STORY OF NARA

STORY OF NARA
Part 13


__ADS_3

Waktu pulang sekolah sudah tiba, setalah hari pertaman bagi para murid baru berlangsung sangat seru bagi semua anak terkecuali bagi Radith yang merasa sangat bosan dan merasa jenuh karena berpikir jika mereka semua seperti bocat termasuk wanita dewasa yang menjadi gurunya dan menyebalkan bagi Radith karena ikut ikutan seperti anak kecil.


Radiht menunggu di halaman dengan posisi yang duduk santai dan buku yang ada di hadapannya untuk di baca sembari menunggu jemputan dari neneknya.


Radith tidak seperti anak lainnya yang menunggu jemputan sambil bermain di taman beramin sekolah, dia lebih memilih sendiri dan tidak ada juga murid yang berani mendekatinya karena mata tajamnya.


Satu persatu teman sekolahnya sudah di jemput, dan mata Radith tidak terlepas dari itu semua apa lagi saat temannya di jemput oleh mama, seolah ada rasa iri dari tatapan itu dan keinginan untuk di jemput juga oleh mamanya tapi apa boleh buat sedari kecil dia tidak pernah bertemu dengan sosok yang dia harapkan bahkan sekedar figuran tidak.


Nara yang baru saja tiba di halaman sekolah tidak sengaja menatap Radith yang hanya duduk diam dengan tatapan kosong menatap anak anak lainnya, dengan menghela napas pelan Nara mendekati Radith yang belum menyadari kehadiran Nara.


"Kamu menunggun nenekmu?" tanya Nara.


Radith yang mendengar suara halus wanita dewasa langsung dan dia merasa sangat tersentuh dengan suara itu, dengan cepat menoleh tapu seketika wajahnya berubah muram mendapati jika wanita itu adalah Nara guru kelasnya.


Radith membuang pandangannya ke sembarang arah dengan wajah datar dan dingin sedangkan Nara yang mendapati respon yang seperti itu hanya tersenyum. Nara sama sekali tidak marah justru merasa kasihan pada Radith tapi dia juga tidak menunjukannya takut itu akan membuat Radith semakin tidak menyukainya.


"Apa sekarang Radith tidak bisa bicara!" sindir Nara.


Dengan cepat Radirt menatap kembali wajah cantik Nara dengan tatapan tajamnya, "jangan bicara padaku jika tidak penting!" datarnya.


"Ini penting, karena kau adalah murid Ms.Nara, jadi kau harus menjawab setiap pertanyaanku"


"Tapi aku tidak mau menjawabnya.


"Berarti anggap kau tidak bisa bicara" sahut Nara denganc cepat.


Radith mendengus sebal mendapati guru yang seperti Nara, "aku bukam tunawicara!"


"Maka jawablaj setiap pertanyaan"


"Ckck... iya aku menunggu nenek ku, apa kau puas!" jawab Radith yang sudab di penuhi kekesalan.


"Puas, dan Mis akan menemanimu" ucap Nara.


"Tidak perku!" cuek Radith.


"Tapi ini adalah pekerjaanku dan kau Radith tidak bisa menahanku" jawab Nara.


"Ckck...terserah kau saja!" ketus Radith.


Nara tersenyum menang karena bisa mengalahkan bocah tampan itu membuatnya mau menurut dan tidak lagi berdebat.


"Radith pintar ya, Mis sangat suka sama anak yang pintar" ucap Nara membuka obrolan.


"Jadi jika aku tidak pintar, kau tidak akan menyukaiku?" tanya Radith penuh selidik.

__ADS_1


"Tidak, Mis akan tetap suka dan Mis akan memgajarinya hingga pintar" jawab Nara.


"Membosankan" ketusnya.


Tidak ada lagi pembicaraan di antara keduanya, tapi mara Radith terus terfokus pada setiap anak yang di jemput oleh mamanya dan Nara yang paham akan hal itu juga ikut menatap ke arah tatapan Radith.


"Apa dia ingin di jemput sama mamanya juha?" tanya Nara dalalm hatinya.


"Kau ingin di jemput oleh mamamu juga?" tanya Nara membuat Radith menoleh tajam ke arah Wanita dewasa di hadapannya itu.


"Turunkan tatapnmu, anal sekolah tidak boleh memiliki tatapan seperti itu" ucap Nara lembut tapi penuh ketegasan.


Radith kembali diam, dia kembali fokus pada pagar sekolah berharap neneknya cepat datang agar tidak berlama lama lagi dengan gurunya itu, Radith tidak mau menjawab pertanyaan Nara.


Tak lam Clara datang dan menghampiri Radith, dan bocah itu langsung bergegas pergi meninggalkan Nara tanpa kata satu pun. Nara hanya tersenyum melihat sikpa bocah itu, dia yakin jika Radith hanya ingin menutupi kesedihan hatinya dengan bersikap seperti itu.


Kring kring...


Ponsel Nara berdering dan ternyata itu adalah Reyhan kekasihnya, seutas senyum lembut terbih di bibir gadis cantik itu mengetahui yang menghubungnnya adalah orang terkasihnya dengan segara jarinya menyentuk ikon layar ponselnya.


"Hallo Reyhan sayang" ucap Nara dengan suara lenbutnya.


