STORY OF NARA

STORY OF NARA
Part 41


__ADS_3

"Mommy...." seru Radith yang sudah menunggu Nara sedari tadi.


"Hai sayang, bisakah kalau di kelas memanggil seperti biasa Ms.Nara?" tanya Nara dengan hati hati takut menyinggung perasaan Radith lagi.


"Harus begitu ya mom?" tanya Radith sedikit kecewa.


"Yes boy, tapi jika berdua saja maka kau bebas memanggil mommy" jawab Nara membuat Radith kembali menatap bola mata Nara.


"Baiklah, aku tidak mau mommy malu" dalah paham Radith.


"Bukan malu boy, hanya saja kamu harus menyesuaikan tempat karena ini di sekolah maka harus memanggil seperti yang lain sedangkak jila di luar kau bisa memanggil mommy sepuasnya" jawab Nara.


"Benarkan?" tanya Radith memastikan.


"Heem, jadi ayo kita masuk dan belajar"


"Ok lets go"


Nara menyibukan dirinya mengajari anak anak, sedikit banyaknya anestesinya tersita oleh anak anak dan mengurangi pirikannya dari jawaban Rajesh tadi pagi yang sempat menggangu pikirannya.


Tidak sadar bahwa kini sebagain pikirannya di isi oleh Rajesh yang mengaku sudah memiliki putra itu dan Reyhan semakin hari semakin hilang dari pikirannya hanya saja jika secara langsung mantan pacarnya itu datang maka gemuruh di dadanya akan kembali bergejolak mengobrak abrik hatinya bahkan menyerang pertahanan yang sudah di bangun walau sampai saat ini masih bisa bertahan tapi tidak tau nanti jika Reyham terus menemuinya dan dia hanya berharap semua yang terjadi adalah memang yang terbaik untuk mereka semua.


"Ms.Nara sudahkah aku bisa panggil mommya lagi?" tanya Radith.


Saat ini keduanya berada di tempat biasa, menunggi jemputan Radith sementara karena Nara tidak membawa mobil maka dia akan naik taxi setelah Radith nanti di jemput.


"Boleh boy"


"Apa mommy bawa mobil?"


"Tidak, ban kempes. Memangnya kenapa?" tanya Nara dengan kening yang mengerut.


"Aku ingin di antar sama mommy"


"Tapi bagaimana mommy tidak membawa mobil?" tanya Nara.


Kembali terbesit rasa iba di hati Nara untuk Radith tapi sebisa mungkin ia sembunyikan, sebegitu inginkah Radith ingin memiliki mommy sampai meminta pada orang lain agar bisa di panggil mommy?


Sebegitu besarkah keinginan Radirh ingin merasakan semua kasih sayang dari seorang ibu? Nara jadi berpikir apakah Radith memang benar benar tidak merasakan kasih sayang ibunya sejak kecil dan jika itu benar betapa malangnya Radith ini.


"Bagaimana kalau besok saja sayang?" tawar Nara.


"Sungguh mommy?" tanya Radith dengan mata binarnya.


"Heem benar, besok mommy akan mengantarmu ke rumah dan kau minta nenekmu untuk tidak lagi menjemputmu" jawab Nara yang langsung di anggukan oleh Radith.


Melihat antusias dari Radith membuat hati Nara bahagia, setidaknya satu anak kembali berhasil dia bentuk karakter menjadi lebih baik, dan sepertinya Nara harus membiasakan diri untuk sementara menjadi mommya dari Radith sampai nanti jika Radith tidak lagi bergantung atau mungkin saja sampai Radith memiliki mommy.


"Kamu benar benar kasihan boy, di umur yang masih sangat butuh ibu tapi malah tidak punya ibu" batin Nara.


"Radith...Ms.Nara, maaf menunggu lama lagi" ucap Clara.


Clara baru saja tiba dan itu membuat kedua orang yang berbeda generasi itu terhenti obrolannya dan melihat ke atah Clara yanh selaku berkata maaf jika sedang terlambat.


"Kau sudah datang tante?"


"Iya Ms.Nara, maaf ya saya selalu terlambat" jawab Clara merasa tidak enak hati.


"Tidak masalah, tante"

__ADS_1


"Tidak apa nenek, lagi pula aku justru senang kalau nenek terlambat jadinya Radith bisa lebih lama bersama mommy".


Jawaban Radith membuat dua orang dewasa itu saling pandang, sebegitu bahagianya kah dia sampai menyuruh neneknya untuk datang lebih lama agar bisa bersama Nara, benar benar menyentuh hati Nara dengan sikap Radith, padahal mereka hanya guru dan murid tapi rupanya Radith mebemukan sosok yang dia rindukan sejak dulu dari Nara..


