STORY OF NARA

STORY OF NARA
Part 17


__ADS_3

Cleora sangat benci keadaan, benci takdir yang membuat harus mencintai lelaki yang sudah memiliki kekasih yang sangat di cintainya, mungkin jika bisa memilih pada siapa hati ingin berlabuh sudah pastj Cleora tidak akan mau menaruh hatinya untuk Reyhan, Cleora akan memilih orang lain untuk dia cintai.


Tapi apa daya dengan perasaan yang kian menjerat Cleora, jangan tanya kenapa dia tidak berusaha melupakan saja. tentu saja Cleor dudab melakukam itu selama tiga tahun ini bahkan mencoba untuk menjalin hubungan dengan beberapa yang dekat dengannya tapi alhasil semuanya nihil, tidak ada yang bisa membuat Cleora mengalihkan cintanya.


"Aku benci....! aku benci kenapa harus menaruh hati padamu Reyhan... aku benci kenapa wanita itu tidak bisa kau lupakan aakkhhhh....!"


Cleora saat sedangn berada du jempatan, disana terlihat sangat sepi sehingga membuat Cleora leluasam meluapkan semua keluh kesahnya saat ini, tubuhnya bergetar menangisi perasaanya yang tidak bisa ia kendalikan. Ingin menyerah tapi cintanya membuat dirinya bodoh dan enggan untuk berhenti.


"Tidak...aku tidak akan menyerah begitu saja, ini belum di mulai dan aku tidak boleh menyerah begitu saja, tidak aku tidak akan menyerah!" tekat Cleora setelah dirinya puas menangis.


Cleora menghapus air matanya menggunakam punggung tangannya dengan kasar, banhkit berdiri dan berjalan memasuki mobilnya, saat ini tujuannya adalah Abraham ayahnya. Dia ingin meminta ayahnya untuk mengundang kolega bisnis ayahnya yang ada di indonesia termasuk Saker yang dia ketahui pernah beberapa kali menjalin kerjasama.


Sampai di sana, ternyata Abraham sedang duduk santai di ruang keluarga, dengan segera Cleora menghampiri ayahnya dan tanpa basa basi mengutarakan niatnya pada Abraham.


"Daddy"


"Yes girl?"


"Aku ingin di pernikahanku, dad mengundang kolega daddy yang dari Indonesia" ucap Cleora dengan tegas.


"Kau tidak bercanda Girl? bukankah kau tau jila disana ada keluarga kekasih Reyhan? lalu bagaama jika mereka tau?" tanya Abraham dengan ekspresi yang masih terkejut.


"Justru karena aku ingin menunjukan pada mereka jika Reyhan akan menjadi milikku dan kekasihnya itu tidak boleh lagi mengharapkan Reyhanku!" jawab Cleora dengan tegas.


"Sayang.... Kau masih yakin akan menikah dengan Reyhan?" tanya Abraham yang sebenarnya tidak yakin.


Bukan tanpa alasan Abraham bertanya hal ini pada Cleora, itu karena dia sudah tau semuanya tentang Reyhan yang sudah memiliki kekasih dan sangat mencintai kekasihnya itu hanya saja yang tidak Abraham ketahui adalah tentang kesepakatan Reyhan dan putrinya Cleora. Karena persyaratan Reyhan hanya satu saat itu dan itu adalah Reyhan akan pindah ke Indonesia.


"Tentu saja dad. Daddy tau kan kalau aku sudah mencintainya sejak tiga tahun yang lalu" ungkap Cleora.


"Baiklah, jika kau bisa bahagia maka daddy akan mendukungmu"


.


Nara sudah bersiap menuju sekolah dengan di antar oleh kakaknya yang tampan yang sebenrat lagi akan melepaskan masa lajangnya itu, "oh ya kakak satu minggu lagi tunangan kan ya?" tanya Nara membuka obrolan mereka salam mobil.


"Hmm.."


Jawaban yang di berikan Lionel masih di tolerir oleh Nara dan dia kembali bertanya pada kakaknya " apa kaka menyukainya?"


"Hmmm.."


Nara mendengus sebal mendapati jawaban kakaknya untuk kedua kalinya hanya hmm saja, "jangan memberi jawaban yang menyebalkan kakak, aku tidak suka sekali" ketus Nara.

__ADS_1


Lionel hanha terkekeh mendengar ketusan adiknya yang menurutnya itu sangat menggaskan, ia merasa walau Nara adiknya sudah dewasa tapi bagi Lionel Nara tidak pernah berubah di matanya.


Nara masih saja Naranya yang dulu masih berusia tujuh tahunan yang akan medengus sebal, mengerucutkam bibirnya dan akan menangis jika keinginanya tidak di penuhi Lionel, hanya saja sekarang sedikit yang berubah adalah Nara yang tidak lagi menangis karena merengek.


"Nara kecil kaka tidak pernah berubah ya" kekeh Lionel.


"Ishh kakak ku yang tampan, adikmu yang cantik ini bukan anak kecil lagi bahkan jika sudah menikah pasti kau sudah memiliki ponakan sekarang" celetuk Nara.


