
Satu Minggu setelah kepergian Rajesh ke Malaysia dan kini waktunya untuk membali dan mengetahui hal itu, Nara dengan semangat mempersiapkan diri untuk menyambut suaminya, wanita cantik itu sudah memasakan banyak makanan untuk menyambut Rajesh bahkan berdandan secantik mungkin untuk pria yang dicintainya.
Bukan tanpa alasan Nara melakukan hal itu, semuanya karena wanita cantik itu mengikuti saran dari Vivi sahabatnya yang menyuruh Nara untuk selalu tampil cantik karena memang selama ini Nara hanya berpakaian seadanya sama seperti saat dulu dirinya masih tinggal dengan keluarganya.
Flashback...
"Oh ya Ra....kok kamu baju kamu cantik ini" cetus Vivi menyelipkan perkataanya ditengah keasyikan mereka mengobrol.
"Iya, makanya aku tidak suka memakainya karena terlalu ribet, aku lebih suka pakaian simple seperti ini" jawab Nara menyuarakan ketidak sukaanya terhadap pakaian yang disediakan Rajesh.
"Lohh kenapa? harusnya kamu senang dan suka karena bajunya bagus semua dan aki yakin ini pasti suami kamu kan yang sediakan?" tebak Vivi
"Iya, dan semuanya bikin aku risih"
"Harusnya kamu bersyukur Ra, suami kamu mau mempersiapkan semuanya karena itu pertanda dia ingin kamu selalu tampil menarik dimatanya, hati hati loh Ra...jaman sekarang kan banyak pelakor dan orang orang bilang pelakor lebih menarik" cetus Nara.
"Aish kamu bicara apasih"
"Loh benar yang aku katakan loh, apalagi suami kamu kan ganteng, tampan, orang kaya dan masih bayak kelebiahnnya jadi sudah pasti banyak wanita diluar saja yang mau diposisi kamu" jelas Vivi.
"Termasuk kamu?" tebak Nara.
"Tentu saja, jika Tuhan memberiku berkat yang laur biasa seperti itu aku tidak akan menolak" jawab Vivi jujur.
"Tapi kamu tidak berpikir untuk menggantikan ku kan?" tanya Nara disertai tawa candanya.
"Gila aja kamu Ra, walau aku mau tapi aku tidak akan gila mengambil masalah tapi kalau ada kebertungan sih tak apa hahaha" balas Vivi yang juga ikut bercanda.
"Kamu ini bisa aja" Nara geleng kepala mendapati kejujuran sahabatnya.
"Eh tapi benar loh Ra... kamu harus tampil menarik setaip hari pada suamimu agar dai hanya tetap memang kearahmu" lagi Vivi mengulang ucapannya.
"Aku percaya pada suamiku Vi, dia tidak mungkin menghianatiku" ucap Nara dengan penuh keyakinan.
"Iya tapi tetap menarik didepan suami bukanlah hal yang salah" ucap Vivi.
"Tapi aku tetap menarik tanpa berdandan loh" ucap Nara berbangga diri.
"Iya, tapi akan lebih menarik lagi jika berdandan* ucap Vivi yang tidak mau kalah akan pendapatnya.
__ADS_1
"Kamu tau, semenarik apapun wanita, suatu saat akan ada moment diamana pria akan merasa bosan, makanya sang istri harus tetap bisa menarik didapan suaminya" tutur Vivi panjang lebar.
Nara terdiam, dia memikirkan ucapan Vivi yang memang ada benarnya, jangan orang kaya seperti Rajehs yang mudah untuk berpaling, bahkan orang sederhana sekalipun bisa berhianat dan dia sudah punya bukti fisiknya dan dirinya sendiri yang merasakan hal itu.
"Kamu sudah seperti seorang istri saja kalau bicara Vi" ucap Nara setelah lama terdiam, dan dua ingin mengalihkan pembicaraan mereka.
Flashback off....
Nara sudah selesai mematuk dirinya dengan makeup tipis, rencannya dia akan menjemput Rajehs di Bandara bersama Radith karena bertepatan waktunya sore dan Radith sudah kembali dari sekolah bahkan sudah selesai belajar sore.
"Mom....sudah siap?" tanya Radith yang langsung nyelonong masuk dalam kamar Mommy karena pintu tidak di kunci.
