
"Ternyata kamu disini? kenapa dipaksakan jika tidak bisa?" Rajesh melingkarkan kedua tangannya diperut Nara, dagunya di letakan diatas bagi istrinya menikmati moment yang sebenarnya sudah sering terjadi tapi seakan tidak ada bosannya bagi pria tampan itu.
"Aku tidak mau mengabaikan tugasku Mas, putra dan suamiku butuh perhatian, dan lagi aku tidak mau membuat tubuhku ini terlalu manja" jawab Nara disusul dengan kekehan kecilnya memikirkan perkataanya sendiri yang mengatakan tubuhnya manja.
"Tapi Mas tidak mau kamu kecapean sayang, kamu tau kan Mas sama sekali tidak bisa melihatmu kesusahan dan lagi masih ada Maid yang bisa melakukan hal itu" ucap Rajehs.
Pria tampan itu sepertinya tetap tidak bisa menerima istrinya memasakan diri untuk melayani dirinya dan putranya Radith, karena kesabaran wanita jauh lebih penting dari pada segalanya.
"Tidak masalah Mas, lagi aku tidak terlalu lelah kok" ucap Nara menyakinkan suaminya agar tidak lagi menghawatirkan keadaanya, "sudah Mas duduk saja, biar aku buatkan teh untukmu dulu" ucap Nara.
"Baiklah sayang" Rajehs menurut perkataan istrinya, melepaskan pelukannya dan berjalan menuju meja makan, menunggu kopi buatan istrinya yang selalu mampu menyegarkan tubuhnya jika di teguk.
Beberapa saat setelahnya, Nara kembali dengan membawa cangkir yang berisi teh kesukaan suaminya, itu sih sebenarnya pengajuan Rajesh jika teh buatannya sangat enak dan menyegarkan dan wanita cantik itu hanya mengiyakannya dan tentu saja ada rasa senang saat dipuji seperti itu oleh seorang suami.
"Ini tehnya Mas" ucap Nara sembari meletakan cangkir di depan Rajehs.
"Terimakasih sayang, tapi dasi ku belum terpasang" ucap Rajehs dengan menunjukan dasinya dihadapan Nara.
"tunggulah sebentar Mas" ucap Nara lalu beranjak untuk menuntaskan pekerjaanya, baru setelahnya menyuruh maid untuk menata di atas meja sedangkan dirinya langsung melangkah menaiki tangga untuk mengecek keadaan putranya.
"Mau kenapa sayang?" tanya Rajesh saat melihat istrinya berlalu melewati dirinya.
"Mau melihat putra kita Mas" jawab Nara dengan menghentikan langkahnya sejenak lalu kembali melangkah setelahnya.
"Dia sudah siap, tadi Mas sudah mengeceknya" ucap Rajehs. Tapi itu tidak membuat Nara menghentikan langkahnya, dia ingin melihat sendiri putranya dan mungkin seperti biasanya akan membatu Radith bersiap.
tapi baru dia anak tangga Nara lewati, sudah terlihat dari atas anak kecil yang menjadi alasanya ingin naik keatas, sedang menenteng tasnya dan menuruni anak tangga.
"Boy... kau sudah siap?" tanya Nara, dia sedikit heran karena tidak biasanya putranya siap dan rapi seperti ini karena pastinya wanita cantik itu akan ambil andil untuk semua persiapan putranya.
"Sudah Mom" jawab Radith dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa? biasanya kamu akan menunggu Mommy" Nara seolah tidak rela jika tangannya tidak turun langsung dalam mempersiapkan keperluan putranya.
Radith terkekeh melihat ekspresi ibu sambungnya, Radith berpikir mungkin ibunya bingung tanpa tau sebenarnya ada kecewa dalam diri Nara saat tidak membantu anaknya.
"Mommy lucu, tentu saja bisa karena aku merapikannya sendiri" jawab Radith dengan masih terkekeh pelan.
Tapi sejurus kemudian kekehan itu mendadak diam saat menyaksikan wajah ibunya yang kini muram membuat anak lelaki itu bertanya tanya apakah ucapannya menyakiti perasaan Nara.
"Ada apa Mom? apa aku menyakiti hati Mommy tanya Radith dengan nada cemasnya.
"Maafkan aku Mom, maaf aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu" Radith berjalan dengan cepat menuruni anak tangga dan berhenti tepat dihadapan Nara.