Jantung Reyhan bergetar hebat di belahan dunia lainnya saat mendengar betapa merdunya suara gadis cantiknya yang sangat dia cintai, seketikan timbul rasa rindu berbalut rasa bersalah setelah membayangkan wajah canti Nara dan penghianatan yang dia lakukan.


Walau bukan keinginannya untuk berhianat tapi bukankah itu sudah termasuk penghianatan, dan Reyhan sadar akan hal itu, dia hanya berharap tidak ada masalah kelak yang akan membahayakan hubungan mereka dan berharap pula Nara tidak akan pernah mengetahui masalah dirinya yang akan menikahi gadis lain untuk sebuah ambisi menyetarakan diri dengan keluarga Saker.


"Ohh iya Nara sayangku, bagaimana kabarmu?" tanya Reyhan.


"Aku baik dan berharap kau pun baik baik saja" jawab Nara.


"Tentu saja sayang, kekasihmu ini baik baik saja dan sebentar lagi kau bisa melepaskan rindu padaku"


"Benarkah....? apa ini bisa di katakan kau akan kembali?" tanya Nara dengan binar bahagianya.


"Sungguh sayang, tunggulah dua pekan lagi kita akan melepaskan rindu" jawab Reyhan dengan senyum manisnya walau Nara tidak akan senyum itu.


"Baiklah, ku tunggu dua pekan itu Rey sayang" jawabnya


"Tunggulah, oh ya kau sudah kembali?"


"Belum, tadinya sudah mau berangkat tapi kau menelponku jadi aku urungkan" jawabnya.


"Oh maaf Nara sayang aku membuatmu menjadi lama di sana" sesal Reyhan.


"Tidak, tidak masalah. Justru aku bahagian bisa kau hubungi" jawab Nara.

__ADS_1


"Baiklah kekasih hatiku, lekaslah kembali ke apartemenmu dan ingat langsung istrahat" pinta Reyhan.


"Siap pak bos"


Panggilan terputus, Nara pun melesat pergi menuju apartementnya sementara di negara lain Reyhan tersenyum bahagia bisa mendengar suara lembut kekasih hatinya lagi yang selalu menjadi jika masalah dirinya datang, tapi sepasang mata terus mengawasi gerak gerik Reyhan dan menyirarkan kecemburuan di mara itu.


Dia adalah Cleora Abraham tunangan Reyhan yang akan menjadi suaminya selama enam bukan sesuai dengan janji, tapi apakah benar hanya enam bulan saja? hanya Cleora dan permainan takdir yang akan mengungkapnya.


"Sepertinya kau sangat bahagia senior?" tanya Cleora dengan senyum manisnya.


Jujur sanag Cleora adalah sosok gadis lembut, ramah dan periang serta cintanya yang dia berikan pada Reyhan bukan sekedar rasa tapi Cleora benar benar jatuh cinta, dan benar benar sangat mencintai Reyhan sehingga cinta yang dia miliki membuat dirinya buta, tidak melihat kenyataan jika Reyhan sangat mencintai kekasihya dan tidak akan ada peluang bagi dia untuk bisa masuk.


Cintanya membuat Cleora memutuskan untuk mencari tau siapa Reyhan dan seperti apa keluarganya hingga sebuah kenyataan Cleora ketahui dan itu di jadikan sebagai peluang untuk mendapatkan Reyhan karena berpikir jika nanti sudah bersama maka cinta itu dari Reyhan akan bertumbuh untuknya.


"Ada apa kau kemari?" tanya Reyhan dengan wajah datarnya.


"Jangan begitu senior, kau tau kan jika kita akan segera menikah" ucap Cleora dengan senyum manisnya.


"Dan kau juga tidak lupa kan kalau hanya enam bulan kita menjalani pernikahan" jawab Reyhan penuh penekana.


Cleora terdiam, memandang lekat ke arah Reyhan, " kau benar kita hanya menikah enam bulan tapi aku akan membuatmu mencintaiku sebelum waktu enam bulan itu tiba" batin Cleora.


"Kau benar, tapi bukan berarti kau harus bersikap seperti ini padaku"


"Jadi apa yang kau inginkan?" tanya Reyhan dengan dingin.


"Mari bersikap layaknya pasangan dalam enam bulan itu" lirih Cleora.


"Jangan meminta yang lebih Cleora, karena itu tidak akan pernah terjadi! sekarang pergilah!" usir Reyhan.


"Emm aku mau mengajakmu makan siang" ucap Cleora mengutarakan maksudnya.


"Aku sedang sibuk" jawab Reyhan cuek.


"Kalau begitu aku akan membelikan makan siangmu"


"Jangan bertingkah Cleora!" tegas Reyhan.


Cleora menundukan wajahnya, dia benar benar tidak memiliki kesempatan untuk mendekati Reyhan, bagaimana bisa dia menarik perhatian Pria itu jika dirinya saja tidak di beri kesempatan. Reyhan yang melihat itu menghela napasnya dengan kasar dan akhrinya menyetujui keinginan Cleora.


"Baiklah, kita makan siang" jawabnya.


Mata Cleora berbinar dan langsung menggaet lengat Reyhan lalu melangkah keluar dan Reyhan hanya bisa pasrah menuruti keinginan Cleora.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2