STORY OF NARA

STORY OF NARA
Part 25


__ADS_3

"Tuan Muda tidak mau mendatanginya kah?" tanya Leo.


"Tidak, dia sangat menggemaskan di pandang dari jauh dan aku sa..."


Blamm


Leo terjangkit kaget melihat tuannya tidak melanjutkan ucapnya tapi suara pintu mobil yang di tutup kasar akibat ulah Tuan Mudanya, dengan segera ia mengalihkan perhatiannya dan melihat apa yang menyebabkan tuannya menerobos hujan deras.


Ternyata gadis yang menjadi incaran Tuan Mudanya sudah jatuh pingsan dan tergeletak tak berdaya di tanah, "pantas saja Tuan Muda menerobos hujan yang sangat tidak di sukainya" batin Leo.


Dengan panik Rajesh mengankat tubuh Nara ala Bridal style dan membawanya masuk ke dalam mobil yang sudah dengan sigap di buka oleh asistennya Leo, dan setelah tuan dan calon nona mudanya masuk segera Leo menancap gas menuju rumah sakit.


Rajehs terus bolak balik di depan ruang pemeriksaan, dia sangat khawatir dengan keadaan Nara padahal itu bukan siapa siapanya tapi dia bertingkah seolah kekasih dari Nara yang saat ini sedang pingsan


"Sudah tau badanya kecil dan lemah begitu tapi masih saja main hujan" gerutu Rajesh sambil sesekali menyisirkan tangan di rambutnya.


Leon hanya meliht tingkah tuannya yang berperan seperti pasangan yang sedang khawatir, walau Leo tau jika tuannya jatuh hati pada Nara tapi tak perlu bertindak seperti itu juga pikirnya.


"Ckck, lagian apa yang di lihat dari pria itu" decak Rajesh, "tampan juga aku"


Leo kembali merotasikan matanya pertanda dia sudah malas melihat tingkah dan gerutuan Tan Mudanya yang belum apa apa sudah menujukam sikpa posesif dan tingkah percaya dirinya yang tidak pernah pudar dari mulutnya memuji diri sendiri, walau Leo akui Tuan Mudanya memang tampan bahkan masuk detetan pria pria tertampan se asia.


"Ckck sifat aslinya kembali terlihat," batin Lo dengan muka malasnya.


"Jangan megataiku apa lagi mengumpat Leo!" sentak Rajesh.


Leo terkejut mendengar sentakan dari Tuan Mudanya, dia lupa jika tuan mudanya bisa membaca ekspresi seseorang tapi dengan lancangnya Leo mengeksoresikan apa yang saat ini dia rasakan di hadapan Tuan Mudanya.


"Sepertinya kau butuh liburan ke pedalaman ya?" ucap Rajehs yang berhasil membuat Leo gelagapan.


"Tidak tuan, saya tidak butuh refresing" jawab Leo dengan cepat seraya menampakan wajah memelasnya.


"Ckck, tidak akan mempan dengan wajah jelekmu itu! untung saja hari ini aku sedang berbaik hati" ucap Rajesh dengan sinis.


Leo melongo mendengar perkataan Tuan Mudanya yang tidak berperasaan mengagainya jelek, padahal jika di lihat lihat Leo tidak kalah tampannya dari Rajesh dan dia juga selalu jadi incaran para wanita wanita di luar sana, hanya saja Leo sama dengan Rajesh yang tidak gampang tersentuh dengan yang namanya wanita.


"Enak sekali Tuan Muda ini mengatakan aku jelek, memangnya jika aku jelek apa Tuan mau menerikmaku sebagai asisitenmu" rutuk Leo dalam hati.

__ADS_1


"Tuan, jika aku jelek apa tuan mau menerimaku menjadi asistenmu?" tanya Leo dengan seringai liciknya.


"Tentu saja tidak!" jawab Rajesh dengan cepat.


Leo tersenyum mendengar jawaban Rajesh, dia berencana akan menjebak Rajesh dengan jawabanya sendiri walau nanti akan di hukum tapi tidak masalah asalkan dia bisa membalas Tuan Mudanya walau sekali saja.


"Apa aku asistenmu?"


"Tentu saja, memangnya siapa lagi bodo!" malas Rajesh.


"Tuan tidak mau menerima aku jika aku jelek tapi sekarang aku adalah asisten dan orang kepercayaan tuan bararti aku....?"


"Ganteng" jawab Rajesh tanpa sadar.


Leon tersenyum mendengar jawaban Tuan Mudanya, "berarti aku ganteng Tuan Muda" ujar Leo dengan senyum penuh kemenanganya.


