STORY OF NARA

STORY OF NARA
Part 23


__ADS_3

Dengar! tiga hari lagi aku akan kembali ke Indonsia dan menetap disana, kalau kau mau ikut silahkan jika tidak juga itu lebih bagus!" ucap Reyhan dengan nada tegasnya.


Cleora mendengus sebal mendengar perkataan Reyhan yang secara tidak langsung mengatakan jika dia ingin Cleora tidak ikut, tapi jangaj pikir Cleora akan diam saja. Dia sudah menjadi istri sah Reyhan dan kesempatan bagus untuk dia berduaan dengan Reyhan dan di sana dia kan berusaha untuk mengambil hati pria tampan yang sudah menjadi istrinya itu.


Dengan senyum manis yang di tampilkan Cleora pada Reyhan kemudian berkata, "tentu saja aku akan ikut, karena seorang istri seharusnya ikut kemanapun langkah suami bukan'


Reyhan muak melihat senyum itu, ingin sekali rasanya dia menyingkirkan wanita yang di hadapannya itu tapi dia masih berpikir waras untuk tidak melakukan hal yang akan membiat dirinya sendiri rugi.


"Ckck bersiaplah! ingat jangan berharap bisa mendapatkan perhatianku karena itu tidak akan pernah terjadi!" tekan Reyhan kemudian melangkah menuju ranjang mengambil bantal kemudian kembali melangkah ke sofa panjang yang ada di sana dan segera merebahkan tubuhnya.


"Kenapa tidur disana?" tanya Cleora dengan kening yang mengerut.


Reyhan balas dengan kening yang juga mengerut dalam, tapi sejurus kemudian senyum sinis dan mengejek terbit di bibir Reyhan dan itu di tunjukan pada Cleora membuat wanita itu menggeram kesal.


"Jangan bermimpi untuk tidur bersamaku! karena itu tidak akan pernah terjadi" ejek Reyhan.


Tangan Cleora terkepal kuat, wajahnya merah padam menahan amarah. Dia benar benar tidak habis pikir jikan Reyhan tidak tergoda olehnya, benar benat sangat berbeda dari pria lainnya yang hanya dalam sekali rayuan saja akn terbujuk.


Dengan hentakan kaki yang kuat Cleora melangkah menunu ranjang dan merebahkan tubuhnya dengan kasar melampiaskan kekesalan dihatinya sedangkan Reyhan memejamkan matanya, dia tidak peduli dengan sikap atau apa yang di rasakan Cleora karena baginya wanita itu tidak penting bahkan tidak ada dalam hidupnya.


.


***


Reyhan sudah berada di Bandara, dengan pakaian kasual dan kacamata yang bertengger indah di atas hidungnya menutupi bola matanya yang menggoda karena tatapan tajamnya. Sesuai yang di katakan Reyham sebelumnya pada Nara kekasihnya jika haru ini dia akan kembali ke Indonesia yang artinya mereka akan bertemu melepas rindu setelah sekian tahun tak bertemu.


"Akhirnya kita akan bertemu Nara sayang" batin Reyhan seraya menghirup udara dalam dalam.


Cleora mengedarkan pandanganya ke sekiling bandara, banyak yang berubah dengan tempat. Terakhir berkunjung saat dia berusia sepuluh tahun dan kini umurnya sudah dua pupuh tahun yang artinya sepuluh tahun sudah berlalu dan kini barulah ia kembali dengan status seorang istri.


Cleora melirik ke arah Reyhan tampak pria tampan itu tersenyum manis dan dia tau alasannya, siapa lagi jika bukan karena pria itu senang karena akan kembali bertemu dengan kekasih hatinya. Kembali Cleora merasakan nyeri di hatinya tapi dia tidak mau menyerah begitu saja.


Sudah separuh jalan bukan yang dia lewati dan tidak mungkin jika dia berhenti karena itu sama saja gagal sebelum berperang, dia akan terus berusaha merebut hati Reyhan hingga nanti rasa lelah dan jenuh menghampirinya barulah dia akan berehenti dan pergi jauh dari hidup Reyhan.


"Tidak masalah Rey kau mengabaikanku, aku akan terus berjuang untuk mendapatkan hatimu" batin Cleora dengan tatapan yang muali memburam karena air mata.


.


Kanara sendiri sudah mendengar jika kekasih hati dan cintanya akan kembali tapi perihal tepatnya kapan itu tidak dia ketahui kerena belum ada kejelasan dari pacarnya. Kebahagiaan tentu saja terpancar dari wajah Kanara Saker karena sebentar lagi akan melepas rindu dengan Reyhan.


Dia membereskan apartementnya karena dia yakin sudah pasti nanti malam kekasihanyaboti akan mengajak dirinya bertemu, dia yakin jika Reyhan merasakan apa yang dia rasakan juga ingin bertemu dan meluapkan rindu.