Lioenel melotot mendengar penuturan adiknya, bagaimana adiknya bisa berkata seperti itu dengan gablangnya.


"Hey gadis kecil...siapa yang mengajarimu seperti itu..?"


"Tidak ada" jawab Nara dengan cepat.


"Kau jangan salah bergaul Nara, kakak tidak kau terkontaminasi dengan orang orang yang salah!" tegas Lioenel.


"Kakak, kenapa berkata seperti itu? apa selama ini kaka melihat adikmu ini salah bergaul?" tanya Nara dengan kening yang mengerut.


"Selama ini tidak, tapi kaka bisa berpikir karena perkataanmu itu"


"Astagaa...kakakku sayang, itu hanya spontan keluar dari mulutku, dan itu juga menurutku benar kan?" ujar Nara membuat Lionel kembali melotot.


"Kau benar benar sudan terkontaminasi dunia luar ya Nara"


"Kakakku sayang.....adikmu yang cantik ini pintar bukan karena terkontaminasi, tapi karena memang sudab tau" jawab Nara kesal tapi tetap berusaha untuk tersenyum dengan kakanya.


Nara kembali mengerucutkan bibirnya sedangkan Lionel terkekeh melihat itu, tanganya bergerak untuk mengusak kepala Nara adiknya dengan sayang.


"Jangan cemberut jika tidak mau jelek"


"Mana mungkin adikmu ini bisa jelek? sementara cantiknya sudah sejak lahir" jawab Nara membanggkan dirinya.


"Sudahlah, kau turun karena kita sudah sampai" ucap Lionel.


"Baiklah kakak ku sayang aku pergi dulu" ucap Nara seraya mencium pipi Lioenel kemudian pergi meninggalkan kakakanya yang hanya tersenyum melihat sikap adik perempuannya.


Nara turun dan berjalan menuju halam sekolah tapi bertepan dengan itu mobil yang mengantarkan Radith pun berhenti dan mau tidak mau Nara juga ikut berhenti untuk menyambut murid muridnya.


"Selamar pagi boy" sapa Nara dengan senyumnya.


Radith cuek saja, kakinya hendak melangkah mendahului Nara tapi seketika harus berhenti saat mendengar perktaan Nara pada neneknya.


"Mama juga datang..!" ucap Nara sengaja membesarkan volume suaranya sedangkan matanya melirik ke arah Radith.

__ADS_1


Radith berbalik menatap tajam pada Nara, "sudah ku bilang jangan katakan yang tidak pantas kau katakan!" ucap Radith dengan dingin.


Clara yang melihat sikap dingin Radith ingin kembali menegurnya tapi dengam cepat Nara menghentikan Clara dengan mengelus punggung Clara.


"Percayalah padaku tante" lirih Nara.


"Baiklah" jawab Clara disertai anggukan setuju.


Nara beralih menatap Radith yang masih menatapnya dengan tatapan tidak suka, " boy kau masih tidak lupa bukan dengan kesepakatan kita?" tanya Nara dengan senyum manisnya.


"Tentu saka..! karena aku pria sejati!" jawabnya ketus.


"Baiklah, berarti kau sudah tau apa yang kau lakukan"


"Ya aku tau, maka cepatlah! aku malas menunggu" ketus Radith.


"Tante, aku masuk dulu membawa cucu tampanmu" ucap Nara berpamitan.


"Baiklah, buat lah cucuku itu menjadi pria yang ramah dan tidak marah marah terus ya Ms.Nara" timpal Clara membuat Radith semakin mendengus sebal.


"Sudahlah jangan menggodaku...!"


Nara berjalan mendekati Radith kemudian mengulurkan tangannya meminta Radith menggandeng dirinya lagi, walau Radith sebenarnya enggan tapi mau tidak mau harus menggandeng Nara.


"Ms.Cantik...!" teriak salah satu murid Nara yang ternyata boca tampan yang kemarin berselisih dengan Radith.


"Selamat pagi anak ganteng.." sapa Nara dengan lembut dan senyum hangatnya.


"Selamat pagi Ms.Cantik, aku juga mau di gandeng" pinta bocah itu.


"Ok ayo Ms gandeng.."


Radith melepaskan gandengan tangan Nra, ada rasa tidak rela jika Nara menggandeng tangan anak lain, Radith ingin jika Nara hanya memperhatikan dirinya saja.


"Aku jalan sendiri, kau gandeng saja dia!" ketus Radith dan melepas paksa tangan Nara kemudian pergi begitu saja.


"Radith...!" panggil Nara tapi di abaikan oleh Radith.


Dia terus berjalan menunu kelasnya dengan perasaan kesal tanpa mempedulikan teriakan Nara dan teman kelasnya, sedangkan Nara hanya menaril napasnya dalam kemudian berjalan mengikuti Radith.


"Sudah, ayo kita masuk saja dulu" ajak Nara yang di jawab anggukan oleh bocah tampan itu.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2