STORY OF NARA

STORY OF NARA
bertengkar lagi


__ADS_3

"Hati hati sayang, belajar yang baik yang sayang nanti siang Mommy jemput lagi" ucap Nara.


"Ok Mom, bye..."


"Bye sayang"


Wanita cantik itu menunggu diruang tunggu, karena supir pribadinya belum juga datang, dan dia tidak ingin naik taxi mengingat dirinya akan berbelanja sebentara, Nara meraih ponselnya dan mendial nomor supir pribadinya ingin menanyakan sudah berada dimana.


"Sudah dimana pak? masih lama?" tanya Nara langsung sesaat setelah panggilannya terjawab.


"Ya baiklah, aku tunggu disini saja" ucap Nara lagi lalu memutuskan panggilannya.


Beberapa menit setelahnya, supir pribadinya sudah berada diparkiran dan segera Nara memasuki mobilnya, dia berencana untuk kembali ke rumah, memasakan makanan untuk putranya dan juga untuk dibawa untuk orang tuanya, apalagi ada keponakannya Raisa anak dari Lionel dan Martha yang selalu menyukai masakannya.


Sampai di Minimarket, wanita cantik yang sudah bersuami itu langsung mencarikan bahan bahan yang diperlukan untuk digunakan dalam memasaknya, dan setelah semuanya selesai, Nara kembali masuk dan kini dalam perjalanan menuju Mension.


Sedangkan di kantor, Reyhan yang tadinya sempat bertemu dengan Nara kini berada dikantor Rajehs, pria yang menjadi rivalnya dalam urusan percintaan dan mungkin juga dalam bisnis.


Rajesh yang memang sudah tau apa yang terjadi pada anak dan istrinya di perjalana tadi tentu saja sangat emosi, dia tidak menerima pria lain masih dengan terang terangan menginginkan wanitanya bahkan tanpa perasaan mengungkit masalah keinginan istrinya yang ingin punya anak hingga menyakiti hati putranya dengan kenyataan yang selama ini ditutup rapat oleh semuanya.


Tentu saja hal ini tidak bisa diterima begitu saja oleh Rajesh, tidak memberi pelajaran pada Reyhan rasanya sangat tidak adil dan tidak memberi kepuasan, oleh sebab itu pria tampan itu sudah menunggu kedatangan Reyhan sejak tadi dengan perasaan yang masih menyimpan kemarahan.


"Dia sudah datang Leo?" tanya Rajehs dengan tidak tenangnya.


"Masih berada di Lobi Tuan Muda" jawab Leo memberitahu posisi keberadaan Reyhan saat ini.


"Pastikan Tuan Mich belum datang, pun kalau dia tangan, jangan biarkan dia tangan keruang rapat sebelum urusanku selesai dengan pria itu" titah Rajesh penuh penekanan tanpa ingin dibantah sedikitpun.


"Tuan..."


"Jangan membantahku Leo...! atau aku akan melampiaskan ini semua padamu" sentak Rajehs saat mendengar Leo ingin bersuara kembali.


Glek


Mendengar pernyataan dari Rajehs tentu saja Leo bergidik ngeri, mada ada orang yang mau menjadi sasaran kemarahan orang lain, dan kalai sudah begini Leo hanya bisa menerima dan menuruti semua perkataan Rajehs si tuan muda.


"Baik Tuan Muda" jawab Leo akhirnya mau mengikuti perkataan Rajesh yang walau sebenarnya dia sangat khawatir akan karir tuan mudanya tapi melarangpun rasanya percuma.


"Mereka sudah tiba Tuan Muda" ucap Leo setelah mendapat laporan dari sekretarisnya.


"Keluarlah, aku ingin menyambut pria itu dengan baik" titah Rajehs.

__ADS_1


Ceklek


"Selamat datang tua Reyhan..." sapa Rajehs dengan wajah yang menahan amarah.


Reyhan tau wajah itu dan walau ragu ragu, Reyhan bisa menebak jika pria tampan yang menjadi rivalnya itu tau pertemuannya dengan Nara.


Reyhan hanya tersenyum tipis menimpali perlakuan Rajehs padanya, "kau sungguh tuan rumah yang patuh dicontoh, menyambut tamu dengan sangat baik seperti ini" ucap Reyhan dengan nada bercandanya.


"Jangan berbasa basi lagi, apa tempo hari masih kurang untukmu? apa kau ingin benar benra merasakan tulangmu aku patahkan?" tenya Rajehs dengan wajah yang sudah merah padam.


"Jangan menggertaki Rajehs, aku bukan Reyhan yang miskin yang tidak bisa membalas, aku bukan pria yang bisa kau ancam, jika kau mai buktikan saja langsung" tantang Reyhan.


"tentu saja jika keleakian Rajehs merasa tertantang dengan perkaraan Reyhan, tidak terima dirinya merasa direndahkan dan peringatannya diabaikan, dan ini untuk pertama kalinya orang lain mengabaikan peringatan darinya.


