STORY OF NARA

STORY OF NARA
lanjut


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam tapi Nara belum memejamkan matanya, bahkan wanita cantik itu masih hilir mudik bolak balik didalam kamarnya, dengan perasaan cemasnya Nara menunggu kepulangan suaminya yang entah sebenarnya kemana rimbanya.


"Astaga Mas, kamu ada dimana sih? kok belum pulang juga" hati Nara semakin resah dan cemas lantaran suaminya yang belum ada kabar hingga kini.


"Ya Tuhan... semoga Mas Rajehs baik baik, saja" harap Nara, "maafkan aki Mas, pasti kamu sangat sakit hati dengan ucapanku yang berkata tanpa memikirkan perasaanmu" lirih Nara.


Nara masih setia menunggu hingga kini jam sudah mendarat di angka sepuluh tapi Rajehs tak kunjung menunjukan dirinya, hingga akhirnya Nara memutuskan untuk menghubungi Leo asisten suaminya untuk menanyakan kabar mengenai Rajehs.


Ceklek


Baru saja Nara ingin mendial nomor Leo, tapi suara pintu terbuka membuat niatnya urung, dan tenyata pelakunya adalah pria yang sejak tadi ditunggu.


"Mas..." Nara langsung menghamburkan diri dan masuk dalam pelukan Rajesh, dia menangis didalam pelukan suaminya.


"Maafkan aku Mas..." pinta Nara dengan isak tangisnya yang terdengar kencang.


Rajehs yang tidak pernah bisa marah terlalu la dengan istrinya langsung membalas pelukan itu, bahkan tak segan kedua tangannya mengelus punggung dan mencium kepala Nara dengan sayang.


"Jangan menangis sayang" ucap Rajehs dengan suara yang dibuat selembut mungkin pada Nara.


"Maafkan aku yang sudah menyakitimu Mas"


"Mas sudah memaafkanmu, sudahlah jangan menangis lagi" pinta Rajehs.


Rajesh melerai pelukan mereka agar bisa melihat wajah istrinya, ditatapnya wajah wanitanya dengan begitu lekat, seolah ada sesuatu yang terbesit di benaknya, "kenapa? kenapa permintaan itu terbesit dihatimu Nara..?" tanya Rajehs.


Nara bukannya menjawab malah semakin menangis sejadi jadinya, walau Rajehs mengatakan dirinya sudah dimaafkan tapi tetap saja, Nara tua jika suaminya ada kekecewaan padanya dan itu terlihat dari cara Rajehs mengajak dirinya bicara.


Walau terdengar begitu lembut dipendengaran tapi tetap saja hati Nara merasakan tidak ada kehangatan disana dan bisa disempulkan oleh gadis itu jika memang suaminya masih memendam kecewa terhadap dirinya.


"Tidak Mas... aku keliru, aku kacau karena mendengar cemooh mereka hingga aku dengan bodohnya memintamu menikah lagi tampa memikirkan jika ucapanku akan menyakiti dirimu, bahkan aku dengan bodohnya tidak memikirkan bagaimana aku tanpamu Mas hiks hiks hiks" Nara mengungkapkan kekeliruannya pada Rajehs disertai dengan tangisannya yang semakin mederas membiar Rajehs tak pernah bisa tahan melihat air mata istrinya.


Segera tangan kekar itu kembali merengkuh tubuh Nara, memeluk dengan penuh kehangatan "sudah jangan menangis lagi, kamu tau kan? jika Mas tidak bisa melihat air matamu keluar walau setetes saja? jadi berhentilah menangis" pinta Rajehs dengan penuh kelembuta.


"Mas sungguh tidak marah padaku?" Nara bertanya untuk memastikan perasaan suaminya setelah pelukan keduanya terurai.


"Sepeti yang kamu katakan sayang, jika kamu keliru dan kamu sedang kacau jadi Mas memaklumi hal itu" ucap Nara.

__ADS_1


"Terimakasih Mas, terimakasih sudah mau memaafkan ucapanku yang menyakitimu"


"Sama sama sayang, tapi perlu kamu ingat untuk kedepannya jika aku tidak akan pernah mentolerirr ucapan ini dikemudian jika masih terucap dari bibir manismu" kata kata Rajehs walau terlihat tengan dan lembut tapi sukses membuat Nara bergidik ngeri, dia tidak tau apa yang akan dilakukan Rajehs jika dia berkata hal seperti itu lagi, tapi apapun itu wanita cantik itu sudah berjanji tidak akan pernah membahas hal ini lagi padamu suaminya.


Lagi pula Nara sudah ikhlas dan mau menerima keadaan mereka, setelah percakapannya dengan Radith tadi siang itu mampu membuat Nara terasadar jika dirinya belum bersyukur terhadap yang sudah ada, bahkan dirinya belum begitu baik merawat yang sudah ada terbukti saat Nara dengan teledornya lupa untuk menjemput putranya.


