
Kompak Nara menengadahkan wajahnya dari yang tadinya terpusat pada Radith, tapi wanita cantik itu harus melihat bergantian melihat siapa gerangan yang memanggil dirinya mengingat pendengarannya menangkap suara dari dua arah.
Wanita cantik itu lebih dulu melihat ke arah suara yang memanggilnya sayang karena dia sudah yakin jika itu adalah suaminya, dan benar saja Nara memberikan senyum manis karena tebakannya benar jika itu adalah suaminya, lalu kembali wanita itu beralih melihat ke arah yang berbeda memastikan siapa orang lain memanggil dirinya tetapi wajahnya mendadak pucat tubuhnya menjadi kaku kala matanya menangkap objek yang ada di tempat tidak jauh dari tempat dia duduk.
"Reyhan" batin Nara.
Rajesh yang melihat istrinya terpaku menatap kearah lain menjadi ikut melihat tepar di mana istri yang menatap, tidak jauh berbeda dengan Nara, dia juga terpaku tubuhnya membeku atau lebih tepatnya begitu terkejut melihat siapa yang sudah berani mendekati istrinya.
"Reyhan" batin Rajehs.
Tangannya terkepal kuat melihat Reyhan berani ingin mendekati istrinya, hal yang tadinya dia takutkan kini terjadi dan itu tidak memakan waktu lama karena kenyataanya kini Reyhan sudah mulai terang terangan ingin mendekati istrinya.
Reyhan sendiri memasang wajah biasa saja, tidak ada rasa takut sama sekali melihat amarah yang tertahan dari suami wanita yang dia cintai, justru dengan ringannya melukiskan senyum indah untuk Nara.
Dengan santainya Reyhan mendekati Nara, wanita yang sangat dia rindukan dan itu terlihat jelas dari sorot matanya yang saat menatap Nara membuat pria yang berstatus suami itu meradang, dan dengan gerakan cepat Rajesh sudah berada disamping Nara dan merangkul pinggang wanita itu dengan erat seolah menunjukan jika dialah pemiliknya.
Reyhan hanya berdecak sebal melihat tingkah laku rivalnya tapi sebisa mungkin untuk menahan amarahnya agar tidak membuat Nara semakin tidak menyukai kehadirannya.
Radith yang melihat ketiga orang dewasa itu, dan bagaimana gerak gerik mereka membuat anak kecil itu paham jika ada ketegangan dalam situasi ini dan dia hanya akan menontonnya saja saat ini.
"Kita bertemu lagi Nara" sapa Reyhan dengan senyum manisnya membuat Nara kembali menegang ditempatnya dan Rajesh menyadari perubahan tubuh istrinya.
"Sayang ...." panggilan Rajesh membuat Nara tertari kembali pada kesadarannya, dengan cepat beralih menatap Rajesh dan tersenyum dengan manis pada suaminya.
"Ya, kita bertemu...dengan bertemu kembali dengamu" kata Nara, wanita itu berusaha untuk menenangkan deguban jantungnya, bukan degupan jantung karena jatuh cinta tapi lebih pada dia yang merasa takut jika ada keributan nanti, apalagi sebelumnya mereka berdua sudah bertemu dan itu dihari yang sama.
__ADS_1
"Sungguh kau senang bertemu denganku? bukankah tadi pagi kau tidak mau bertemu denganku?" Reyhan menyunggingkan senyum liciknya, ia melirik kearah Rajehs dengan ekor matanya dan dia bisa melihat jika pria itu sedang menahan amarahnya.
Sementara Nara kembali memucat mendengar pertanyaan Reyhan yang sepertinya sengaja mengatakan hal itu agar Rajesh mengetahuinya dan memang itulah yang sedang dilakukan Reyhan saat ini.
"Ya, kamu memang benar, tadi aku tidak ingin bertemu denganmu karena aku tidak bersama keluargaku, karena aku tidak ingin menyakiti perasaan orang yang aku cintai tapi sekarang karena mereka sudah ada, maka aku tidak mempermasalahkannya, toh suami dan anakku tau jika aku tidak dengan sengaja bertemu denganmu" jelas Nara.
Wanita yang bergelar sebagai seorang istri itu berusaha bicara tentang dihadapan Reyhan, karena dia tidak ingin suaminya salah paham apalagi jika sampai marah karena pertemuan ini.
Rajehs sendiri yang mendengar penuturan suaminya kini tersenyum senang, dia sangat bahagia mendengar pernyataan istrinya dan dia tidak akan ragu lagi dengan Nara, tapi walau demikian Rajesh akan tetap menjaga Nara dari jangkauan Reyhan.
