STORY OF NARA

STORY OF NARA
Part 43


__ADS_3

"Ngapain kamu disini?" tanya Reyhan dengan wajah dinginnya.


Nara melihat Reyhan yang sepertinya tidak suka dengan Cleora berarti bisa di simpulkan kalau sebenarnya pernikahan Reyhan dan Cleora terjadi bukan atas dasar kemauan Reyhan,


"kenapa Reyhan bereaksi seperti ini? apa mungkin mereka menikah bukan karena keinginan Reyhan? jika iya, tapi apa alasannya" ranya Nara dalam hatinya.


Tentu saja Nara bertanya tanya karena dia tidak memberi kesempatan pada Reyhan menjelaskan alasannya waktu itu bahkan hingga kini Nara menutup telinga untuk mendengar alasan Reyhan dengan berbagai alasan penolakan.


"Harusnya aku yang tanya Rey, kenapa kamu di apartement wanita lain?" tanya Cleora dengan amarah yang sudah meluap.


Cleora sudah merasa sangat muak membiarkan Reyhan terus berbuat seenaknya dan menjumpai Nara tanpa memikirkan perasaanya terluka atau tidak.


Cleora sudah di atas ambang batas, terhitung satu bulan sudah pernikahan mereka dan tidak ada kemajuan sedikit pun dalam hubungan keduanya, awalnya Cleora berpikir jika seiring berjalannya waktu hubungan keduanya akan semakin dekat dan membaik tapi rupanya semakin kesini Cleora semaki terabaikan oleh Reyhan.


Bagaimana tidak merasa terabaikan, rumah tempat tinggal mereka bagaikan nerakan bagi keduanya, Reyhan merasa sangat sial terkurung dan hidup satu atap dengan wanita yang sama sekali tidak dicintainya sedangkan bagi Cleora, dia merasa hidup berdampingan dengan suaminya tapi tidak bisa meraih, seolah ada tembok besar sebagai pertahanan Reyhan sehingga Cleora tidak bisa menjangkau suaminya.


Terlebih lagi di setiap sudut rumah Reyhan semua penuh dengan foto foto Nara dan Reyhan saat masa masa pacaran, jelas saja Cleora merasa terluka dan hancur menyaksikan semua itu setiap harinya.


Wanita mana yang tidan terluka dengan semua yang terjadi itu? jelas semua wanita tidak akan bisa menerima jika suami mereka memuja wanita lain secara terang terangan di depan matanya.


"Bukan urusanmu Cleora, lebih baik kau pergi dari sini!" usir Reyhan dengan nada yang penuh penekanan.


Cleora menggeram marah mendapar pengusiran dari suaminya sendiri di depan rivalnya, benar benar tidak bisa terima perlakuan Reyhan padanya.


"Kau mengusirku di depan perempuan lain, suami macam apa kau Rey!" desis Cleora.


"Nara bukan wanita lain, dia gadis yang ku cintai!" bentak Reyhan.


Cleora terkejut bukan main, tak terkecuali Nara yang baru kali ini melihat Reyhan marah. Selama berpacaran dengan Reyhan ini ki pertama pria itu marah dan marahnyapun pada istrinya sendiri.


Cleora sudah menganak sungai matanya, luka otu kembali tergores mendengar langsung ari mulut Reyhan yang untuk kesekian kalinya mengatakan Nara kekasih hatinya, gadisnya dan orang yang di cintai.


"Oh Tuhan kenapa sakit sekali mendengar hal itu" jerit Cleora dalam hati.


Sedangkan Nara merasa iba dengan Cleora, walau Gadis belia itu yang menjadi penyebab rusaknya hubungan sepasang kekasih itu tapi Nara juga tidak bisa menyalahkan sepenuhnya Cleora dan dia tau jika gadis muda melakukan itu semua karena cinta hanya cara yang dia tempuh salah yaitu dengan menjebak Nara.


"Tolong jangan berdebat disini, malunjika penghuni apartement mendengarnya" leari Nara pada akhirnya karena merasa situasi mulai tegang.