"Mas bisa mandi dulu? Mas sudah sanga gerah dan lengket" pinta Rajehs saat wanitanya tak kunjung melepaskan pelukannya.


Nara yang mendengar perkataan suaminya tersadar, tiba tiba rasa malu menghinggapinya, pipinya tidak bisa berbohong lagi jika saat ini sudah memerah merona malu, "baiklah aku em aku siapkan pakaian Mas dulu" ucap Nara dengan senyum kakunya.


"Sebentar ya Mas mandi dulu" ucap Rajehs dengan senyum manisnya membuat Nara semakin salah tingkah.


"Aku siapkan air hangat lagi Mas" tawar Nara.


"Tidak usah sayang, Mas mau mandi air biasa saja" jawab Rajehs dan langsung berlalu meninggalkam Nara dan melangkah menuju kamar mandi.


Nara mendekat kearah lemari pakaian mereka di walk in close, mengambil pakaian suaminya lalu meletakannua di atar ranjang milik mereka, setelah itu melangkah keluar dari kamar menuruni tangga dengan tujuan saat ini adalah dapur.


"Nyonya Muda, anda mau keamana? tanya salah satu Maid yang tidak sengaja berpapasan dengan Nara.


"Aku mau memanaskan makanan untu suamiku bi"


"Baiklah, sekalian saja ya nanti tolong antarkan ke kamarku" pinta Nara.


"Baik nyonya Muda"


"Terimakasih, dan maaf jika merepotkanmu" ucap Nara yang hanya dijawab anggukan oleh maid dan setelahnya Nara kembali menaiki anak tangga menuju kamar untuk melihat suaminya.


Ceklek


Pirntu terbuka dan ternyata Rajehs susah selesai membersihkan dirinya dan saat ini tengah mengenakan pakaiannya, "Mas sudah selesai mandi?"


"Iya sayang, kamu dari mana?" tanya Rajehs.


"Tadinya mau memanaskan makan malam untukmu, tapi ternyata masih ada Maid yang belum tidur jadilah aku minta tolong mereka saja" tutur Nara.


"Tapi kamu yang masak kan tadi sayang?" tanya Rajehs memastikan terlebih dahulu.

__ADS_1


"Iya Mas, aku yang memasaknya tadi" jawab Nara.


"Baiklah Mas akan makan" putus Rajehs.


"Memangnya kenapa kalau bukan aku yang masak Mas?"


"Jangan tanyakan lagi sayang, karena kamu sudah tau jawabannya, bahkan bukan hanya aku saja, Radith juga seperti itu" jawab Rajesh.


Nara hanya tertawa mendengar pernyataan suaminya, dalam hati dia merasa sangat bahagia karena suami dan putranya selalu menyukai semua yang dilakukannya terutama dalam hal masakan


"Baiklah, Mas tunggu sebentar lagi" ucap Nara.


Tak lama setelah itu pintu kamar utama itu terketuk dan Nara yakin jika itu pastilah maid yang tadinya memanaskan makanan untuk suaminya, "itu pasti Maidnya Mas" ucap Nara dan langsung begegeas menuju pintu kamar.


"Nyonya Muda, ini makanan untuk Tuan Muda" ucap maid yang tadinya mengerjakan pekerjaan yang dipinta Nara.


"Terimakasih Bi" ucap Nara setelah makana sudah sampai di tangannya.


"Sama sama Nyonya, kalau begitu saya permisi dulu"


"Silahkan Bi" jawab Nara lalu kembali menutup pintu dan berjalan menuju suaminya dengan membawa nampan yang berisikan makan malam untuk suaminya.


"Ini Mas, makan dulu" Nara menyodorkan makanan dihadapan Rajesh.


"Terimakasih sayang" ucap Rajehs dengan senyum manisnya, "oh ya, kamu sudah makan?" lanjut Rajehs dengan menanyakan Nara sudah makan atau belum.


"Sudah dari bersama putra kita" Nara.


"Baiklah Mas makan malam dulu"


Rajehs melahap makannya dengan penuh semangat karena memang satu hari ini makana tidak terisi dalam perutnya karena merasa kacau dengan permintaan istriya, pria tampan itu hanya subuh duduk dengan kesunyian dipinggiran jalan didalam mobil hingga malam dan setelahnya memutuskan untuk kembali setelah sudah sangat larut.


"Sudah selesai sayang" ucap Rajehs dan Nara langsung merapikan piring bekas makanan suaminya, meletakannya diatas meja kecil yang ada disana dan kemudian keduanya beranjak menuju ranjang untuk beristirahat.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2