
Acara pertunangan sudah selesai dan kini keluarga Saker sudah berada dalam perjalanan menuju kediaman mereka, "ayah ibu aku akan kembali ke apartement malam ini" ucap Nara memecahkan keheningan yang mengambil alih suasana.
Serentak Naina dan Anan menoleh pada Nara yang duduk di bangku penunpang bagian belakang, mereka tidak mengerti kenapa masih saja Nara ingin kembali bahkan malam ini tanpa menunggu esok hari.
"Kenapa cepat sekali sayang? kenapa tidak besok saja?" tanya Naina.
"Maaf bu, tapi besok aku harus bekerja dan apartementku dekat jadi tidak terlalu repot besok" jawab Nara dengan lembut di iringi senyum hangat untuk meyakinkan ibunya.
"Nak kau yakin masih ingin tinggal disana? pikirkan lagi sayang, kembalilah tinggal dirumah menjadi tuan putri istana Saker yang kamu tingglkan selama tiga tahun ini" ucap Anan.
"Iya yah, maaf untuk saat ini aku belum bisa kembali. Aku akan menunggu Reyhan baru aku akan kembali bersama dengannya" jawab Nara dengan yakin.
"Kau begitu mencintainya Nara sampai kau seperti ini?" tanya Lionel.
"Harusnya kakak sudah tau itu" jawab Nara.
Mereka semua menghela napas panjang, bagaimana bisa Kanara begitu mencintai Reyhan. Tidakkah Nara bisa membuka hatinya sedikit untuk orang lain? lalu bagaimana nanti jika dia tau jika kekasih hatinya sudah berhianat.
"Baiklah jika itu keinginan mu sayang, biar kakakmu yang mengatakan" jawab Anan.
"Ayah..." seru Naina dan Lionel serempak.
"Tidak masalah, biarkan putri kita memilih. Tapi ayah harap kelak kau tidak menyesali" jawab Anan dengan tegas.
"Baik" jawab Nara tak kelah tegasnya.
Mobil sudah terparkir di depan gedung apartement dan segera saja Nara turun setelah berpamitan pada kedua orang tuanya, melangkah menuju apartement dengan hati yang masih di landa kegelisahan karena belum mendapat kabar dari kekasihnya.
.
Di Spanyol acara pernikahan Reyhan dan Cleora selesai di gelar mulai dari acara pemberkatan hingga area resepsi yang meriah juga sudah selesai dan kini pasangan yang baru bergelar menjadi pasangan dalam ikatan pernikhan.
Dalan kamar Cleora sedang membersihkam riasan wajahnya sedangkan Reyhan sibuk juga untuk membersihkan diri kemudian meraih ponselnya hendak menghubungi kekasih hatinya yang sudah tiga hari tidak dia hubungi.
Semua gerak gerik Reyhan tidak lepas dari pengamatan Cleora. Terlihat sekali jika pria itu sangat cuek dan tidak peduli akan kehadirannya di sana, juga wajah Reyhan yang terus terlihat gusar dengan tangan yang terus di otak atik.
"Kenapa Nara tidak menjawab?" gumam Reyhan sambil menempelkam ponsel di dau telingannya.
__ADS_1
Cleora tentu saja mendengar gumaman Reyhan, karena tempat meja rias yang tidak jauh dari sofa tempat Reyhan sedang duduk.
Sakit tiba tiba menghantam dada Cleora seperti ada ribuan jarum menusuk dalam dadanya mendengar gumaman suaminya yang menghawatirkan wanita lain bahkan hentinya mencari tau keadaan wanita itu.
"Kau benar benar keterlaluan Rey, tidak menganggapku tapi malah menghawatirkan wanita lain" batin Cleora dengan mata yang berkaca kaca.
"Bisakah kau tidak memikirkan wanita lain Rey?" lirih Cleora.
Reyhan metapa Cleora dengan tatapan tajam dan wajah dingin dan datarnya, dia tidak suka dengan perkataan Cleora yang menurutnya seperti seorang istri yang cemburu dan memiliki hak untuk melarang Reyhan.
