STORY OF NARA

STORY OF NARA
Like father like son


__ADS_3

Hari ini sesuai rencana keluarga kecil Nara akan pindah ke Mension kedua dan kini mereka semua sedang berkemas, lebih tepatnya Nara si wanita cantik yang sedang sibuk berkemar hal hal kecil karena masalah pakaian Nara tidak perlu membawa banyak sesuai perktaan suaminya karena ternyata Rajesh sudah menyiapkan semuanya yang entah seperti apa yang sudah disiapkan di pria tampan itu.


"Sayang.." panggil Rajehs, saat ini pria tampan itu baru memasuki kamarnya setelah dari ruang kerja membereskan semua file file yang berhubungan dengannya karena tidak mungkin semua file perusahaan tertinggal disana karena itu sangatlah penting, bahkan lebih penting dari semua yang dipersiapkan.


"Iya Mas..."


"Kan Mas sudah bilang jangan berkemas, biarkan para Maid yang melakukannya" ucap Rajehs, dia berdecak melihat istrinya yang masih saja ngotot untuk berkemas walau sudah dilarang oleh Rajesh.


"Tidak apa Mas, kamu tau kan kalau aku tidak suka jika para Maid datang ke kamar kira?" ucap Nara.


"Mas juga tidak suka, hanya saja kalau sudah seperti ini tidak masalah, ketimbang istriku kelelahan lebih baik aku menurunkan keinginanku" ucap Rajehs dan melangkah laku membantu Nara untuk berkemas.


"Tidak usah Mas, kan kita pindahnya nanti sore, masih banyak waktu kok dan aku bisa menyelesaikannya sebentar lagi" ucap Nara.


"Tidak ada penolakan sayang, kamu taukan kalau Mas tidak ingin kamu kecapean" ucap Rajehs dan tetap melanjutkan kegiatannya.


"Sudah selesai" seru mereka bersamaan.


"Yaudah, aku cek Radith dulu ya Mas" pamit Nara membuat Rajehs lagi lagi berdecak kesal, pasalnya dia sengaja membantu istrinya agar tidak terlalu lelah tapi kini wanitanya malah ingin mengecek putranya, "biarkan Maid yang melakukannya sayang" penekanan diberikan Rajehs untuk setiap kalimatnya menandakan kalau saat ini dirinya tidak ingin dibantah.


Nara yang sudah sangat hafal akan intonasi suara itu kini berdiam, tidak lagi bergerak untuk melangkah keluar karena sudah diultimatum sama suaminya dia tau akan jadi apa dirinya kemudian jika masih saja berani membantah suaminya, pasti akan berakhir di atas ranjang dengan peluh yang bermandikan badan.


"Sini..." tudah Rajesh dengan menepuk kedua pahanya.


"Mas mau apa?" tanya Nara gugup.


Nara sudah wanti wanti keadaan, dia sudah sangat hafal tabiat suaminya, dia yakin jika ada maksud terselubung dihari suaminya.

__ADS_1


"Memangnya Mas mau apa? kan Mas mintanya kesini duduk disini" ucap Rajehs membuat Nara akhrinya patuh dan berjalan perlahan menuju suami tampannya.


"Rajehs dengan segera menarik istrinya yang sangat lambat bergerak menurutnya, segera tangannya rerlingkar di pinggang Nara dan memeluknya dengan erat, dagunya tertengger dibahu Nara dan sesekali menenggelamkan bibirnya di ceruk wanitanya.


"Mas geli...." ucap Nara, dia berusaha untuk menghindar tapi justru yang ada Rajesh semakin mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan lebih dalam bibirnya.


"Tidak ingin mengukir kenangan untuk terlahir kalinya?" tanya Rajeshs dengan tatapan nakalnya.


"Kenangan? maksudnya?" tanya Nara dan pura pura tidak mengerti.


"Jangan bersikap polos sayang, kamu sudah bukan gadis polos lagi" ucap Rajesh disusul dengan kekehanya.


"Mas...." rengek Nara membuat Rajehs semakin gemas dengan tingkah manja istirnya, membuat naluri kelelakiannya tidak bisa lagi diajak kompromi.


"Mas ingin menyatu sayang..." ucap Rajehs dengan suara seraknya, sesuatu yang dibawah sana sudah menunjukan meronta ingin menunjukan keperkasaanya, tapi masih harus bernegosiasi terlebih dahulu.


