
Sudah tiga hari Nara tidak bisa menghubungi Reyhan dan puncaknya malam ini perasaan Nara sangat tidak enak tepat di hati pertunangan kakaknya semua orang bahagia berbeda dengan Nara yang terlihat gelisah tidak tau sebab apa.
"Ya Tuhan....kenapa perasaanku tidak karuan seperti ini? semoga tidak ada petaka" gumam Nara dalam hatinya.
Nara terus meremas kedua tangannya sangkin gelisahnya dirinya dan kegiatan itu untuk menenangkan hatinya, mungkin bagi sebagian orang akan berpikir jika Nara mencintai dengan begitu berlebihan tapi tidak dengan Nara yang memang begitu adanya mencintai Reyham begitu dalam.
"Rey sayang aku harap kau baik baik saja, tidak terjadi yang bebahaya" lirihnya.
"Nara kamu sudah siap nak, kita jangan sampai terlambat" seru Naina dari balik pintu kamar Nara.
"Ah..Iya bu aku sudah siap"
Ceklek
Pintu terbuka menampkan seorang gadis dewasa cantik yang sangat anggun dengan balutan gaun sederhana tapi sangat elegan serasi dengan wara kulitnya gaun merah maron itu menambah kesak ke anggunannya.
"Anak ibu cantik banget..."
Senyum Nara mengembang mendengar penuturan ibunya yang memuji kecantikannya, wajar saja bukan jika Nara cantj secara asalnya juga sangat cantik walau usia tidak lagi muda.
"Tentu saja anak ibu cantik karena ibunya pun sangat cantik" jawab Nara kembali memuji ibunya.
"Jangan bicara sembarangan, ibu ini sudah tua"
"Eh eh eh walaupun sudah tua, tapi mengalahkan kecantikan gadis gadis diluar sana dan pastinya ayah tidak akan bisa berpaling dari kecantikan ibu" jawab Nara yang sedikit menggoda ibunya.
"Jangan mengoda ibumu ini Nara sayang"
"Tidak ibu...."
Nara memeluk ibunya dengan sayang yang si balas pelukan hangat serta usapan dari Naina, usapan yang penuh kelembutan dan kasih sayang tulus untuk sang anak gadisnya.
"Astagaa kedua wanita cantik ini asyik berpelukan melupakan pria tampan yang sedang gugup saat ini" celutuk Lionel yang datang ikut menyusul ibunya karena terlalu lama.
Nara dan Naina melepaskan pelukannya, Naina tersenyum sedikit kikuk karena kelamaan, sedangkan Nara sama sekali tidak merasa bersalah pada kakaknya.
"Maaf nak, adikmu ini menggoda ibu terus dari tadi"
"Hei Princes...apa yang kau lakukan pada ibu?"
Nara mendengus sebal mendapat pertanyaan seperti itu dari kakaknya, seolah dirinya ini tukang jahil sehigga di kira menjahili ibunya.
__ADS_1
"Kakak ku sayang, adikmu yang cantik ini tidak melakukan apa pun pada ibu, aku hanya mengatakan jika kecantikanku menurun darinya dan kecantikannya tidak bisa membuat ayah kita berpaling walau usia ibu tidak muda lagi" tutur Nara memberi penjelasan.
"Ohhh itu benar dan ketampanan kakak berasal dari ayah hahaha..."timpal Lionel dengan terbahak.
"Nah kakak saja setuju bu"
"Sudah sudah kalian ini selalu saja seperti itu, ayo kita berangkat jangan sampai terlambat" ucap ibu mengakhiri percakapan konyol itu.
Mereka pun akhirnya berangkat menuju hotel yang sudah mereka sewa untuk acara pertunangan Lionel dengan calon tunanganya Martha dan lagi lagi sepanjang jalan Nara kembali di liputi rasa gundah dan pikirannya kembali melalang buana memikirkan Reyhan yang hingga kini tidak bisa di hubungi.
"Kenepa kamu Rey? kenapa perasaanku sangat tidak enak padahal baru tigak hari tidak bisa menghubungimu" batin Nara.
Nara memandang ke arah luar jendela untuk mengalihkan perhatian orang orang agar tidak melihat dirinya yang saat ini sedang khawtir, tapi terlambat kerena semua orang sudah bisa menangkap adanya kegelisahan yang melanda putri kediaman Saker itu.
"Kau terlihat begitu gelisah nak, apa karena kau juga merasakan jika petakan hari ini terjadi" batin Naina dengan mata sendunya melihat putrinya.
"Sebegitu cintanya kah kau padanya nak, sehingga batinmu cepat sekali merasakan kegundahan" batin Anan.
"Aku tidak percaya pria itu menghianti cinta tulusmu adik ku sayang" batin Lionel melirik Nara lewat spionnya.
Ya mereka semua bisa menebak alasan apa Nara merasakan kegundahan saat ini dan iti semua karena pernikahan Reyhan yang bertepatan dengan pertunangan Lionel hari ini, walau Nara tidak mengatakan apa pun tapi mereka sudah tau.
.
Tidak jauh berbeda dengan Cleora Abraham, wanita muda yang baru berusia dua puluh tahun, cantik dan bersinar, menyukai pria dewasa dan matang membuar dirinya melakukan apa pun untuk bisa mengikat Reyhan tetap berada disisinya sampai mengajukan pernikahan kontrak.
