
"Aku mengancamnya dengan mengatakan jika dia akan ditendang dari sini jika Daddy tau kalau dia menyukai Mommymu, tapi saat ini Daddy bahkan belum mengenal Mommy, dan aku pikir mungkin dia akan paham dan mundur tapi rupanya dia masih suka memperhatikan Mommy diam diam" kesal Rajesh diakhir kalimatnya.
"Oh ya...jadi seperti itu kelakuannya dan kamu baru tau juga"
"Yes, dan seperti ua Daddy harus memberi sedikit pelajaran" provokasi Radith.
"Tentu saja, kamu tua bukan? jika Daddy sangat tidak suka jika apa yang menjadi milik kita harus dipandangin oleh orang lain?" tanya Rajesh.
"Tenut Dad, maka berikan dia pelajaran" ucap Radith dengan seringai liciknya.
Radith rupanya sengaja melakukan hal itu karena ternyata bukan baru sekali dia menangkap basah kepala sekolah itu selalu menatap ibunya dan dia merasa menggertak juga percuma karena tidak akan diindahkan dan sekarang dia ada kesempatan melihat kepala sekolah itu mendapat pelajaran dan berhenti memandangi wajah ibu sambungnya.
"Leo...." panggil Rajehs dengan dingin.
"Ya Tuan Muda"
"Kau tau apa yang harus kau lakukan bukan?" tanya Rajesh.
"Tentu Tuan Muda," ucap Leo dan langsung bergegas menuju tempat dimana Dilon sedang berdiri dan menghadap arah Nara.
"Kenapa masih ada orang yang mau mengusik Tuan Muda, kenapa harus memandang milik orang lain sih, jika seperti ini maka tanggu sendiri akibatnya" batin Leo dan terus berjalan menuju Dilo berada.
"Ehm...." Leo berdehem keras membuat Dilon yang sedang asyik memandang Nara menjadi terkejut dan membulatkan matanya melihat siapa geranga yang mengganggu aktifitasnya, dan untung saja dia tidak langsung marah, jika tadinya marah mungkin sekarang dia sedang dalam masalah besar.
"Untung saja aku tidak berteriak, bisa bahaya jika tadi sempat berteriak" batin Dilon dengan bernafas lega.
"Apa yang sedang kau perhatikan pak kepala sekolah? adakah menarik perhatianmu disana?" tanya Leo dengan wajah datarnya.
"Tida...tidak ada Tuan Leo, mari silahkan masuk" kata Dilon mengajak Leo untuk masuk dalam ruangannya.
"Tidak...saya tidak mau berbasa basi apalagi bersama dengan penjilat" sinis Rajesh.
Dilon yang mendengar itu menggeram marah tapi pria tampan itu tidak bisa berbuat apa apa karena tidak mungkin untuk melawan hingga akhirnya hanya memilih untuk diam.
"Kau jangan pernah bernai memandang Nona Misa kami atau kupastikan kau tidak akan bisa melihat ibukota" tegas Leo.
Dilon tercengan mendengar nada ancaman dari Leo sedangkan dua orang yang sedang menyaksikan dari kamera pemantau yang ada pada Leo hanya tersenyum puas, merka puas melihat wajah Dilon yang berubah pucat, apalagi dilihat dari gerak geriknya sedikit gemetaran membuat kedua pria tampan itu terbahak.
"Dia takut Dad, lihat dia sangat pucat" ucap Radith masih dengan tawanya.
"Ya, kau benar dan ini sangat lucu" timpal Rajesh.
"Kurasa setelah itu dia tidak akan berani menatap Mommy lagi" kata Radit memberi pendapatnya.
"Ya kamu benar, karena tidak mungkin tidak melihat ibukota seperti perkataan Leo" timpal Rajesh.
__ADS_1
"
Tok Tok Tok
Rajesh dan Radith menghentikan tawanya, mereka langsung mematiakn kamera yang tersamhung diponsel Rajehs lalu membuka pintu agar wanita cantik itu bisa masuk kedalam.
"Sudah selesai sayang?" tanya Rajesh dengan lemhut.
"Sudah....dimana Leo?" tanya Nara yang tidak melihat keberadaan Leo disamping suaminya.
"Dia lagi ada urusan" ucap Rajesh beralasan.
"Ohh..jadi kita akan menunggu?"
"Sebentar lagi dia akan datang" jawab Rajehs membuat Nara mengangguk mengerti.
Beberapa menit menunggu akhirnya orang yang ditunggu datang, memasuki mobil dan mengambil posisi tepat di depan setir kemudi, "maaf Tuan Muda saya sedikti lama" ucap Leo denganw akah datarnya karena Nara juga ada disana.
"Sudah beres?" tanya Rajehs sebagai respon dari Leo.