Nara terus saja bersih bersih mulai dari menyapu, mengepel, cuci piring bahkan pakaian kotornya pun dia bersihkan. Jangan tanya apa ada asisten rumah tangga karena jawabannya adalah tidak ada, Nara tidak suka jika harus ada asisten rumah tangga selagi masih mampu untuk mengerjakan sendiri.


Hingga kini Semua sampah yang sudah terkumpul hendak dia buang setelah sebelumnya sudah menugubungi pihak kebersihan di apartemennya untuk mangkut sampahnya.


Tangannya terulur untuk membuka penutup keranjang sampah untuk memasukan juga sampah lainnya agar tertumpuk tapi gerakan itu terhenti saat matanya mendapatkan sesuatu yang di jadikan sampah, sesuatu yang asing yang dirinya rasa itu bukan miliknya.

__ADS_1


Perlahan tapi pasti tangannya terulur meraih benda itu, "undangan" gumam Nara seraya membolak balikkan undangannya kemudian membuak bungkusannya.


Seketikan tubuhnya menegang, tangannya gemetar dan matanya menatap lekat tulisan dan foto pria yang tercetak di lembaran itu. nama dan gambar Pria yang sangat dia kenali, nama dan gambar pria yang menjadi separuh hidupnya, yang membuat dia mengorbankan banyak hal untuk pria itu.


Perlahan air matanya sukses luruh membasahi pipinya, tidak bisa dia percaya apa yang dia lihat tapi nyatanya sudah terpampang jelas di depan wajahnya dan tanggalnya pun sama dengan tanggal pertunangan Lioenel kakaknya.


"Salah....ini pasti salah, ini bukan Reyhanku" lirih Nara dengan kepala yang terus menggeleng tidak percaya.


"Tidak....bukan...ini bukan Reyhanku!"


Seketikan tubuh Nara terduduk lemas di atas lantai, kakinya tidak lagi mampu menpang berat tubuhnya yang sangat syok akan kenyataan pahit ini. Nara menangus tersedu dengan kepala yang menunduk dengan tumpan kedua lututunya.


Sangan sulit rasanya bagi Nara menerima kenyataan tapi dia juga tidak bisa menghindar apa lagi menganggap tidam terjadi karena kenyataan Reyham telah menghianatinya dengan menikahi wanita lain sepata kata dari Reyhan.


Kring Kring Kring


Bunyi posel membuat gadis cantik itu menengadah dan dengan perlahan langkahnya mendekat meraih ponsel dan melihat ID pemanggil yang ternyata adalah Reyhan, hati Mra kembali menjerit mengingat kebohongsn Reyhan padanya. Tapi Nara berusaha keras untuk menguasai perasaanya agar tidak terbawa emosi pada Reyhan.


.


"Hallo Rey" jawab Nara.


Kanara berusaha menetralkan perasaanya, dia sudah memutuskan akan bertanya langsug pada Reyhan dan dia berharap pria yang menjadi kekasihnya itu mau berkara jujur padanya nanti, Nara ingin kejujuran bukan kareja dia ingin memberi kesempatan atau masih ingin bersama Reyhan tapi karena ingun dia memperjelas semuanya dan dia bisa melupakan Reyhan walau sebenarnya jauh dalam lubuk hatinya masih ada rasa tidak rela jika ternyata semua itu benar.


"Nara sayang...aku sangat merindukanmu, mari kita bertemu di restoran tempat biasa kita" ucao Reyhan dari sebrang sana.


"Baiklah kita akan bertemu di tempat biasa kita" jawab Nara berusaha agar suaranya tidak bergetar.


"Baiklah sayang, aku akan mempersiapkan diriku dan kau berdandanlah yang cantik"


"Tentu... tentu saja aku akan berdandan cantik untukmu"


"Tentu saja Rey akan berdandan cantik untuk terakhir kalinya untukmu jika semua yang aku tau ini benar" batin Nara dan langsung menutup sambungan teleponnya.


Nara memejamkan matanya untuk mencegah air matanya kembali menderas, menenangkan dadanya yang bergemuruh dan berganti untuk mempersiapkan dirinya di pertemuan nanti malam, dia ingin terlihat tegas dan melarang keras air matanya menetes di hadapan Reyhan.


Dia langsung bersiap untuk bertemu dengan Reyhan, rasanya sudah tidak sabar lagi. Bukan tidak sabar karena melepas rindu tapi tida sabar karena ingin tau kebenaran yang terjadi dan itu dia ingin kebenaranya berasal dari mulut Reyhan.


.


"Reyhan kau mau kemana?" tanya Cleora yang melihat kekasihnya yang sudah berpenampilan rapi dengan wajah yang berseri.