Sontak keduanya melihat kearah Nara, Cleora pun menatap tajam ke arah Nara. Dia semakin benci dengan Nara walau dalam hati kecilnya sudaj mengetahui seperti apa Nara tapi dia berusaha menumbuhkan kebenciannya terhadap gadis cantik di hadapannya ini.


"Kau pasti senang bukan?" kata Cleora dengan sinis.


Nara menautkan kedua alisnya tidak mengerti dengan maksud ucapan Cleora, senang seperti apa yang di maksud Cleora padanya.


"Apa maksudmu?" tanya Reyhan dengan dingin.

__ADS_1


Rupanya bukan Nara saja yang tidak mengerti dengan ucapan Cleora, Reyhan pun sama tidak paham apa maksud dari ucapan istrinya itu.


"Kau pasti senang melihat aku hancur karena harga diriku di injak oleh suamiku sendiri di hadapanmu, dan kau pasti senang karena kau melihat kenyataan rumah tanggaku seperti ini iya kan...!" hardik Cleora.


Nara terkejut bukan main, bagaimana bisa gadis muda ini mengatakan hal yang bahkan tidak pernah terlintas di benak Nara. "apa yanh kau katakan? aku tidak pernah berpikir seperti itu"


"Halah kau berbohong Nara, kau berpura pura baik di hadapan Reyhan agar dia terus memujamu dan aku semakin di sudutkan setiap kali di bandingkan denganmu!" teriak Cleora.


Plak


Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi Cleora bahkan meninggalkan bekas, dan itu berasal dari Reyhan.


Cleora memegang pipinya sedangkan Nara menutup mulutnya tidak percaya dengan aoa yang di lihatnya, benarkan itu Reyhan? benarkan yang bermain tangan itu adalah Reyhan kekasihnya dulu? kekasih yang penuh kelembutan dan begitu memuja dirinya.


Jika itu benar, lalu kenapa? kenapa sekarang yang dilihat sangat di luar pengetahuannya, Reyhan berani bermain kasar dan itu terhadap istrinya sendiri tepat di hadapannya.


"Apa yang kau lakukan Rey!" pekik Nara.


Reyhan teradar dengan teriakan Nara, dia baru sadar jika masih ada orang yang sangat dia cintai disana tapi di lain alasan dia juga marah karena wanita lain menghina gadisnya dan dia juga ingin menunjukan pada Nara jika gadisnya itu sangat berarti dan akan di lindungi sampai kapan pun.


"Aku tidak suka dia menghinamu Nara sayang" jawab Reyhan beralasan.


"Tapi kau tidak perlu bersikap kasar seperti itu, kau tau kan dia adalah istrimu" sentak Nara.


"Jangan lupa Rey dia adalah istrimu dan seharusnya orang lain itu adalah diriku dan kau tidak pantas berbuat seperti ini"


"Tapi...."


"Aku kecewa Rey, aku kecewa karena baru mengetahui dirimu yang seperti ini. Kau bukan Reyhan yang ku kenal, kau lelaki egois dan tidak berperasaan" sela Nara membuat Reyhan kembali bungkam dan menelan kembali kata katanya.


Cleora yang mendengar perkataan Nara juga terdiam, menatap lamat lamat raut wakah gadis cantik itu dan tidak ada kebohongan disana, semua yang di katakan benar, pembelaan terhadap dirinya benar benar tulus dilakukan Nara.


"Benarkah kau masih membelaku Nara? padahal aku baru saja memojokanmu tapi dengan lapangnya kau malah membelaku dan memojokan pria yang dulu hadir di hidupmu" batin Cleora.


"Lebih baik kau pergilah Reyhan, jangan membuat rusuh di apartementku" usir Nara.


"Tidak sayang, aku tidak mau pergi. Biar dia saja yang pergi" geleng Reyhan.


"Jangan membuatku semakin membencimu Rey, pergilah agar benci ini tidak semakin bersarang" ancam Nara.


Reyhan yang mendengar perkataan Nara yang di rasa sebuah ancaman akhirnya mengalah.


"Baiklah aku pergi, jaga dirimu dengan baik. Aku akan datang lagi nanti"


"Tidak. Jangan pernah datang lagi!" tegas Nara tapi tidak di indahkan oleh Reyhan.