"Sudah pasti dia akan mengerti dengan apa yang saya katakan Tuan Muda" jawab Leo ambigu memhuat Nara jadi bertanya tanya.
"Ada apa Mas?" tanya Nara.
"Tidak ada sayang, Leo hanya sedang berkunjung bertanya tentang perkembangan sekolah" ucap Rajesh berbohong sedangkan Radith menyembunyikan senyumnya agar wanita yang menjadi ibu sambungnya itu tidak menaruh curiga terhadap mereka.
"Ohhh seperti itu" angguk Nara dengan polos.
"Iya sayang, dan Mas mau mengingatkan kalau besok kita akan pinda di Mesion, karena kebtulan kan akhir pekan dan kalian juga tidak ke sekolah begitu juga dengan Mas yang tidak ke kantor jadi kita semua bisa bersiap" ujar Rajesh.
"Kita akan pinda Dad?" tanya Radith denhan kening ya g menyerngit, dia tidak tau akan hal ini sebelumnya.
"Yes, kita akan hidup mandiri di Mension kedua" jawab Rajshs santai.
"Maksud Daddy kita tidak tinggal dengan Nenek dan Kakek lagi?"
"Yes Boy, kau tidak masalah bukan?" tanya Nara yang kalian ini merasa perlu angkat bicara.
"Why? apa ada masalah?" tanya Radith dengan segala pemikiran dewasanya.
"Tentu saja tidak ada sayang, ini memang sudah saatnya kita untuk hidup mandiri, dan kamu akan Mommy urus sendirian, tapi tenang saja karena Nenek dan Kakek pasti akan sering berkunjung atau kita yang akan berkunjung ke Mension utama" ujar Nara.
Radith walau belum begitu paham tapi dia diam tidak ada respon lagi, karena saat ini sedang berusaha untuk mencerna dan mengerti semua ucapan ibunya dan lagi sebenarnya baginya tidak masalah asalkan itu selama bersama Nara dan Rajehs maka Radith tidak akan pernah merasa keberatan.
"Mau tak keberatankan Boy?" tanya Rajesh.
__ADS_1
"No Dad, asalkan bersama kalian maka aku akan ikut" ucap Radith membuat Nara dan Rajehs tersenyum lega, setidaknya tidak ada drama lagi dari Radith perkara kepindahan di Mension kedua.
"Ayo Leo, kita harus kembali, banyak pekerjaan yang menantimu hari ini" titah Rajesh yang langsung diangguki oleh Leo dan kemudian menancap gas mobil agar melaju dengan baik.
Sampai di Mension, Clara sudah berada di sana, dia sudah menyiapkan makan siang untuk keluarganya membuat Nara tersenyum, setidaknya jika mereka pergi maka ayah mertuanya tidak akan terlalu kesusahan dalam makanan karena berbekal dari kerjasama dirinya dan Clara membuat ibu mertuanya itu bisa memasak aneka jenis makanan kini seperti siang ini, Clara yang sudah menyiapkan semuanya.
"Siang Nek" sapa Radith dengan senyum manuisnya.
"Selamat siang sayang, ayo tukar pakaian dulu" titah Clara.
"Ok Nek"
"Siang Ma...maaf ya tidak bisa membantu memasak" ucap Nara.
"No problem, dengan begitu Mama bisa lebih he St lagi memasak" jawab Clara.
Nara hanya tersenyum, sedangkan Heru menggelengkan kepalanya merasa gemas denga tingkah sang istri, "Sudah kalian ganti pakaian dulu, kita makan siang setelahnya" kata Heru menginterupsi.
"Aku mesti kembali lagi Pa, banyak pekerjaan di kantor" jawab Rajesh.
"Aku ke kamar sebentar Nas" pamit Nara.
"Leo kemarilah...bergabunglah dengan kami untuk makan siang" ajak Heru.
"Tidak usah Tuan Besar" tolak Leo.
"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk menolak ayahku Leo" ucap Rajehs penuh penekanan terhadap asistennya.
"Mampus aku kalau seperti ini" batin Leo menelan ludahnya kepayahan.
"Sudah tidak apa Leo ayo kita makan siang bersama" timpal Clara.
"Loh kenapa Mas?" tanya Nara yang sudah datnag bersama Radith.
"Dia menolak permintaan Papa" jawab Rajehs dengan dagu yang diangkat menunjuk kearah Leo.
"Loh memangnya kenapa?"
"Dia tidak mau makan siang bersama"
"Sudah tak apa Leo, ayo kita makan siang bersama saja" ajak Nara juga yang akhirnya membuat Leo tidak bisa lagi menolak karena perutnya yang sudah mulai mendemo.
.
.
__ADS_1
Bersambung....