
Flashback...
Reyhan berada di kantornya tepatnya di kantor mertuanya, sedang meneliti berkas berkas yang akan di tanda tangani tapi tiba tiba pintu di buka memperlihatkan sosok gadis canti yang selalu berusaha untuk di hindari Reyhan dan itu adalah Cleora istrinya sendiri.
"Ada apa?" tanya Reyhan dengan ekspresi datar dan dinginya.
Cleora tersenyum kecut melihat suaminya yang masih tidak bisa di luluhkannya, entah sampai kapan dia akan bertahan disisi pria yang di cintainya, megharap Reyhan mampu membuka hatinya dan memberi cintanya.
"Sampai kapan kau akan bersikap dingin Rey? bukankah dulu kita sudah sepakat untuk menjalankannya dengan wajar?" tanya Cleora dengan tangan yang terkepal menahan gejolak sesak didadanya.
"Saat itu aku berpikir mungkin kekasihku tidak akan tau makanya aku mengiyakan perkataanmu, tapi rupanya kau licik menggunkan nama besar ayahmu untuk membongkar pernikahan kita pada keluarga kekasihku" sinis Reyhan.
"Sudah ku katakan Rey, aku tidak tau masalah itu dan lagi jika memang benar kekasihmu mencintaimu maka dia tidak akan mempermasalahkan hal ini, dia akan menerimamu walau kau sudah menikah denganku" jelas Cleora menurut pandanganya.
Reyhan yang mendengar penjelasan Cleora tertawa mencemooh pikiran gadis itu, "kau terlalu naif atau sebenarnya kau sangat murahan sehingga mengasumsikan sesuai dengan pikranmu sendiri atau sebenarnya kau akan bertindak demikian jika kau yang berada di posisi Naraku?" ejek Reyhan.
Seperti sembilah pisau menyayat hati Cleora mendengar suaminya mencemooh dirinya tak sampai di situ suaminya bahkan tega mengatakan dirinya perempuan murahan, dimana letak perasaan pria itu? tidak kah dia sedikit saja berbelas kasih pada Cleora.
"Apa maksudmu? kau mengatakan aku murahan?" tanya Cleora tak percaya.
"Ya, dan kau harus tau, kekasihku Nara bukam perempuan murahan yang akan menjadi dri dalam rumah tangga orang lain walau dia harus terluka dan walau dia harus tau kenyataan bahwa pernikahan orang yang dia sayang karena sebuah siasat dari wanirya licik" sentak Reyhan.
"Loh kenapa, jika dia cinta maka bertahan saja lagi pula ini hannya enam bulan" sanggah Cleora yang masih berusaha mempertahankan pendapatnya.
Reyhan mengepalkan tangnya dia sudah muak dengan gadis ini, ingin sekali rasanya Reyhan mengusir dan memutuskan hubungan dengan Cleora tapi dia masih sangat membutuhakn pekerjaan serta nama besar perusahaan Abraham untuk mengembangkan perusahannya sehingga Reyhan hanya bisa menahan perasaanya saat ini hingga waktunya tiba.
"Lebih baik kau pergi sebelum aku berbuat kasar padamu" usir Reyhan.
"Aku akan pergi tapi aku mau mengatakan bukankah ada undangan dari keluarga Saker karena putra sulunganya akan menikah dan perusahaan daddy ku di undang. Aku ingin datang ke sana bersama mu" ucap Cleora dan itu sukses membuat Reyhan menatap penuh padanya.
"Apa rencanamu? jangan coba coba menyakiti Nara ku!" kata Reyhan penuh penekanan.
"Kita akan menghadiri pernikahan keturunan Saker, bertindaklah yang romantis dan lihat bagaimana respon Nara, jika dia merasa cemburu maka kau bisa mendekati dirinya lagi dan aku janji tidak akan menghalanginya kalau perlu kita akan bercerai" ucap Cleora membuat Reyhan menatap lamat lamat gadis cantik itu.
"Kenapa kau berpikir begitu? katakan saja apa rencanamu?" desak Reyhan.
"Tidak ada, hanya inging membuktikan kenyataan apa aku yang harus mengalah atau kau yang harus berhenti mengejar dirinya!" tantang Cleora.
"Jangan bermimpi aku akan berhenti!" sentak Reyhan.
"Maka mari buktikan!" kembali Cleora menantang Reyhan.
