
Pagi harinya Nara mengeluh dan matanya mengerjam beberap kali untuk menormalkan penglihatannya yang sedikit buram. Keningnya sedikit mengerut saat menyadari tempatnya kini bukan di apartement melaikan di rumah sakit.
Dengan gerakan hati hati Nara mengedarkan padangannya dan tak lama fokusnya jatuh pada satu objek yang tak lain adalah makhluk tuhan yang sedang berbaring dengan meringkuk di sofa karena tubuhnya yang tinggi sedangkan tempat yang ia tiduri hanya buat tubuhnya hingga lipatan lutut saja.
"Siapa dia? apa dia yang membawaku kemari?" tanya Nara dalam hati.
Nara tidak mau begitu penasaran, dia memilih untuk meraih gelas di atas nakasnya untuk menghilangkan rasa kering di kerongkongannya, tapi tangannya yang tak kunjung sampai meraih gelas malah menimbulkan suara gesekan yang membuat Rajesh terbangun.
"Kau sudah bangun?" tanya Rajesh dengan suara serak khas bangun tidur.
Nara menghentikan gerakannya, matanya beralih mentapa Rajesh yang menurutnya tampan walau baru bangun tidur. Nara mengakui ketampanan makhluk ciptaan Tuhan yang ada di hadapannya tapi tidak menyukainya.
"Apa anda yang membawa saya kemari?" tanya Nara tanpa menjawab pertanyaan Rajesh yang menurutnya sedikit konyol.
Kenapa Nara berpikir itu sedikit konyol, itu karena Nara merasa jika pria di hadapannya ini hanya berbasa basi saja saat mata masih bisa di fungsikan untuk melihat dan dia yakin jika Rajesh melihatnya.
"Ya, aku tidak sengaja lewat dan melihat calon istriku jatuh pingsan" bohong Rajesh sekaligus menggoda Nara.
Nara melotot mendengar jawaban pria yang tidak di kenalnya itu, bahkan nama pun tidak tau tapi kancang sekali pria itu mengaku calon suaminya.
"Jangan membual Tuan, dan terimakasih sudah mau menolongku" ucap Nara dengan senyum manisnya.
Deg
Jantung Rajesh berpacu dengan cepat saat Nara tersenyum manis padanya, sungguh benar benar membuat seorabg Rajesh Fermandese seperti orang bodoh karena pesona waniya kecil tapi sangat cantik itu.
"Astaga... jantungku berdegup dengan cepat dag dig dug tak karuan" batin Rajesh dengan refleks menyentuh dadanya.
Rajesh bersikap seperti orang bodoh saat ini, benar benar Nara sepertinya akan mengalihkan dunia Rajesh sebentar lagi dan Nara yang melihat itu kembali mengerutkan keningnya tidak paham kenapa pria yang ada di hadapannya ini bersikap demikian.
"Maaf Tuan, ada apa? apa anda sakit?" tanya Nara yang tidak tau harus berkata apa lagi.
"Hallo... hallo Tuan...Ada masalah?" ulang Nara karena tak kunjung mendapat respon.
Rajesh gelagapan saat menyadari kebodohannya dan sialnya dia mendadak bodoh di depan wanita yang saat ini bisa mengalihkan sebagian perhatiannya, dengan senyum kikuknya Rajesh pun menjawab.
"Ti...tidak ada, oh ya kau butuh sesuatu?" tanya Rajesh mengalihkan perhatian Nara.
"Tidak, saya hanya haus saja" Nara menjawab dengan lembut dan itu lagi lagi berhasil membuat Rajesh terbuai tapi dengan dia menyadarkan dirinya dan mengambil air untuk Nara.
"Minumlah calon istriku" ucap Rajesh tanpa tau malu seraya menyodorkan gelas du hadapan Nara.
Lagi lagi Nara hanya melotokan matanya mendegar perkataan Rajesh, dia ingin sekali komplein tapi tenggorokannya benar benar kering sehingga Nara memilih diam dan abai seraya tangannya mengambil gelas dan meneguk air putih dari tangan Rajesh.
__ADS_1
Rajehs menelan air liurnya melihat bibir Nara yang bersentuhan dengan gelas serta tenggorokan Nara yang bergerak naik turun seirama dengan air yang membasahi dahaga gadis cantik itu.
"Sial..! benar benar mengguncang jiwaku!" umpat Rajesh dalam hati.
Rajesh mengalihkan perhatianya, dia takut jika terus memperhatkikan bidadari di hadapannya akan membuat dia lepas kendali. Biar bagaimana pun Rajesh adalah pria norlma terlebih lagi wanita berhadapan dengannya adalah wanita yang membuat jiwanya porak poraknda beberapa hari ini, bahkan mungkin saja sejak satu tahun yang lalu pertama kali melihatnya di danau.
Nara meletakan gelas yang sudab tandas isinya di dekat yang cukup jangkauannya saja dan gerakannya sedikit menimbulkan suara membuat Rajesh kembali mengalihkan perhatiannya menatap Nara yang juga menatap dirinya, sejenak beradu pendang berlangsung di antara keduanya membuat alirah dara Rajesh berdesir saat mencoba menyelami tatapan teduh dari gadisnya.
"Darahku berdesir hebat lagi lagi hanya karena tatapannya" batin Rajesh yanh sedikit terbuai dan hanyut dalam tatapan Nara.
"Terimakasih Tuan sudah mau menolong saya" ucap Nara kembali mengulang perkataannya beberapa menit yang lalu.
