
"Nara...." lirih Reyhan untuk kesekian kalinya sementara mobil yang di kendarai Nara sudah melaju dengan cepat menuju danau.
Di sana, Nara berdiri menghadap danau, air matanya tanpa bisa di ajak kompromi luruh begitu saja melewati kelopak matanya, "Ya Tuhan...aku benar benra tidak bisa berbohong jika aku masih sangat mencintainya tapi aku juga tidak bisa membenarkan sikapnya apa pun alasanya" gumam Nara yang masih terus berpandang lurus di depan.
"Ehm..."
Seseorang yang berdehem membuyarkan kegiatan Nara, dengan cepat menoleh dan keningnya mengerut saat mendapati wanita asing tapu sama samar merasa pernah melihat wajahnya.
"Siapa?" tanya Nara dengan lembut dengan senyum manis yang berusaha di tampilkan.
"Ya Tuhan...pantas saja Reyhan tidak bisa melupakan gadis ini. Dia benar benar bidadari sari kayangan bahkan senyum dan suaranya saja mampu mendebarkan jantungku karena merasa tidak percaya diri" batin gadis itu.
"Hallo...anda mengenalku?" tanya Nara lagi karena tak kunjung mendapat jawaban tapi justru dia memperhatikan gadis kecul itu terpaku mentapnya.
"Oh eh emm.. kenalkan aku Cleora" jawab gadis itu yang ternyata tak lain adalah Cleora.
Deg
Jantung Nara berdegup saat pendengarannya menangkap suara yang mengatakan siapa dirinya, jelas sekali jika Nara tau nama itu dan seketika ingatannya kembali pada undangan pernihakan yang membuat hubungannya dengan Reyhan berujung perpisahan, ya..gadis ini adalah Cleora yang menjadi istrinya Reyhan, alasan dirinya berpisah dengan dewa cintanya, gadis ini yang menjadi duri dalam hubungan mereka. Ohh...atau mungkin jika bicara takdir maka bisa di katakan jika gadis ini yang Tuhan tetapkan bersama Reyhan dengan cara yang entah seperti apa, Nara pun tidak tau karena memang gadis cantik yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil itu tidak mau memberi kesempatan bagi Reyhan mengatakan alasanya karena menurutnya itu semua percuma saja.
Dengan sekuat tenanga Nara menguasai emosi dalam dirinya, bukan emosi ingin marah tapi emosi perasaanya yang tiba tiba meluap karena kini dirinya dia berhadapan langsung dengan gadis itu, bertatap muka langung dengan gadis yang menurut pengamatannya masih belia.
"Ah ya..ada yang bisa saya bantu?" tanya Nara dengab lembut, dan jangan lupakan senyum manisnya yang masih bertengger indah di bibirnya.
Bukan kepalsuan, tapi karena memang karakter Nara yang murah senyum dan ramah pada semua orang walau kini yang ada dihadapannya adalah rivalnya, ohh... bukan kata itu sudah tidak pantas lagi untuk Cleora karena Nara tidak berniat mempertahankan apa lagi merebut Reyhan. Mungkin lebih baik jika di katakan mantan rival yang sama sekali pun tidak di sadari kehadirannya.
"Apa senyum itu kepalsuan Nara? aku tau kau terkejut saat mendengar namaku, tapi pandai sekali kau mengubah susana hatimu dalam sekejap saja" batin Cleora yang masih menelisik adakah kepura puraan dalam senyum yang di tebar Nara, tapi sepertinya nihil, tidak ada kepura puraan di sana dan itu murni ketulusan.
"Kamu pasti sudah tau aku kan?" tanya Cleora sedikit menantang.
Nara tersenyum mendengar pertanyaan Cleora yang menurutnya sedikit lucu, bagaimana mungkin gadis iti bertanya begitu sedangkan ini adalah pertemuan pertama mereka.
"Tidak."
"Kau yakin?"
"Tentu saja aku yakin, karena kita baru bertemu bukan dan itu pun kau yang ada di hadapanku" jawab Nara dengan tenang.
"Aku istri dari Reyhan!" ucap Cleora lantang.
Nara kembali tersenyum mendengar pengakuan Cleora, sudah bisa du tebak jika saat ini Cleora datang untuk menyatakan kepemilikanya dan itu tidaklah masalah bagi Nara.
"Ohh...Salam kenal ya, dan selamat untuk pernikahanmu" jawab Nara dengan senyum manisnya, "dan maaf ya aku tidak bisa menghadiri acara pernikahan kalian karena aku sibuk"
"Tidak masalah, aku datang untuk meminta kau untuk menjauhi suamiku!" tegas Cleora.
Nara tersenyum tipis, "aku tidak tau bagaimaja awal kenapan kalian bisa menikah, tapi apa puj itu alasanya aku bukan wanita yang akan menjadi duri dalam rumah tangga orang lain walau aku adalah orang yang masih ada dalam hatinya" jawab Nara dengan lembut tapi penuh ketegasan.
"Sebegitu yakinnya kau adalah orang yang ada dalam hatinya?" cibir Cleora.
__ADS_1
"Tentu, karena cintaku bisa merasakan hal itu"
Cleora bungkam tidak lagi menjawab jika susah berhubungan dengan yang namanya cinta, karena jelas saja cara dia untuk bersama cintanya adalah dengan cara licik.
"Haii sayang...." seru seseorang.
Nara melototkan matanya melihat siapa yang memanggilnya sayang sedangkan Cleona mengerutkan keningnya melihat pria asing yang diakuinya sangat tampan.
"Apa ini kekasih Nara? beruntung sekali dia di kelilingi lelaki lelaki tampan" batin Cleora yang merasa sedikit iri.
"Kau...!"
Falsaback on....
