STORY OF NARA

STORY OF NARA
menikah kembali


__ADS_3

Sampai di sekolah, Radith langsung melesat keluar menuju kelasnya setelah berpamitan pada kedua orang tuanya kemuadian mobil kembali melaju dan tujuannya adalah kantor Rajehs, Mengingat waktu yang sudah hampir jam delapan membuar Rajehs tidak langsung mengatakan Nara Kembali ke mension melainkan membawa serta bersamanya menuju kantor.


Wanita cantik itu juga tidak komplein, dua cukup mengerti keadaan suaminya yang sedang banyak pekerjaan apalagi proyek baru yang sedang ditangani pasti membuat Rajehs sangar sibuk dan waktu yang sebentar itu sangat berarti untuk mereka.


Sampai di kantor, walau sangat terburu tapu Rajehs tetap memperlakukan istrinya dengan sangat lembut, terbukti dari sikapnya yang dengan sigap membukakan pintu untuk istrinya setelah pintu untuknya sudah dibuka oleh Leo membuar Nara tersenyum senang karena merasa disanjung tapi tidak bagi Leo yang berasa ingin muntah dengan sikap lebai tuan mudanya.


"Cihh... sama sama manis tapi sekalinya galak bikin jantungan" batin Leo.


"Ayo sayang kita masuk" ajak Rajesh yang hanya dibalas anggukan oleh Nara sebagai pertanda dirinya mengiyakan ajakan Rajehs.


Keduanya berjalan dengan saling bergandengan tangan, jangan lupakan senyum manis yang terukir dibibir keduanya.


Semua karyawan yang melihat pasangan yang sudah lama menikah itu tapi tetap mesra merasa iri terutama para wanita yang juga mengidamkan pasangan seperti Rajehs walau terkenal dingin dan kejam tapi terlihat sangat sisi lembutnya kala bersama keluarganya


"Ohhh sweet banget mereka, tidak hilang kadar mesranya walau sudah tiga tahun" gumam salah satu karyawati diperuasahaan Rajehs.


"Hooh masih sweet saja keduanya" timpal salah satunya.


"Tapi sayang belum ada kabar bahagia kan yang kita dengar" ucap salah satu yang lainnya lagi membuat anestesi beberapa yang lainnya menoleh dan memikirkan kebenaran yang dikatana salah satu rekan.


"Iya sayang, tidak tau mana yang mandul" celutuknya lagi.


"Husss... nanti didengar sama bos besar kita bisa mampus kamu" tegur yang lainnya lagi.


Bisikan bisikan itu tentu saja didengar Nara dan Rajehs tapi pria tampan yang menjabat sebagai pemilik itu berusaha acuh tanpa tau isi hatinya sedangkan Nara meremas ujung blousnya mendengar hal itu dan Rajehs bisa merasakannya terlihat dari jemarinya yang diremas kian kuat oleh Nara.


"Jangan pikirkan" titah Nara.


"Bagaimana bisa aku tidak memikirkan?"..


"Sssttt diamlah" ucap Rajehs, langkahnya tiba tiba berhenti dan Leo yang berada dibelakangnya dengan sigap menerima perintah dari majikannya, dia tentu tau apa yang diinginkan tuan mudanya jika sudah seperti ini, "Leo..." seru Rajesh.

__ADS_1


"Ya Tuan Muda, saya siap melaksanakannya" ucap Leo.


"Kau urus mereka" perintah Rajehs dengan suara tegasnya.


Semua karyawan yang tadinya bergosip langsung tercengang mendengar suara lantang Rajesh, tapi bukan itu yang membuat mereka terkejut, tapi karena perkataan Rajesh lah yang membuat mereka terkejut bukan main, bahkan ada yang kini gemetaran karena ketakutan jika harus dikeluarkan dari Rajesh.


"Mas..."


"Jangan memintaku untuk diam sayang... tidak akan ada ampun bagi orang yang berani mencemooh keluarga kita" tegas Rajehs menyela ucapan Nara.


"Tapi...."


"Leo... lakukan yang ku perintahkan!" tegas Rajehs membuat Nara akhirnya bungkam.


Selepas mengatakan itu, Rajehs langsung mengajak istrinya menuju lift untuk naik keruangannya , walau dalam keadaan hati yang kurang baik tapi tetap saja perlakuan Rajehs terhadap Nara sangat lembut dan hati hati.


