
"Radith, Ms.Nara" panggi Clara.
"Nenek kenapa kau cepat sekali datang?" ketus Radith dengan bibir yang mengerucut.
"Loh kenapa?"
Clara menautkan kedua alisnya mendengar pertanyaan yang menurutnya konyol, bagaimana tidak di anggap konyol disaat anak lain ingin secpatnya di jemput berbalik dengan Radith yang tidak ingin kecepatana di jemput padahal dirinya pun hanya duduk tanpa berbaik dan waktu juga sudah siang.
"Karena nenek menggangguku dengan momny" ketusnya.
Clara pura pura terkejut dan tak paham sedangkan Nara hanya tersenyum kikuk tidak tau harus bagaimana, dirinya mengiayakan untuk di panggil mommy oleh Radith hanya untuk menyenangkam tapi tak di sanggak anak kecil ini malah mengatakan pada neneknya.
"Siapa mommy mu boy?"
"Siapa yang jika bukan momny cantik yang ada di sampingku ini" jawabnya dengan bangga.
"Really?"
"Of course"
"Maaf tante, bukan itu maksud Radith saya bisa jelaskan kenapa Radith mengatakan itu" sela Nara yang tidak ingin ada kesalah pahaman.
"Mommy, bukannya kau sudah mau jadi ibuku?" lirih Radith yant melihat ada rasa tak enak di wajah Nara.
"Oh hei bukan begitu boy, mommy kan sudah setuju hanya saja mommy harus jelaskan bukan kenapa bisa begitu"
"Tidak perlu mom, karena nenek pasti akan suka dan mengiayakan semuany, betul kan nenek?" tanya Radith meminta jawaban neneknya.
"Apapun untukmu boy, nenek tidak adak keberatan" jawab Clara dengan senyum lembutnya.
"Maaf Ms.Nara jika Radith membutamu repot" ucap Clara merasa tidak enak hati.
"Tidak, tidak masalah. Justru saya yang minta maaf karena sudah lancang, saya hanya tidak tega dengan Raditg" lirih Nara.
"Tidak Ms.Nara jangan minta maaf, justeu saya yang berterimakasih setidaknya cucuku bisa teresenyum" jawab Clara.
Mereka berbinca sebentar karena Radith yang tidak mau berpisah cepat cepat, di tengah keasikan merka terdengar suara seseorang yang memanggil nama Nara membuat ketiganya menoleh serempat.
Tiga orang dengan ekspresi yang berbeda beda, Nara bersikap biasa saja, Clara menautkan keningnua sebagai signak ketidak tahuannya siapa gerangan yang memanggil Nara sedangkan Radith sudah menanjamkan matanya melihat pria dewasa yang bisa di tebak ada hubungan dengan Nara dan itu menjadi ancaman bagu Radith, dia tidak mau jika ada pria lain yang mendekati Nara.
Radith tidak bisa terima jika dugaannya benar maka dia harus berbuat sesuatu agar Nara dan pria itu tidak lagi saling bertemu atau berhubungan.
"Nara...." panggil Reyhan dengan lembut seraya langkahnya terus mengayun mendekat ke arah Nara.
Ya, orang itu ternyata Reyhan, sepertinya pria itu belum mau menyerah mendapatkan kembali Nara. Dia belum bisa merelakan kekasih hatinya memutuskan hubungan begitu saja, Reyhan masih ingin kembali merajut kasih dengab Nara tanpa mau menyadari jika sudah ada wanita lain di sisinya yang jauh lebih berhak di hidupnya.
"Nara sayang..." lirih Reyhan.
Clara dab Radith melototkan matanya mendengar panggilan sayang dari pria untuk gafis incaran mereka, dengan gerakan cepat Radith menghadang Reyhan membelakangi Nara seolah melindungi mommy barunya walaupun padahal badannya tidak seberapa tingginya.
