
Mobil yang membawa Nara, tepatnya adalah mobil Rajesh sudah sampai di depan apartement milik Nara, Rajesh yang melihat apartemena Nara adalah salah satu apartement yang berkelas dan lebih parahnya lagi itu adalah miliknya dan otomatis dia tau bagaimana harga apartemen baik yang di sewa maupun yang sudah di beli.
Rajesh kini tau satu hal wakau masih abu abu karena Leo pun yang belum memberikan laporan tentang gadisnya, "sepertinya dia bukan dari keluarga biasa" batin Rajesh, "tapi kenapa memilih jadi pegawai pemerintahan ketimbanh jadi penerus keluarganya?"
Ya, Rajesh sudah yakin jika pasti Nara adalah salah satu anak dari pengusaha hanya karena melihat dari apartementnya saja, "kau tinggal disini calon istri?" tanya Rajesh.
Nara kembali mendengus kesal, niatnya tadi yang ingin membuka pintu mobil setelah berterimakasih kembali urung, dengan wajah masam Nara melihat Rajesh yang sama sekali tidak merasa berdosa dengan apa yang barus saja di ucapkannya.
"Tuan, bisakah anda tidak mengatakan aku adalah calon istrimu, rasanya telingaku gatal mendengarnya" sungut Nara.
Rajesh bukannya menjawab tapi lagi lagi mapah di buat terpaku dengan tingga Nara yang mengerucutkan bibirnya setelah bersungut pada Rajesh.
"Menggemaskan sekali, rasanya semua yang di lakukannya terlihat indah di mataku" batin Rajesh, "ohh...lihatlah bibirnya itu seperti anak kecil saja tapi sangat menggaskan dan aku suka itu" lanjutnya.
"Aiss sudahlah, maaf Tuan, sekali lahi terimakasih dan semoga kita tidak bertemu lag kedepan" ucap Nara dan langsung keluar dengan menutup pintu mobil sedikit kasar membauat kedua pria di dalam itu terlonjak kaget.
"***..! dia sudah keluar" umpat Rajesh karena baru tersadar setelah Nara sudah keluar.
Sementara Leo? jangan di tanya lagi bagaimana ekspresi pria itu, dia ingin sekali terbahak tapi takut membuat Tuannya marah, karena bagaimana pun ini kali pertama Leo melihat tingkah Tuan Mudanya yang seperti orang bodoh di depan seorang gadis yang bahkan dia yakini jika Tuan Mudanya tidak tau namanya.
"Apa kita akan disini saja Tua" tanya Leo.
Rajesh yang masih syok dan kecewa karena Nara yang pergi tanpa disadari dan terlbih lagi perkataan akhir Nara yang berkata berharap agar tidak bertemu lagi membuat dia semakin kesal setelah mendengar pertanyaan konyol dari bawahannya.
"Ckck, kau sudah bosan bekerja denganku Leo Rendra?" tanya Rajesh penuh penekanan.
Glek
Leo menelan ludahnya kesusahan mendengar nada suara Tuan Mudanya, "ckck...kalau tau begini mending aku diam saja" batin Leo.
"Hahaha...tentu saja tidak Tuan Muda, saya masih sangat betah dan berharap terus bekerja dengan anda" jawab Leo dengan tawa garingnya.
__ADS_1
"Ckck... jangan tertawa jika terpaksa!" dengus Rajesh.
"Maaf Tuan Muda"
"Kau sudah dapatkan informasinya?" tanya Rajseh yang sudah tidak sabar untuk mengetahui siapa gadisnya itu.
"Sudah Tuan Muda"
Leo mengambil map yang ada di dekatnya dan mengulurkannya ke belakang yang langsung di sambut antusias oleh Rajesh, "namanya Kanara Saker di...."
"Diam, dan fokus menyetir saja" potong Rajesh yang tau jika kebiasaan Leo akan menjelaskan semua secara rinci apa saja isi dari setiap laporan yang dia berikan.
Tapi untuk kali ini entah kenapa si Tuan Muda tidak mau mendengar penjelasan Leo, dia ingin membaca langsung data diri tentang gadisnya tampa di bantu oleh asisten kepercayaanya.