"Mas..." sekali lagi Nara merengek membuat Rajshs langsung meraup bibir wanitanya dengan rakus tapi lembut dan hangat.


"Sayang...mas mau sekarang"pinta Rajehs yang dijawab anggukan oleh Nara, dan Rajesh tidak lagi menyia nyiakan kesempatan.


Siang itu ditengah panasnya matahari diluar sana membuat hawa panas bagi yang merasakannya tapi dalam kamar kedua anak manusia itu tidak mempedulikan hawa panas, karena gairah yang sudah sangat memuncak dan ingin segera dilepaskan.


Diluar kamar, Radith menggerutu tidak jelas karena kedua orang tuanya tak kunjung datang sementara waktu makan siang sudah terlewatkan membuat Radtih terpaksa makan bersama nenek dan kakeknya.


"Ckck...Daddy dan Mommy malah asyik tidur, Nenek juga tidak menginjinkan aku membangunkan mereka, menyebalkan sekali" ketus Radith.


Wajahnya benar benar masam, dia kesal terutama pada ayahnya karena dia yakin jika otak dibalik semua ini pastilah ayahnya yang licik yang sialnya malah menurun pada dirinya kelicikan itu.

__ADS_1


Tak berbeda jauh dengan Radith, Leo juga menggerutu bahkan tak segan mengumpat dan mengatai tuan mudanya tapi hanya didalam hati dia bisa melakukan hal itu karena sudah pasti jika dia mengutarakan lewat mulut sudah pasti bencana akan menghadangnya terutama dari bocah yang tidak kalah pedasnya dengan Sanga Ayah.


"Dasar manusia mesum, pasti dia sedang enak enak pada istrinya sedangkan aku harus menunggu dengan mengerjakan banyak pekerjaan yang menumpuk" umpat Leo.


Dia terus saja mengerjakan pekerjaannya dengan bersunhut sungut, melampiaskan kekesalannya pada berkas berkas yang diletakan dan dibuka dnegan kasar, "ckck...entah apa enaknya melakukan hal itu, membuang banyak waktu saja, dan sialnya aku lagi yang harus menanggung masalah" lanjut Rajehs.


"Ada apa Paman Leo, kenapa sangat kasar salam bekerja" kata Radith dengan suara kerasnya.


Leo tersentak mendapat teguran dari Radith, kekesalannya pada sang tuan muda membuatnya lupa jika keturunan pria yang sedang dia umpat itu ada dihadapannya bahkan kini mengamati gerak geriknya.


"Tidak ada" jawab Leo datar.


Sebenarnya, Leo sedang pasang badan dan telinga menerima semua perkataan Radith padanya yang sudah pasti tidak jauh berbeda dengan gaya bicara Rajesh dan benar saja Radith sudah melancarkan aksinya.


"Kalau Paman tidak betah bekerja dengan Daddy maka berhenti saja, jangan menggerutu jika mengerjakan sesuatu karena hasilnya tidak akan baik," ucap Radith dengan ketus.


"Dasar bocah ini, dengan gampang sekali menyuruhku berhenti bekerja, dia pikir menjadi pekerjaan itu mudah apa? dan apa katanya? jangan mengerjakan sesuatu dengan keadaan marah? he...! kamu tidak tau saja bagaimana ayahmu yang mesum itu melimpahkan pekerjaanya padaku bocah!" jawab Leo tapi lagi lagi hanya hatinya yang berbicara, sedangkan mulutnya terkunci rapat.


"Jangan menjawab dalam hati saja, jika ingin protes Maja ajukan saja pada Daddy dan bersiaplah untuk ditendang" ucap Radith dengan wajah yang seolah tau jika saat ini Leo sedang berbicara dalam hatinya.


"Leo menegakkan badannya, dia tidak percaya selain mulut pedas, rupanya keturunan Rajesh yang berada di awah pimpinan Rajehs juga bisa mendengar suara hatinya, Leo jadi berpikir jika harus berhati hati untuk kedepannya, sebisa mungkin akan menahan hatinya untuk tidak terus berbicara.


"Bekerjalah Paman, jangan terus berpikir" ketus Radith membuat Leo Kemabli tersentak kaget.


"Sialan anak sama bapak sama saja" geram Leo dan langsung menyibukan dirinya memeriksa berkas berkas untuk menghindari bocah yang menurutnya menyebalkan itu.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2