STORY OF NARA

STORY OF NARA
Part 39


__ADS_3

Nara sudah selasai, keluar dan mengahampiri Rajesh yang sudah duduk santai di meja makan dengan memainkan ponselanya mengusir rasa jenuh menunggu Nara yang terlalu lama menunggu.


"Kau sudah selesai?" tanya Rajesh sembari menaruh hp nya di atas meja.


"Kalau belum tidak mungkin berada disini" jawab Nara cuek.


"Yasudah ayo kita makan" ajaknya


Nara mengambil makananya mengisi piringanya dengan beberapa jenis makanan yang tersaji disana, dia ingin mencoba apakah masakan pria yang sudah lancang masuk dalam apartemenrnya ini pandai memasak atau tidak, atau jangan jangan keasinan atau sebaliknya malah hambar.


"Kau tidak makan?" tanya Nara yang melihat Rajesh tidak melalukan apa apa.


Rajesh hanya duduk diam tidak mengambil makanan ataupun memintanya, dia akan menunggu kesadaran Nara melayani dirinya, walau sebenarnya tidak pantas tapi dia mau Nara belajar dari sekarang.


Tidak ada jawaban dari pertanyaan Nara, pria tampan itu masih saja menatap Nara dengan intens seolah menyampaikan pada Nara untuk melayani dirinya lewat sorot mata itu.


Hanya saja entah Nara tidak tau atau pura pura tidak tau, dia tidak merespon dari makna tatapan itu, dia masih saja menunggu Rajesh membuka suara untuk mengatakan keinginan hatinya.


"Hei katakanlah kenapa kau tidak makan? apa makanannya tidak enak sehingga kau enggan untuk memakannya?" tebak Nara.


Rajesh mendengus sebal mendapati pertanyaan yang menurutnya sangat konyol, apakah gadis itu pikir dirinya tidak memasak hingga di beri tebakan seperti itu untuk dirinya, benar benar menyebalkan bagi Rajesh.


"Bisakah kau melayaniku? kau isi piringku agar kita bisa makan berasama"


"Loh kenapa harus aku? kau bisa kan mengisi sendiri?" tanya Nara.


Rajesh kembali mendengus sebal mendengar perkataan Nara yang sama sekali tidak peka, benar benar merusak mood saja pikirnya.


"Kau merusak mood ku saja!" ketus Rajesh.


"Loh kenapa?" tanya Nara bingung.


"Bisakah kau belajar untuk melayaniku? nanti bagaimana jika kita menikah? apa kau tidak mau melayani suamimu"


"Ha...kenapa kau terus membahas menikah denganku?"


"Karena kita memang akan menikah" jawab Rajesh singkat.


"Hei siapa yang mau menikah dengamu?" sentak Nara.


"Kau akan mau setelah waktunya tiba"


"Ckck...terserah kau saja, tapi aku harap kau tidak kecewa nantinya jika tidak sesuai dengan harapanmu" ejek Nara.


"Apapun keinginanku akan terpenuhi termasuk untuk menikahimu" jawab Rajesh penuh ketegasan.


"Ckck jangan bermimpi"


"Sudahlah isikan piringku" pinta Rajesh.


Dengan kesal Nara akhirnya menuruti Rajesh, melayani sesuai dengan permintaan pria tampan itu untuk belajar melayani suami dengan baik untuk bekal kelak jika mereka menikah walau sebenarnya Nara sama sekali tidak kepikiran apa lagi berharap menikah dengan Rajesh, tapi ini hanya agar tidak ada drama lagi.


"Terimakasih honey" ucap Rajesh dengan senyum manisnya.


Nara hanya merotasikan bola matanya tanpa berniat untuk menjawab Rajesh, dengan segera mereka berdua melahap makanan yanh ternayata enak juga di indra perasa Nara, hingga tanpa terasa semua makanan yang berada dalam piringnya tandas dalam sekejap mata saja.


Rajesh tersenyum melihat masakannya habis di lahap oleh Nara, itu artinya makanan yanh dia buat pas di lidah Nara. Rajesh merasa tidak sia sia selama ini belajar memasak saat dulu berada di luar Negeri.


