STORY OF NARA

STORY OF NARA
istrahat


__ADS_3

"Brengsek.... kau merebut Nara dariku" Reyhan berteriak dan langsung melayangkan pukulannya tapi lagi lagi Rajehs mengelak dan menangkis perkelahian itu.


"Salahkan dirimu yang begitu bodoh memberi kesempatan pada orang lain untuk merebutnya" jawab Rajehs dan langsung melayangkan tinjunya dan kini kembali mendarat di rahang Reyhan hingga tubuh pria itu terhuyung kebelakang.


"Tuan Muda, sudah hentikan..!" Leo menghalau tubuh majikannya sedangkan Felix membantu Reyhan berdiri, dia prihatin dengan apa yang terjadi dengan Reyhan, tapi dia tidak bisa berbuat apa apa.


"Lepaskan aku Leo, aku sudah lama ingin memberi pelajaran pada pria bodoh ini untuk membalaskan rasa sakit hati istriku karenanya" Rajesh memberontak tapi Leo dengan kekuatan penuhnya tetap menahan tubu Rajehs.


"Tenangkan diri anda Tuan, ingat Nona Muda sedang bersama anda barusan" bisik Leo membuat Reyhan tersadar akan istri dan putranya.


"Dimana istri dan putraku Leo?" tanya Rajehs


"Mereka menunggu didalam mobil Tuan Muda" ucap Leo.


"Kau tak apa?" tanya Felix.


"Tidak" jawab Reyhan singkat, tubuhnya masih sibuk menetralkan nafasnya yang tersengal, beberapa kali terbatuk karena tinju Rajesh yang beberapa kali mengenai perutnya.


"Ku ingatkan untuk terakhir kalinya padamu...! jangan mengharapkan istri orang, apalagi berniat untuk merebutnya dariku, karena sampai nafasku tiada aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi" tekan Rajesh lalu pergi meninggalkan tempat itu menuju mobil dimana istri dan anaknya menunggu.


"Mas... kamu tak apa?" tanya Nara, wanita cantik itu langsung turun dari mobil saat melihat suaminya berjalan sedikit tertatih.


"Maaf sayang, makan siang kita jadi tertunda" ucap Rajesh tanpa menjawab pertanyaan dari Nara, baginya Nara harus cukup tau dengan melihatnya.


"Jangan bahas makan dulu, ayo aku obati wajahmu dulu Mas" ajak Nara dan Rajehs hanya bisa mengangguk.


Nara dengan telaten mengobati Rajesh sedangkan Reyhan berjalan keluar beberapa saat setelah itu dan matanya lagi lagi menangkap hal yang sangat membuat dadanya memburu karena cemburu tapi tidak punya cukup tenaga untuk sekedar berjalan, Reyhan bisa melihat jelas bagaimana Nara sangat khawatir dengan Rajehs karena kaca mobil sudah diturunkan kebawah.


"Kamu begitu memperhatikan dirinya Nara, padahal tidak begitu banyak luka dalam tubuhnya" batin Reyhan kemudian berlalu pergi meninggalkan restoran dengan dibantu oleh Felix.


"Mas kenapa harus meladeni dia sih..!" Nara mengobati Rajehs dengan sesekali mengeluarkan omelannya membuat Rajehs hanya terdiam, memandang lekat wajah istrinya.


"Itu harus Mom, biar om itu tau kalau tidak boleh sembarang mengatakan istri orang sebagai kekasihnya" justru Radith lah yang menjawab omelan ibunya karena sejak tadi Rajesh sibuk menatap Nara.


"Diam kamu Radith....! bagaimana bisa itu kamu katakan bagus, lihat ini hasilnya..." tunjuk Nara tepat pada muka Rajehs membuat Radith malah terkekeh.


"Jangan tertawa Radith..!" gertak Nara, tanganya terus sibuk membersihkan muka di wajah Rajehs dengan antiseptik yang selalu disiman dalam mobil.


"Dad, wajahmu sudah tidak ganteng lagi, bisa bisa Mommy mencari pria lain" ucap Radith berniat menggoda ayahnya.

__ADS_1


Rajehs yang mendengar perkataan putranya tentu saja tidak mau jika hal itu sampai terjadi, "coba saja jika ada yang berani, Daddy akan membuatnya lumpuh seumur hidup" tegas Rajehs.


"Ho.. ho...ho... Daddy sudah sangat pasang badan Mom" kekeh Radith.


"Jangan tertawa Radith, Mommy sedang tidak Ingan bercanda" ucap Nara dengan penuh penekanan pada setiap kalimatnya.


Radith yang melihat wajah ibunya sedang mode serius, langsung diam menghindari dari amukan macan betina tapi hatinya menggerutu pada Rajehs karena baginya ini semua karena ayahnya dan dia ikut terkena percikan getah Omelan Nara.