"Jangan bertingkah seperti seorang istri Cleora!" tekan Reyhan.
"Kenyataanya aku adalah istrimu Rey!" sentak Cleora.
Reyhan tertawa sinis mendengar perkataan Cleora yang memberi pengakuan jika dirinya adalah seorang istri, "hahaha.... kau tidak lupa bukan dengan statusmu! kau bukan istriku dan sampai kapanpun aku tidak akan mengakui hal itu" ucap Reyhan dengan tegas.
Cleora tersentak mendengar perkataan Reyhan yang sama sekali tidak mau mengakui dirinya sebagai seorang istri walau hanya dalam waktu enam bulan ini, satu tetes air mata mengalir tanpa di minta membasahi pipi Cleora tapi itu tidak membuat Reyhan merasa iba.
"Kau benar benar keterlaluan Rey...kau...kau tidak punya hati" lirih Cleora.
"Kau benar, aku memang tidak punya perasaan padamu dan harusnya kau tau hal itu Cleora, jadi jangan pernah mengharapkan yang tidak akan kau dapatkan!" tekan Reyhan.
"Kau memang tidak akan bisa seperti Nara! Nara ku adalah wanita yang sempurna, tidak sati wanita pun yang bisa sama seperti kekasihku termasuk dirimu walau kau berusaha pun untuk sama seperti dirinya!" jawab Reyhan tak kalah keras suaranya.
Cleora terdiam, lidahnya terasa keluah tidak tau lagi apa yang harus dia katakan untuk menimpali jawaban Reyhan, "katakan Rey seperti apa Nara mu itu" pinta Cleora yang masih saja keukeh mencari tau seperti apa Nra yang katakan Reyhan.
Reyhan tertawa sinis mendengar permintaan Cleora yang masih bertahan ingin tau seperti apa kekasihnya, "kau yakin ingin tau seperti apa Nara? aku ragu mengatakannya karena aku yakin kau pasti akan sangat terpukul jika aku mengatakannya" ucap Reyhan dengan nada mengejek.
"Katakan!" pinta Cleora dengan yakin.
"Aku tidak akan banyak berkata padamu tapi satu hal yang mau saya tekankan jika kekasihku tidak akan bebuat murahan dengan cara menjebak pria untuk medapatkan incarananya, bahkan aku yakin jika dia tau masalah pernikahan ini Naraku tidak akan melakukan hal yang murahan untuk melawanmu!" tegas Reyhan.
Cleira tersentak kaget mendengar jawaban Nara, sudah jelas jika dia tidak akan bisa melawan Nara jika seperti itu dan dia pun sadar jika apa yang di katakan Reyhan benar adanya dia melakukan banyak cara untuk termasuk menjebak Reyhan dengan kekayaan yang dimiliki oleh ayahnya untuk menekan Reyhan dan pada akhirnya dia bisa menikah dengan pria tampan itu.
Reyhan mengangkat alisnya dengan sinis melihat Cleora yang terbatu di tempatnya, "kenapa? kau kaget? tentu saja kau kaget kan dengan perkataanku karena sampai kapanpun kau tidak akan bisa seperti Nara kekasihku itu!" sindir Reyhan.
"Kau keterlaluan Rey...kau tidak punya perasaan" tangis Cleora.
__ADS_1
"Ssttt sudah kau diam, kekasihku meenghubungiku" ucap Reyhan dengan telunjuk yang di letakan di depan bibirnya saat bunyi ponsel terdengar dan itu ternyata panggilan dari Nara.
Reyhan mengultimatum Cleora agar menghentikan tangisannya dengan suara tegasnya dan Cleora pun terdiam, dia mengigit bibir bawahnya untuk meredam suaranya.
"Hallo Nara sayang.." panggil Reyhan dengan lembut.
Kesengajaan mengeraskan suara ponselnya agar teredengar oleh Cleora dan gadis itu pun menajamkam telinga untuk menguping pembicaraan mereka.