"Sudah sayang, ayo kita berangkat" ajak Nara setelah mengambil tas kecil ditangannya.
"Ayo Mom"
Keduanya bergegas menuruni tangga, Nara akan membawa mobil sendiri untuk menjemput suami dan asisten suaminya karena nantinya Leo lagi yang akan menyetir jika mereka kembali.
"Mommy tidak membawa supir?" tanya Radith.
"No"
"Hanya untuk kesana saja Mommy bawa mobil sayang karena setelahnya paman Leo yang akan membawa mobil" jelas Nara.
"Ohh iya, aku hampir melupakan paman itu" gumam Radith.
Sepanjang perjalanan keduanya terlibat perbincangan ringan, ada saja yang mereka bicarakan, apalagi Radith yang baru pertama kalinya berjalan melewati jalanan yang menuju Bandara, banyak saja yang dia pertanyakan pada Nara dan wanita cantik yang menggelar sebagai ibu sambung itu dengan senang hati menjawab setiap pertanyaan dari putranya.
Sampai di Bandara, rupanya orang yang mereka jemput belum terlihat, karena memang pesawat mereka baru akan leanding sepuluh me it lagi, wanita cantik itu saja yang ingin cepat datang menjemput suaminya karena rindu yang sudah menumpuk sejak satu Minggu ini membuat dirinya tidak memprediksikan waktu lagi.
"Belum datang Mom kayaknya" ucap Radith.
"Iya sayang, sepuluh menitan lagi deh kayaknya"
"Kita kecepatan datangnya Mom," pikir Rajehs.
"Iya, karena Mommy tidak mau membuat Daddy menunggu lama jemputannya" kilah Nara.
"Ohhh....tapi bukan karena Mommy merjndukan Daddy kan?" goda Radith dengan senyum jailnya.
__ADS_1
Nara tersipu malu dengan pertanyaann yang dilayangkan oleh Radith, anak kecil itu bisa saja menebak isi hatinya membuat dirinya jadi salah tingkah.
"Bukan.. bukan karena itu, Mommy hanya ingin cepat menjemput saja" bela Nara.
"Ohhh, aku kira karena Mommy kangen sama Daddy" lirih Radit, "aku saja ikut Mommy karena kangen banget sama Daddy, masa Mommy tidak sih" lanjutnya ingin memancing Nara.
"Ehh bukan...Mommy tentu saja Mommy kangen" saut Nara dengan cepat membuat Radith tidak bisa lagi menahan tawanya.
"Hahaha...Mommy sangat lucu, tadi katanya tidak tapi sekarang bilang kangen, gimana sih?" ejek Radith.
"Ohhh jadi anak Mommy ini hanya mengerjai Momnynya saja, iya ha....?" tanya Nara yang siap untuk memberis serangan balik pada putranya.
"Hahaha...ampun Mom,, aku tidak akan mengulanginya, ini Sanga geli hahaha...." Radith tertawa lepas kala tangan lentik Nara menggelitik bagian perutnya sehingga menyita perhatian beberapa orang yang berada tidak jauh dari tempat mereka menunggu.
"Tidak..Mommy tidak akan memberi ampun padamu Boy .." timpal Nara dan terus menggelitik putranya.
"Stop Mom, pleaseee"
"Ok ok ok Mommy lepaskan kali ini,"
Mereka beruda asyik sampai melupakan jika waktu yang mereka tunggu yaitu sepuluh menit sudah berlalu bahkan seseorang yang harusnya mereka sambut kini berada tidak jauh dari tempat mereka dan sedang menatap dengan tatapan kehangatan dan kebahagiaan bercampur rindu didalamnya.
"Jadi kesini hanya untuk bermain, dan tidak mau menyambut..?"
Suara yang sanha mereka kenali bahkan sudah terkeam jelas dipikiran dan pendengaran mereka menggema membuat keduanya berhenti dari kegiatan yang sama ini dilakukan, menoleh dan melihat ternyata orang yang mereka tunggu duha berdiri dengan tegak tidak jauh dari mereka.
"Daddy....."
"Mas...."
Kedua orang yang tadinya sibuk dengan kesenangan mereka kini berlari mendekati pria yang sudah kembali setelah pergi selama satu Minggu ke Malaysia.
"Aku merindukan kalian"
.
.
Bersambung....
__ADS_1