
Kebahagiaan selalu berusaha di berikan dalam rumah tangga oleh pasangan muda itu, tetap saling mencintai dan menjalani rumah tangga dengan baik baik saja, satu sama lain selalu berusaha untuk memberi yang terbaik untuk pasangan terumata Rajesh yang selalu berusaha untuk memberi senyuman diwajah Nara, tidak membiarkan Nara dirundung kesedihan apalagi jika sampai wanitanya menangis karena suatu hal.
Dan wanita cantik yang sudah lama menggelar sebagai istri itu juga selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk suaminya, melayani Rajehs dalam segala kebutuhan pria tampan itu termasuk putra sambungnya yang semakin lama semakin beranjak dewasa.
Mungkin sebagian orang atau bahkan banyak orang yang akan berpikir jika keluarga mereka sudah sangat lengkap dan harmonis jika dilihat dari keseharian mereka dalam bertindak dan memperlakukan pasangan.
Dan ya, itu memang benar, mereka memang bahagia, Rajehs memang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk istrinya, mengusahakan istrinya selalu bahagia dengan memanjakan Nara dengan segala yang dia punya.
Tapi berbeda dengan wanita cantik itu, senyum, kebahagiaan dan kenyamanan rumah tangganya bisa dikatakan belum memberi dirinya kebahagiaan yang sepermuna, kenapa bisa demikian? itu semua karena satu hal, satu hal yang selalu Nara harapkan sejak dulu, sejak awal pernikahan mereka yaitu mengharapkan anak yang hingga kini tak kunjung dimiliki.
Bukan Nara tak sabar, bukan pula karena karena obsesinya yang ingin menjadi sempurna bagi keluarganya, tapi penantiannya sudah sangat lama baginya dimana sudah terhitung tiga tahun berjalan pernikahannya tapi berkat dan kepercayaan menjadi seorang ibu itu belum diberikan padanya.
Sudah banyak cara yang dilakukan oleh pasangan itu, mulai dari Nara berhenti bekerja sejak satu tahun yang lalu karena berpikir mungkin tubuhnya yang kelelahan, konsultasi ke dokter hingga pernah mencoba melakukan program bayi tabung, tapi hasilnya tetap saja nihil hingga kini, padahal dari hasil pemeriksaan terhadap Nara dan suaminya hasilnya selalu baik, dokter selalu mengatakan keduanya sehat tapi entah apa yang membuat pasangan itu belum juga dikaruniai anak.
Memikirkan hal itu, membuat Nara selalu menyalahkan dirinya, selalu merendahkan dirinya dihadapan suaminya, bahkan tak jarang Nara menolak keinginan suaminya untuk melakukan hubungan suami istri karena menurut wanita itu sangat percuma karena tidak akan ada hasil hingga membuat rumah tangga mereka kerap sekali terjadi perdebatan diantara keduanya dan alasannya tidak pernah jauh dari alasan lain.
Tapi walau demikian Rajesh tetaplah pria yang sangat mencintai istirnya, dia akan selalu mengalah untuk Nara, meminta maaf walau sebenarnya menurut nalar dan logika itu bukalah kesalahannya, tapi tetap pria itu memprioritaskan perasaan istirnya yang saat ini sedang rapuh.
Ya, Nara sedang rapuh hingga tidak bisa disentuh terlalu kuat maka akan menimbulkan keretakan atau bahkan bisa saja menimbulkan kepatahan yang sangat fatal, kepatahan yang akan Sangat sulit untuk perbaiki kembali, dan jika itu terjadi sudah bisa dipastikan itu akan menggangu mental dan jiwa gadis itu.
Tapi beruntungnya gadis itu, semua orang orang yang ada disekitarnya selalu berusaha untukmemotivasi dirinya, menguatkan dan menghibur hatinya agar tidak terlalu memikirkan keinginannya seperti itu, mensuport untuk lebih bersabar lagi terlebih Rajesh yang selalu memilih mengalah terhadap istrinya walau terkadang tak sengaja Nara melukai hatinya karena perktaan wanitanya.
"Sayang...." panggil Rajehs dengan lembut, tangannya mengusap lengan Nara yang sedang berbaring memunggungi dirinya saat ini.
__ADS_1
Nara tidak bergening, tidak berniat merespon tindakan suaminya saat ini, memilih untuk berpura pura tidur seperti sebelum sebelumnya setiap Rajehs akan meminta haknya.
"Aku tau kamu belum tidur sayang, jangan mengabaikanku" Rajehs Kembali berkara tapi tetap saja wanita cantik itu abai akan perkataan suaminya.
