
Siang datang, tapi pasangan suami istri itu masih bertahan dengan posisi saling memeluk diatas ranjang, tepatnya Naralah yang masih betah tidur didalam pelukan Rajehs dan pria tampan itu hanya mampu mengikuti keinginan istrinya.
Tapi waktu yang semakin lama semakin bergerak dan waktu makan siang sudah tiba, mau tidak mau Rajehs harus membangunkan istrinya untuk mengisi perut.
Rajehs tau jika istrinya pasti kelaparan, karena dirinya sendiri saja yang sudah sarapan tadi pagi merasa lapar apalagi Nara yang hanya mengisi perutnya dengan teh hangat.
"Sayang... sayang ayo bangun, kita makan siang dulu" Rajehs membangunkan istrinya tapi bukannya bangun justru wanita cantik itu malah mengeratkan pelukannya pada Rajesh.
"Sebentar lagi Mas" saut Nara.
"Sayang... ini sudah siang, dan Mas tidak ingin kamu semakin sakit hanya karena tidak makan" ucap Rajehs dengan suara lembutnya, "ayo walau hanya sedikit saja tapi harus makan" lanjutnya.
Tok tok tok tok
Belum sempat Nara me jawab ucapan suaminya, suara ketukan di pintu kamarnya mengurungkan niatnya dan tak lama disusuk dengan pintu yang sudah terbuka menampakan anak lelaki yang masih menggunkan seragam sekolahnya, dan bisa ditebak jika baru saja kembali dari sekolah.
"Kau sudah pulang Boy? maaf Daddy tidak menjemputmu" perkataan Rajesh sontak saja membuat Nara membuka matanya dan melihat putranya sudah kembali.
"Sayang...." Nara menyambut putranya dengan suara seraknya, perlahan tubuhnya bergerak dan bersandar di kepala ranjang.
"Mommy belim sehat? kalau belum kenapa Daddy tidak membawa Mommy ke rumah sakit" Radith merasa kesal dengan ayahnya yang justru berpelukan dengan Nara tanpa berinisiatif untuk ke rumah sakit.
"Daddy sudah ajak Boy, tapi Mommy tidak mau" tentu saja Rajehs membela dirinya, dia tidak mau dituduh sebagai suami yang tidak baik terhadap istrinya.
"Iya Boy, Daddy tadi sudah mengajak tapi Mommy saja yang tidak mau" timpal Nara, tentu saja dia akan membela suaminya agar tidak terkena omongan pedas lagi dari putranya.
"Kenapa Mom, kalai seperti ini kan Mommy akan sakit dan tidak bisa ngapa ngapain dan aki semakin khawatir saja"
Radith berajalan semakin medekat kearah ibunya, naik keatas dan duduk dipinggir ranjang dekat ibu sambungnya, tanganya terulur menyentuh kening Nara lalu beralih dipipi dan setelahnya anak kecil itu menggenggam tangan Nara.
"Mommy tidak boleh sakit, Mommy harus menjaga kesehatan agar aku tidak sedih melihat Mommy seperti ini" lirih Rajehs.
Hati Nara tentu saja terenyuh dengan perkataan putranya, begitu sayangnya kah anak kecil itu padanya? sebegitu khawatirnyakah anak kecil itu hingga melihat Nara lemas seperti ini saja sudah membuatnya bersedih seperti itu.
"Baiklah sayang, Mommy tidak akan sakit lagi, dan Mommy akan makan sekarang tapi Mommy ingin makan ayam geprek pinggir jalan" Nara memberi permintaanya membuat kedua pria itu menjadi tercengang.
"Jangan aneh aneh sayang, nanti bukannya sembuh malah tanbah sakit" Rajehs tentu saja menolak perkataan istrinya, dia ingin Nara memakan makanan yang sehat bukan makan pinggir jalan yang kebersihannya tidak tentu.
__ADS_1
"Benar Mom, bagaimana bisa sehat jika makan disana, belum tentu bersih juga" timpal Radith yang sama tidak setujunya dengan Rajehs.
Nara mendengkus sebal dengan kedua prianya, beginilah jika sikap posesif sudah terlihat, maka semua serba tidak bisa dan semua harus dibawah pengawasan keduanya, dan yang lebih parahnya adalah kekompakan pasti akan terjalin diantara ayah dan anak itu.
"Ckck... kalian sangat menyebalkan sekali, anak dan ayah sama saja" ketus Nara, matanya mulai berkaca kaca membuat kedua pria saling bertatap dengan ekspresi bingungnya.
