
Nara sedang menunggu taxi setelah semua anak anak didiknya di jemput termasuk Radith yang sampai sekarang masih enggan berdamai dengan Nara jika tidak terpaksa.
Nara kau mau pulang...?" tanya Vivi dengan suara yang sedikit nyaring karena jarak antara keduanya sedikit jauh.
Nara mendengus sebal melihat sikal sahabatnya yang tidak bisa membedakan situasi dan tidak melihat kondisi tempat keberadaan mereka.
"Bisakah kau tidak berteriak Vivi cantik?" tanya Nara menahan kesal.
"Tidak bisa, karena kalau aku tidak berteriak maka kau tidak akan mendengar pertanyaanku" jawab Vivi asal.
"Kalau begitu mendekat dulu baru bertanya"
"Tidak bisa, karena tabiatku sudah seperti itu" jawab Vivi membuat Nara hanya melongo.
"Astagaa Vivi bisakah kau sedikit kebib feminim agar kau bisa di lirik pria tampan dan kau bisa cepat menikah" kekeh Nara.
"Kau sendiri?"
"Tunggulah sebentar lagi, dia akan segera kembali ke Indonesia" jawab Nara dengan senyum manisnya membayangkan kekasihnya Reyhan akan kembali segera.
"Baiklah, dan jangan lupa undangnya jika kau sudah menikah dan ingat buat acara yang meriah" ucap Vivi
"Baiklah tenang saja, sudah ya aku mau pulang taxi ku sudah datang" jawab Nara sekaligus berpamitan.
"Baiklah, sampai junpa besok"
Nara memasuki taxi yang sudah di pesan dan langsung melesat membawanya kembali ke apartement.
Nara berjalan sedikit tergesa karena sudah tau jika keluarganya ada di apartementnya, "Ayah..."
"Ohh princess ayah kau sudah pulang nak?" seru Anan.
Mereka berpelukan, pelukan hangat dari samga ayah tanpa menghiraukan Lionel yang merasa jengah kerena merasa di abaikan.
"Ada kakamu disini tapi tidak di peluk" sindir Lionel.
Nara dan Anan saling melirik melihat waja cemberut Lionel, "maaf kakak aku tidak melihatmu" jawab Nara asal.
"Ck, lelaki tampan dan setinggi ini kau tidak lihat" decak Lionel.
__ADS_1
Nara hanya menampilkan deretan giginya mendengar perkataan kakaknya, tanpa apa apa lagi Nara juga menghambur ke pelukan Lionel membuat pria itu tersenyum getir sekaligus mengahan marah.
"Kau terlalu baik dan begitu manis untuk di sakiti sayang, kakak tidak akan memberikan maaf pada bajingan itu" batin Lionel.
Anan dan Naina yang baru saja keluar dari dapur hanya manatap sendu putrinya yang tersenyum begitu manis tanpa beban, mereka jadi menghawatrikan apakah senyum itu masih bisa mereka lihat jika tau kekasih yang dia bela selama ini ternyata menghianatinya.
"Semoga selamanya kau tidak beretmu lagi dengan bajingan itu nak" batin Anan.
"Ibu harap kau selalu bahagia walau tidak ada dia dan semoga saja kau tidak lagi bertemu denganya" batin Naina.
Mereka berharap dan berharap tanpa memprediksikan jika keadaan ini pasti akan terjadi bahkan mungkin tidak akan habis bulan yang mereka injak saat ini kebenaran akan terungkap dan mkisah Nara akan di mulai.
"Sayang, kau sudah pulang nak?"
"Sudah bu" jawabnya, "wahh....masakan ibu semua spesial untukku ya? semua kesukaanku padahal kan yang mau tunangan kakak tapi malah aku yang di buat senang" ucap Nara sembari meledek Lionel.
Pria tampan itu pun hanya tersenyum mendengar coloteh adikknya, dia tau jika ibunya melakukan semua itu untuk menghibur princess rumah mereka dan Lionel tidak keberaran akan hal itu.
"Tidak apa, anggap saja mulai sekarang ibu dan ayah memperhatikanmu karena sebentar lagi akan bertambah anggota keluarga kita dan mungkin saja perhatian ibu dan yah akam terbagi" balas Lionel membuat kedua paru baya itu melotot takut jika Nara cemberut.