Berharap nanti dalam waktu enam bulan dia bisa mengambil hati Reyhan seutuhnya tanpa tau jika seorang Kanara Saker sudah masuhk terlalu dalam di kehidupan Reyhan.
"Aku sudah menanti hari ini, aku akan pastikan kau akan mencintaiku Rey. Aku akan membuat dirimu melupakan Kanara mu itu" batin Cleora.
Tangannya terulur membuka laci melihat beberapa lembar foto keberasamaa Nara dan Reyhan, hatinya memanas setiap melihat adegan romantis itu membuat tekatnya semakin besar untuk merebut hati Reyhan.
"Maafkan aku Nara, aku tau kau wanita yang baik karena Reyhan yang terus memujimu tapi maaf jika aku harus melukai perasaanmu karena cintaku ini. Semoga kau bisa mendapat pria lain" kembali Cleora bergumam menatap figuran Kanara yang berbalu pakaian dinas.
Tidak bisa di pungkiri kalau Cleora mengakui akan kecantikan alami Nara, walau hanya memakai pakaian dinas yang lumrahnya di gunakam oleh umum yang pekerjaannya sama seperti Nara, tapi pancaran aura kecantikan dari Nara benar benar luar biasa dan tidak semua bisa di dapatkan oleh wanita lain termasuk Cleora.
Tok Tok Tok
"Masuk" titah Cleora.
"Nona muda, semua sudah selesai dan sekarang waktunya berangkat di gereja" ucap pelayan pribadinya.
__ADS_1
"Ohh terimakasih, bantu aku berjalan" pinta Cleora yang langsung di anggukan oleh pelayan pribadinya.
"Purtri daddy sangatlah canti" puji Abrahan yang melihat putrinya menuruni anak tangga dengaj gaun penganti yang melekat di tubuhnya benar benat menambahkan kecantikannya.
"Terimakasih daddy, dan ini adalah bibir unggul dari daddy" goda Cleora
"Ya aku benar, dan daddy bangga akan hal itu"
"Apa aku benar benar cantik daddy?"
"Hei pertanyaan apa itu...! kau benar benar cantik nak dan daddy yakin Reyhan akan semakin menyukaimu" jawab Abraham.
Cleora tersenyum mendengar pujian dari orang tercintanya, ada kebahagiaan dan harapan di sana. Bahagia karena mendapat pujian serta penantiannya hari ini akhirnya tiba, sedangkan berharap parnikahan mereka bisa menjadi awal hubungan mereka bisa baik kelak.
"Sudah ayo kita berangkar sekarang, tidak baik membuat calon suamimu menunggu" ajak Abraham.
"Baiklah dad ayo kita berangkat"
Tangan Cleora melingkar di lengar ayahnya, rasa gugup mulai menghampirinya semakin jarak terkikis karena mobil yang membawa mereka semakin lama semakin mendekat semakin kuat pula rasa gugupnya.
Sampai di tempat pemberkatan mereka pasangan yang akan mengikat janji suci pernikahan, acara pun segera di mulai dan Abraham muali berjalan dengan Cleora yang berada di sisi kanannya untuk mengantarkan Cleora ke altar bersama Reyhan untuk mengucap janji suci.
Sementara Reyhan hanya diam tanpa ekspresi, tidak tertarik sama sekali dengan kecantikan yang dimiliki Cleora karena baginya hanya Naralah yang paling cantik dan tidak ada satu wanita pun yang bisa membandingi dirinya.
Sampai di altar Abraham langsung saja menyerahkam tangan Cleora di atas telapak tangan Reyhan dan berkata "ku serahkan putri daddy, tolong jangan dia dengan baik, didik dia dan tegur dia jika bersalah" ucap Abraham dengan mata yang berkaca kaca.
"Dad..."
Cleora tidak bisa lagi meneruskan perkataanya, lidahnya terasa keluh untuk berkata. Dia juga merasa sedih jila harus berjauhan dengan ayahnya tapi bukankah kodratnya wanita yang menikah wajib mengikuti suaminya kemana pun dan keluarga lamanya harus di tinggalkan.
Reyhan hanya menjawab anggukan pada Abraham, rasanya dia enggan untuk berjanji karena pada dasarnya pernikahan mereka hanya enam bulan lamanya dan setelah itu dia akan kembali pada cintanya.
Reyhan dan Nara saling berhadapan dengan pendeta berada di antara mereja berduan, mengucapkan janji suci sesuai dengan arahan dari pendeta.
Abraham menggapus air matanya yang mengalir tanpa di minta setelah pengucapan janji suci usai di ucapkan keduanya rasa bahgian dan haru bercampur begitu pun dengan Cleora yaang bernafas lega karena akhirnya mereka bersatu dalam ikatan suci pernikahan.
"Maafkan aku Nara sayang" batin Reyhan usai mengucapkan janji suci.
Reyhan memejamkan matanya mencoba menenangkan hatinya yang di landa rasa bersalah karena telah menghianati cinta suci kekasihnya Kanara Saker dengan menikahi gadis lain walau hanya enam bulan.
.
__ADS_1
.
Bersambung...