"Ckck dasar calon bucin, hanya menjelaskan tentangnya saja dia sudah tidak mau, biasanya juga selalu meyuruhku menjelaskan walau laporan sudah di depan matanya" rutuk Leo dalam hati.
"Jangan membatin Leo atau kau akan ku tendang keluar" ucap Rajseh tapi matanya fokus pada map yang ada di hadapannya.
"****! kenapa aku bisa lupa sih masalah ini" batin Leo yang rupanya masih saja tidak jera.
"Maaf Tuan Muda"
Sudah ku duga dia bukan dari keluarga biasa, tapi kenapa malah mau jadi PNS?" Rajesh bertanya tanya dalam hati perihal Nara yang leboh suka jadia abdi Negara dari pada meneruskan usaha keluarganya.
Rajesh terus membaca dengan teliti data diri Nara hingga keningnya mengerut melihat napa pria yang ternyata adalah kekasih Nara selama lima tahun ini berserta fotonya.
"Ckck...bukankah ini pria kemarin? entah apa yang dia lihat darinya, gantengan juga aku, tampan dan kaya an aku jug" decak Rajesh dalam hati.
"Ckck entah apa yang dia lihat dari pria ini?"
"Cinta tidak memandang diri pasangan tuan" sambung Leon memberikan pendapat.
__ADS_1
Rajesh mendengus kesal mendengar perkataan asistennya, bagaimana bisa seorang jomblo yang sama dengan dirinya mengerti akan cinta, sementara selama bertahun tahun hanya berada di samping dirinya dan hanya perusahaan yang di pikirkan.
"Jangan menjawab, kau saja jomblo tapi sok sok an menjawab" sarkas Rajesh.
Pukulan telak di terima Leo, bibirnya mendadak bungkam mendengar sindiran Tuannya yang juga pun baru di sadarinya jika memang dia masih jomblo lalu atas dasar apa memberi opini seperti itu. Tapi di balik dia membenarkan itu ada rasa kesal juga karena Tuan Mudanya menyindirinta terang terangan, tidak bisa kah Tuan Muda yang maha Mulia itu menyindir secara halus saja.
"Ckck mulutnya benar benar pedas sekali, untung saja kau bosku. Jika saja aku adalah bosmu aku akan melakukan hal seperti ini dan kau akan merasakan jadi diriku" batin Leo yang merasa teraniaya.
"Apa yang kau pikirkan? kau mengumpatkau dan berharap bisa balas dendam iya ha...!" tebak Rajesh dengan intonasi yang sedikit tinggi.
"Maaf Tuan Muda, tapi saya tidak membatin sama sekali" jawab Leo yang masih berniat menyangkal apa yang di katakan Rajesh.
Rajesh mengibaskan tangannya, "sudahlah jidatmu sudah menunjukan padaku dan apa yang ku katakan ini benar" jawab Rajesh membuat Leo seketika menyentuh jidatnya sendiri tapi seketika dia tersadar jika Tuanya hanya mempermaikannya saja.
Sedangkan Rajes tersenyum mengenjek melihat tingkah bawahannya yang mudah saja di bohongi, "makanya jangan membiasakan diri berbohong jadinya begini kan" ejek Rajesh.
Leon mendengus sebal karena lagi lagi dia menjadi korban kesombongan dan suka suka Tuan Mudanya, benar benar dia berharap ada seseorang yang berbuat sesuka hatinya pada Rajesh agar pria tampan yang menjadi atasannya itu merasakan bagaimana tertekannya menjadi seprti dirinya.
"Tapi Tuan Muda, walau pun sayang belum memiliki pacar tapi saya bisa tau seperti apa cinta" jawab Leo yang tak ingin di anggap remeh terus oleh Rajseh.
"Ckck...memangnya seperti apa dia?" ketus Rajesh.
"Ya...salah satunya tadi tidak memandang background dan status sosial yang terpenting adalah dia mempu membuat nyaman, dan yang paling sering adalah dia mampu menjadikan dirinya sebagai poros kehiduan dan dunia kita" tutur Leo dengan bangga saat melihat Rajesh hanya diam saja.
"Kau pernah jatuh cinta?"
"Tidak tuan"
Bugh...
.
__ADS_1
.
Bersambung...