STORY OF NARA

STORY OF NARA
pagi


__ADS_3

"Hei kau mau meninggalkan aku?" teriak Vivi


"Sejak kapan Momnyku menemanimu? bukankah Mommy sejak dulu sudah berhenti kerja" Radith yang mendengar perkataan Vivi menimpali membuat Nara hanya bisa tertawa kecil.


"Paman Leo" panggil Radith dengan senyum manisnya.


Leo yang mendapati senyum seperti itu dari Radith, bukannya senang tapi justru bergidik ngeri, perasaanya jadi tidak enak entah kenapa tiba tiba membuar bulu tangannya meremang, "akan ada badai kah setelah ini?" tanya Leo dalam hati.


"Ya Tuan kecil" jawab Leo.


"Ada yang menyukaimu" ucap Radith.


Rajesh yang mendengar ucapan putranya langsung mengalihkan perhatiannya, dia ingin memastikan pendengarannya terlebih dahulu, "apa benar begitu Boy?" tanyq Rajehs dengan wajah keponya.


Leo sendiri hanya bersikap biasa saja, mencari ancang ancang untuk menyelamatkan diri dari bencana yang akan membuat batinnya tertekan. Ya, Leo sudah berpikir seperti itu, berpikir jika itu akan menjadi sebuah bencana.


"Yes Dad, tapi aku hanya akan mengasihani paman Leo jika seperti itu" ucap Radith, tapi sengaja menghentikan ucapannya.


Nara yang mendengar perkataan Radith ikut menatap putranya, dia penasaran alasan apa putranya berkata demikian, sedangkan Leo yang tadinya mau pasang badan kini mulai tertarik dengan perkataan Radith.


"Maaf Tuan kecil, kenapa anda berkata seperti itu?" tanya Leo yang pada akhirnya merasa tidak tahan untuk bertanya.


Radith tersenyum licik, akhirnya Leo mau merespon bahkan kini wajahnya menyiratkan kepenasaraan terhadap perkataanya, "pamamau tau?" tanya Radith yang dijawab anggukan oleh Leo.


"Paman Leo tau gadis dewasa disana, gadis yang tadi bicara dengan Mommy?" tanya Radith, tangannya terulur menunjukan posisi Vivi yang masih setia berdiri disana tapi tidak terpusat lagi kearah mereka.


Bukan hanya Leo yang melihat, Nara dan Rajehs itu melihat mengikuti perunjuka yang diberikan Radirh pada mereka, "Vivi" gumam Nara.


"Kamu kenal sayang?" tanya Rajehs, walaupun tapi matanya melihat istrinya berbincang sejenak dengan perempuan yang dimaksud Radith tapi pikiran Rajehs mungkin hanya sekedar berbincang saja.

__ADS_1


"Kenal, sejak aku pertama kali masuk bekerja disini" jawab Nara.


"Ohhh...." Rajesh hanya beroh ria sedangkan Leo masih memusatkan matanya pada gads yang dimaksud oleh Radith, gadis yang saat ini sedang sibuk dengan anak anak kecil, mengatur dan menemani kesana kemari mengikuti kemana saja anak anak berlarian, bahkan sesekali Leo bisa mendengar suara gadis yang dimaksud Radiht.


Sejenak Leo merasa tertarik untuk terus terpusat pada gadis itu, seolah ada magnet yang menariknya untuk tetap menatap satu titik saya yaitu gadis cantik yang sedang menyibukkan diri itu hingga akhirnya fokusnya terpecahkan karena suara dari anak kecil yang membuat moodnya tiba tiba hilang.


"Hei paman Leo tau tidak mana yang kumaksud?" tanya Radith membuat Leo tersentak dan terpaksa mengalihkan perhatiannya.


"Iya saya tau, lalu ada apa?" tanya Leo dengan menormalkan kembali Ari mukanya menjadi datar tanpa ekspresi.


"Katanya dia menyukaimu paman Leo, benarkan Mom?" Rajehs meminta pendapat ibunya pada akhir kalimatnya.


"Ckck...jual mahal sekali paman ini, tadi saja sampai tak berkedip" ejek Radith.


"Sudah bisa kita pergi Tuan Muda?" tanya Leo pada Rajehs, Leo merasa malas meladeni anak majikannya, karena dia yakin pasti ujungnya dirinya hanya akan jadi bahan lelucon untuk Radith.


