STORY OF NARA

STORY OF NARA
pindah


__ADS_3

Rajesh turun bersama Nara istirnya dengan jemari ya g saling bertautan, keduanya berseri bahagia terutama Rajehs yang baru saja mendapatkan suntikan vitamin penambah tenaga dair istrinya, walau tenaga secara fisik terkuras dan bikin terengah tapi semangat secara batin sangat terpuaskan terbukti dari kini wajahnya yang terlihat sangat fres karena selesai membersihakn diri setelah pergulatan mencari vitamin.


"Kenapa kalian lama sekali, aku sudah lelah menunggu" keluh Rajehs.


"Maaf sayang, Mommy sedang berkemas" jawab Nara tentu saja berbohong karena tidak mungkin mengatakan pada putranya kegiatan yang baru saja terjadi.


"Pasti semua ulah Daddykan Mom?" tebak Radith dengan tatapan sinisnya kearah Rajesh.


"Hei kenapa jadi salah Daddy? memangnya apa yang Daddy lakukan?" bantah Rajesh yang tidak terima jika dipersalahkan dalam hal ini walau sebenarnya memang dirinyalah yang meminta enak enak dengan Nara dan akhirnya terbuai.


"Jangan mengelak Dad, aku tau Daddy itu licik dan aki sudah hafal itu" jelas Radith yang terlihat santai memojokan ayahnya.


Sementara Leo semakin menuntukan wajahnya berusaha untuk menutup mulutnya agar tidak meledakan tawanya melihat tuan mudanya yang selalu tidak bisa berdebat dengan anak kecil bahkan sering sekali mati kutu.


"Rasakan Tuan Muda, terimalah kepedasan bicara anakmu sendiri dan aku akan merasa terpuaskan dan rasanya penderitaanku akan terbayarkan jika melihatmu mati kutu dihadapan anak kecil, ayo Tuan kecil teruslah tunjukan ucapan pedasmu hahaha" Leo terus berkata dalam hati menertawakan masih tuan mudanya, dia merasa puas melihat wajah pias Rajehs dan lagi sang majikan yang sok berkuasa itu kini tidak mampu mendebat anak kecil.


"Jangan sembarang boy, kau jangan menghancurkan martabat ku" tekan Rajesh berusaha untuk mengintimidasi putranya, tentu saja Rajehs malu diperlakukan seperti itu oleh putranya dihadapan Leo, orang yang hampir setiap hari menerima nasib semena mena Rajesh.


Tapi bukan Radith namanya jika dia merasa terintimidasi oleh ayahnya, dia tidak merasa takut apalagi gentar karena apa? karena Radith memiliki senjanta ampuh yang bisa membuat ayahnya tidah berdaya, dan siapa lagi jika bukan Nara sebagai pawang yang sangat berpengaruh.


"Jangan mengintimidasiku Dad, kau tau bukan? jika itu tidak akan berpengaruh padaku" ucap Radith dengan santai.


"Jangan menguji kesaran Daddy Son, atau Daddy akan membatasi bulananmu" gertak Rajehs.


"Momm...." panggil Radith dengan wajah imutnya membuat Nara yang memiliki naluri keibuan yang ingin terus menjadj pahlawan untuk anaknya lanssung siaga pasang badan untuk membela putranya walau yang menjadi lawannya adalah suaminya sendiri.


"Jangan menyiksa putraku Mas....!" kata Nara memperingati suaminya dengan nada yang penuh penekanan.


Rajesh tidak bisa bekutik lagi, melihat istrinya yang sudah memasang wajah garangnya langsung kikuk dan kini hanya menunjukan cengirannya, kebiasaan yang akan dilakukan untuk meluluhkan hati sang macam betina.


"Tidak sayang, Mas hanya bercanda masalah itu" ucap Rajesh dengan suara yang sangar lembut.


"Pfftttt" Leo tidak bisa menahan diri untuk tidak ngakak, dia sudah berusaha menahan tapi semakin kesini semakin Leo tidak bisa lagi menahannya melihat wajah majikannya yang seperti anak kucing yang menggemaskan.


Mendengar suara Leo yang menahan tawa, sontak saja ketiga anak manusia itu menoleh, memberikan tatapan mematikan pada Leo, "mampus aku...ketiganya sudah dalam mode macan" batin Leo, ia menelan ludahnya kepayahan karena tercekat di tenggorokannya.


"Apa yang kami tertawakan...!" ucap ketiganya dengan suara penuh penekanan dan garang.

__ADS_1


"Tuh benarkan...? modenya sudah macan" batin Leo lagi yang masih sempat sempatnya mengatai para majikannya.


" Ti...tidak ada Tuan, Nona, saya ha...hanya sedang tertawa mendapat pesan dari teman lama saya" alasan Leo yang kebetulan sedang memegang ponselnya.


