STORY OF NARA

STORY OF NARA
keluar negeri


__ADS_3

"Mari masuk Tuan Mich" ucap Rajehs saat melihat wajah bingung yang ditunjukan oleh Mich pada mereka berdua.


"Ah iya, terimakasih" ucap Mich lalu memasuki ruang rapat.


"Baik Tuan, mari kita mula saja kapan kita bisa menstart proyek kita" ucap sekretaris Mich yang menjadi juru bicara saat ini.


"Sebentar..." sela Mich membuat semuanya menatap kearahnya.


"Begini... sepertinya perlu saya tegaskan disini, saya tidak suka jika dalam pekerjaan masalah pribadi di bawa bawa, saya tidak tau perselisihan apa yang terjadi diantara kalian berdua..." ujar Mich dengan menunjuk Rajehs dan Reyhan bergantian.


"Karena sejak awal kita pertemuan hingga saat ini, saya selalu merasakan kejanggalan dalam situasi yang melibatkan kalian, tapi walau begitu... saya harus tegaskan jika saya tidak suka jika karena masalah priibadi kalian menjadi tidak konsisten" tegas Mich.


Rajehs dan Reyhan terdiam, mereka tau jika memang bawaan mereka berdua sudah sangat terlihat walau hanya sekilas saja orang orang pasti sudah bisa menebak dan mereka tidak bisa mengelak lagi.


"Maafkan saya yang membuat anda mungkin merasa terganggu Tuan Mich, tapi anda tidak perlu khawatir tentang proyek kita karena itu tidak akan terganggu karena perihal ini" ucap Reyhan memberi keyakinan pada Mich.


"Ya benar, anda tidak perlu menghawatirkan hal itu Tuan Mich" timpal Rajehs.


"Baiklah, mari mulai meetingnya" titah Mich.


Seketika keadaan ya h sempat menegan itu kini menjadi serius dengan pembahasan mengenai proyek, bahkan tak jarang Reyhan dan Rajehs terlibat dalam satu argument mengenai proyek dan itu benar benar membuat Mich sangat puas karena rekan bisnisnya tidak membuat dirinya kecewa.


Sementara itu Nara di dalam mensionnya sedang disibukan di dapur, sesuai rencananya sebelumnya sebelum berangkat ke rumah orang tuanya, terlboh dahulu memasakan makanan untuk keluarganya terutama pada kepokannya yang entah kenapa sangat menyukai masakannya.


Selesai dengan itu, Nara meminta tolong agar makanannya di siapkan dan dimasukam salam rantang oleh Maid dan dia sendiri akan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu dan mempersiapkan perlengkapan Radith juga.


"Bi... tolong masukan dalam rantang ya" pinta Nara dengan suara lembutnya.


"Baik Nyonya Muda"


"Terimakasih"


"Sama sama Nyonya Muda"


Nara berlalu menuju kamar Radith terlebih dahulu, dia mengambil beberapa pakaian salin untuk Radith, mengepaknya dalam paperbag dan setelah itu barulah Nara berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya sendiri sebelum berangkat.


"Bagaimana Bi? sudah selesai?" tanya Nara.


"Sudah Nyonya Muda, semua sudah selesai" jawab maid.


"Terimakasih Bi, saya pergi dulu kalau begitu" pamit Nara.

__ADS_1


"Baik Nyonya Muda, berhati hatilah"


Nara berjalan keluar menuju pintu utama, dan supir yang melihat hal itu langsung bergegas membuatkan pintu untuk Nara karena memang itulah tugasnya berada dalam mension itu untuk mengantar kemanapun majikannya akan pergi dan dia yakin jika saat ini wanita yang me jadi nyonya rumah itu hanya akan pergi menjemput putranya saja, mengingat jam sudah menunjukan waktunya anak sekolah pulang.


"Silahkan Nyonya"


"Terimakasih pak, padahal saya bisa masuk sendiri" canda Nara.


"Ini sudah pekerjaan saya Nyonya Muda, bahkan gaji saya sangat jauh lebih besar dibandingkan pekerjaan yang saya lakukan" jawab supir dengan sopan.


"Terserah bapak saja, saya hanya bercanda sebelumnya walau sebenarnya saya juga sangat risi diperlakukan seperti itu tapi yah.... mau bagaimana lagi jika itu sudah perintah dari suamiku, aku saja tidak bisa membantahnya" ujar Nara yang secara tidak langsung dengan mengeluh.


"Anda sangat beruntung Nyonya, Tuan Muda seperti itu sebagai bukti dari cintanya, ungkapan perasaanya yang memang sangat ingin melindungi anda" jelas supir.


"Ya bapak benar, dan itu tidak bisa dipungkiri" jawab Nara.


Setelahnya tidak ada percakapan lagi yang terlibat, baik Nyonya dan supir itu tidak lagi bercakap, Nara sibuk dengan ponselnya menanyakan kabar suaminya sedangkan si supir sibuk dengan jalanan dan fokus mengemudikan mobilnya.