Tanpa aba aba Rajehs langsung melayangkan tinjunya tepat mengenai rahang Reyhan hingga membuat pria tampan itu terhuyung kebelakang, tapi walau demikian dia hanya bisa tertawa tanpa berniat membalas perlakuan Rajehs.


"Ku peringatkan untuk terakhir kalinya Reyhan, jangan pernah mengganggu wanitaku, atau aku akan menghancurkanmu hingga tak bersisa" tegas Rajesh.


Felix yang hanya bisa melihat perdebatan itu karena memang sebelumnya dia sudah mendapat peringatan tegas dari Reyhan untuk tidak ikut campur dengan apa yang akan terjadi, cukup melihat dan menonton saja dan Felix hanya bisa pasrah dengan perintah itu.


"Aku tidak akan berhenti sampai hatiku lelah Rajehs, aku tidak akan berhenti sampai hatiku benar benar melihat kebahagiaan Dimata Nara yang sesungguhnya, aku tidak akan berhenti sampai semua itu aku pastikan" ucap Reyhan dengan lantang.


Rajehs hendak melayangkan tinjunya tapi Reyhan dengan cepat menghindar hingga pukulan dari Rajehs tidak tepat sasaran membuat pria tampan itu menggeram marah, "brengsek..." dan sekali lagi Rajehs melayangkan tinjunya dan kali ini Reyha. tidak bisa mengelak karen serangan tiba tiba yang membuat dirinya tidak ada kesiapan.


"Apa kamu pikir Namaku tidak bahagia ha...!"


"Aku sudah membahagiakan dia selama ini, dan aku sangat mencintainya begitu juga sebaliknya"


Bugh


Reyhan membalas pukulan Rajehs, dia tidak terima jika harus kalah dengan Rajehs, sudah cukup cintanya yang kalah, dia tidak mau kalah juga dengan adu jotos ini.


"Ya... dia bahagia karena cintamu, tapi dia tidak bahagia karen belum menjadi wanita yang sempurna, dan aku tau kau juga menginginkan hal itu, kau jika boleh egois pasti sudah menuntut Nara bukan untuk segera memiliki anak...!"bentak Reyhan.


"Jangan sok tau kamu brensek... aku memang menginginkan seorang anak, tapi cintaku pada ya jauh lebih besar hingga keinginan itu terkalahkan dan jika boleh memilih aku jauh lebih memilih wanitaku dari pada seorang anak" saut Rajesh tak kalah kerasanya suaranya.


"Cih.... aku tidak peduli, yang aku tau, aku akan tetap mengejar Nara sampai hatiku benar benar yakin jika dia bahagia"


"Kau...." Rajehs yang ingin kembali memukul Reyhan harus terhenti kala pintu rapat terbuka dan memperlihatkan Leo yang datang dengan ratu wajah tenanganya.


"Kau... bukankah sudah ku bilang jangan menggangguku" bentak Rajehs.

__ADS_1


"Maaf Tuan Muda, tapi Tuan Mich tidak bisa menunggu lebih lama lagi" jawab Leo memberitahu alasannya.


"Ckck... kenapa dia harus datang lebih cepat sih" gerutu Rajehs.


"Bahkan dia datang dari setengah jam yang lalu Tuan Muda tapi sesuai perintah anda saya, menghalaunya masuk tapi Ini sudah berjalan setengah jam dan beliau tidak bisa menunggu lagi" jelas Leo.


"Kau...! urusan kita belum selesai, kau beruntung Tuan Mich datang lebih cepat sehingga tulangmu masih aman" ucap Rajehs pada Reyhan.


"Terserah padamu saja, aku tidak takut" balas Reyhan tak kalah tajamnya.


"Suruh dia masuk Leo" titah Rajehs setelah sekretarinya membereskan kekacauan yang mereka buat.


"Kau cepat bereskan kekacauan ini" titah Rajehs.


"Sudah beres Tuan Muda" ucap sekretarisnya.


"Rajehs tidak menjawab, tapi langkahnya mengayun keluar dari ruang meeting, niatnya ingin menyambut kedatangan tamunya walau sebenarnya dia malas tapi ini juga untuk perusahaanya agar lebih pesat lagi, jadi terpaksalah Rajehs turun tangan menjemput Mich.


"Selamat datang Tuan Mich" sambut Rajesh.


"Terimakasih Tuan Fernandese, oh ada dengan wajah anda? kenapa seperti itu? tanya Mich saat melihat wajah Rajehs sedikit ada lebam.


"Tida ada, aku hanya kecelakaan kecil" jawab Rajehs.


"Baiklah kalau demikian"


"Mari silahkan masuk" ajak Rajehs.


Mereka semua masuk, Rajehs, Mich, Leo dan sekretaris Mich juga ikut masuk kedalam ruang rapa yang sudah ada Reyhan disana.


"Loh... Tuan Reyhan ada apa juga dengan wajah anda?" Mich kembali kaget melihat wajah Reyhan yang terdapat lebam dan jauh lebih banyak dari Rajesh.


"Ini hanyak kecelakaan kecil Tuan Mich" ucap Reyhan.


"Apa mereka sedang berselisih?" tanya Mich dalam hati.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2