
Waktu terus berjalan, setahun sudah perjalanan kisah cinta jarak jauh antara Reyhan dan Nara dan komunikasi mereka pun sudah mulai jarang terjalin tidak seperti awal awal berjauhan, mereka masing masing sibuk dengan urusan sendiri.
Nara yang sibuk dengan pekerjaanya dan Reyhan yang sibuk dengan kuliahnya dan kini di tambah Reyhan mulai bekerja disalah satu perusahaan yang tidak lain adalah milik ayah Cleora, tapi Reyhan belum mengetahui akan hal itu.
Hanya sesekali mereka akan berkomunikasi jika Reyhan membutuhkan bantuan Nara misalnya bantuan finansial atau bantuan Nara agar mengerjakan tugasnya yag dikirim melaku email.
seperti sianh ini Reyhan kembali menghubungin Nara agar membantunya mengerjakan tugas yang sudah lebih dulu di kirimkan ke email Nara dengan alasan dia bekerja dan setelahnya akan kuliah.
"Hallo Reyhan sayang" seru Nara yang begitu bahagia mendapati kekasihnya menelpon dirinya setelah hampir duam minggu tidak ada kominikasi dan pesan chat dari Reyhan.
"Hai Nara sayang, apa kau terganggu?" tanya Reyhan basa basi.
"Tidak, apa kau mau bercerita denganku?" tanya Nara dengan senyum yang terus mengembang.
"Bukan, bukan itu! em begini aku ingin meninta tolong padamu untuk mengerjakan tugasku, kau tau kan aku sibuk bekerja untuk kita nanti jadi bisakah kau membantuku"
Senyum Nara meredup mana kala kembali lagi mendapati jika Reyhan menelpon dirinya karena ada maunya, tapi walau begitu dia tetap melakukannya kerena selalu berpikir positif terhadap pujaan hatinya.
Dengan senyumnya Nara menjawab "iya nanti aku kerjakan, aku sedang di sekolah soalnya" jawab Nara.
"Baiklah terimakasih sayang, doakan aku agar bisa kembali dengan membawa kesuksesan ya" ucap Reyhan dengan senyum lembutnya di belahan dunia lainnya.
"Selalu, aku selalu berdoa untuk yang terbaik buat masa depan kita" ucap Nara denga penuh harapan besar.
"Terimakasij sayang" ucap Reyhan kemimudian mematikan sambungan ponselnya
"Nara itu siapa? pacarmu kah?" tanya Vivi kepo.
Nara tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Vivi "iya dia Reyhan kekasihku, tapi dia sedang melanjutkan studinya di Spanyol" ucao Nara.
"Ohhh berarti kalian jarak jauh?"
"Seperti yang kau katakan" jawab Nara.
"Apa kau tidak khawatir dengannya? kau tidak khawatir dia melirik wanita lain disana?" ucap Vivi ingin memprovokasi Nara.
__ADS_1
"Tidak! aku percaya penuh padanya" jawab Nara dengan penuh keyakinan.
"Lalu kenapa jarang berkomunikasi?" tanya Vivi yang masih belum puas mendapat informasi untuk di ketahui kehidupan wanita yang sudah menanjado temannya selama satu tahun ini.
"Aku sibuk dia juga sibuk, kami sedang memperjuangkan restu dengan cara dia harus bisa sepadan dengan standar Ayahku" jawab Nara lirih mengingat kembali Ayahnya yabg hingga kini belum memberi restu.
Walau Ayahnya selalu membujuknya untuk kembali pulang kerumah tapi Nara selalu menolak dengn halus dan tetap bertahan dengan tekatnya yang baru akan kembali jika Reyhan sudah kembali membawa kesetaraan kehidupan dengan keluarganya.
"Ada banyak kisah yang sudah kami lalui Vivi, dan salah satunya kami harus berkorban menahan diri untuk tidak bertemu demi sebuah kesetaraan kehidupan" lirih Nara.
"Jangan bilang keluargamu tidak mnenyetujui hubungan kalian?" tebak Vivi.
"Benar, keluargaku tidak menyuakianya karena dia berasal dari keluarga sederhana, atau lebih tepatnya Ayahku yang tidak bisa menerima kekasihku"
"Oh yaampun, berartibkau berasal dari keluarga ternama Nara? siapa marga keluargamu? siapa tau aku kenal dan termasuk dalan deretan orang terkaya?