Rajesh yang baru tersadar jika sedang di manfaatkan oleh asisitenya melotokan matanya ke arah Leo dan mendengus sebal, "kau akan menerima hukuman setelah ini Leo!" geram Rajesh.


"Tidak masalah Tuan Muda kadena sanjungan tuan jauh lebih berarti" jawab Leo sembari menyembuyikan senyumnya.


Rajesh melototkan matanya mendegar jawaban santi dari asisitenya baru saja dia ingin kembali berkata tapi anistesinga teralihkan pada pintu ruang pemeriksaan yang terbuka dan memunculkan seorang dokter yang memakai seragam dinasnya.


"Dia hanya pigsan tapi suhu tubuhnya panas karena demam akibat terlaku banyak berada di bawah air hujan, tapi saya sudah memberi vitamin dan saat ini dia sedang tertidur" ujar Dokter.


Helaan napas lega terdengar jelas dari Rajesh dan hal itu tidak lepas dari pandangan Leo, dia benar benar yakin jika saat ini gadis yang di selamatkan Tuan Mudanya benar benar gadis istimewa dan sudah bisa di pastiakn gadis itu tidak akan lepas dari Rajesh.


"Sepertinya aku harus mencari tau tentang gadis itu agar Tuan Muda tidak menunggu kama" batin Leo.


"Silahkan Tuan, tapi jangan berisik ya agae tidak mengganggu pasien" jawab Dokter dengan sopan.


Walau Rajesh memberungut kesal mendengar jawaban Dokter yang memberi peringatan padanya untuk tidak berisik tapi untul saat ini bukan hukuman yang mau dia pikirkan karena saat ini fokusnya pada gadisnya yang bahkan belum dia ketahui namanya.


Tanpa menjawab Rajesh melewati Dokter setelah masih sempat sempatnya menyenggolkan lengannya pada bahu sang Dokter membuat Dokter mengadu kesakitan sedangkan Leo hanya menggeleng melihat tingkah Tuan Mudanya.


"Dasar Tuan Muda tidaj berakhlak" umpat Dokter dalam hati.


"Seperti anak kecil saja, apa masa kecil tuan muda suram ya sampai bertingkah seperti itu?" batin Leo yang terus menggeleng.

__ADS_1


Rajesh duduk di kursi yang terdapat di samping brankar tempat Nara berbaring, tanganya terulur memengang jemari Nara dan tangan kananya bergerak mengelus pipi lembut Nara dan merapikan uraian rambut yang menutupi wajah cantik itu.


"Kau sangan cantik dan tidak pantas menangisi pria seperti dirinya" gumam Rajesh.


Leon menyaksikan bagaimana perlakuan manis tuanya, sedikit terkejut karena melihat Tuan Mudanya mau menyentuh jemari Nara bahkan gerakanya sangat lembut mengekus pipi Nara dan merapikan uraian rambut itu dengan gerakan yang sangat hati hati seolah takut wajah halus itu tersakiti karena gerakannya.


"Tuan Muda benar benar sangat menyukai nona cantik itu" batin Leo, "pantas saja sih karena nona gadis itu sangat cantik bahkan dalam keadaan tertidur begini pun sangat cantik"


"Tuan ingin saya mencari tau tentangnya?" tanya Leo hati hati agar tidak menggganggu tidur Nara.


Sejenak Rajesh terdiam, memikirkan apa dua harus mencari tau kebenaran Nara atau membiarkan terus dan menunggu untuk pertenuan berikutnya.


"Tidak, aku tidak mau menunggu lagi. Ini kesempatanku untuk mendekatinya karena pria bodoh itu sudah menyakitinya dan aku akan masuk dalam hidupnya" batin Rajesh.


"Lakukan...! ingat cari sedetail mungkin tentangnya!" titah Rajesh.


"Baik Tuan Muda" jawab Leo.


"Pergilah karena aku akan menunggunya disini!"


"Kau yakin tuan? bagaimana jiak tuan kecil bertanya tentang anda?"


"Katakan aku kembali besok!" jawab Rajesh cuek.


Bukan karena tidak sayang pada putranya, dia sangat menyayangi putranya tapi dia juag tidak bisa meninggalkan gadisnya sendirian disini karena ini adalah kesempatannya untuk bisa dekat dengan gadis cantik yang sedang tertidur itu dengan alibi balas budi.


"Baik Tuan Muda, daya permisi"


"Hmm" jawab Rajesh seperti itu.


Rajesh kembali memandang wajah Nara dan lagi lagi tanpa di minta tananganya menyentuh pipi mulus itu dengan hati hati, dan beberapa saat kemudian berdiri dan beranjak menuju sofa untuk istrahat.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


jangan lupa Like, vote, rate dan gift ya biar author makin semangat...😊😍😘🙏


__ADS_2