
Sampai di Mension, rupanya merak sudah disambut oleh keluarg Rajehs di depan pintu seperti orang desa yang baru kedatangan kerabat dari luar kota, apalagi Radith yang terlihat sangat antusias sekali menyambut kedatangan orang tuanya.
"Daddy....Mommy..." teriak Radith dan langsung berlari memeluk Nara.
Ya, Naralah yang dipeluk bocah itu, seolah dirinya adalah anak kandung Nara sehingga terlalu dekat sementara ayahnya diabaikan begitu saja, bersikap seolah tak melihat jika ada orang lain yang datang bersama ibu sambungnya.
"Mom, aku sangat merindukanmu" ucap Radith dalam dekapan hangat Nara.
"Mommy juga sangat merindukanmu sayang, Sangat...merindukanmu" jawab Nara dengan gaya lebainnya membuat Radith tertawa karena merasa lucu.
"Mom, apa aku dapat ole ole?" tanya Radith, matanya tak sengaja melihat Leo yang mengeluarkan banyak barang dari bagasi mobil.
"Tentu, Mommy membawa ole ole seperti yang kamu mau"
"Asyikkk....aku suka itu, you are the best Mom" ucap Radith memuji ibu sambungnya.
"Sama sama sayang, tapi itu bukan uang Mommy, itu semua uang Daddy" ucap Nara.
"Oh....yasudah tidak apa, bukankan memang seperti itu harusnya? kita menghabiskan uang Daddy" kata Radith cuek.
Rajesh melototkan matanya mendengar penuturan putranya yang seakan tidak merasa terbebani sama sekali dengan ucapannya, tidka pernah terbayangkan bagi Rajesh akan perkataan itu, tadinya dia berfikir Radith akan mengucapkan terimakasih tapi ternyata semua diluar ekspetasinya.
Tidak jauh berbeda dengan Nara, wanita cantik itu juga membulatkan matanya tak percaya dengan perkataan putra sambungnya, pikirannya juga sama dengan suaminya, berpikir Radith akan mengucapkan terimakasih tapi malah diluar perkiraan mereka orang dewasa.
"Jangan seperti itu Radith, jiak ,seseorang memberi sesuatu maka harus berterimakasih bukan malah berkata seperti itu, sama saja namanya kami tidak bersyukur dengan apa yang diberikan.
Radith menundukan wajahnya mendapat teguran dari Ibu sambungnya, walau Nara menegurnya dengan penuturan lembut tapi Radith tau jika Nara tidak menyukai sikapnya.
Dengan cepat bocah tampan itu meminta maaf, dia tidak mau karena sikapnya membut Nara menjadi dan tidak menyayangi dirinya lagi, dan jika sudah seperti itu maka dia akan kembali seperti sebelumnya, merasa kesepian lagi.
"Maafkan aku Mom, aku tidak akan mengulanginya lagi, jangan benci aku ya" ucap Radith dengan bibir yang bergetar.
Nara yang mendengar perkataan Radith langsung menunduk dan memeluk putranya, dia tau jika anak sambungnya itu takut jika di benci olehnya, takut jika Nara tidak menyayanginya lagi.
__ADS_1
"Ohh sayang...jangan berkata demikian, Mommy tidak akan mungkin membenci putra Mommy sendiri, karena apa? karena rasa sayang Mommy jauh dan sangat besar sekali untukmu" ungkap Nara dan tangannya terus mengelus punggung Radith yang memeluk lehernya dengan erat.
"Sudah jangan cengeng, makanya dengarkan apa kata Mommymu dan jadilah anak yang manis" ucap Rajesh.
"Maaf Dad" ucap Radith.
"No problem, kemarilah peluk Daddy" ucap Rajesh dan merentangkan tangannya dan langsung disambut oleh bocah tampan itu.
"Sudah kalian masuklah, pasti sudah sangat lelah bukan?" interupsi Heru.
Sesmua menurut, tapi sebelum itu Nara memeluk Clara ibu mertuanya dan mencium punggung tangan Heru ayah mertuanya dan barulah mereka semua memasuki rumah.
"Mom, mana ole ole ku?" tanya Radith, bocah tampan itu sudah tidak sabar melihat apa yang dibawakan kedua orang tuanya dari Negar lain.