"Tidak sayang, Mommy hanya merasa sedih karena tidak mengurus mu" lirih Nara.
"Tidak Mom, justru aku merasa terlalu merepotkan Mommy, jadi aku ingin mandiri agar Mommy tidak kelelahan lagi mengurusku" ungkap Radith.
Anak kecil itu dengan polosnya mengungkapkan apa yang ada di pikirannya membuat Nara langsung menggeleng dengan cepat, "tidak sayang, Mommy sama sekali tidak merasa repot apalagi kelelahan hanya karena membantumu bersiap" bantah Nara.
"Mommy bukan kelelahan, hanya saja Mommy sedikit malas" ucap Nara terpaksa berbohong pada Radith agar putra sambungnya tidak terus merasa bersalah.
"Sungguh?" Radith menatap wajah ibunya memastikan kebenaran ucapan Nara lagi dan benar saja wanita yang bergelar sebagai ibunya itu sungguh pandai bersandiwara atau mungkin Radith saja yang terlalu polos dan masih sangat lugu membedakan orang yang sedang berusaha menenangkannya atau dengan orang yang memang benar berkata sesuai keadaan.
"Aku senang jika Mommy hanya malas dan bukan karena kelelahan" ucap Radith dan langsung memeluk tubuh Nara.
Nara tentu saja dengan senang hati membalas pelukan Radith dan tangannya mengelus lembut kepala putra sambungnya, "sudah, ayo kita sarapan dulu" ajak Nara, "Mommy sudah memasakan nasi goreng kesukaanmu" lanjutnya.
"Sungguh?"
"Iya sayang, ayo kita sarapan" ajak Nara langsung sambut dengan antusias oleh Radith.
Rasanya anak lelaki itu seperti baru akan merasakan lagi masakan ibunya setelah sekian lama tidak memakannya padahal baru kemarin saja tidak merasakan tapi serasa sudah sekian tahun saja.
__ADS_1
"Morning Dad" sapa Radith.
"Morning Boy" jawab Radith, "Mas sudah bilang kan? kalau anak kita sudah bisa bersiap sendiri" lanjut Rajesh tapi kali ini ucapannya tertuju pada wanita yang sangat dia cintai.
"Iya, tapi justru aku malah tidak suka" cebik Nara dengan bibir yang mengerucut.
"Loh kenapa?" Rajehs bingung sedangkan Radith hanya terkekeh mendengar respon dari ibu sambungnya, ternyata masih saja bersambung hingga di depan Daddy masalah ketidaksukaannnya jika tidak ikut campur dalam mempersiapkan keperluannya
"Jangan tanyakan lagi Mas, tentu saja aku tidak suka jika tidak ikut ambil andil dalam mempersiapkan keperluan putraku" ketus Nara.
"Biar saja, justru dengan begitu menunjukan jika putraku tidak manja" Rajehs membanggakan putranya tanpa tau jika ucapannya akan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
"Iya putramu sangat mandiri tapi ayahnya sama sekali tidak" ketus Nara, "memasang dasi saja harus sampai di dapur untuk melapor" sinis Nara.
Rajehs bungkam, rasanya sangat menyesal sekali dirinya harus mengeluarkan pendapatnya mengenai hal ini, jika tau tau tadi hanya akan menyudutkannya lebih baik dia diam saja.
Apalagi saat ini bukannya mendapat pembelaan dari orang yang dibanggakan tapi justru malah mendapat tawa ejekan dari Radith dan itu benar benar membuat Rajehs sangat menyesali perbuatannya.
"Itu beda lagi ceritanya sayang, karena hal seperti itu wajar saja" ucap Rajehs mencoba menjadi pembelaan.
"Ckck alasan saja kami Mas" ketus Nara.
"Sudah ini makan sarapannya" Nada meletakan piring yang sudah terisi sarapan itu dihadapan Rajehs dan pria itu hanya bisa menurut sesuai perintah sang Nyonya rumah.
"Ini sayang sarapan dulu" Nara berkata dengan sangat lembutnya pada Radith membuat Rajehs melongo tidak percaya dengan sikap Nara pada anak lelakinya sedangkan anak lelaki itu hanya tersenyum penuh kemenangan.
"Giliran sama Radith saja manisnya tidak ketulungan" dengkus Rajehs.
.
.
__ADS_1
Bersambung....