"Apa enak?" tanya Rajesh berniat menggoda Nara.


"Em...lumayan" bohong Nara, padahal kenyaraan memanglah enak masakan yang di masaka pria tampan pemilik perusahaan ternama itu.


"Berarti tidak enak ya?" gumam Rajesh.


Rajesh berniat untuk menggoda Nara, dia ingin Nara mengakui benar jika masakannya memang enak dan lezat sehingga berkata demikian.


"Eh siapa bilang tidak enak?" tanya Nara denhan cepat.


"Tentu saja kamu, memangnya ada orang lain selain kita berdua!" sebal Rajesh.


"Loh kan aku bilangnya lumayan"


"Kalau hanya lumayan berarti piringnya tidak akan kosong" sindir Rajesh.

__ADS_1


Pipi Nara merona menahan malu, benar jika hanya lumayan maka makanan di piringnya tidam akan tandas tapi kenyataanya kini adalah semua isi dalam piringnya habis tak bersisa.


"Ish itu terpaksa" bohongnya.


"Loh kenapa?"


"Mubazir kalau di buang" alasan Nara.


"Padahal kan tidak di paksa loh kalau memang gk habis, bisa di berikan untuk hewan dijalanan, toh tidak terbuang percuma karena ada yang kenyang dengan makanan itu walau hanya hewan saja" tutur Rajesh.


"Loh kenapa sih harus di bahas masalah makanan ini, lagian pentingkan udah habis!" ketus Nara.


"Lalu apa susahnya tinggal jawab enak?"


"Ckck iya iya ini enak makanya habis"


Pada akhirnya Nara mengakuinya karena Rajesh terus berkata seolah memojokan dirinya sedangakn Rajesh sendiri terseyum penuh kemenangan melihat Nara yang mulai bisa untu di taklukan. Rajesh yakin jika sebentar lagi maka Nara akan menjadi miliknya.


"Terimakasih atas pujiannya" ucap Rajesh sedangkan Nara hanya memutar bola matanya malas.


"Biar kubersihkan" ucap Nara dan langsung mengambil alih pekerjaan untuk membersihkan piring bekas mereka makan.


Rajesh tidak mau tinggal diam, dia juga membantu membereskan piring dan membawanya ke westafel untuk di cuci, "biar aku saja yang bersihkan, kau duduk saja disana" ucap Nara saat menyadari Rajesh ikut membantunya.


"Tidak masalah, aku ingin melakukan hal menyenangkan bersama calon istriku, karena nanti jika sudah menikah pasti kegiatannya akan berbeda" goda Rajesh.


Seketika wajah Nara memanas mendengar jawaban Rajesh, dia bukanlah gadis yang sangat polos, dia gadis dewasa yang sudah paham akan apa kegiatan dari pasangan yang sudah menikah walau belum pernah melakukannya tapi tetap saja Nara bisa menebaknya.


"Kenapa wajahmu merah? apa kau sedang memikirkan kegiatan pasangan suami istri" goda Rajesh.


Nara gelagapan saat ketahuan dan hal itu semakin membuat Rajesh gemas dan berniat untuk semakin menggoda gadisnya, "hei kau benar memikirkannya? jika ya maka jangan dulu, nanti saj langsung kita lakukan setelah menikah" ucap Rajesh yang semakin gencar menggoda Nara.


"Ish kau apaan sih!" sentak Nara.


Bukannya takut Rajesh malah terbahak melihat tingkah Nara, sungguh hanya umur saja yang dikatakan dewasa tapi sikapnya masih seperti remaja labil, benar benar menggaskan di penglihatan Rajesh.


"Kau tua kau semakin terlihat cantik" goda Rajesh lagi.


"Loh apa yang mau aku hentikan? sementara mulai saja belum" jawab Rajesh seolah mengarah pada hal mesum.


"Hei kau jangan bicara mesum!" teriak Nara.


"Loh dimananya aku bicara mesum, aku hanya bertanya apa yang mau ku hentikan sementar belum mulai apa apa?"


"Ckck kau sangat menyebalkan!"


