalu bersamamu" isi pesan.


Nara mengukir senyum di bibirnya, saat mendapati pesan itu, dia tidak menyangka jika Reyhan akan mengirimkan pesan untuknya, padahal jika di lihat dari segi waktu maka ini masih malam di tempat Reyhan.


"Pasti! terimakasih sayang" balas Nara.


Nara segera masuk dalam ruang yang sudah di sediakan untul para peserta selekasi CPNS, semua berjalan dengan diam, semua fokus pada komputer yang menyala di hadapan masing masing, mengotak atik isinya.


Satu setengah jam kemudian, sesi ujian selesai dan hasil langsung keluar karena penilan yang secara otomatis terhitung dan pemberitahuan seketika keluar untuk menyatakan lulus tidaknya para peserta CPNS.


Kebahgiaan tidak terkira terukir di wajah Naraz saat namanya terpampang nyata dilayar komputernya, dinyatakan lulus sebagain peserta CPNS.


Kegiranganya semakin tak terkira saat matanya membaca tempat dia akan mengabdi, salah satu sekolah ternama yang teekenal di kotanya, sekolah yang sedari dulu menjadi cita cita Nra untuk mengabdi.


Tanpa pikir lagi Nara segera menghubungi orang tuanya dan mengatakan keberhasilannya, Ibu yang mendengarnya pun tidak kalah bahagianya bahkan Ayah yang masih gengsi pun ikut bahagian, tidak bisa di pungkiri jika dia juga bahagia dan bangga dengan kepintaran putrinya.


"Selamat sayang, akhirnya kamu berhasil mencapai keinginanmu" ucap Ibu.


"Terimakasih Ibu" ucap Nara "bagaiman kabar Ayah Bu?" tanya Nara lirih.


"Ayahmi baik dan dia juga senang mendengar kamu berhasil" tutur Ibu.


"Ayah juga merindukan dirimu, jadi jangan sedih sayang dan jalani hidupmu dan nikmati aktifitas baru nanti" ucap Ibu dengan lembut.


"Baikalh Bu, aku tutup telponnya aku harus kembali ke apartement"


Panggilan terputus dan kembali mendial nomor seseorang yang tak lain adalah Reyhan, Nara yakin jika Reyhan bisa menerima panggilan darinya.


"Hallo sayang" panggilan dari sebrang sana begitu lembut terdengar di gendang telinga Nara, dia sangat merindukan pria itu.


"Sayang aku lulus" pekik Nara.


"Selamat untukmu sayang" ucap Reyhan tulus.


Mereka terlibat obrolan hangat beberapa saat untuk melepaskan rindu yang beberapa hari tidak bertemu, hingga setelah berakhir Nara memutuskan untuk kembali ke apartement mempersiapkan ssemua berkas yang di gunakan dalam pekerajaan barunya.


Nara sudah tiba tapi dia sangat terkejut mendapati Ayah dan Ibunya yang sudah ada di dalam aparetmentnya di susul Lionel yang baru juga kembali dari kantor.


"Ayah,Ibu"

__ADS_1


Nara berlari masuk dalam pelukan Ayahnya saay tangan pria paru baya itu di rentangkan untuk meminta dirinya masuk menyambut pelukan itu.


"Ayah,,"


Nara menangis dalam pelukan Ayahnya sesangkan Anan mengelus lembut rambut putrinya dan sesekali menciumnya pucuk kepala Nara dengan lembut.


"Ayah maafkan Nara" ucap Nara menangis dalam pelukan Anan.


Anan melerai pelukannya, menghapus air mata Nara dan berkata "jangan menangis, Ayah tidak bisa melihat putri Ayah menangis" ucap Anan.


"Maafkan Nara Ayah, Nara sudah menyakiti hati Ayah yang sudah mencintai dan menyayangiku dengan tulus"


"Putri ayah tidak pernah menyakti Ayah, justru Ayang ingin meminta maaf karena terlalu naif akan cinta dan masa depanmu nak" ucap Anan.


"Tidak ayah, ayah tidak permah bersalah, ayah melakukan itu untuk kebaikanku, tapi justru aku yang membantah pada Ayah"


"Sttt, tidak ada yang minta maaf lagi" ucap Ayah "dan selamat karena sudah mencapai keinginanmu menjadi seorang PNS sesuai dengan angan anganmu"


"Apa adikku ini hanya akan memeluk Ayah, dan kakak akan dilupakan!" ketus Lioenal yang mengundang gelak tawa ketiganya.


"Kakak... aku merindukanmu" ucap Nara memeluk tubuh Lionel yang langsung di sambut baik oleh Lionel.


"Kakak juga merindukanmu adik kecil kakak yang sangat bawel tapi menggaskan" ucap Lionel.


"Ck, kakak selalu saja mengataiku adik kecil!" ketus Nara.


"Memang kau masih kecil" jawab Lionel acuh yang langsung mendapat pukulan pedas dari Nara.


"Awww kau masih saja berbuat sesukamu ya!" sentak Lionel.


"Kan aku masih kecil" jawab Lili mengulang perkataan Lionel.


Mereka tertawa mendengar perkataan Nara dan wajah Lionel yang telihat masam karena berhasil di bungkam oleh perkataanya sendiri.


"Sudah, lebih baik kita makan dulu, Ibu sudah memasak makanan kesuakaanmu"


Mereka semua mengikuti perkataan Ibu, menuju meja makan untuk merayakan kaeberhasilan Nara menjadi seorang PNS serata berbaiknua hubungan Ayah dan Anak yang sempat merenggang itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2