STORY OF NARA

STORY OF NARA
kembali


__ADS_3

"Kami juga menrindukanmu Mas" ucap Nara dan berhambur dalam pelukan suaminya.


Mereka bertiga berpelukan meluapkan rasa rindu yang sudah satu minggu ini memupuk karena jarak yang terpisah, tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang melihat kearah mereka karena yang terpenting saat ini adalah rindu mereka yang bisa tertumpahkan dan terletak di pertemuan ini.


Rajesh mencium kening malam berkali-kali bergantian dengan Radit pemuda tampan itu benar-benar meluapkan rasa rindunya karena selama satu Minggu ini tidak bersama dengan keluarga kecilnya.


"Mas sangat merindukanmu sayang" bisik Rajesh tepat di telinga Nara membuat wanita cantik itu bersemu merah dan semakin menenggelamkan kepalanya di dada bidang suaminya dan memeluk semakin erat pinggang Rajesh.


"Daddy merindukanmu Son" ucap Rajesh.


"Aku juga merindukanmu Dad, tidak ada Daddy rasanya sepi karena tidak ada teman dekatku" ungkap Radith membuat Rajehs melototkan matanya kemudian menggeleng mendapati cara putranya mengutarakan rindu.


"Ayo Mas, kita pulang...Mas pasti capek" ajak Nara.


"Daddy membawakan ku ole ole?" tanya Radith sebelum mereka melangkah keluar.


"Tentu, sesuai dengan permintaanmu" jawab Rajesh langsung mengangkat tubuh putranya yang langsung disambut sumringah oleh Radith, jarang sekali bocah tampan itu bermanja didalam gendongan ayahnya tapi kini dia kembali digendong dan tentu saja tidak mau melewatkan kesempatan.


"Kamu tidak capek Mas?" tanya Nara.


"Benar kata Mommy, apa Daddy tidak kelelahan?" tanya Radith.


"Tentu saja tidak, Daddy masih kuat untuk mengangkat tubuhmu ini" jawab Rajesh.


"Thank you Da, love you so much" ucap Radith dan langsung menghadiahi Rajehs satu kecupan tanpa rasa sungkan apalagi menjaga image.


Rajehs tersenyum mendapatkan ciuman dari putranya, sangat jarang putranya melakukan hal itu karena menurutnya itu hanya untuk anak anak saja dan dia merasa diri sudah dewasa tapi kini Rajesh mendapati sikap kanak kanak itu sekarang dari putranya.


"Love you to My Son" jawab Rajehs.


"Ayo Mas" ajak Nara dan mereka juga bergegas berjalan menuju dimana mobil yang dibawa Nara terparkir, sedangkan Leo hanya bisa memasang wajah datarnya karena sejak mereka tiba, Tuan Mudanya mengabaikan dirinya.


"Loh sayang, mana supirnya.?" tanya Rajesh ketika tidak mendapati supir dalam mobil Nara.

__ADS_1


"Tidak ada Mas, karena aku sengaja untuk menjemput Mas bersama Radtih" jawab Nara.


"Ya Allah sayang....bagaimana jika terjadi sesuatu sama kamu....?.kamu taukan kalau sangat berbahaya jalan sendiri apalagi sedikit jauh perjalananya, bagaimana jika ada saingan bisnis Mas yang berniat jahat" omel Rajesh.


"Tapi aku selamat nyatanya Mas" elak Nara.


"Iya, tapi kita tidak tau musibah" sentak Rajesh, pria tampan itu kesal dengan istrinya yang berbuat tanpa memikirkan keselatamannya, "kamu Boy kenapa tidak mengingatkan Mommy" ketus Rajehs pada Radith yang juga ikut kesal pada putranya.


"Sorry Dad, aku sudah mengingatkan Mommy tapi..."


"Tapi aku yang tidak mau mendengarkan, jangan marahi putraku" sela Nara.


"Karena dia tidak bisa membuatmu mendengarkannya" tegas Rajesh.


"Maafkan aku Mas, aku tidak akan mengulanginya lagi tapi jangan marahi putraku, dia bahkan sudah membujukku tapi tetap aku ingin bawa mobil sendiri" jelas Nara yang tidak ingin putranua terkena amarah suaminya.