"Jadi kau suka dengan mommy barumu?"


"Yes, Radith sangat suka" jawab Radith penuh semangat.


"Oh cucu nenek sepertinya sangat bahagia"


"Tentu saja" jawabnya, "oh ya mommy kan tidak bawa mobil, ayo biar supir mengantar mommy pulang biar aku bisa melihat tempat tinggal momny" ajak Radith.


"Tapi Radith itu tidak perlu" jawab Nara berniat menolak.


Mendapat penolakan membuat Radith jadi murung dalam sekejap, mata yang tadinya berbinar kini berkaca kaca karena di tolak oleh gadis yang mau jadi mommynya ini.


Melihat wajah sedih Radith membuat hati Nara tercubit, dia tidak tega melihat wajah sedih itu, dia sudah berjanji akan ikut berperan dalam perubahan sikap Radith tadi jika dengan ikut perminataan Radith bisa membuatnya senang dan terus mau terbuka dengan orang lain maka tidaklah berat untuk dilakukan Nara.


"Hei jangan bersedih, mommy akan ikut denganmu" jawab Nara.


Mendengar perkataan Nara, bocah tampan itu kembali berbinar, rona kebahagiaan terlihat jelas di wajahnya. Padaha ini hal yang sangat sederhana saja tapi sudah sangat membahagiakan Radith.


"Simple sekali untuk membuat mu bahagia nak" batin Nara dan Clara bersamaan.


"Sudah ayo kita pergi nenek, mommy"


"Kau duluan, ada yang ingin nenek bicara sebentar" kata Clara.


"Janji hanya sebenyar ya nek, jangan lama"


"Iya hanya sebentar" jawab Clara dengan oenuh kelembutan.


"Tidak, jangan berterimakasih. Dan jangan memanggilku dengan seperti itu, panggil Nara saja agar enal di dengar" ucap Nara.


"Baiklah Nara, sekali lagi terimakasih" ujar Clara.


"Jangan berterimakasih, ini adalah kewajiban saya. Saya berberan dalam perubahan diri Radith dan saya harus bertanggung jawab" jawab Nara.


"Ohh kau sangat baik nak, beruntung sekali orang tuamu melahirkamu"


"Tante bisa saja, tapi maaf ya tante saya jadinya merepotkan" ucap Nara merasa tak enak.


"Tidak masalah, bagi tante apa pun untuk Radith akan tante lakukan apa lagi kalau hanya untuk mengantarmu itu tidak seberapa" jawab Clara meyakinkan.


"Baiklah terimakasih tan"


"Sama sama, ayo kita pergi" ajaknya.


Ketiganya sudah berada di dalam mobil, Clara memilih duduk di depan di samping sang supir sedangkan Radith berada di kursi belakang bersama Nara sesuai permintaanya yang tidak mau di pisah dan maunya dekat terus dengan Nara, alhasil orang dewasa terlebih wanita tua itu tap mengalah untuk sebuah senyum yang terpancar di sudut bibir cucunya.


"Oh ya mommy, jangan lupa ya besok bawa mobil biar bisa antar aku pulang" ucap Radith memecah keheningan.


Tangan bocah tampan itu melingkar tanpa sungka di pinggang Nara dan gadis cantik yang sudab terbiasa hidup dengan anak anak didiknya tidak menolak bahkan tangannya terulur membelai pucul kepala Radith dan mengelusnya dengan sayang.


"Tentu saja, mommy tidak akan lupa untukmu" jawab Nara semabri menoel gemas hidung Radith.


Radith kembali tersenyum bahagia dan mempererat pelukannya pada Nara, kepalanya terbenam di dada gadis dewasa itu sedangkan Nara pun tetap welcome tidak mempermasalahkan tingkah Radith padanya.


Sedangkan Clara yang menyaksikan cucunya bermanja pada gadis lain hanya bisa menatap iba sekaligus haru karena Nara yang mau menerima cucunya tanpa merasa risi dan di lihat dari pancaran mata Nara, jelas Clara tau jika gadis cantik itu sangat tulus pada cucunya.

__ADS_1


"Kamu benar benar malang nak, orang tuamu tidak ada untukmu" batin Clara, "terimakasih Nara kau sudah mau menerima cucuku walau aku tau kau menerimanya karena iba tapi tidak apa asal cucuku tersenyum itu sudah lebih dari cukup bagiku. Sekali lagi terimakasih Nara" lanjut Clara yang hanya bisa berucap dal hati.


"Kamu tinggal disini Nara?" tanya Clara.


Mobil yang mereka naiki sudah berhenti sempurna di depan apartement yang di tempati Nara dan itu membuat Clara sedikit syok bercampur senang saat ide jail muncul dalam pikirannya.


