STORY OF NARA

STORY OF NARA
ingin anak


__ADS_3

Nara menghentikan gerakannya tangnnya, bibirnya keluh untuk menjawab pertanyaan ibu mertuanya karena memang sesungguhnya hingga kini juga wanita cantik itu sedang menunggu adanya makhluk hidup didalam rahimnya tapi entah kenapa hingga kini belum ada tanda tanda, padahal pernikahan keduanya sudah terhitung tiga bulan lamanya.


Clara yang mengerti akan reaksi menantunya langsung kembali angkat bicara, "jangan dipikirkan ucapan Mama, tadi hanya bertanya dan jika memang belum yasudah tidak apa, lagi pula kalian belum lama menikah, dan kalian masih bisa berusaha lagikan?" ucap Clara yang mengerti akan perasaan menantunya.


Nara hanya memasang senyum diwajahnya untuk Clara tapi wanita paru baya itu tau kalau menantunya memaksakan senyumnya saja, dia jadi merasa bersalah karena sudah mengajukan pertanyaan yang merusak mood menantunya, harusnya dia bisa bisa menahan diri untuk tidak bertanya tapi mau bagaimana lagi, teman temanku sosialitanya sudah banyak yang memiliki cucu dan dia juga ingin memiliki cucu dari Rajehs.


Nara kembali melanjutkan aktivitasnya tapi kali ini lebih banyak diam, dan Clara juga tidak mau memaksakan menantunya untuk bicara karena memang akar dari kebungkaman Nara adalah dirinya yang mertanya hal sensitif.


"Sudah selesai, Ma...aku ke kamar sebentar, mau melihat Radith apakah sudah selesai atau tidak " pamit Nara dengan lembut seperti biasa pada mertuanya.


"Iya sayang, Mama juga mau ke kamar membersihkan diri" jawab Clara beralasan.


"Maafkan Mama sayang, Mama sudah menyinggung perasaanmu" ucap Clara dan menatap punggung Nara yang semakin lama semakin menjauh dan menghilang setelahnya.


Nara sendiri memasuki kamarnya dengan perasaan yang sedang kacau, dia tidak suka keadaanya yang seperti ini, dua juga ingin hamil dan memiliki anak tapi entah kenapa hingga sekarang belum ada tanda tanda kehamilan, terkadang Haidnya tertunda tapi hanya sampai tiga hari lamanya, dan tamu bulanannya kembali datang membuat terkadang menangis diam diam.


Bukan apa apa dia menangis, itu semua karena memikirkan suaminya, dia tau suaminya menginginkan anak itu terlihat dari Rajesh yang selalu saja mengelus perut ratanya, setelah mereka berhubungan suami istri dan itu membuat hati Nara tercubit dan sakit sekali karena berulang kali harus menelan kecewa selama tiga bulan ini.


Tak terasa air mata Nara Kemabli menetes sore ini, inilah yang ditakutkan, pertanyaan pertanyaan seperti ini yang sangat tidak ingin dia dengar karena jawabannya akan mengecewakan orang orang yang bertanya, belum lagi jika mereka orang orang yang pengertian dan mau bersabar seperti ibu mertuanya tapi kalau orang yang suka nyinyir mungkin mereka akan melontarkan perkataan pedas terhadap Nara.


"Ya Tuhan...kapan kau beri kami kepercayaan untuk memiliki anak?" lirih Nara.


Nara berada di balkon kamar, matanya menerawang jauh didepan hingga tidak menyadari kedatangan suaminya yang kini sudah berada dibelakang dirinya, "sayang...." panggil Rajesh dan langsung melingkarkan tangan kekarnya diperut Nara.


Nara terperanjat kaget dengan pelukan tangan suaminya, dia terlalu fokus melihat kedepan, pikirannya terlalu terpusat pada keinginannya yang ingin memiliki anak hingga tidak menyadari kehadiran suaminya.

__ADS_1


"Mass..."


"Ada apa sayang? apa yang kamu pikirkan? apa yang membebaniku hingga tidak menyadari kehadiran suamimu ini hemm" tanya Rajesh dengan lembut.


Rajesh bisa merasakan jika saat ini istrinya tengah ada yang dipikirkan da dia yakin itu sesuatu yang sangat membebani dirinya.


"Tidak ada Mas, aku hanya terlalu asyik memandang kedepan dan terbuai dengan angin sore, makanya aku tidak menyadari kehadiranmu" jawab Nara berbohong.


"Kamu tidak berbohong sayang? sungguh kamu tidak apa apa?" tanya Rajesh penuh selidik.