"Kita makan siang ditempat lain saja ya sayang" pinta Rajesh.


"Bukankah tadi aku sudah minta begitu Mas? tapi Mas terlalu keras kepala bahkan dalah paham padamu," ketus Nara.


"Maaf sayang, Mas tidak tau dia akan nekat berbuat seperti ini" jawab Rajehs dengan raut wajah menyesalnya.


Rajehs menyesal karena sudah membuat istrinya khawatir apalagi makan siang orang orang tersayangnya tertunda karena insiden ini, dan Rajehs tidak suka membuat orang orangnya tertekan seperti ini.


"Maaf sayang..." pinta Rajesh lagi saat tak mendapat respon dari Nara.


"Iya, tapi tolong jangan seperti ini lagi Mas, aku khawatir dan aku tidak suka dengan keadaan Mas seperti ini" keluh Nara.


"Iya sayang Mas janji tidak akan seperti ini lain kali" janji Rajehs.


"Pesankan makan siang, katakan pada mereka untuk menyiapkan sekarang agar saat sampai kita sudah langsung makan" titah Rajehs.


"Mas tidak apa pergi dengan tampang yang seperti ini?" tanya Nara sedikri ragu.


"Tidak ada yang melihat kok" jawab Rajesh santai


"Ckck.. mana mungkin mereka mau melewatkan kesempatan seperti ini, tentu saja mereka akan melihat Mas"


"Biar saja dan Mas tidak peduli Sayang, sudahlah kita tetap akan makan siang walau sebenarnya ini sudah mau sore" ucap Rajehs dan melihat pergelangan tangannya, tepatnya pada jam tangan yang melingkar indah disana.


Sampai disana, Rajehs membawa putra dan anaknya untuk makan siang, dan mereka langsung melangkah menuju ruang VIP yang di booking Leo sebelum merek beranjak dari restoran yang sudah kacau sebelumya, dan Nara tidak keberatan karena dia juga tidak mau jika orang orang melihat dan memperhatikan wajah suaminya yang banyak lebamnya.


"Ayo sayang langsung makan saja" titah Rajehs, karena saat mereka datang, para pelayan langsung menyuguhkan makan siang sesuai permintaan Leo dalam bookingannya.


"Terimakasih" ucap Nara pada para pelayan.


"Ayo sayang makan dulu" ucap Nara pada Radith.

__ADS_1


"Thank you Mom" ucap Radith dan langsung melahap makan siangnya yang sudah terlewat karena memang anak kecil itu sudah sangat lapar.


Selesai makan siang, mereka semua langsung bergegas pergi tapi kali ini Rajehs tidak lagi kembali ke kantor, dia memilih untuk kembali ke rumahnya beristirahat dan pekerjaan kantor diserahkan pada Leo sekretarisnya.


"Langsung pulang ke rumah Leo" titah Rajesh.


"Baik Tuan Muda" jawab Leo dan langsung mengemudikan mobilnya.


Sepanjang perjalanan, tidak ada pembahasan yang melibatkan mereka semua, hanya ada keheningan dan suara game yang dimainkan Radith yang mengambil alih suasana hingga sampai di pelantara Mension, Rajehs lebih dulu keluar dan langsung membukakan pintu mobil untuk istirnya.


"Terimakasih Mas" ucap Nara.


"Leo sayang tidak kembali lagi ke kantor, kamu urus saja pekerjaan disana" titah Rajes.


Walau sebenarnua lelah, Leo tetap melakukannya, pria tampan itu juga mengerti jika majikannya saat ini sedang tidak baik baik saja dan sangat membutuhkan istrahar saat ini.


"Baik Tuan Muda" ucap Leo dan langsung menacap gas mobilnya setelah memasuki kembali mobil yang dikendari untuk mengantar majikannya.


"Radith langsung tukar baju ya" titah Nara.


"Ok Mom" jawab Radith dan langsung melesat pergi menuju kamarnya.


Nara dan Rajehs menyusul menuju kamar mereka sendiri dengan saling bergandengan tangan, "Mas tukar pakaian, dan istrahat juga" titah Nara.


"Mas mau langsung mandi saja dulu sayang" ucap Rajesh.


"Baiklah, aku siapkan baju ganti dulu"


Beberapa menit kemudian, Rajehs sudah Kembali dari kamar mandi dengan badan dan wajah yang jauh lebih segar dan Nara dengan sigap memberikan pakaian santai pada Rajesh lalu mengoleskan kembali salap di wajah Rajehs.


"Terimakasih sayang" ucap Rajehs setelah selesai.


"Sama sama Mas, sekarang istrahatlah" titah Nara


"Baiklah, kamu juga istrahat" pinta Rajehs yang dijawab anggukan oleh Nara dan keduanya langsung merebahkan diri untuk istrahat sejenak.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2