"Stttt... jangan menangis sayang, ayo kita makan disana" akhirnya Rajehs menaglah dan menuruti perkataan istrinya tapi berbeda dengan Radith yang masih keukeh menampakan posesifnya.
"No Dad, bagaimana bisa Daddy mengijinkan Mommy yang sedang sakit makan diluar" sanggah Radith.
Nara yang mendengar penolakan putranya kembali memperdengarkan Isak tangisnya dan kali ini air mata itu semakin deras keluar membuat Rajehs kewalahan dan mau tak mau terus menuruti perkataan istrinya.
"Sayang jangan menangis, sekarang tukar pakaianmu dan kita akan segera mencari makan itu" ucap Rajehs dengan lembut.
Radith ingin kembali protes tapi tidak jadi kala melihat bahasa isyarat dari ayahnya.
"Benarkah Mas...? baiklah aku akan segera bertukar pakaian" ucap Nara dengan penuh kegirangan dan langsung melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya terlebih dahulu.
"Dad..." tidak jadi Radith melanjutkan ucapannya karena dengan cepat disela oleh Rajehs.
"Jangan membantah kali ini Boy, kau tidak tau jika Mommy sedang sensitive? dan jujur saja Daddy tidak ingin tekena dampaknya, dan kai sebaiknya segera tukar pakaian karena kau harus ikut" titah Rajesh.
"Mommy aneh sekali" gumam Radith disela sela langkahnya.
"Aku sudah selesak Mas" ucap Nara setelah keluar dari ruang ganti.
"Ayo, kita tunggu didepan saja" ajak Rajehs.
"Loh kenapa menunggu lagi? aku makan ditempatnya langsung Mas" rengek Nara.
"Iya, tapi kita harus menunggu Radith, anak itu tentu saja tidak akan makan disini apalagi sendirian" jawab Rajehs menjelaskan apa maksudnya.
"Ah iya, aku terlalu bersemangat sampai melupakan anak kita" Nara terkekeh dengan sikapnya sedangkan Rajehs hanya geleng kepala dengan sikpa istrinya.
"Mom, Dad" Radith sudah selesai dan kini melangkah menuju orang tuanya.
"Ayo Mas kita berangkat, Radith sudah datang" ajak Nara dengan semangat bahkan berjalan mendahului suami dan putranya.
__ADS_1
"Mommy aneh ya hari ini Dad" ucap Radith dengan suara yang sangat pelan.
"Iya kau benar sekali, dan Daddy tidak mau membuat moodnya rusak, jadi kita harus turuti saja perkataanya" jawab Rajehs yang ikut berbisik pada putranya.
"Masss ... ayo cepat, aku sudah lapar"
Terikana Nara membuat kedua pria itu tersentak dan mempercepat langkah mereka agar tidak mendengar ocehan wanita cantik itu.
"Ayo cepat Boy, jangan sampai mendengar ocehan Mommy" ajak Rajehs yang langsung disetujui oleh Radith.
"Ayo Dad"
"Kalian lama sekali" ketus Nara, "aku saja yang perempuan tidak lelet sepeti itu" lanjutnya.
"Tuh kan, mulai mengoceh lagi" batin Rajehs dengan mengelus dadanya.
"Astaga... bersiaplah wahai telinga mendengar ocehan Mommy" batin Radith yang melakukan hal yang sama, mengelus dadanya agar tetap bersabar mendengarnya.
"Hei ayoo..." teriakan Nara kembalinterdengar membuat keduanya seperti kambing yang dicocok hidungnya, hanya menurut tanpa berkomentar.
"Ayo cepat Mas" desak Nara
"Sabar sayang, Mas sedang menghidupkan mobilnya" kesal Rajehs tapi tetpa berusaha menampilkan senyum terpaksanya.
"Ckck... padahal sudah mahir membawa mobil tapi menghidupkannya saja perlu waktu" decak Nara.
Rajehs hanya memasanha wajah melasnya sedangkan Radith berusaha menahan tawanya saat melihat wajah tak berdaya dari ayahnya, sungguh ini juga sangat lucu baginya.
"Jangan tertawa Boy...! Mommy tidak suka ditertawakan" sontak saja Radith memasang wajah datarnya, dia tidak tau jika ibu sambungnya melihat tingkahnya yang berusaha menahan tawanya sedangkan kini gantian Rajehs yang menahan tawa karena bukan hanya dirinya saja yang terkena tapi putranya juga ikut bersamanya.
"Ayo jalan Mas"
"Iya iya ini juga jalan" pasrah Rajehs.
.
.
__ADS_1
Bersambung....