STORY OF NARA

STORY OF NARA
Part 9


__ADS_3

Nara melesat pergi setelah puas beramin hujan, kembali ke apartement miliknya, dia ingin istrhat karena merasa sangat lelah. Lelah fisik, pikiran dan hati yang menanggung Rindu.


Flashback Off...


Saat ini tahun ketiga sudah pasangan kekasih itu berpisah, dan sesuai dengan kesepakatan tahun ini juga Reyhan akan kembali pulang walah tidak tau kapan tepatnya tapi setidaknya ada secerca harapan bagi Nara akan bisa bertemu dengan Reyhan pujaan hatinya.


Bertepatan pula bulan ini ada penerimaan siswa baru baik tingkat kanak kanak maupun tingkat dasar di sekolah Nara mengajar.


"Hallo anak tampan siapa namanya?" tanya Nara pada pria kecil yang tampan seperti turunan pakistan, masih masih bocah tapi aura ketampananya susah terlihat


Anak itu hanya melihat Nara dengan tatapan tajamnya tanpa ada niatan untuk menjawab pertanyaan Wanita dewasa didepannya itu.


"Maafkan cucu saya Bu guru, dia memang seperti ini kurang akrab dengan orang yang baru dia lihat" ucap Lisa Fernades yang tak lain adalah nenek dari anak itu.


"Tidak masalah Nyonya, anak kecil pada umumnya memang seperti itu tidak akan akrab dengan orang yang baru dia lihat" jawab Nara dengan senyum tulusnya.


Nara menjawab seperti itu bukan karena ingin mengambil muka, tapi memang karena Nara sudah sering mendapati anak yang seperti iti selama tiga tahun dia bekerja.


"Saya mau dia sekolah di TK Bu guru, agar bisa bergaul dengan teman sebayanya" ucap Clara.


"Beraoa umurnya?"


"Lima tahun"


"Apa dia sudah mengenal huruf, angka, warna atau dasar dasar lainnya?" tanya Nara.


"Pertanyaan konyol! bahkan aku sudah bisa membaca dan berhitung!" ucapnya ketus dengan mata tajamnya yang tidak lepas dari Nara.


Nara menghela napasnya mendapati calon muridnya yang sepertinya berbeda dari murod lainnya, kali ini Nara mungkin akan mendapat kendala dalam menangani bocah ini.


Sementara Clara merasa tidak enak hati karena sikap cucunya yang tidak pernah mau berbicara baik pada orang lain selain ayah dan nenek kakeknya.


"Radith sayang, jangan seperti itu pada Ibu guru nak, kamu harus sopan padanya" tegus Clara dengan lembut tapi ada penegadan di setiap intonasinya.


Radith mendesah pelan mendapat teguran dari neneknya, ini lah yang paling tidak ia sukai membantah perintah neneknya orang yang dia sayang.


"Baiklah nenek jika itu yang kau mau, tapi aku tidak suka jika dia membuatku marah!" ucapnya dingin.


"Baiklah karena kau sudah bisa membaca berhitung dan lainnya, maka kau sebenarnya tidak perlu di taman kanak kanak, tapi karena kau butuh teman maka tetap kau akan masuk TK Senior" ucap Nara.


"Jadi apa yang akan aku lakukan!" ketus Radith.

__ADS_1


"Untuk mengenal lingkungan agar kau bisa berteman dengan banyak orang" jawab nara mengelus pipi Radith.


Radith dengan cepat menepis tangan Nara dengan kasar dan berkata "jangan sembarangan menyentuhku! hanya nenek kakek dan Ayah yang boleh menyentuhku!" bentak Radith dengan mata yang semakin tajam.


Bukan takut atau kesal, Nara malah tersenyum mendapati sikap Radith yang bersikap dewasa sebelum waktunya, tapi sebenarnya jauh dalam lubuk hatinya Nara sedih karena harus ada anak kecil yang sudah dewasa sebelum waktunya.


"Apa kau ada masalah nak, sehingga sudah bersikap seperti ini? berbeda dari anak anak lain" batin Nara dan terus menatap Radith yang juga menatapnya dengan tajam"


Radith akhirnya mengalah, dia mengalihkan pandanganya ke arah lain karena tidan tahan dengan tatapan wanita dewasa didepannya ini.