Sebenarnya Cleora tanpa bertanya pun sudah tau tapi ini semua hanya untuk berbasa basi saja agar bisa berbicara dengan Reyhan walau pada khirnya hanya akan ada jawaban tidak mengenakan dan berujung sakit hati yang akan di dapatkan tapi itu tidak masalah bagi Reyhan.


"Bukan urusanmu!" jawab Reyhan dengan intonasi yang tetap sama yaitu dingin tak berperasaan.


"Kau ingin bertemu dengan Nara?" tanya Cleora yang sepertinya sudah kebal dengan rasa sakit.

__ADS_1


"Jika kau sudah tau maka jangan bertanya lagi!" ketus Reyhan kemudian berlalu pergi neningglkan Cleora.


Seketika itu juga luruh air mata Cleora bersamaan dengan berbaliknya tubuh suami yang sangat di cintainya.


Reyhan terus menatap pergelangan tangannya melihat jarum jam yang terus berputar, sudah lima belas menit berlalu tapi Nara kekasihnya belum juga datang, kecemasan mulai melanda perasannya tapi tak lama setelah itu senyum kelegaan terbit tat kala melihat kekasih hatinya terlihat dari kejauhan.


Desiran darah dan debaran jantung Reyhan melaju cepat melihat keksihnya berjalan dengan anggun ke arahanya. Tiga tahun tidak bertemu membuat Nara semakin cantik di matanya, benar benat bersinar dan dia beruntung bisa memiliki Nara sebagai kekasihnya.


Pandanga keduanya beradu saat jarak kian menipis, dua manusia dengan dua suasana hati yang berbeda, jika Reyhan merasa sangat bahagia berbeda dengan Nara yang semakin berdegup takut mendengar kenyataan tali bukankah mengetahui kebenaran jauh lebih baik walau sakit dari pada bahagia tapi penuh kebohongan.


Reyhan memeluk erat tubuh Nara dengan sangar erat dan hangat, Reyhan menyalurkan rasa rindunya terhadap kekasihnya. Begitupun Nara yang sebenarnya juga sangat merindukan Reyhan membuat dia tanpa pikir membalas pelukan itu hingga kini keduanya melepas rindu setelah berpisah sekian tahun


"Aku sangat merindukan mu sayang..." ucao Reyhan dengan mata terpejam meresapi kehangatan tubuh Nara.


"Aku...aku juga merindukanmu" lirih Nara sera terus berusaha untuk menahan air matanya.


"Duduklah sayang" ucap Reyhan setelah pelukan keduanya dan menuntun Nara untuk di kursi yang sudah di sediakan.


"Kau semakin cantik sayang" lanjut Reyhan.


Nara berusaha tersenyum di hadapan Reyhan, "kau juga semakin tampan walau aku tidak tau apa yang terjadi semala tiga tahun ini" jawab Nara membuat kening Reyhan mengerut dalam.


"Apa maksudmu sayang?"


Nara menatap lamat lamat wajah pria yang menjadi separuh hatinya ini dengan tatapan yang sulit di kenali Reyhan, "katakan Reyhan rahasia apa yang tidak aku ketahui?" pinta Nra berusaha tegar.


Deg


Tubuh Reyhan menegang mendengar permintaan Nara, tentu saja ada rahasia yang di sembunyikan Reyhan dari Nara tapi dengan cepat ia menapik pikiran jika Nara mengetahui hal itu.


"Apa maksudmu Nara sayang? aku tidak mengerti"


Nara menghela napasnya dengan perlahan, dia tidak mau tersulut emosi karena dia bukan wanita bar bar yang akan berteriak marah atau membentak Reyhan karena di hianati. Nara adalah wanita berkelas yang berasa dari keluarga berkelas dan dia juga wanita yang berpendidikan yang berperan mendidik dan membentuk karakter jiwa generasi muda.


"Kau yakin Rey tidak paham maksduku?" tanya Nara sekali lagi dengan nada yang masih tetap lembut.


"Tentu sayang aku tidak paham maksudmu" jawab Reyhan.


dengan hembusan napas kasar Nara membuang tas tangannya dan mengeluarkan sesuatu dari sana, sesuatu yang tak lain adalah surat undangan pernikahan anatara Reyhan dengan wanita lain yang hanya namanya saja Nara kerahui sedangkan orangnya sama sekali tidak di ketahui.


Deg


Mata Reyhan terbelalak, tubuhnya membeku, lidahnya keluh dan jantungnya berdetak hebat melihat apa yang di tunjukan Nara di hadapanya, sudah jelas Reyhan tau apa itu dan milik siapa pula. Itu adalah undangan pernikahan dan pemilik nama yang ada di sana tak lain adalah Reyhan.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2