STORY OF NARA

STORY OF NARA
Reyhan lagi


__ADS_3

Rajehs sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, sepertinya hari ini adalah pertemuaan kedua kalinya antara Rajesh, Reyhan dan Mich sang investor untuk membahas kelanjutan proyek yang akan dikerjakan, dan Nara sudah tau akan hal itu walau sebenarnya dia wanti wanti akan keadaan suaminya mengingat pertemuan terakhir mereka satu Minggu yang lalu berakhir dengan pertengkaran.


"Mas hati hati ya" pinta Nara saat mengantarkan Rajehs sampai di teras utama Mension.


"Iya sayang, dan sepertinya Mas akan pulang malam, bagaimana kalau kalian ke Mension saja" usul Rajesh, dia teringat perjalanan mereka yang akan langsung meninjau lapangan sekaligus hari ini makanya Rajehs mengusulkan hal itu karena tidak ingin istrinya merasa kesepian dirumah.


"Oh ya? jadi Mas akan pulang malam nanti?" tanya Nara.


"Iya sayang, Mas akan pulang malam jadi lebih baik mungkin kalian ke rumah mama saja" pinta Rajesh lagi.


"Bagaimana kalau aku membawa Radith ke Mension keluargaku saja Mas, udah lama tidak kesana soalnya" pinta Nara sekaligus meminta ijin suaminya.


"Em... boleh, tidak masalah sayang" jawab Rajehs, mengingat memang benar mereka sudah sangat lama tidak kesana dan menurutnya itu bukanlah ide buruk.


"Baiklah Mas, terimakasih banyak" ucap Nara dengan senyum merekah menghiasai wajahnya, dengan cepat Nara menciup pipi Rajesh justru itu dijadikan sebagai kesempatan, dengan kilat Nara mengalihkan wajahnya hingga kini Nara mencium tepat di bibir Rajehs.


Tidak membuang waktu lagi, Rajehs segera ******* bibir istrinya dengan tangan kanan yang merangkul pinggang Nara dan tangan kirinya menekan tengkuk wanitanya untuk memperdalam ciumannya.


"Mas..." rengek Nara saat merasakan oksigen dalam tubuhnya mulai menepis.


"Sangat Manis" ucap Rajehs dengan seyum mesumnya.


"Ikh... padahal belum mandi loh aku Mas" rengek Nara.


"Tidak masalah, manis alami tidak memperkarakan mandi atau tidaknya" kekeh Rajehs membuat Nara mengerucutkan bibirnya.


"Jangan begitu sayang, Mas akan semakin ketagihan nanti" ancam Rajesh membuat Nara langsung mengatupkan bibirnya dengan rapat membuat pria tampa itu hanya terkekeh.


"Sangat manis"


"Sudah sana berangkat Mas" Nara mencium punggung tangan Rajesh yang dibalas ciuman pada keningnya oleh pria tampan itu.


"Mas berangkat dulu, katakan pada Radith jika Mas tidak bisa mengantarnya ke sekolah" pinta Rajesh.


"Iya, Mas tidak usah khawatir akan hal itu, dia anak yang pengertian dan juga sudah dewasa" jawab Nara menenangkan suaminya.


"Baiklah, Leo sudah menunggu lama, bye sayang" pamit Rajehs sekali lagi setelah mencium mencium pipi Nara seklias.

__ADS_1


Wanita cantik itu hanya bisa tersenyum dengan tingkah suaminya. bahagia, tentu saja Nara bahagia dengan hal itu walau usia pernikahan mereka tidak lagi muda alias sudah jalan bertahun tahun tapi tetap saja sikap Rajehs layaknya pengantin baru yang bawaanya ingin menempel terus.


Nara jadi berpikir, apakah nanti jika mereka punya anak sikap Rajehs akan tetap sama atau mungkin akan berubah jenuh atau mungkin saja sebaliknya akan menjadi lebih sayang lagi, apapun itu Nara tidak tau karena kenyataan pahit kini yang dirasakannya adalah dia yang belum memiliki seorang anak.


Nara yang sudah berjanji tidak akan menangisi hal itu baik pada Rajesh suaminya maupun pada Rsdith putranya, akhirnya memilih untuk lembu ke kamar tapi tepatnya di kamar putranya untuk mengecek apakah putranya sudah siap atau belum.


"Sayang... kau sudah siap?" tanya Nara.


"Tentu Mom, tingga memasangkan dari" jawab Radith menunjukan dasi yang ada digenggaman tangannya.


"Sini Mommy bantu, biar bisa sama sama dengan Daddy, Mommy yang selalu pasangkan dasi" pinta Nara yang langsung dijawab anggukan oleh Radith.