"Aku Kanara Sakher putri bungu dari Anan Sakher" jawab Nara.
Vivi sangat terkejut mendengar perkataan Nara, nama kelaurga Sakher adalah nama orang ketiga terkaya di nergar mereka, yabg artinya dia berteman dengan anak orang kaya.
"Aku tidak menipunu tapi jika kau tidak percaya itu lebih baik karena aku tidak suka membongkar identitasku pada orang orang" jawab Nara mengangkat bahunya acuh.
"Ck, kau benar benar keterlaluan Nara! kau tidak meresponku dengan baik" ucap Vivi seraya memukul lengan Nara gemas.
"Ms Nara, bisa bicara diruanganku!" seru Dilon.
"Baiklah Mr, saya segera kesana" jawab Nara yang bergerak berdiri dari kursinya.
"Aku temui dia dulu" ucap Nara.
"Hati hati jangan sampai kau kemakan rayuannya" ucap Vivi setengah berbisik.
Nara hanya menanggapinya dengan senyum, entah kenapa selalu saja Vivi mengingatkan dirinya agar tidak kemakan rayuan kepala sekolah mereka itu dan itu bukan hanya sekali tali berkali kali Vivi mengatakan itu.
"Pernisi Mr Dilon, ada yang bisa saya bantu?" tanya Nara setelah tiba di ruangan Dilon.
__ADS_1
"Oh, Ms Nara silahkan duduk" ucap Dilon.
"Kenapa Mr?"
"Aku hanya ingin bertanya apa kau betah bekerja disini?"
Nara mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan pria yang berrjabat sebagi pimpinan sekolah itu "tentu saja saya betah Mr, memangnya ada apa?" tanya Nara.
"Aku hanya ingin menanyakan kau nyaman dan betah disini atau tidak? aku takut jika kau merasa tidak nyaman dan nanti kau memilih untuk pindah tempat kerja" jawab Dilon.
"Tentu saja tidak Mr, ini pekerjaan yang saya pilib sejak dulu, dan ini adalah cita cita saya menjadi pegawai pemerintahan dan juga mengabdi untuk mendidik anak anak agar memiliki karkter yang baik kelak" jawab Nara dengan senyum tulusnya.
Dilon begiti terpana melihat senyum manis Nara, bagai bidadari surga menurutnya, tapi sayang bidadari surga ini bukanlah miliknya, dan hingga kini belum bisa memiliki wanita yang menjelam sebagi bidadari ini.
"Jarang sekali wanita muda sepertimu mau mangabdi dan memiliki cita cita seperti ini" ucap Dilon dengan tatapan yang penuh akan kekaguman dan penuh puja.
Nara yang memlihat tatapan Dilon menjadi sangat risih, Nara tidak suka ditatap begitu oleh pria lain, dia hanya mau Reyhanlah yang memandangnya dengan tatapan seperti itu.
"Ada lagi yang mau Mr bicarakan? jika tidak saya harj segera masuk kelas, anak anak ku pasti sudah menungu" ucap Nara yang sudah tidak betah.
"Bagaimana jika aku mengantarmu nanti pulang Ms Nara?" tanya Dilon penuh harap.
"Maaf Mr, bukan mau menolak tapi aku hanya ingin pulang sendiri, oh bukan kebetulan aku di jemput oleh kakaku jadi aku akan kembali bersamanya nanti" jawab Nara menolak secara halus.
"Baiklah, padahal aku sangat berharap bisa mengantarmu pulang" ucap Dilon dengan wajah yang menyiratkan kekecewaan.
"Maaf Mr, bukan ingin menolak tapi kebetulan sekali aku sudah di jemput" jawab Nara.
"Baiklah tidak masalah masih ada lain kali kan?" tanya Dilon berusaha tersenyum.
Nara keluar dari sana dengan bernafas lega, entah kenapa selalu saja dia tidak suka jika berada satu ruangan dengan Dilon tapi, jika boleh memilih dia tidak ingin berbicara dengan Dilon tapi masalah pekerjaan tidak bisa dia campurkan dengan pekerjaan.
.
.
__ADS_1
Bersambung....