"Sudah ku katakan tidak masalah untuk calon istriku" jawan Rajesg sekenanya.
Nara yang mendengar kembali jawaban itu mendengus kesal, dia bahkan tidak mengenal pria itu tapi dengan gampangnya mengatakan Nara adalah calon istrinya.
"Ckck Tuan, anda memang sudah menolong saya tapi bukan berarti Tuan bisa sesukanya berkata!" ketus Nara.
Bukannya marah, Rajseh malah terkekeh melihat kekesalan kekasih hatinya itu, "menggemaskan sekali" batinnya.
Tapi Lain Hal nya dengan Nara, keningnya mengerut melihat pria di hadapannya ini bukannya marah tapi malah terkekeh, "apa pria ini gila? sayang sekali jika dia sakit jiwa padalah tampan" batin Nara.
"Anda tidak bermasalah kan Tuan? kenapa malah terkekeh seperti itu? apa jangan jangan anda sakit jiwa.
Rajesh mendengus sebal mendengar Nara yang mengatakan dirinya tidak waras, bagaimana bisa seperti itu? apa gadisnya itu tidak melihat betapa tampannya dia sehingga di kita tidak waras? atau penampilannya acak acakkan sehingga di katai tidak waras.
"Maaf Tuan, saya kan hanya bertanya karena jawaban anda membuat saya berpikir kesana" jawab Nara tidak enak.
"Susahlah, kau sudah bisa pulang tapi sebelim itu tunggu sarapan dulu" putus Rajesh.
Berbalik dan melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar terlihat segar sedangkan Nara meraih tannya dan meroghnya untuk mendapatkan ponse dan kemudian menghubungi kepala sekolah meminta ijin tidak masuk.
Tiga kali Nara terus memanggil tapi alhasil tetap sama tidak ada jawaban, "mungkin sedang sibuk kali atau mengajar mungkin" gumam Nara yang tau kebiasaan kepala sekolah muda itu suka mengajar menginval guru yang kosong.
Beralih menghubungi Vivi sahabatnya dan hanya dua kali deringan saja sudah terdengar jawaban dari sebrang sana.
"Hallo Nara, kau dimana? kenapa tidak masuk kerja?" cerca Vivi dengan banyak pertanyaan.
"Astagaa Vivi... bisakah kau bertanya satu satu?" kesal Nara.
"Baiklah, kenapa kau tidak masuk kerja hari ini? pak Dilon mencarimu dan kini dia sedang menginval di kelasmu"
"Ohh maaf ya Vivi, tolong ijinin aku sama pak Dilon, aku sedag tidak enak badan san butuh istrahat, besok aku masuk kok" ucap Nara.
__ADS_1
"Apa! kau sakit, trus bagaimana? kau baik baik saja kah? atau akau ke sana, kau dimana? di aparetmen atau rumah sakit?" panik Vivi yang tak sadar kembali mencerca Nara dengan banyak pertanyaan.
"Tidak apa Vi, aku hanya butuh istrahat hari ibi dan kau tidak usah kemari karena sebentar lagi aku kembalu ke apertement kok" jawab Nara dengan senyum senangnya mendapati teman yang sangat perhatian padanya.
"Ku yakin Nara?"
"Ya aku yakin dan kau segera ijinin aku yah.."
"Baiklah aku sampaikan dan kau jaga kesehatanmu"
"Baiklah terimakasih"
panggilan terputus dan bertepatan juga Rajesh sudah selesai dan dia keluar dengan wajah yabg susah segar membuat Nara tak sadar mengagumi sosok tubuh Rajesh, tapi sepersekian detik kesadaran kembali menguasai Nara. Membuang muka enggan untuk menatap Rajesh.
"Siapa yang kau hubungi?" tanya Rajesh yang memang mendengar percakapan Nara bahkan na lelaki yang bisa di tebak adalah kepala sekolah tempat Nara bekerja pun dia dengar dengam jelas dan itu sedikit membuat Rajesh kesal karena sudah berani menyebut nama pria lain.
"Sama teman" jawab Nara sekenanya.
"Lalu siapa Dilon itu?" tanya Rajesh dengan ekspresi yang tidak senang.
Nara mengangkan sebelah alisnya mendengar perkataan dan ekspresi Rajesh sepertu orang yang sedang cemburu.
"Kepala sekolah tempat aku bekerja" jawab Nara biasa saja dan tidak berniat menutupi apa apa.
"Apa kau dekat dengannya?"
Kembali Nara terheran dengan pertanyaan Rajesh dan kali ini keningnya mengerut tidak paham alasan pria di hadapannya bersikap seperti itu.
"Maaf Tuan, tapi ini pribadi saya yang tidak perlu adan ketahui" jawab Nara tegas.
"Reyham diam, memang benar jika dia tidak perlu tau tapi rasa penasaran akan gadisnya ini membuat dirinya melewati batas sehingga dengan lancangnya terus bertanya tanpa mau tau jika yang di ajak bicara tidak suka.
"Aku ingin pulang" putus Nara.
"Tunggu sarapanmu" jawav Rajesh.
"Jika masih lama, maka aku makan di rumahku saja" keukeh Nara.
"Sebentar lagi datang"
Nara kembali diam, dia menurut dan menunggu sesuai dengan permintaan pria yang masih belum di ketahi namanya itu.
.
__ADS_1
.
Bersambung...