"Sebentar Mommy ambilkan dulu" jawab Nara dan langsung bergegas mengambil paperbag yang sudah berikan ole ole untuk keluarganya.
"Ini untuk putra Mommy yang sangat tampan, ini untuk Papa dan Mama" ucap Nara, tanganya memberikan paperbag yang ada ditangannya.
Rajesh dan Heru hanya menggeleng melihat reaski wanita paru baya itu, hasrat dan moodnya terpuaskan hanya karena saru tas Branded dari Negara berbeda.
Sedangkan Heru melihat jam tangannya, cukup menarik dimatanya tapi dia masih menjaga wibawanya didepan menantunya agar bersikap biasa saja sedangkan Radith, jangan tanyakan lagi bagaimana dia.
Kini bocah tampan itu sedang asyik dengan mobil balapnya yang baru dan dia langsung mencoba menggunakannya, menaklukan mobil balap yang sebelumnya belum ada dikoleksi mainnanya.
"Ini sangat bagus Dad...lebih canggih dan gesit dari milikku sebelumnya..!" teriak Radith dari ruang tengah.
Semua orang dewasa itu hanya menggelengkan kepalanya, mendengar terikana heboh Radith yang sepertinya sangat menyukai barang yang diberikan Nara untuknya dan itu menciptakan senyum kebahagian dari bibir orang dewasa itu kala anak kecil yang sejak lahir tidak memliki orang tua itu bahagia.
***
Seperti biasa Nara dan Clara akan berduel untuk memasak disapu, sebisa mungkin ibu mertua itu pagi, siang dan sore diwaktu memasak selalu ada dirumah agar bisa memasak bersama dengan menantunya dan itu membuahkan hasil bagi Clara karena ini ada banyak aneka makanan yang bisa dimsaknya dalam waktu seminggu ini.
"Selesai.." seru Clara, dia memang akan selalu bersikap seperti itu kala hasil usaha mereka memuaskan.
__ADS_1
"Aku bangunkan suami dan anakku dulu ya Ma" pamit Nara.
"Iya sayang, Mama juga akan melihat Papamu dulu" jawab Clara.
Ya, sampai kini Rajesh dan Nara masih tinggal di Mension utama, itu semua hasil permintaan Clara dan Heru yang ingin akan menantu dan cucunya tetap tinggal bersama mereka, dengan dalil Clara yang ingin memasak setiap hari bersama Nara dan juga agar bisa betah di rumah.
Dan akhirnya rencana yang sudah dipersiapkan Rajehs untuk tinggal di Mension sendiri kini hanya tinggal rencana saja, karena kenyataanya pria tampan itu takluk terhadap kedua wanita yang mengandalkan wajah memelas jika memiliki maksud.
"Mas...Mas...bangun, ini sudah pagi ayo bangun nanti terlabat berangkatnya" ucap Nara dan mengguncang pelan tubub suaminya.
"Sebentar lagi sayang, masih capek" jawab Rajesh dengan suara seraknya.
"Tidak mau tau! pokoknya aku kembali, harus sudah bangun!" tegas Nara.
Nara bergegas keluar, kali ini tujuannya adalah kamar putranya, sementara Rajehs langsung terbangun mendengar nada perintah dari ratunya, langsung bergegas mandi membersihkan diri untuk menghindari diri dari amukan sang istri yang akan berujung Nara yang tidak mau melakukan enak enak dengannya.
"Tidak anak, tidak ayah sama saja, semua malas bangun" gumam Nara mendekati putranua untuk dibangunkan.
"Sayang...banyun ini sudah pagi, waktunya untuk mandi" hal yang sama dilakukan Nara, mengguncang pelan tubub Radith hingga bocah tampan itu menggeliat dalam selimut.
"Cepat sekali pahinya Mom" keluh Radith.
Nara terkekeh mendengar keluhan putranua tentang pagi yang cepat sekali menghampiri, mau bagaimana lagi memang waktunya sudah seperti itu.
"Cepatlah berkmas, bukankah hari ini kalian ada perlombaan?" tanya Nara Mengingatkan putranya.
"Oh My God, aku lupa Mom" seru Radith dan langsung melompat turun menuju makar mandi membuat Nara hanya menggeleng lalu mempersiapkan perlengkapan Radith terlebih dahulu sebelum kembali ke kamar dimana suaminya ada.
.
.
Bersambung...
__ADS_1