"Hei... aku belum selesai bicara, bagaimana bisa kau bertanya pada Daddy seperti itu" sentak Radith. anak kecil itu tidak suka dengan sikap Leo dan kini sikap arogantnya kini kembali, "Daddy, berani sekali tangan kanan Daddy seperti itu" rengek Radith dengan kedipan matanya.


"Dia menyukaimu tapi sayang itu akan menjadi petaka untukmu paman" lanjt Radith.


"Petakana seperti apa itu Nak, jangan asal bicara kamu?" tegus Nara.


"Apa Mommy tidak tau yang berpasangan dengan Ms.Vivi itu adalah petaka?" tanya Radith yang dijawab gelengan kepala oleh Nara.


"Petakanya adalah, jika paman Leo menikah dengan Ms Vivi maka siap siap saja telinga Paman Leo setiap hari mendengar suara yang melengking dari Ms.Nara, dan lagi sikapnya sangat kampungan hahaha...." Radith tetawa renyah setelah mengatakan hal itu sementara Nara dan Leo hanya bisa melongo.


"Oh ya, terlihat sih memang kalau gadis itu kampungan, dan cocok dengan Leo yang dingin" timpal Rajehs.


"Iya Dad, sangat cocok petaka tambah petakan akan jadi kesialan hahahaha...." Radith kembali menimpali, "lihatlah, wajah paman Leo sangat dingin hahaha...."

__ADS_1


"Radith...." Nara memanggil nama putranua dengan penuh penekanan membuar sipemilik nama itu diam tak berkutik sedangkan Leo bersorak dalam hati karena merasa ada pahlawan yang menjadi pawang dari pria pria yang bermulut pedas itu.


"Mas....."kali ini Nara kembali menekan katanya saat Rajehs masih tak berhenti untuk tertawa membuat pria tampan itu seketika juga terbungkam, dan Leo semakin bersorak riang dalam hatinya, merasa kemenangan ada padanya.


"Orang teraniayaya memang akan selalu menang, walau pembalasan bukan langsung berasal dari orang itu sendiri" batin Leo dengan tawa puasnya melihat anak dan ayah itu diam tak berkutik.


"Jangan tersenyum Leo" sentak Radith dan Rajehs dengan kompaknya, mata keduanya mendelik tajam menatap Leo membuat pria tampan yang berstatus sebagai asisten itu hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar.


"Maafkan saya Tuan Muda" ucap Leo.


"Sudah, ayo berangkat... makan siang hampir selesai" titah Nara.


Dan seketika mobil yang dikendarai oleh mereka melaju dengan kecepatan sedang, membawa para anak manusia di restoran yang sudah disiapkan Leo dan memang itu sudah menjadi restoran favorit keluarga itu terutama Radith, si anak yang terlihat manis dari luar tapi kenyataan memiliki mulut tajam, itulah pandangan beberapa orang yang mengenalnya sedikit lebih dekat.


Sampai di restoran, serempak mereka semua berjalan mendekat, tapi entah sebuah kebetulan atau memang ibu kota yang sangat sempit hingga mereka kambali dipertemukan dengan pria yang belum lama ini mereka temui.


Ya mereka kembali bertemu dengan Reyhan, entah itu sebuah kesengajaan atau memang takdir yang sudah menentukan mereka untuk terus bertemu dan bertemu hingga kini untuk kesekian kalinya sekembalinya Reyhan dari Paris mereka terus bertemu.


Tatapan mereka bersiborok, baik Rajehs, Nara dan Reyhan saling memandang, tapi lebih tepatnya tatapan mata Reyhan jatuh tertuju pada wanita yang sangat dia cintai, wanita yang semakin hari semakin memancarkan aura kecantikan yang luar biasa, wanita yang sudah berulang kali Reyhan temui dan sorot matanya tetap tidak ada kesedihan disana, hanya sorot matanya bahagia.


Entah Reyhan yang tidak bisa menelisik lebih jauh atau memang Nara yang pandai menyembunyikan perasaanya karena kenyataanya bahkan Rajehs sang suami tidak tau jika dibalik kebahagiaan yang selama ini terpancar terpercik kesedihan disana dan alasannya tidak pernah jauh dari dia yang menginginkan seorang anak.


"Nara" batin Reyhan.


"Reyhan" batin Reyhan dan Nara.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2