__ADS_1
"Jangan mendekati mommyku, dan jangan memanggilnya dengan sebutan itu aku tidak suka!" tegas Radith
Reyhan mengahkan anestesinya dari Nara, matanya memandang bocah tampan tapi dengan sorot mata tang tajam itu dengan tidak suka, siapa dia kenapa melarang Reyhan medenkati Nara dan apa tadi katanya, mommy? apakah Reyhan tidak salah dengan dengan panggilan itu? bagaimana bisa Nara di panggil mommy sedangkan kekasih hatinya belum menikah.
"Siapa bocah ini? kenapa memanggil Naraku dengan sebutan mommy?" batin Reyhan yang ikut menatap Radith dengan tatapan tajam juga.
Tapi sepertinya bocah lima tahun itu tidak bergeming atau merasa terintimidasi oleh tatapan itu membuat Reyhan akhirnya memutuskan kontaknya dan kembali menatap gadisnya dengan tatapan sayu dan penuh kerinduan.
"Nara sayang aku..."
Bugh
Sebuah pukulan mendarat tebat di perut Reyhan oleh tangan kecil yang berada di rengah tengah mereka membuat Reyham terputus ucapannya, "sudah aku katakan jangan memanggil mommya dengan katak itu aku tidak suka....!" teriak Radith.
Kaget? tentu saja eksepresi ketiga orang dewasa itu kaget dengan aksi Radith dan seketika rasa khawatir mengambil alih, takut jika Reyhan marah dan menyakiti Radith terlebih Clara yang langsung meraih pergelanagn tangan Radith dan membawanya dalam lindunganya.
"Jangan seperti itu sayang, itu tidak boleh kamu lakukan! tegur Clara.
"Aku tidak suka dengannya nek, dia memanggil mommyku dengan kata sayang, aku tidak suka" sentak Radith dengan tangan yang menunjuk kasar ke arah Reyhan.
"Rey tolong jangan marah padanya, dia hanya anak kecil" pinta Nara dengan permohonan melihat Reyham yang mengepalkan tangannya.
"Siapa dia Nara? kenapa memanggilmu mommy?"
"Karena Mommy Nara adalah mommyku" jawab Radith dengan cepat mendahului Nara.
Dengan pelan Nara mendekat ke arah Radith, mendaratkan lututnya agar sejajar dengan tinggi Radith, "sayang, besok kita berjumpa lagi ya"
"Apa mommy mau pulang? kalau begitu ayo kta pulang sama sama" ajar Radith kemudian meraih tangan Nara.
"No. kau pulanglah lebih dulu Ms.Nara masih ada keperluan".
Mendengar jawaban Nara yang kembali menyebutkan dirinya sebagai guru menyulutkan emosi Radith, dia tidak suka jika Nara menganggap dirinya murid lagi, dengan kesal "Bukankah kau mommyku...! bukankah tadi mau aku panggil mommy, lalu kenapa sekarang kau jadi guruku lagi? apa kau malu dan hanya berpura pura di depanku saja...!"
Radtih meluapkan emosinya yang sepertinya kali ini tidak bisa untuk di kendalikannya, dia marah karena harus menelan kecewa dari gadis yang di harapkan olehnya akan menjadi ibunya, padahal sebelumnya mereka sudah sepakat lalu bagaimana bisa gadis dewasa ini memgubah kesepakatan mereka dalam sekejap karena kedatangan orang lain.
"Tidak sayang, bukan seperti itu. Maafkan mommya ok, mommya melukaimu. Janji kau tidak akan terluka lagi dan mommya sama sekali tidak berbohong" jawabn Nara dengan cepat dan langsung merengkuh tubuh Radith yang mulai berkaca kaca.
Kelamahan Nara yang tidak bisa melihat anak kecil menangis membuar Radith mengambil kesempatan untuk memenangkan pertempuran dan taruhannya dengan ayahnya, tapi bukan berarti keinginannya dengan Nara adalah sebuah taruhan, tidak itu benar benar nyata keinginannya sungguh sungguh.
"Sungguh? kau tidak berbohong?"
"Tidak sayang, mommy tidak berbohong" jawab Nara dengan senyum lembutnya.
"Thank you mom"
Clara dan Nara tersenyum, bahkan Clara berkaca kaca tetapi dengan cepat ia menghapus sudut matanya yang berair. Clara belum pernah melihat senyum Radith seperti hari ini walau hanya beberapa jam saja tapi Clara sudah sangat bersyukur dan dia semakin yakin jika pilihan cucu dan dirinya sendiri tidaklah salah.