__ADS_1


Reyhan berlalu pergi setelah sebelumnya menatap Cleora dengan tatapn tajamnya dan kini hanya tinggal Nara dan Cleora disana, seketika rasa canggung terjadi di antara keduanya tapi itu tidak berlangsung lama karena Nara membuka obrolan.


"Kau tidak apa apa?" tanya Nara dengan lembut.


Cleora menatap Nara dengan dalam, "kenapa kau masih bersandiwara? Reyhan tidak ada lagi disini jadi tunjukan saja sikapmu, katakan saja jika kau senang dengan perlakuan Reyhan barusan padaku kan? kau merasa menang dan pastinya sangat puas sekarang" kata Cleora.


Sepertinya gadis cantik itu masih belum bisa menerima kenyataan yang sudah dia lihat jika Nara benar benar gadis yang tulus, tidak hidup dalam sandiawara. Cleora selalu menepis kenyataan itu hingga terus saja memojokan Nara.


"Terserah kau berkata seperti apa, aku tidak peduli dan satu lagi aku bukan gadis yang penih kepura puraan, aku apa adanya seperti saat ini" jawab Nara dengan tegas.


Nara sudah merasa jengah dengan sikap Cleora yang sejak awal bertemu selalu memojokan dirinya, selalu menganggap dirinya berpura pura baik saja pada dirinya maupun di hadapan Nara.


"Lebih baik kau pulanglah, obati pipimu yang memerah" usir Nara.


Selesai berkata begitu Nara berbalik dan masuk dalam apartementnya meninggalkan Cleora yang masih terdiam entah apa yang dipikirkannya.


Nara menarik nafasnya dengan dalam lalu membuangnya dengan perlahan, tubuhnya di rebahkan di atas kasur mengingat kembali apa yang baru saja terjadi di depan apartementnya.


Nara sadar jika tidak bisa kembali lagi dengan Reyha saat melihat Cleora yang begitu mencintai Reyhan walau sudah di permalukan dan bahkan tidak di anggap oleh Reyhan tapi gadis cantik itu tidak menyerah dia masih bertahan berada disisi mantan kekasihnya itu.


Padahal Nara yakin jika Cleora banyak yang sukai apa lagi Cleora berasal dari keluarga terpandang menambah nilai kesempurnaanya dalam mendapatkan pria tapi justru Cleora malah terjerat hati pada pria biasa yang bahkan tidak menginginkan dirinya sedikitpun.


"Kasihan kamu Cleora, semoga saja kelak Reyhan sadar jika kamu adalah gadis yang baik" gumam Nara.


Perlahan mata gadis cantik itu terpejam, mungkin terlalu lelah menghadapi persoalan hidupnya sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk pulas dan mengabaikan perutnya yang belum terisi.


Sementara di luar Cleora menangis, dia benar benar sakit dengan semua kejadian yang baru saja terjadi, sebegiru tidak berartinyakah dia bagi suaminya sehingga dengan teganya memojokan, menghina bahkan menamparnya di depan wanita lain.


"Kau benar benar keterlaluan Rey, kau tidak punya perasaan hiks...hiks..." isak Cleora.


"Apa susahnya melepaskanya Rey dan mencoba menerima dan membalas cintaku? aku sudah berusaha memberikan semua yanh terbaik tapi masih saja tidak ternilai bagimu" lanjutnya.


Cleoran terus menangis dalam mobilnya, dia benar benar sakit hati dengan sikap Reyham tapi cintanya membuat dirinya masih tetap bertahan dan menerima semua perlakuan kasar Reyhan selama ini.


Berbeda lagi dengan Reyhan, pria itu saat ini melampiaskan semua kekesalan dan sakit hatinya yang bercampur pada alkohol, dia ingin melupakan sejenak masalahnya dengan Nara.


"Aku akan terus berusaha untuk mendapatkan kamu Nara sayang, aku tau di hatimu masih ada aku hanya saja kau sedang kecewa denganku makanya bertingkah seperti ini" racau Reyhan.


Reyhan terus meminum minumanya tanpa mempedulikan sekretarisnya yang terus berusaha menghentikannya, asalkan dia bisa merehatkan sejenak pikirannya maka dia akan lakukan.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2