"Baiklah mulai besok Radith sudah bisa sekolah ya" ucap Nara dengan senyum manisnya.


"Terimakasih bu guru" ucap Clara.


"Sama sama bu" jawab Nara "Radith tidak mau bicara sesuatu kah sama Ms mu ini?" tanya Mara ingin menggoda Radith.


"Ohh jadi panggilanya Ms disini?" tanya Clara yang baru tau.


"Benar bu, itu panggilan untuk yang belum menikah, sedangkan yang sudah menikah panggilnya Mam" jawab Nara.


"Jadi Ms ino bel menikah dong ya? wahh cantik cantik gak baik jika dianggurin" seloroh Clara.


"Hahaha ibu bisa saja, belum ada jodohnya saja kok bu" jawab Nara malu malu.


"Ck pantas saja cerewet!" ejek Radith.


"Radith!" tegur Clara.


"Iya aku diam nenek!" ketus Radith.


"Maaf ya Ms Nara, kami permisi" pamit Clara


"Silahlan bu, hati hati" ucap Nara "besok jangan lupa ke sekolah karena kita akan bertemu" ucapnya dengan senyum manisnya.


"Cih" decak Radith membuang pandangannya.


"Ayo Radith kita pulang"


Nara melihat kepergian dua orang yang berbeda generasi itu, ada banyak pertanyaan yang berputar di pikiranya mengenai Radith, dan itu akan segera dia ketahui jika sudah berhasil mendekati Radith nanti.


"Nara! itu calon muridmu ya?" tanya Vivi yang langsung mengambil tempat di samping Nara.

__ADS_1


"Iya, tapi sepertinya dia ada kelainan deh" jawab Nara


"Ha! kelaina gimana? agak geser kah, atau berkebutuhan khusus?" tanya Vivi heboh.


"Kamu ini, emang geser kemana? tapi mungkin masuk dalam kategori kebutuhan khusus memperkenalkan dunia padanya" ucap Nara.


"Apa maksudmu?"


"Dia seperti kurang kasih sayang dan perhatian, tapi jika di lihat neneknya sayang padanya? pokoknya ada seseuatu yang dia butuhkan" ucap Nara.


Tidak bisa di pungkiri jika sedikit banyaknya Nara sudah memahami karakter anak, memahami yang kurang hanya dengan tatapan saja, itu karena Nara yang sudah begitu menghahayati peranya.


"Yasudah berarti kau harus menyiapkan banyak bahan untuk menghadapinya" ucap Vivi.


"Tentu dan salah satunya, adalah melakukan hal yang sama dilakukannya" ucap Nara dengan senyum smirknya.


"Aku tau kau selalu memiliki seribu cara mengahadapi anak" kekeh Vivi yang di ikuti oleh Nara.


"Radith, kenapa kamu berisikap begitu sama Ms.Nara sayang?" tanya Clara.


Saat ini kedunya berada di dalam mobil untuk kembali ke kediamannya, dan setelah sekian lama berdiam, Clara memutuskan untuk bertanya walau dia sendiri sudah tau jika jawabannya hanya satu yaitu aku tidak suka.


Radith melihat neneknya sekilas lalu kembali fokus pada jalanan yang jauh lebih menarik menurutnya.


"Aku tidak tau, aku suka padanya tapi aku tidak suka dia baik padaku" jawab Radith menundukan wajahnya.


Clara sangat terkejut mendengar jawaban Radith, untuk pertama kalinya Radtih mangatakan jika dia menyukai seseorang sekaligus tidak munyukai kebaikan orang itu.


"Kenapa Radith tidak suka? bukankah bagus jika ibu gurumu baik padamu?"


Radith memandang neneknya dengan lekat, seperti ingin menyampaikan keinginannya lewat tatapan matanya.


Keinginan jika dia hanya ingin mendapatkan perlakuan baik itu dari orang orang terdekatnya, atau kata yang lebih tepatnya adalah dia ingin mendapatkan hal seperti itu dari ibunya.


Clara yang paham akan tatapan itu menjadi sangat iba, dia sangat tau cucunya hanya ingin kasih sayang dari ibunya yang tidak pernah dia rasakan sejak awal melihat dunia karena ibunya yang lebih dulu menghembuskan nafas terakhirnya.


"Maafkan nenek sayang" batin Clara.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2