Sedangkan Reyhan masih dengan wajah bingunngya, dia tidak tau jalan ceritnya seperti apa tapi dari percakapan mereka bisa di simpulkan bahwa bocah tampan itu tidak memliki ibu. Seketikan wajah tegang di rasakan Reyhan setelah memikirkan bahwa Radith yang tidak punya ibu serta keinginannya yang memanggil Nara sebagai mommya secara tidak langsung akan mendekatkan dirinya dengan ayah dari si anak.
__ADS_1
"Tidak...Ini tidak bisa aku biarkan! Naraku harus menjauh dari anak. Aku yakin jika anak ini licik, dia pasti punya niat terselubung" batin Reyhan semakin mengepalkan tanganya.
"Pulanglah, kita akan berjumap lagi besok" pinta Nara.
"Tapi mom juga harus pulang, jangan dekati om ini aku tidak suka" rengek Radith.
"Kau percaya pada mommymu ini? atau kau berbohong pada mommy, kau tidaj sungguh sungguh memanggilku mommy" tuduh Nara.
Nara sengaja melakukan dan mengatakan itu agar Radith bisa di kendalikan dan bisa menyuruh bocah tampan itu pergi.
"No mom, aku bersungguh sungguh" jawab Radith cepat.
"Maka turutilah mommy, pergi dan istrahatlah" tegas Nara.
"Baiklah mom, aku tidak mau kau membenciku" jawabnya dengan terpaksa.
"Bawa Radith tante, aku harus menyelesaikan ini dulu" pinta Nara.
"Baiklah, ku harap cucuku tidak merasa kecewa nanti"
Radith dan Clara dengan berat hati meninggalkan Nara dan pria yang tidak mereka ketahui siapa namanya hanya saja dari gelagatnya mereka bisa melihat kalau ada hubungan di masa lalu antara Nara dan Reyhan.
"Ada apa lagi Rey?" tanya Nara dengan nada yang sedikit dingin.
Reyham tersentak mendengar nada suara Nara, benar benar sudah berubah. Tidak ada kehangatan lagi dalam suara itu walau terlihat tetap lembut tapi hati kecil Reyhan tercubit merasakan keasingan dalam intonasi itu.
"Inikah kau yang sesungguhnya Nara?" lirih Reyhan, "benar benar berubah" lanjtunya.
"Aku tidak berubah Rey, hatimulah yang berubah sehingga merasakan aku berubah. Karena hatimu sudah berani berhianat sehingga tidak lagi merasakan kehadiranku" jawab Nara.
Berusaha tegar dan baik di hadapan Reyhan itulah yang dilakukan Nara saat ini, dia tidak mau terlihat kacau dan lemah di hadaan pria yang sudah menyakitinya itu, Nara ingin membuktikan jika perasaanya bukan untuk permainan.
"Tidak sayang, aku mohon jangan begini...Au tidak berhianat, aku melakukan itu semua karena terpaksa, aku....aku hanya ingin setara dengan keluargamu.
"Dengan cara menikahi anak tunggal dari orang kaya begitu? apa pun itu Rey, penghianatanmu tidak bisa aku maafkan, tidak bisa Rey" jawab Nara membuat Reyhan kembali terkejut.
Betapa kerasnya hati gadisnya itu, baru di sadari di balik kelembutan yang selama ini dimiliki kekasihnya tersimpan keras yang tidak bisa di ganggu gugat oleh siapa pun.
"Nara...ku mohon beri kesempatan padaku" pinta Reyhan dengan mata yang sudah berkaca kaca.
Raut wajahnya menyiratkan peyesalan dan Nara bisa tau itu, tapi gadis cantik itu juga tidak bisa memaafkan begitu saja penghiantan kekasihnya karena baginya tidak akam ada kata maaf bagi seorang penghianat apa pun alasanya.
"Maaf Rey, jangan ganggu aku lagi..."
.
.
Bersambung...
__ADS_1