Rajesh sedang suntuk karena Leo tidak berada di kantor, asistenya itu sedang melakukan meeting dengan klient.
Rajesh malas melakukan pertemuan itu karena klientnya adalah seorang perempuanya yang sudah bisa di tebak jika akan menggoda Rajesh lagi, tapi satu jam kemudian Rajesh merasa bosan dan memutuskan untuk jalan jalan tapi tanpa senganja matanya melihat Nara yang keluar dari mobil yang sudah di ketahui kesaran harga itu oleh Nara hingga akhirnya memutuskan untuk mengikuti Nara.
Tapi barus saja dia keluar dari mobil berniat untuk menghampiri Nara tapi terhenti saat melihas seorang gadis mendekati Nara, Rajesh pun akhirnya memutuskan untuk menunggu dan memasang kuping untuk mendengar pembahadan keduanya.
Rahang Rajesh mengeras saat mendengar gadis belia itu menyudutkan gadisnya hingga memutuskan untuk berpura pura menjadi kekasih Nara sekaligus mengambil kesempatan pikirnya.
Flashback Off..
"Sayang, bukankah kau bilang akan ke kantorku?" tanya Rajesh seraya mendekatkan dirinya dan mencium pelipis Nara yang membuat lagi lagi gadis cantik itu melotot tak percaya dengan apa yang di lakukan pria itu.
"Bersandiwaralah dengan baik agar dia berpijir jika kau sudah move on" bisik Rajesh tepat di telinga Nara.
Nara bungkam, nita hatinya tadi yang ingin protes tapi terhenti saat mendengar bisikan Rajesh yang menurutnya ada benarnya, "baiklah, tapi jangan terlalu dekat padaku" bisik Nara.
"Tenanglah sayang, kau ikuti saja permaiananya" ucapnya.
"Jadi kau sudah punya yang baru?"
"Seperti yang kau lihat" jawab Nara dan terus berusaha untuk bersikap tenang.
"Ckck...inikah gadis yang tiada bandingannya dengan gadis lain yang sering di puja puja oleh Reyhan, ternyata dengan mudah berpaling pada pria lain" cibir Cleora.
Rajesh yang awalnya tidak terlalu mempedulika gafis di hadapannya menggeram marah karena gadisnya di anggap gadis tidak baik oleh sesamanya yang belum tentu lebih baik dari Naranya dan jika dilihat datu sudut pandanga Rajesh memang Cleora tidaklah lebih baik dari gadisnya.
"Jaga mulutmu atau kau akan tau akibatnya" getam Rajesh.
Nara yang melihat respon Rajseh seperti itu mengurutkan keningnya, dia tidak mengertu kenapa reaksinya seperti itu sedangkan dirinya pun tidak mau memikirkan apalagi mengambil pusing perkataan Cleora.
"Ckck...jangan mangancamku tuan, aku tidak takut!" tantang Cleora.
"Kau....!"
"Sudah....! teriak Nara.
__ADS_1
"Kau diamlah, ini urusanku dengannya" pinta Nara pada Rajesh.
"Tapi aku tidak mau calon istriku di hina" bantah Rajesh.
Nara mengeratkan giginya menahan kesal mendengar jawaban konyol dari Rajesh tapi dia harus menahan diri agar tidak meneriaki pria itu di hadapan Cleora.
"Diamlah..!" ulang Nara penuh penekanan.
"Dan untukmu Cleora, aku tidak mengenalmu dan aku juga tidak ada hubungannya dengamu jadi bersikaplah layaknya orang yang baru saling kenal dan masalah Reyhan, mau aku sudah melupakannya atau tidak itu bukanlah urusanmu dan lagi pula saya rasa, saya tidak bersalah jika saya bersama orang lain atau tidak dan dalam waktu yang cepat saya lupakan dia atau tidak karena dia sudah beristri dan saya juga bisa bersama dengan siapa pun" tegas Nara membuat Rajesh tersenyum puas sedangkan Cleora terdiam.
"Sayang...ayo pergi biar mobilmu bersama Leo" ucap Rajesh yang langsung menyeret lembut tangan Nara yang masih tidak paham maksud Rajesh.
"Hei apa maksudmu....!" teriak Nara setelah tubuhnya kini sudah duduk di kursi penumpang bagian depat.
"Jemput mobil kekasihku di danau tempat biasa" titah Rajesh melalui sambungan telponnya.
"Hei...aku bukan kekasihmu jadi jangan asal mengaku!"
Nara kembali berteriak mendengar perkataan Rajesh yang dengan gampangnya mengaku sebagai kekasihnya sementara mereka tidak saling mengenal, atau lebih tepanya Naralah yang tidak mengenalnya.
"Ya kau bukan kekasihku tapi calon istriku" jawab Rajesh dengan santai seraya menyalakan mobilnya tampa menunggu Leo datang.
"Hei kau mau membawaku kemana?"
"Tentu saja pulang sayang, memangnya di mana lagi?"
"Jangan memanggilku sayang, aku tidak suka!" ketus Nara.
"Baiklah calon istri"
"Aku bukan calon istrimu!" teriak Nara lagi.
"Jangan berteriak Rara sayang..."
"Astagaa semua saja kau sebut sesuka hatimu, namaku pun kau ganti sesukamu" rutuk Nara.
"Itu panggilan spesial ku untukmu"
"Aku tidak mau!" tolaknya.
"Tapi seyang sekali kau tidak bisa menghentikan diriku"
"Ckck berhentilah bergurau, aku tidak mengnalmu jangan sembarang bicara"
"Aku tidak bergurau dan ini nyata, kau akan menjadi istriku!" ujar Rajesh dengan penuh keyakinan.
.
.
__ADS_1
Bersambung...