Rajehs menatap istrinya yang sedikit ketakutan melihatnya, ia menghela napasnya mengotrol agar tidak kelepasan, "kamu tau kalau Mas selalu menghawatirkan kalian? Mas tidak mau kalau ada sesuatu yang terjadi dengan kalian, banyak pesaing bisnisku dan bisa saja mereka berniat jahat, jadi aku mohon untuk kedepannya jangan lagi seperti ini sayang" jelas Rajehs dengan suara yang kini melembut.


"Baiklah, untuk kali ini saja, ayo kita masuk biar Leo yang menyetir" ucap Rajesh yang dijawab anggukan oleh Nara sedangkan Leo hanya melemas.


"Kenapa sih Nona Muda tidak bawa supir? kalau ginikan aku lagi yang apes, harus nyetir dalam keadaan malas begini" batin Leo yang tidak berani menolak perintah dari tuannya.


"Leo jalan..!" titah Rajehs.


Leo dengan lesu menjalankan mobil yang awalnya dikendari oleh Nara, sedangkan keluarga kecil itu duduk berdampingan dikursi penumpang bagian belakang dengan Radith yang masih duduk dipangkuan ayahnya seperti biasanya.


"Daddy tidak lelah memangkuku?" tanya Radith memecah keheningan.


"Iya Mas, apa kamu tidak lelah? biarkan dia duduk ditengah kita saja" usul Nara.


"Benar Dad, biarkan aku duduk disini saja" timpal Radith dan menunjukan tempat yang dimaksud dirinya dan Nara.


"Big no...! Daddy sudah katakan duduk dengan manis saja" jawab Rajesh yang tetap keukeh untuk memangku Radith

__ADS_1


"Kenapa sih Mas...? nanti Mas kelelahan loh"


"Lebih baik fisik yang lelah dari pada hati karena menahan rindu sayang" bisik Rajesh tepat di telinga Nara.


Wanita cantik itu mengerutkan keningnya tidak paham dengan apa yang dimaksud suaminya, "maksudnya?" tanya Nara yang dengan polosnya ikut berbisik pada suaminya


Rajehs tersenyum gemas dengan tingkah Nara, membuat lelaki tampan itu ingin sekali menerkam istrinya saat ini tapi harus dia tahan mengingat tempan dan kondisi yang tidak kondusif.


"Mas sangat merindukanmu, jadi tidak mungkin membiarkan Radith duduk ditengah kita, nanti Mas tidak bisa memelukmu seperti ini" jawab Rajesh masih berbisik dan mengecup ubun ubun Nara setelahnya.


Nara tersipu malu mendengar perkataan suaminya apalagi tindakan suaminya yang tidak memiliki rasa malu menciumnya disana walau hanya di kepala tapi tetap saja ada rasa malu dalam diri Nara karena kehadiran Leo disana, beruntungnya Radith tidak melihat tingkah suaminya, jika sampai dia melihat entah apa yang akan dikatana bocah tampan itu lagi.


"Jangan sembarang mencium Mas, ada Radtih disini" bisik Nara dengan rona merah diwajahnya.


"Tidak masalah, lagian dia tidak melihat"


Leo yang melihat sikap majikannya yang tidak pernah berkurang tingkat bucinnya menjadi geram sendiri, dia kesal karena harus melihat kemesraan majikannya yang dipertontonkan secara tidak langsung padanya, membuat jiwa jomblonya meronta ingin mencari pendamping juga, tapi apakah bisa? dengan keadaan dirinya yang selalu menempeli Rajesh.


"Tuan Muda bikin saya kesal saja sih...! kenapa coba hari mesra mesraan dihadapan saya? kan jadinya jiwa jombloku meronta ingin mencari pasangan jadinya" geram Leo dalam hati, "tapi kalau aku punya pasangan berarti aku akan jadi bucin juga dong? hiiii....aku bukan TuanMuda yang bucin, aku akan tegas pada pasanganku nanti" monolog Leo dalam hati.


"Fokus pada jalan Leo, jangan banyak berpkir apalagi menghayal" cetus Rajesh membuat Leo terjingkat kaget karena dalam situasi seperti ini sajapun Rajehs mampu membaca isi hatinya terlebih perkataan Rajehs yang menyuruhnya jangan menghayal.


"Saya tidak melamun Tuan Muda dan sau sedang fokus" kilah Leo.


"Ckck...sudah fokus saja" decak Rajesh yang merasa sanga kesal dengan asistennya yang berani berbohong padanya.


"Terkadang otakku ini selalu melupakan hal ini, hal dimana Tuan Muda bisa membaca ekspresi orang lain" batin Leo .


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2