"Benar tante" jawab Nara dengan senyum lembutnya.


"Loh nenek bukankah daddy punya apartement disini juga?" tanya Radith tanpa mengalihkan pandanganya.


"Ha...Daddy Radith tinggal disini? tapi kenapa? apa dia tidak memikirkan anaknya!"


Sontak saja Nara menyentak mendengar putra angkatnya mengatakan jika ayahnya tinggal di apartement sedangkan putran di biarkan tinggal di rumah dan di urus oleh nenek Radith.


Clara, Radith dan supir terkejut mendengar sentakan Nara yanh tiba tiba, dan sesaat kemudian Nara tersadar kalau dia kelepasan bicara, " ma...maaf" cicit Nara.


"Kenepa mommy marah?" tanya Radith dengan polosnya.


"Mommy tidak marah sayang, maaf ya kalau kau terkejut" jawab Nara dengan terbata.


"Ayahnya memang tinggal disini, katanya ada misi yang harus di selesaikan untuk masa depan dirinya dan Radith" jawab Clara.


"Benar mom, tapi Radith harap misi daddy gagal agar aku yang memenangkan pertarungan" timpal Radith dengan penuh semangat.


"Ha..."


Nara di buat melongo oleh jawaban Radith sedangkan Clara hanya terkekeh karena dia jelas tau alasan kenapa cucunya berkata begitu, apa lagi kalau bukan ingin menjadikan Nara mommy yang sesungguhnya dan istri untuk anaknya.


Tapi semua itu Clara hanya simpan dalam hati, dia tidak mau mengatakan dulu pada Nara, takutnya nanti gadis cantik itu malah menghindar dan membuat Radith bersedih lagi.


Biarlah nanti Clara memikirkan cara untuk mendekatkan putranya dengan Nara, tapi dia harus melakukannya dengan perlahan dan cantik agar tidak menonjol sekali dan Nara tidak merasa risih dan akhirnya memilih mengindari yang ujungnya akan tetap berimbas pada cucunya lagi.


"Bukan itu maksud Radith, dia mengatakan itu agar ayahnya bisa pulang dan kembali ke rumah. Kamu tau kan keinginan anak dan playning orang tua untuk anak itu berbeda dan Rsdiht belum memahami hal itu" jelas Clara semabari memberi kode pada cucunya agar diam.


Radith yang tadinya ingin menyanggah neneknya mendadak bungkam melihat kode dari neneknya, walaupun dia masih bocah tapi perkara kode mengkode dengan neneknya sudah sangatlah dia hafal baik dari gerakan mata dan bibir Clara maupun dalam intonasi Clara Radith bisa memahami dan cepat tanggap akan hal itu.


"Ohhh baiklah tante, aku harap ayahnya bisa memgkesampingkan urusannya juga dan lebih memperhatikan Radith" tutur Nara.


"Tapi sudah ada mommy jadi tidak masalah kalau daddy tidak memperhatikanku, cukup dari mommy saja" sanggah Radith.


Clara yang mendengar hal itu, mendadak sesak. Padahal awalnya dia sudah tersenyum dengan segala rencana yang disusun tapi mendangar penuturan cucunya membuat dadanya kembali di remas dan bertekat untuk mewujutkan keinginan cucunya, menjerat Nara menjadi bagian dalam keluargannya.


Mungkin terdengar egois tapi mau bagaimana lagi jika harus dengan cara ini bisa membuat cucunya senang maka Clara rela menanggung dosa dan kebencian Nara kelak asalkan Radith bahagian dan Clara sangat yakin jika Nara tudak akan perbah tega pada Radith.


Nara sendiri hanya bisa menghela napasnya, dia tidak mungkin menolak Radith tapi memberi harapan pada Radith saja dengan membuat anak itu semakin bergantung padanya dan jika kelak dia pergi sudah pasti Radith akan sangat kecewa dan bisa saja sikap sebelumnya akan kembali pada Radith atau bahkan bisa saja leboh parah dari sebelumnya.


Ah rasanya Nara tidak mau memikirkan masalah ini, dia akan menjalaninya saja dulu bagai alir mengalir dan mengikuti permainan takdir yang akan membawanya pada kepastian kelak.


"Baiklah boy, mommy turun dulu dan kau pulanglah, makan istrahat tidur dan belajar yang benar" ucap Nara pada akhirnya mumutuskan untuk mengakhiri bicaraan mereka.


"Baiklah mom, see you tomorow"


"See you boy" jawab Nara, "aku pamit tante dan hati hati di jalan" ucap Nara yang di balas anggukan dan senyum lembut dari Clara.


Nara turun dan mobil pun kembali melaju membelah jalan membawa penumpangnya sampai pada tujuan.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2