"Mas... kenapa harus marah seperti itu?" tanya Nara.


Rajehs mengambil nafasnya dengan dalam dan membuangnya secara perlahan barulah pria tampan itu kembali berbalik dan melangkah mendekati Nara.


"Sayang...." panggil Rajehs, kakinya bersimpuh tepat dihadapan Nara, tangannya meraih kedua tangan Nara dan meremasnya dengan sangat lembut dan menciumnya dengan lembut pula.


"Kamu tau kan? kalau aku tidak bisa melihatmu terkuak sedikitpun? aku tidak suka melihatmu bersedih sedikitpun apalagi sampai ada yang mencemooh dirimu dan keluarga kita..." ucap Rajehs.


"Tapi bukankah yang mereka katakan benar? kita belum memiliki anak dan itu adalah kenyataan, lalu kenapa harus marah" Nara berusaha bersikap biasa saja dihadapan Rajesh, tapi pria itu bukanlah orang bodoh yang tidak bisa menelisik wajah dan persaan istrinya mengingat kebersamaan mereka yang bukan sebentar saja.


"Tidak!" jawab Rajehs dengan tegasnya, "yang mereka katakan tidak benar sehingga mereka harus mendapatkan hukuman dariku".


"Dimana letak ketidak benarannya? kita memang tidak punya anak, dan tidak tau apakah akan memiliki anak atau selamanya akan seperti ini terus" ucap Nara dengan mata yang sudah berkaca kaca.


Sepertinya Nara sudah tidak bisa menahan kesedihan hatinya lagi dihadapan Rajehs karena semuanya percuma saja, toh suaminya tetap mengetahuinya.

__ADS_1


"Kita hajya perlu bersabar sayang, bukankah kamu mendengar sendiri kalau kita sama sama sehat? lalu kenapa kamu masih meragukan hal itu" serga Rajesh yang merasa tidak suka dengan sikap istrinya yang terlalu baper karena perkataan orang orang.


"Tapi sampai kapan? sampai kapan kita akan menunggu...!" teriak Nara, "aku sudah lelah.... aku sudah capek berpura pura baik baik saja Mas, aku lelah menyemangati diriku kalau semuanya akan baik baik saja, nyatanya hati kecilku tetap memberontak terhadap itu"


Nara ini kembali mengeluarkan uneg uneg hatinya, mengungkapkan semua yang dirasakan jika selama ini dia berusaha baik baik saja tapi tetap tidak bisa.


Rajehs mengusap wajahnya dengan kasar, dia tidak tau lagi bagaimana bisa meyakinkan istrinya agar tidak perlu memikirkan hal ini, Nara terlalu keras kepala untuk hal ini, perasaanya selalu dinomor satukan dalam masalah yang satu ini.


"Bisakah kita jalani saja tanpa merasa terbebani dengan perkara anak?" tanya Rajehs setelah berulang kali menghela napasnya.


Nara menatap lamat lama suaminya, mencari kebenaran dalam ucapan Rajehs dan wanita cantik itu tidak percaya dengan apa yang didapatkan, suaminya sungguh meminta hal itu padanya, lalu bagaimana mungkin Nara memenuhi permintaan Rajehs saat hatinya benar benar berharap besar terhadap kehadiran seorang anak.


"Kamu sungguh bisa menjalani semua ini tanpa seorang anak Mas?" tanya Nara.


"Tentu saja, kenapa tiga tahun ini bisa? lalu kenapa harus dipertanyakan lagi masalah itu?" Rajehs mengerutkan keningnya dengan pertanyaan istrinya yang menurutnya tidak masuk akal.


"Tapi aku tidak bisa Mas, tidak bisa lagi untuk bersikap baik baik saja dihadapan semua orang, aku lelah... sangat lelah" lirih Nara.


"Lalu apa yang kamu inginkan? katakan apa yang kamu mau?" desak Rajehs.


Sungguh pria itu sudah tidak bisa sabar lagi jika menyangkut istirinya yang keras kepala seperti itu, rasanya lebih baik dia memikirkan proyek yang dengan mudah bisa dikendalikan dari pada menghadapi istrinya yang sangat keras kepala.


Nara sendiri mengehela napasnya dengan berat sebelum mengutarakan keinginannya yang sudah sejak dulu dipikirkan sejak lama mengenai kelanjutan rumah tangga mereka jika belum ada keturunan hingga kini.


"Menikah kembali Mas"


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2