Sejenak pria tampan itu terdiam memikirkan tawaran Cleora, menurutnya ini bukam ide buruk dia ingin juga tau sejauh apa dirinya masih bertahta dihati Nara hingga kini.
"Baiklah!" jawab Reyhan pada akhirnya.
Flashback off...
__ADS_1
Nara yang melihat interaksi pasangan itu sangatlah mesra hanya bisa menahan sesak didadanya, dia harus turut bahagia untuk Reyhan. Reyhan sudah bisa menerima Cleora artinya tidak akan ada lagi kisah kejar mengejar harap mengharapkan di antara keduanya walau sakit tapi tak apa bagi Nara.
Reyhan sendiri masih menunggu reaksi Nara seperti apa tapu setelah sekian lama dalam keadaan seperti ini, Nara tidak menunjukan reaksi apa apa. Wajah Nara biasa saja, sungguh pandai memang gadis ini menyembunyikan perasaanya, atau mungkin karena memang dirinya tidak punya perasaan lagi terhadap Reyhan sehingga bersikap biasa saja.
"Kenapa kamu bisa saja Nara? apa aku sungguh sudah tidak ada di hatimu lagi?" tanya Reyhan dal hati dengan raut wajah yang menunjukan kekecewaan.
"Selamat untukmu Rey, ku harap kau bisa bahagia" batin Nara.
"Martha" seru seseorang tak lain adalah Lionel.
Mereka serempak melihat Lionel, seketika wajah amarah nampak jelas di wajah keluarga Saker tak terkecuali Rajesh yang merasa was was melihat Reyhan berada didekat gadisnya.
"Sialan pria ini, berani sekali datang dengan membawa istrinya kemari" batin Lionel dan Rajesh dalam hati.
Dengan emosi yang sedikit menggebu, semua datang menghampiri Martha dan Nara serta yang lainnya, "Ada kau kemari?" tanya Lionel dengan nada datarnya.
Martha dan Nara segera mendekat saat mendapati kakaknya sedang menahan amarah. Nara tidak ingin hari pernikahan kakaknya kacau karena dirinya, "kakak tidak baik dengan tamu seperti itu, dia kemari pasti karena undangan kita" ucap Nara menenangkan kakaknya.
"Ayah mengundang Tuan Abraham bukan dirinya" sinis Anan.
"Maaf Tuan Saker, Ayah saya tidak bisa datang dan dia meminta kami untuk mewakili kedatangnnya" jawab Cleora memberi alasan.
Reyhan yang mendengar penuturan istrinya menatap tajam tapi Cleora malah bersikap tenang tanpa berdosa, "jadi wanita ini bersiasat lagi" batin Reyhan.
"Ohh tapi mungkin lebih baik jika Tuan Abraham tidak mengirimkan apa apa" sinis Lionel dengan tangan yang terkepal kuat.
"Kakak sudah dong, malu kalau tamu lain melihat ini" bisik Nara.
"Tidak kakak, aku tidak mau kakak malu di hari pernikahan kakak" jelas Nara.
Bagaimana dengan Rajesh, jangan di tanya lagi dadanya kembang kempis menahan amarah yang bergemuruh melihat gadisnya masih membela mantan pacarnya. Rajesh jadi berpikir mungkin Nara masih memiliki rasa akan mantannya, dan jika itu benar maka Rajesh tidak akan tinggal dia, dia akan membuat keduanya berpisah dan Naranya tetap akan untuknya.
"Apa kau masih ada rasa padanya sampai kau masih membelanya? jika ya, maka tidak akan aku biarkan kau bersamanya Nara! kau milikku hanya milikku!" batin Rajesh dengan tangan yang terkepal.
"Kakak tidak mau kau dekat dengannya!" sinis Lionel.
"Tidak kakak, aku yakin kakak pasti tau seperti apa adikmu ini kan? jadi jangan mempermalukan dirimu, lebih baik kakak dan kakak ipar sapa tamu yang lain" jelas Nara.
"Baiklah, ingat jangan bersamanya!"
"Iya kakak...."
"Tunggu Lionel" cegat Reyhan.
Lionel yang tadinya ingin berbalik kembali berhenti, walau tidak ada niat untuk melihat lawanya tapi telinganya terpasang mendengar apa yang akan di sampai pria yang sudah melakai perasaan adiknya.