Sampai disekolah, Nara langsung turun dari mobil dan bertepatan dengan itu Radith juga keluar dari kelasnya dan berlari menghampiri ibu sambungnya, " Mommy...." teriak Radith


Ya, begitulah Radith, walau dari luar terlihat dewasa, bahkan umurnya kian bertambah tapi jika berada bersama dengan Nara pasti sikap kekanakannya aka terlihat dan itu juga tidak pernah dipermasalahkan oleh Nara, justru wanita cantik dan dewasa itu senang dengan sikap Radith.


"Sayang...." Nara merentangkan tangannya sebagai isyarat agar Radith masuk dalam pelukannya, dan Radith yang paham akan kebiasaan merekapun langsung berhambur memeluk ibunya.


"Selalu mudah Mom, semuanya bisa aku kuasai karena aku punya guru yang hebat" Jawab Radith dengan berbangg diri atas kepintarannya dan juga Nara yang dijadikan sebagai gurunya.


"Mommy senang dan bangga mendengarnya sayang, tingkatkan terus dan jadinya anak yang membanggakan keluarga kita" ucap Nara dengan senyum tulusnya.


"Tentu saja, aku akan membuat Mommy dan Daddy bangga padaku" ucap Radith.


"Sudah, ayo kita langsung ke rumah Nenek dulu, tapi dijalan sambil makan ya... karena perjalanan kita sedikit jauh, takut putra Mommy kelaparan nanti" ujar Nara yang langsung dijawab anggukan oleh Radith.


"Jalan Pak" titah Nara.


"Mom, aku ingin tukar baju dulu" ucap Radith.


"Tentu saja, kamu tikar baju terlebih dahulu" jawab Nara dan langsung bergerak membuka helai demi helai seragam yang dikenakan Radith.


"Di lap pakai tissu basah dulu ya sayang, biar tidak iritasi kulitnya"


"Iya Mom, and Thanks" ucap Radith.

__ADS_1


Nara hanya tersenyum mendengar ucapan terimakasih dari putanya, fokus dan tangannya sibuk mengelap semua tubuh Radith agar keringat tidak terlalu lengket ditubuh putranya dan setelah itu barulah pakaian salin dikenakan Nara pada putranya.


"Selsai, sekarang waktunya kamu makan" ucap Nara dan langsung meriah rantang yang sudah dipisahkan untuk dimakan Radith saat ini.


"Mom...apa kita akan menginap?" tanua Radith setelah makanan yang disulangkan Nara dalam mulutnya tandas.


"Tidak tau sayang, tergantung Daddy saja nanti" jawab Nara dan tangannya terus fokus bolak balik menyulang putranya.


"Aku ingin tidur disana Mom" ungkap Radith.


"Iya sayang, nanti saja kita bicarakan kalau Daddy sudah datang" ucap Nara dan kembali menyulang putranya.


Selesai dengan memberi makan Radith ,bertepatan dengan itu juga mobil yang dikendari sudah sampai di mension milik Saker dan Nara serta putrnya langsung turun memasuki rumah utama itu.


"Bapak pulang saja, nanti suamiku akan menjemput" ucap Nara sebelum dirinya melangkah masuk.


"Hallo..... ada orang...." Radith berteriak saat kakinya menginjak lantai utama, suaranya ya g melengking membuat semuanya menoleh dan alangkah bahagianya mereka karena kedatangan putri keluarga Saker.


"Kakek... Nenek.... Paman Bibi....." Radith menyebutkan satu persatu yang ada disana, membuat para pemilik rumah hanya tersenyum dengan tingkahnya.


"Kalian datang? kenapa tidak bilang Kakak bisa menjemput" Lionel berkata seperti itu karena memang perasaanya sebagai seorang Kaka tidak pernah berubah pada Nara walau sudah lama tidak tinggal bersama.


"Tidak apa kak, aku ingin memberis surprize" jawab Nara dan terus melangkah menuju ruang tengah.


"Kakek" sapa Radith dan langsung duduk dipangkuan Anan.


"Ohh cucu Kakek semakin berat saja" canda Anan tapi tangannya justru memeluk erat Radith dan mencium kening anak kecil itu.


"Nenek diabaikan?" tanya Naina pura pura bersedih.


"Tentu saja tidak, aku mana bisa mengabaikan Nenekku yang cantik ini" jawab Radith dan langsung menghampiri Naina lalu memberi kecupan di pipi wanita paru baya itu.


"Ohhh kau sangat manis sayang" ucap Naina dan membalas ciuman Radith.


"Ayo sayang, Ibu sangat merindukanmu" pinta Naina pada anaknya agar bisa mendekat padanya.


Nara menurut, memeluk dan mencium kedua pippi Naina lalu bergantian dengan Anan ayahnya, "kenapa datang? apa Rajehs keluar kota atau keluar Negeri?" tanya Anan.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2