Nara berbalik menghadang suaminya, dia memasang senyum termanisnya pada Rajesh, dia ingin menunjukan kalau dirinya baik baik saja, dan tidak terjadi apapun padanya, walau demikian tetap saja Rajesh bisa merasakan adanya kepedihan yang tengah dirasakan istrinya.


"Aku tau kamu berbohong sayang, aku tau kamu menyembunyikan sesuatu dariku" batin Rajesh.


"Maafkan aku Mas, aku bukan tidak jujur hanya saja itu akan membuatku semakin sakit dan aki jika ga yakin kamu pasti akan terluka juga jika tau aku menceritakan apa yang sesungguhnya" batin Nara dan manatap suaminya dengan tatapan sendu tapi dengan cepat setekh ia menghindar saat Rajesh berbalik menatapnya.


Nara bergegas melangkah keluar, dia ingin bertemu dengan Radith, karena biasanya luka di hatinya akan terobati jika bersama dengan rajin dia akan merasa terhibur jika dia melihat tingkah lucu dan menggemaskan putra sambungnya.


Sementara Rajesh, dia hanya menatap sendu punggung istrinya yang menghilang dibalik pintu kamar, dia tidak tahu entah apa yang tengah membebani pikiran istrinya tapi dia yakin itu adalah hal yang sangat sensitif sekali dan itu pasti menyangkut tentang mereka berdua sehingga wanitanya enggan untuk berbagi cerita.


Tak ingin berpikiran buruk, Rajesh akhirnya memutuskan untuk membersihkan diri, dia ingin mencari tahu apa yang terjadi dengan istrinya dan dia akan bertanya pada ibunya, dua yakin ibunya pasti tau apa yang menyebabkan Nara seperti itu, karena setau Rajehs siang tadi istrinya masih biasa saja, tidak ada hal yang membuar mood istrinya drop, sehingg bisa disimpulkan jika akarnya berasa dari rumah ini.


Nara memasuki kamar putranya, Radith rupanya sudah selesai mandi dan melihat hal tersebut, Nara langsung bergegas mendekati putranya, membantu untuk memakaikan pakaian untuk putra sambungnya, "sini sayang, Mommy bantu" tawar Nara.


"Thank you Mom, i love you" ucap Radith membuat hati Nara menghangat.

__ADS_1


Nara benar benar bisa terhibur jika bersama Radith, bahkan bocah tampan itu bukan anak.kandungnya tapi dia bisa merasakan bahagianya mengurus anak itu dan apa itu? pernyataan cinta Radith untuknya terasa sangat indah dipendengaranku, Nara jadi berpikir jika yang mengucapkannya adalah anak kandungnya, betapa bahagianya hatinya jika seandainya itu terjadi.


"Ya Tuhan...ucapan darinya saja sudah sangat menghangatkan hatiku, bagaimana jika yang mengatakannya adalah ank kandungku sendiri? pasti akan jauh lebih hangat dan membahagiakan dari ini" batin Nara, tangannya bergerak merapikan pakaian Radith, sedangkan bocah tampan itu tampak tidak mengerti saat setetes air mata ibunya mengalir membasahi pipi Nara.


"Ada apa Mom? kenapa Mommy menangis?" tanya Radith yang heran dengan keadaan ibunya.


Nara dengan cepat mengusap air matanya, dia tidak sadar akan keadaanya saat ini sedang bersama Radith, dia terlalu terbawa perasaan sehingga melupakan jika ada anak kecil yang tengah memperhatikan dirinya.


"Tidak apa sayang, Mommy hanya kelilipan, tak sengaja tadi ujung bajumu mengenai mata Mommy" ucap Nara berasalan.


"Mom...." panggil Radith dengan lembut.


"Yes Boy?"


"Apa aku berbuat kesalahan pada Mommy? sehingga Mommy menangis? maaf jika Radith nakal ya Mom, aku janji tidak akan membuat Mommy bersedih lagi" ucap Radith dengan polos.


Walaupun Radith anak kecil tapi dia bisa tau jika ibunya tengah bersedih, hanya saja perkara kesedihan apa Radith berpikir mungkin karena dirinya yang nakal dan Nara pusing menghadapinya.


"Ohh sayang....kamu tidak nakal, kamu anak Mommy yang paling manis dan kamu juga tidak pernah membuat Mommy repot apalagi membuat Mommy marah" balas Nara dan langsung merangkul Radith dalam pelukannya, bibirnya mencium pucuk kepalan Radirh, dia memeluk Radith ditengah hatinya yang sedang tidak baik baik saja dan dia ingin mencari ketenangan melalui pelukan anak kecil itu


"Aku sangat menyayangimu Radith" ucap Nara.


"Aku juga sangat menyayangi Mommy" balas Radith dan memeluk ibunya tak kalah erat.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2