"Hallo Rey...kau kemana saja sayang? kenapa tiga hari kau tidak bisa di hubungi?" tanya Nara dengan Nara khawatir.
Dada Cleora semakin terhantam mendengar suara merdu dari Nara, padahal itu hanya melalu sambungan ponsel tapi suaranya sudah sangat merdu apa lagi jika secaea langsung susah pasti bisa membuat orang terbuai akan suara itu. Sementara Reyhan tersenyum puas melihat reaksi Cleoran yang murung, Reyhan memang sengaja melakukannya agar Cleor sadar diri dan tau bagaimana sosok wanita yang sangat dicintainya.
"Maaf sayang, aku sedang mengurus kepindahanku dan mungkin satu minggu lagi aku akan kembali, jadi tunggulah aku sayang" ucap Reyhan dengan senyum manisnya.
"Sungguh....? oh...aku sangat senang Rey, kau tau ayah merestui hubungan kita. Dia bilang tak masalah jika kau tidak seperti kami asal kau mau bertanggung jawab padaku" ucap Nara dengan binar bahagia.
Nara menceritakan apa yang di dengar dari mulut ayahnya dengan girang pada Reyhan sementara pria tampan itu mengepalkan kedua tangannya menahan kekesalan dan amarah yang menghinggapinya saat mendengar perkataan kekasihnya.
Bagaimana tidak merasa marah, dia merasa saat ini takdir sedang mempermainkannya dengan cintanya, takdir meluluhkan hati Anan Saker setelah sekian tahun di tambah dengan kondisi statusnya saat ini sudah menikah dengan Cleora.
Dengan tangan yang terkepal dan nafas yang di tarik panjang Reyhan menjawab dengan sebuah pertanyaan, "kapan Tuan Saker berkata begitu sayang?" tanya Reyhan dengan suara yang sedikit tercekat.
"Tiga hari yang lalu tapi aku baru bisa mengatakan hari ini karena baru bisa menghubungimu" ucap Nara.
Reyhan semakin memejamkan matanya mendengar jika tiga hari yang lalu Anan Saker sudah merestui mereka tapi kesalahan ada pada dirinya yang tidak bisa di hubungi karena takut akan menambah rasa bersalah pada dirinya jika mendengar suara kekasih hatinya, tapi tanpa di sadari justru tingkahnya itu membawa petaka besar untuk dirinya dan Nara.
Kata seandainya berputar putar di pikiran Reyhan, berandai andai untuk waktu tiga hari yang yang dia lewatkan untuk menghindari Nara justru membuat dirinya melewatkan kesempatan yang seharusnya bisa saja membuat dia membatalkan pernikahannya dengan Cleora dan tetap bersama dengan kekasih hatinya.
Dengan senyum pahit di tampilkan Reyhan dan menjawab perkataan Nara, maafkan aku sayang, aku hanya sedang sibuk dan aku sangat senang mendengar kabar gembir itu tapi aku akan tetap berusaha untuk menjadi pantas untukmu walau kita sudah mendapat restu dari ayahmu" jawab Reyhan.
Pria itu bertekat akan tetap melanjutkan apa yang sudah terlanjur dia perankan, dan dia juga bertekan jika sesampainya nanti di Indonesia dia akan mulai membuka perusahannya dengan sedikit memanfaatkan nama mertuannya mungkin.
Merka terus berbincang dengan hangat, melepas rindu yang sudah tidak bisa lagi di bendung walau sudah saling berkomunikasi sekali pun tanpa menghiraukan seorang wanita yang terus memperhatikan gerak gerik bahasa tubuh Reyhan dengan senyuk liciknya.
"Mungkin kau tidak tau perihal undangan itu Nara karena aku yakin jika saat itu keluargamu pasti menyembunyikannya tapi tunggu saja jika aku ke Indonesia, aku pasti akan menujukan Reyahan adalah suamiku" batin Cleora dengan senyum liciknya.
.
__ADS_1
.
Bersambung...