"Aku ucapkan selamat untuk pernikahanmu" ucap Reyhan.
__ADS_1
"Terimakasih, jika tidak ada lagi urusan pintu aula masih terbuka" kata Lionel tanpa perasaan.
Reyhan yang mendapat pengusiran dari Lionel, hanya bisa mengepalkan tangnya menahan gemuruh didadanya. Reyhan tidak bisa bebuat apa apa karena dia sadar akan kesalahnya yang sudah melukai Nara jadi wajar saja jika Lionel bersikap seperti itu.
Tanpa berkata lagi dan setelah melihat sejenak wajah Nara yang enggan melihat ke arahnya Reyhan melangkah pergi meninggalkan Aula, meninggalkan Cleora yang terus memanggilanya, melangkah membawa kekecewaan dalam dirinya, membawa luka karena kenyataanya dia kalah dalam taruhan dengan Cleora, kenyataan jika Nara tidak mempedulikannya sama sekali.
"Kau keterlaluan Nara, kau masih marah padaku, kau jahat Nara menunjukan dirimu tidak peduli. Aku yakin sangat yakin jika kamu pasti terlukan bukan dengan apa yang kau lihat tapi amarahmu mengalahkan cemburumu, aku yakin kamu masih mencintaiku... tidak apa, aku akan menunggumu, menunggu amarahmu mereda dan kita akan kembali bersama" ucap Reyhan.
Setetes air mata mengalir di pipi Reyhan tanpa bisa di cegas seiring dengan kata yang terus terucap keluar dari bibirnya menyakikan dirinya kalau Nara hanya marah, Nara masih mencintai dirinya tapi walau mulut terus berucap hati kecilnya tetap merasa takut jika Nara memang sudah tidak mencintainya lagi.
Cleora berjalan terus menyusul sang suami tapi tidak sempat karena Reyhan sudah melajukan mobilnya meninggalkan Cleora yang berteriak memanggil namanya.
Nara sendiri menatap sendu Reyhan yang berlalu pergi menghilang seiring dengan jauhnya langkah Reyhan, "Semoga kamu bahgaia Rey" batin Nara.
Acara kembali berlalu, semua tamu undangan sudah berlalu pergi begitu juga dengan keluarga besar dan Nara sendiri mau berlalu pergi tapi baru saja beberapa berlalu Nara menghentikan langkahnya mana kala matanya menangkap siluet pria yang juga ingin di hindarinya.
Nara memutar tubuhnya tapi tangannya di cekal oleh sebuah tangan kekar yang tak lain adalah Rajesh, mau tak mau Nara menghentikan langkah Nara.
Berbalik melihat objek yang membuatnya tidak bergerak, mata keduanya bersiborok. Saling menatap satu sama lain, terkunci dan mencoba menyelami memasuki lebih dalam lewat tatapan keduanya.
Ada yang berbeda di rasakan, darah keduanya berdesir hebat meolah ada sesuatu yang menyentuh tubuh keduanya hingga sampai merasai di darahnya.
Nara memutus kontak matanya lebih dulu aetelah tersadar dengan apa yang terjadi, "ada apa?" tanya Nara berusaha tenang.
"Tidak tau" jawab Rajesh sekenanya.
"Hei apa maksudmu? jika tidak tau, ya sudah jangan mencegahku" sentak Nara.
Gadis cantik itu merasa sangat kesal sekali mendengar jawaban Rajesh, tadinya dia berpikir mungkin ada hal penting yang akan di sampaikan tapi rupanya jawaban sangat di luar pikiran Nara.
"Jangan ganggu aku, aku mqu pulang!" ketus Nara.
"Aku antar" ucap Rajesh.
"Tidak mau!" tolak Nara.
"Menurutlah pada calon suamimu" kata Rajesh membuat Nara menatapnya tajam.
"Jangan konyol, jelas jelas kau bersikap baru kenal denganku dan sekarang kau mengatakan kau calon suamiku, jangan bergurau Tuan" ejwk Nara.
"Aku memiliki alasan sendiri, dan kau tidal perlu tau karena belum saatnya" ucap Rajesh tegas.
"Ckck aku juga tidak mau tau, sudah jangan ganggu aku!" ketus Nara.
"Menurut calon istri atau aku akan mencium bibirmu itu!" ancam Rajesh membuat Nara langsung bungkam.
.
__ADS_1
.
Bersambung...