"Tidak masalah, jika ibu dan ayah memperhatiakan calon kakak iparku, maka aku aku akan merebut perhatian kaka ipar agar perhatiannya hanya untukku dan kakak di anggurin saja" balas Nara yang kini membuat Lionel melotot sedangkan ketiga lainnya hanya tertawa.
"Kau mau merebut perhatian istri kakakmu ini, lalu untuk apa aku menikahinya nanti" sewot Lionel.
"Ckck kau ini ya, kalau begitu kakak akan meminta ibu dan ayah agar tidak memperhatikan kakak iparmu agar kau tidak bisa meminta perhatiannya lagi"
"Aishh kakak ini pelit sekali, kalau begitu kau bukan kakaku lagi!" ketus Nara.
"Hei..kenapa kau merajuk seperti itu, sudahlah kakak hanya bercanda. Mana mungkin kakak tega pada adik kakak yang cantik ini"ucap Lionel dengan kedua tangan mencapit kedua pipinya.
"Sudahlah, ayo kita makan dulu, adikmu pasti lapar"
"Iya bu, aku lapar sekali bu dan untungnya ibu sudah memasak"
Mereka semua bergegas menuju meja makan untuk menyantap makanan yang di masaka oleh wanita terhebat mereka, yang bagi hidup mereka tidak ada duanya Naina.
.
Di perusahaan Rajesh, baru saja selesi memimpin rapat dan kini berada di dalam ruangnya. Dia kembali melamun, entah kenapa beyangan wajah cantik Nara tidak pernah menghilang dari pikirannya, seolah poros kehidupannya kini hanya berpusat pada Nara.
__ADS_1
"Sepertinya aku sudah gila memikirkan wanita itu" gumam Nara.
Ya, Rajesh berpikir dirinya sudah gila menyukai seorang wanita yang belum di ketahui namanya, bukan karena tidak mampu mencari tau siapa Nara hanya saja dia belum mau memutuskan untuk mencari tau semuanya sebelum mereka kembali bertemu untuk ketiga kalinya, dan dia berharap semoga saja Tuhan menjodohkan dirinya dengan wanita cantik itu.
"Semoga saja aku bisa bertemu dengannya sekali lagi dan jika itu terjadi maka aku pastikan dia tidak akan aku lepaskan" gumam Rajesh bertekat.
"Tuan, waktunya makan siang" ucap Leo asistennya.
Rajesh mendengus sebal mendapati asistennya yang tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, "kenapa kau tidk mengetuk pintu! apa kau sudah lupa tata krama" sindir Rajesh.
"dasar tuan ini meragukan tata kramamu padahal dia yang selama ini berbuat sesuka hatinya" batin Leo.
"Maaf tuan muda, tapi saya sudah mengetuk hinggaa berkali kali tapi tidak ada jawaban" jawab Leo menjelaskan.
"Ckck, jadi kau menyalahkan aku begitu!" ketusnya.
"Tidak tuan, tapi mungkin pintu dan jariku yang bersalah"
"Ya, pasti jarimu itu yang tidak kuat mengetik pintu ruanganku yang mahal itu" ledek Rajesh.
"Terus saja kau salahkan aku, dan kau selalu benar" batin Leo menatap lurus ke arah Rajesh.
"Jangan menatapki seperti itu atau ku congkel nanti!" sentak Rajesh.
"Tidak tuan, mata ini masih bisa di gunakan untuk melihat dan menilai mana yang baik dan buruk"
"Hei... apa maksumu ha!"
"Tidak ada tuan muda, mari tuan waktunya makan siang" jawab Leo membuat Rajesh kembali bersecak
"Kau pesan saja, aku makan disini saja!" ketus Rajesh.
"Baik tuan muda"
Selepas kepergian Leo, Rajesh kembali menyandarkam tubunya menatap langit langit ruangannya, kembali membayangkan wajah Nara tapj sepertinya kali ini tidak fokus karena sempat terganggi oleh usikam dari Leo.
"Gara gara di bo*oh itu, aku jadi tidak fokus" ucapanya dan memilih kembali melanjutkan kerjaanya.
.
__ADS_1
.
Bersambung...