STORY OF NARA

STORY OF NARA
Rajesh


__ADS_3

"Sayang...." panggil Rajehs.


Saat ini keduanya sudah berada didalam kamar tepatnya diatas ranjang, bersipa untuk istrahat tapi seperti biasanya keduanya akan berbincang terlebih dahulu sebelum terlalap dalam tidur.


"Kenapa Mas?" tanya Nara.


"Reyhan sudah kembali? bagaimana perasaanmu?" tanya Rajesh.


"Perasaan seperti apa yang ingin Mas tau?"


"Ya perasaanmu terhadap dirinya yang pernah jadi bagian masa lalumu?"


"Tidak ada, tidak perasaan apapun untuknya, dan itu sudah sejak dulu jauh sebelum kita menikah Mas" jelas Nara, "lagian kenapa bertanya hal itu?"


"Mas hanya ingin tau, bagaimana kini perasaanmu padaku" ucap Rajesh


"Rasaku semakin hari semakin berubah untukmu Mas...." Nara sengaja menggantung ucapannya membuat Rajehs penasaran dan itu jelas dari raut wajahnya membuat Nara tersenyum kecil.


"Rasaku berubah semakin besar mencintaimu Mas" lanjut Nara membuat senyum di bibir Rajesh mengembang.


"Mas pikir berubah tidak cinta lagi" gumam Rajehs dengan nafas leganya.


"Tidak... sampai kapannpun itu tidak akan terjadi Mas, cintaku sudah tertambat mati untukmu dan aku harap Mas juga demikian walau saat ini kita belum di beri kepercayaan hasil dari buah cinta kita" lirih Nara.


Rajehs yang mendengar ucapan istirnya langsung merengkuh Tubun Nara, menyandarkan kepala wanita agar bersandar di dada bidangnya dan tangannya mengelus lembut punggung Nara dan sesekali mencium pucuk kepala Nara dengan sayang.


"Sayang.... Mas mohon untuk jangan lagi terlalu memikirkan hal itu, Mas tidak terlalu memaksakan untuk memiliki anak, Radith sudah sangat cukup untuk mengobati kerinduan kita untuk punya anak, dan Mas mohon banget... mari bersabar untuk hal ini, kita bersabar, berdoa dan berusaha untuk menunggu Tuhan memberi kita anugerah terbesar itu, jadi tolong janga jadikan ini alasan untuk kamu terus bersedih" ucap Rajehs dengan lembur, tangangannya kini meremas dengan lembut kedua jemari Nara, menyalurkan perasaanya yang benar benar tulus dan ucapannya yang memang sesungguhnya.


Nara menirukan air matanya, ingin dia tidak memikirkannya tapi entah kenapa selalu saja ada waktu dimana dia ingin sekali mendesak Tuhan agar diberi kesempatan menjadi ibu, apalagi jika melihat wanita lain bersama seorang anak, membuat Nara merasa sangat iri sekaligus bersedih.


Rajesh menghapus air mata Nara dengan lembut, inilah yang paling tidak disukai pria ini, melihat istrinya mengeluarkan air mata, dan air mata itu adalah air mata kesedihan.

__ADS_1


"Jangan menangis sayang, bukankah Mas baru saja mengatakannya untuk tidak bersedih apalagi harus menangis karena hal ini" pinta Rajesh.


"Aku hanya merasa tidak berguna untukmu Mas, disaat wanita lain pada umur pernikahannya yang seperti kita kebanyakan sudah memberi kelengkapan kebahagiaan dengan mengandung anak dan melahirkannya sedangkan dirinya masih seperti jni, masih menjadi wanita yang tidak bisa mengandung" jelas Nara dengan wajah sendunya, matanya yang tadinya sudah tidak mengeluarkan air mata kini kembali membendung anak sungai yang dalam satu kali kedipan saja pasti akan menetes.


"Bukan tidak bisa hanya belum diberikan!" tegas Rajesh meralat perkataan Nara, "bukankah kamu dengar sendiri dan ini bukan hanya dari satu dua orang dokter, tapi ini sudah dari puluhan dokter bahkan dokter dari luar Negeri juga mengatakan jika kita sama sama subur, hanya saja kita harus bersabar jika belum diberi kepercayaan"


"Tapi ini sudah tiga tahun Mas..." sergah Nara dengan bibir yang bergetar.


Lalu kenapa dengan kalau sudah tiga tahun? ada masalah? bahkan yang puluhan tahun saja mampu untuk menunggu hingga diberi kepercayaan, lalu kenapa dengan kita baru tiga tahun? sudahlah.... intinya kita tetap bersabar dan berusaha, sisanya serahkan saja pada yang di Atas, Tuhan yang lebih tau apa yang terbaik untuk kita" jelas Rajesh.


"Mas...."