"Sungguh...?" Rajesh mengangkat alisnya sebelah, merasa tidak percaya dengan jawaban Leo karena setahunya Leo sudah tidak pernah lagi berhubungan dengan teman teman lamanya.


"Sungguh Tuan Muda..." jawab Leo gugup.


"Baiklah, tapi kamu tau bukan apa yang akan terjadi jika kamu bernai berbohong padaku?" tanya Rajehs membuat Leo langsung mengangguk.


"Saya tau Tuan Muda dan saya tidak berbohong" ucap Leo meyakinkan tuan mudanya.


"Kalian sudah mau berangkat?" Heri tiba tiba nongol dari kamar menuju ruang tengah, membuat keempat anak manusia itu menoleh keasal suara.


"Iya Pa, tapi kami sedang menunggu kalian" jawab Rajehs beralasan.


"Dasar kamu Mas, berani sekali berbohong pada Papa" batin Nara yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Daddy pandai sekali berbohong, huh dasar tukang bohong" her Radith.


"Ohhh kalian tunggulah, Mama sedang bersiap karena kami juga akan ikut mengantar dan kalau bisa kami akan menginap juga malam ini kesana" ucap Heru karena memang niatnya mereka akan ikut mengantar anak dan cucu mereka.


"Ohh, bagus biar rame dulu" ucap Rajesh


"Daddy benar sekali, untuk malam ini bair rame" timpal Radith.


Heru hanya tersenyum melihat akan dan cucunya yang terkadang kompak dan terkadang seperti musuh bebuyutan, "apa kamu melihat putramu Jessika? pasti kamu melihatnya bukan? Leo menjaganya dengan baik dan kini dia juga memiliki ibu yang sangat cantik dan menyayanginya dengan tulus layaknya anak yang keluar dari rahimnya sendiri"batin Heru dengan mata berkaca kaca.


Rajehs yang melihat ayahnya seperti itu, langsung berdehem untuk menyadarkan ayahnya agar tidak membuat kecurigaan dan menimbulkan banyak pertanyaan apalagi ada Radith bersama mereka, "ehemmm"


Heru langsung tersadar dari lamunannya, sesegera mungkin dia menghapus sudut matnaua yang basah, dia terlami terbawa suasana hingga melupakan keberadaan bocah tampan itu.


Tapi Nara yang sempat melihat ayah mertuanya menangis membuat dia bertanya tanya dalam hati, dan mungkin hal ini dia akan tanyakan pada suaminya nanti.


"Itu Mama sudah datang" seru Rajehs.


"Maaf ya Mama terlambat, Mama bawa baju salin soalnya mau menginap" ucap Clara dan membawa koper kecilnya.

__ADS_1


Semua melongo melihat Clara membawa koper, entah berapa lama wanita paru baya itu akan menginap sehingga membawa koper segala.


"Memangnya Mama mau menginap berapa hari?" tanya Heru yang tak kalah kegatnya melihat istrinya yang membawa koper.


"Satu atau dua hari saja" jawab Clara santai.


"Tapi kenapa harus bawa koper?" tanya Heru.


"Ya...untuk persediaan loh Pa, biar nanti besok atau Minggu depan kalau mau nginap ya tidak perlu bawa baju salin lagi" jawab Clara memberi alasan yang menurut yang lainnya tidak masuk akal.


"Astaga Nenekk.... apa tidak bisa membeli yang baru? atau Kalau mau biar paman Leo pindahakna saja lemari Nenek satu dirumah baru kami" celutu Radith yang hanya bicara asal tapi diranggapi serius oleh Clara.


"Eh bener juga ya? lebih baik lemari Nenek satu dipindahin saja" gumam Clara mengiayakan usulan konyol cucunya.


"Jangan konyol Ma, disana sudah ada lemari, jadi jangan menambah ruangan jadi sempit" ketus Rajehs.


"Dasar kamu ya...! tidak bisa melihat Mamanya sedang sedikir saja" geram Clara dan tangannya langsung bergerak memukul lengan Rajesh dengan tasnya.


"Aduh sakit Mah...aku bukan anak kecil lagi, aku sudah punya istri jadi jangan seperti ini" ucap Rajesh menghalau serangan mamanya.


"Biarkan saja, sukurin kamu ha.. ini... ini... rasakan pukulan Mama" onel Clara dan terus memukul Radith sengan gemas.


"Sudah Ma hentikan" lerai Heru dengan lembut tapi penuh penekanan.


Clara berhenti mendengar teguran suaminya, padahal dia sudah berjanji tidak akan bertingkah konyol lagi pada Heru, tapi ras gemasnya pada Rajesh membuatnya lupa akan janji.


"Hehe...maaf Pa" ucap Clara dengan cengirannya.


"Sudah, kita berangkat saja" titah Heru.


Dan seketika semuanya melangkah keluar meninggalkan Mension utama setelah Clara memberitahu pada para Maid jika mereka tidak perlu memasak karana para pemilik rumah tidak akan kembali.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2