Reyhan tertawa kecil mendengar jawaban dari Nara, matanya kembali menatap Rajesh dan dia melihat wajah yang tadinya menahan amarah itu berganti kini teesenyum dan menatap penuh kekaguman pada Nara membuat Reyhan mengumpat dalam hati.
"Sial...! dia benar benar ingin menunjukan kalau dia pemilik dari Nara, heh..! jangan kira aku akan menyerah dengan hal itu, aku akan tetap mendapatkan Nara dengan caraku" tekat Reyhan.
"Bagaimana kabarmu Tuan Muda Rajesh" Reyhan kini berbasa basi dengan Rajehs dan itu sudah terlihat dengan jelas sikapnya.
Dan benar saja, Nara menegakkan kepalanya mendengar perkataan suaminya, lalu berganti menatap Reyhan sejenak lalu beralih lagi pada suaminya, dia tidak menyangka jika pria yang dulu menjadi bagian dari kenangnya itu sudah sukses bahakn sudah memiliki perusahaan.
"Dia punya perusahaan Mas?" tanya Nara.
"Iya sayang, tapi masih perusahaan dibawah perusahaan Mas, ya....walaupun dia masuk dalam jajaran sepuluh besar perusahaan terbesar" jelas Rajesh dengan santainya sedangkan Nara membulatkan matanya tidak percaya hanya dalam waktu tiga tahun sudah sepesat itu perusahaan Reyhan.
"Selamat untukmu Rey, semoga kamu semakin sukses" ucap Nara dengan penuh ketulusan, "ayo Mas, kita makan siang dulu kasian Radith sudah kepalaran" lanjut Nara.
"Ohh iya sayang, Maaf ya Tuan Reyhan, kami tidak bisa berlama lama karena kami harus makan siang sekeluarga" ucap Rajehs sengaja memanasi hati Reyhan dan benar saja Reyhan Sangat marah mendengarnya, tangannya terkepal kuat menahan amarahnya.
__ADS_1
Nara suaminya hendak berbalik untuk duduk tapi perkataan Reyhan sukses membuat niat keduanya terhenti.
"Tidakkah kau bertanya alasanku berusaha hingga sejauh ini Nara?" Nara terdiam, mencoba mencerna pertanyaan Reyhan, tapi dia tetap bersikap biasa saja.
"Saya tidak tau dan jujur saya tidak ingin tau" jawab Nara dengan tegas.
"Tapi ini semua aku lakukan untukmu Nara, untuk memantaskan diriku dengan keluargamu, menjadi sama derajatnya dengan kekuargamu dari hasil usahaku sendiri" ungkap Reyhan.
Rajehs tersenyum tipis, dia sudah menduga akan hal ini tapi dia hanya tidak menyangka pria itu akan mengakuinya secepat itu dihadapan Nara, sedangkan Nara masih memasang wajah datarnya, tidak ada yang bisa menebak isi dalam pikriannya.
"Terimakasih, dan aku sangat berterimakasih karena menjadikanku pemicu semangatmu tapi maaf saya katakan padamu Rey, apapun alasanmu tidak ada lagi hubungannya denganku" tegas Nara.
Lagi lagi senyum kemenangan tercetak jelas disudut bibir Rajesh, dia sudah sangat yakin jika hati Nara sudah sepenuhnya untuknya dan tidak akan ada cela untuk Reyhan mengusik hati Nara.
"Nara....aku melakukan ini untukmu, bagaimana bisa kamu mengatakan tidak ada hubungannya denganmu? aku melakukan ini semua, berusaha di Negeri orang hanya untuk mengambilmu kembali" sentak Reyhan, dia marah, sangat marah mendengar kenyataan yang selalu saja sakit sama seperti tiga tahun yang lalu.
"Urungkan niatmu Reyhan, karena itu hanya akan berakhir sia sia" ucap Nara penuh penekanan, "ayo Mas kita makan" ajak Nara.
Dan satu keluarga itu duduk dan memesankan makan siang untuk mereka bertiga, tanpa mempedulikan Reyhan yang masih berdiri disana menatap sendu pada pada keluarga kecil yang sedang asyik bercengkrama tanpa mempedulikan dirinya yang berdiri.
"Sungguhkah namaku tidak tersisa dalam hatimu walau secuil saja Nara?" batin Reyhan, setetes air mata mengalir membasahi pipinya dan Nara tau itu.
"Maafkan aku Reyhan"
.
__ADS_1
.
Bersambung....