"Tidurlah Nara... aku tidak ingin membahas apapun lagi" sela Rajehs membuat bibir Nara kembali terkatup rapat.


"Tidurlah sayang" titah Rajesh lalu merebahkan tubuh Nara agar ikut berbaring bersamanya.


Nara masih terisak dalam pelukan Rajesh, sedangkan pria tampan itu hanya bisa mengelus lebit punggung dan sesekali mencium kepala Nara yang berada tepat didepan bibirnya.


Rajehs menatap wajah wanitanya yang terlelap, dia menatap lekat wajah Nara, "aku juga menginginkan anak Nara...tapi aku hanya bisa memendamnya dalam hatiku, karena apa? karena kamu hanya akan semakin tertekan sayang, dan kamu akan semakin kepikiran jika aku menunjukan betapa aku sangat menginginkan buah dari cinta kita" batin Rajehs.


Rajehs kembali mengecup kening Nara dengan lembut, menyalurkan perasaannya yang ikut perih melihat sisa air mata yang masih menetes dipipi Nara bahkan sesekali Rajehs akan melihat Nara sesegukan kecil.


"Sebegitu besarkah rasa bersalahku karena tidak bisa mengandung? aku tidak mau kamu merasa bersalah sayang, karena semuanya tidak bisa dikatakan semua karenamu, karena akupun belum tentu menjadi lelaki sempurna" gumam Rajesh lalu memejamkan matanya ikut menyusul Nara menyelami alam mimpi.


Sementara ditrmpat lain, seorang pria sedang menghabiskan malamnya di dalam sebuah Bar, dia adalah Reyhan, pria yang tadinya menyaksikan kemesraan wanita yang dicintainya kini menghabiskan waktunya untuk melupakan kesakitan hatinya melalui minuman keras berharap dengan begini dirinya bisa melupakan bayangan Nara dalam pikiran dan pandangannya.


Reyhan ditemani Felix sahabat sekaligus asistennya, dan kini pria itu sedang duduk dengan tanang memandang Reyhan dengan lekat yang terus menerus meneguk minumannya tanpa da niatan untuk mencegahnya.


"Kamu akan terus minum? tidak ingin mendengar informasi yang aku bawa?" akhirnya setelah sekian lama menunggu, Felix mengutarakan apa yang ada dalam hatinya serta isi dari map yang ada di genggamannya.


Reyhan hanya menatapnya sekilas lalu kembali meneguk minumnya, dia berpikir mungkin temannya hanya akan membawa kabar tentang perusahaan mereka yang kian menaik drngan pesat, "jangan menggangguku dengan berita yang menyangkut perusahaan Felix, ini sudah lewat jam kerja" ucap Reyhan bertujuan untuk mencegah Felix agar tidak melanjutkan apa yang akan dia katakan jika itu menyangkut perusahaan.

__ADS_1


"Bukan, ini bukan perusahaan tapi...." Felix sengaja menggantungkan ucapannya membuat Reyhan mau tak mau mendengarkan apa kelanjutannya tapi Felix rupanya tidak lagi mau melanjutkan, sengaja untuk mengalihkan perhatian Reyhan dari minuman itu.


Dan benar saja, Reyhan medesak sahabatnya untuk mengatakan berita apa yang dibawa, "katakan berita apa yang kau bawa, jangan menggantung seperti itu" desak Reyhan.


"Jika kau mau mendengarkannya, maka berhentilah minum" kata Felix.


"Jangan memerintahku!" sentak Reyhan.


"Maka aku tidak akan menyampaikan informasi tentang wanitamu" ungkap Felix dengan santai membuat Reyhan langsung menoleh drngan cepat pada Felix.


"Katakan...."


"Berhenti minum" jawab Felix.


"Katakan Felix..! jangan membuatku marah" bentakan dari Reyhan tidak membuat Felix takut bahkan dengan santainya dia menyilang kan kakinya seolah menentang pria mabuk itu.


"Baiklah, katakan apa tentangnya....aku tidak akan minum lagi" pinta Reyhan pada akhirnya mengalah untuk mendapatkan informasi mengenai Nara.


"Bacalah" titah Felix.


Nara meraih map yang diletakan Felix dihadapannya, mulai membuka dan matanya menelisik kata demi kata membaca rangkaian kalimat yang tertera disana menerangkan beberapa informasi mengenai Nara selama tiga tahun ini.


"Kenapa hanya ini?" tanya Reyhan setelah membaca semua informasi yang menurutnya tidak akurat mengingat perinciannya sangat singkat.


"Kamu benar, ini sangat singkat karena memang akses tentang wanita yang kami harapakan itu sangat tertutup, dan aku yakin kamu pasti sudah tau siapa yang melakukan hal ini" jelas Felix.


"Rajesh..."


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2