"Nana.....tolong jangan seperti ini? jangan menyiksaku dengan caramu yang seperti ini, jangan membuatku gelisah sayang" keluh Rajesh.
Nara tetap tidak berbalik, tapi suaranya jin tersengar ditelinga Rajesh memberi respon terhadap ucapannya suaminya yang juga berujung kekecewaan pada Rajesh, "aku ngantuk Mas...lebih baik Mas tidur, besok kamu herus kerja bukan?" ucap Nara dengan mata yang masih setia terpejam.
"Iya, Mas akan tidur tapi jangan memunggungi suamimu ini sayang, Mas bisa tidur jika tidak memelukmu" rengek Rajehs.
Nara yang awalnya ingin mengeraskan hatinya untuk abai, tepi Luluh lagi, dia tidak bisa melihat wajah suaminya merengek seperti ini, dengan segera Nara berbalik dan menghadap suaminya membuat pria tampan itu tersenyum puas.
"Sini sayang, peluk" pinta Rajesh yang langsung dijawab anggukan oleh Nara, masuk dan memeluk suaminya, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Rajesh dan memejamkan matanya.
"Tidurlah sayang, Mas akan memelukmu agar kamu nyaman" ucap Rajehs, walau sebenarnya pira tampan itu menginginkan hal lebih pada istirnya, melepaskan hasratnya yang sudah ia tahan selama tiga hari tapi tetap saja Rajehs tidak bisa memaksa keinginannya, apalagi jawaban Nara yang mengatakan dirinya lelah.
Nara mengangguk dalam pelukan Rajehs, anggukan yang dipikir Rajesh adalah jawaban atas ucapannya, tapi sebenarnya tidak, Nara hanya memejamkan matanya tapi kenyataan hati dan pikirannya saat ini sedang berkecamuk memikirkan sesuatu yang membuatnya harap harap cemas.
Nara mencoba menenangkan pikirannya dalam pelukan Rajesh, tidak mau terlalu memikirkan apalagi sampai mengharapkan apa yang sedang ditebak wanita itu, Nara takut jika nanti tidak sesuai dengan harapannya.
"Apa yang kamu pikirkan sayang?" tanya Rajesh.
Rupanya pria yang menyandang gelar sebagai suami itu sangat peka, dia tau gerak gerik istirnya yang belum tidur bahkan terlihat sangat gelisah sekali dan dia bis menebak jika wanitanya sedang berpikir sesuatu.
__ADS_1
"Kamu tau sayang? jika kamu terus seperti ini maka akan membangunkan adikku" lanjut Rajehs mencoba menggoda istrinya.
Dan benar saja, Nara yang tadinya banyak pikiran langsung buyar mendengar perkataan suaminya, "Apaan sih Mas...jangan menggodaku" ketus Nara.
Rajehs terkekeh mendengar perkataan istrinya bahkan saat ini dia bisa melihat dengan jelas Rian merah diwajah Nara, "Sayang...." panggil Rajehs dengan lembut dan seksi dipendengaran Nara membuat tubuh wanita itu merinding dan dia tau apa maksud dari suara itu.
"Kenapa Mas...?" Nara berpura pura tidak tai saja karena percuma pura pura tidur, toh suaminya sudah tau jika dia belum tertidur.
"Adikku sudah tiga hari puasa sayang" ucap Rajesh dengan wajah memelasnya.
"Lalu...?" Nara masih bersikap tenang bahkan ia memasang wajahnya datar agar terkesan dihadapan suaminya jika dirinya sedang badmood.
"Tidakkah mau kasihan sayang? aku sangat ingin bersatu denganmu?" ucap Rajesh yang benar benar merasa sudah di ubun ubun hasrat.
Melihat hal itu, Nara menjadi kasihan terhadap suaminya, memang benar sudah tiga hari dia menolak suaminya karena berpikir jika mungkin dia akan kedatangan tamu sesuai dengan jadwal biasanya tapi sudah tiga hari berlalu, tidak ada tanda tanda dirinya akan kedatangan tamu bulanan dan itulah yang membuat Nara sebenarnya sedikit gelisah.
Dengan pasrah, akhirnya wanita cantik itu menganggu mengiyakan keringanan suaminya, karena jujur saja dalam hatinya dia juga merindukan sentuhan dan perlakuan lembut dari seorang Fernandese yang selalu bisa membuatnya melambung merasakan nikmatnya surga dunia.
"Pelan pelan Mas"
.
.
__ADS_1
Bersambung....