Padahal hal itu memang sudah biasa Nara lakukan tapi tetap saja ada kesenangan tersendiri bagi Nara melakukannya dan Radith juga akan selalu merasa bahagia dengan keadaan seperti ini.


"Selesai" ucap Nara, tanganya mengusao usap baju Radith, merapikan kembali tatapan pakaian putranya.


"Ayo kita sarapan dulu" ajak Nara.


Radith hanua menurut mengikuti perkataan ibu sambungnya untuk sarapan bersama, "Oh ya sayang, nanti setelah pulang sekolah kita kerumah Nenek dan Kakek Saker ya" ucap Nara.


"Kita akan kesana Mom?" tanya Radith ingin memastikan.


"Tentu saja, jangan tanyakan itu lagi... tapi bagaimana dengan Daddy?" tanya Radith matanya menatap meja makan yang kosong dan tidak mendapati ayahnya disana.


"Daddy sudah berangkat pagi pagi sekali dan Daddy juga sudah mengijinkan karena Daddy akan pulang agak larut" jelas Nara.


"Ohhh, begitu"


"Tidak apa kan sayang, kalau Daddy tidak mengantarmu ke sekolah?" tanya Nara.


"No problem Mom, pekerjaan Daddy pasti sangat penting dan lagi sudah ada Mommy juga kok" jawab Radith dengan senyum manisnya dan itu bukalah sekedar senyuman paksa, itu senyuman tulus karena memang Radith tidak merasa keberatan sama sekali.


"Oh... terimakasih sayang, Mommy sudah menduga hal ini kalau kami semakin dewasa dalam menyikapi masalah" ucap Nara, "ayo makan" ajak Nara seteleha makan sudah berada diatas piring Radith.


"Oh ya, Mom, jangan lupa bawa baju ganti ku" pinta Radith di sela sela kegiatan makannya.


"Tentu saja, tapi makan dahulu baru bicara" ucapan Nara memang sangat lembut tapi terselip nada perintah yang tidak bisa dibantahkan lagi.

__ADS_1


Radith mengangguk saja, tidak berani lagi mengeluarkan suara, aturan demi aturan selalu Nara terapakan tapi Radith sama sekali tidak keberatan atau melakukannya dengan setengah hati, justru anak yang berusia delapan tahun itu justru senang hal itu, karena di merasa melalu hal hal kecil itulah dirinya juga merasakan perhatian dari Nara dan perhatian itu jelas bukan sebuah kepalsuan.


Usai sarapan, Nara lekas mengantarkan putranya ke sekolah dengan diatar oleh supir yang selalu bersamanya tapi sayang sekali dipertengahan jalan mobil yang mereka naiki mogok dan terpaksa membuat mereka berhenti untuk mengganti ban nya terelbih dahulu


"Loh kenapa pak?" tanya Nara.


"Sepertinya mogok Nyonya Muda" jawab si supir dengan perasaan yang sudah takut.


Takut jika terkena amukan dari Tuan kecil, apalagi jika sampai dia dilaporkan pada Rajesh sang Tuan Muda, bisa bisa dirinya kehilangan pekerjaan.


"Bagaimana bisa mogok? apa kau tidak membawanya ke bengkel untuk service?" tanya Radith dengan tatapan tajamnya.


Ya begitulah Radith, paling tidak suka jika hal seperti ini terjadi, apalagi jika sampai menghalangi kegiatannya yang seperti ini.


"Maafkan saya Tuan kecil" ucap sang supir.


"Kau pikir maaf bisa membuat saya dan Mommy sampai disekolah" sentak Radith membuat supir tersentak, dan bukan hanya si supir saja, Nara juga ikut terkesima dengan sikap Radith.


"Radith... Mommy tidak mengajarkanmu untuk tidak sopan" tegur Nara.


"Tapi dia membuatku terlambat Mom" Radith seolah tidak menerima teguran dari ibunya, hatinya sedang benar benar kesal dengan keadaan ini.


"Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya membentak yang lebih tua darimu" sergah Nara.


"Kenapa Mommy membelanya?" tanya Radith tak suka.


Nara menghela napasnya terlebih dahulu, "bukan Mommy membela sayang, Mommy hanya tidak ingin kamu bersikap tidak sopan saja pada yang lebih tua, walau dia salah tapi tetap saja tidak boleh seperti itu" jelas Nara.


"Sudah, ganti saja Bannya pak" titah Nara.


"Baik Nyonya Muda"


Beberapa menit berlalu tapi belum ada tanda tanda mobilnya selesai hingga akhinya sebuah mobil sport berhenti tepat di samping mobil yang dinaiki Nara, mengetuk kaca mobil wanita cantik itu membuat Nara terkejut melihat siapa yang datang.


"Reyhan"


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2