"Hei aku mau membantumu membersihkan piring dan kau menyuruhku untuk berhenti sedangkan aku belum memulai untuk mencucinya lalu kau sekarang mengatakan jika aku menyebalkan?"


Mndengar penjelasan Rajesh, Nara merasa malu sendiri karena berpikir yang tidak tidak walau sebenarnya juga memang Rajesh sengaja membuat perkataanya absurt agar Nara berpikir kearah sana supaya Rajesh memiliki bahan menggoda gadisnya.


"Jangan jangan kau yang berpikir mesum tapi malah menuduhku?" tebak Rajesh bertinglah seolah menebak dan menuduh Nara.


"Hei itu tidak benar!" bantah Nara.


"Lalu kenapa kau bisa mengatakan aku mesum?" goda Rajesh.


"Ish tidak tau, sudahlah kau pergi saja dari apartementku!" ketus Nara lalu meninggalakn Rajesh setelah piringnya selesai di bersihkan.


"Hei kenapa kau merajuk hemm?" tanya Rajesh dengan lembut.


"Tidak ada, lalu kenapa kau tidak pergi? ini sudah malam?" tanya Nara.


"Tunggulah sebentar lagi"


"Memangnya kamu mau apa lagi?"


"Mau mengobrol dengan calon istriku" jawab Rajesh dengan nada genitnya.


"Ini sudah malam, tidak baik berduaan"


"Tidak akan ada yang melarang dan masalah itu akau akan duduk menjauh darimu asalkan kita bisa mengobrol" jawab Rajesh.


"Kenapa kau maksa sekali"

__ADS_1


"Ini untuk obat agar aku bisa tidur nyenyak malam ini" jawab Rajes memberi alasan.


"Loh apa hubungannya?" tanya Nara tidak mengerti.


"Karena setelah melihat wajah manismu tidurku bisa nyaman" jawab Rajesh.


Nara melongos mendengar jawaban Rajesh, dia tidak habis pikir bagaimana bisa seorang yang terkenal dingin, bermulut pedas dan tidak pernah tersentuh kini mau dekat dengannya bahkan tak segan mengeluarkan rayuan manisnya.


"Ckck apa benar berira tentang dirimu yang dingin, tak tersentuh dan bermulut pedas?" tanya Nara.


"Menurutmua?" tanya balik Rajesh.


"Menurutku semua artikel yang memuat beritamu itu hanya kebohongan" jawab Nara santai.


"Kenapa?"


"Karena nyatanya kini kau hobi sekali dekat denganku, mulutmu mampu mengatakan kata manis" jawab Nara.


Bukannya meladeni perkataan Nara, Rajseh malah bertanya dengan binar mata bahagia pada Nara, "benarkah aku sudah berkata manis?"


Nara kembali melongos mendengar pertanyaan Rajesh, dia berpikir mungkin Rajesh akan menyangkal atau malah akan tersinggu tapi ternyata di luar ekspetasi Nara, Rajesh justru memasikan kebenaran ucapannya dan lagi wajahnya berbinar seolah mendapat lotre padahal hanya sebuah perkataan yang merupakan keraguan dan bukan pujian.


"Astaga ada apa dengan pria ini? kenapa malah berbinar dan bertanya kebenaran ucapanku? benar benar sangat jauh berbeda dengan pemberitaan selama ini" batin Nara.


"Nana jawab" desak Rajesh.


"Ha...sejaka kapan namaku ganti?"


"Sejak malam ini kau akan ku panggil Nana, karena itu adalah nama panggilan sayangku untukmu" jawab Rajesh dengan senyum manisnya.


"Jangan sembarangan, aku tidak suka! kita tidak memiliki hubungan jadi jangan sok dekat denganku" tegas Nara.


"Maka mari buat hubungan" ajak Reyhan.


Bukannya senang, Nara malah mendengus sebal mendengar ajakan Rajesh, apa dia pikir mengajak berhubungan segampang itu apa? mana tidak ada romantis ya lagi, benar benar membuat Nara tidak habis pikir dengan sikap si pengusaha itu.


"Jangan membual Tuan Muda, lebih baik sekarang kau keluar" usir Nara.


"Loh jawab dulu, kenapa malah mengusirku" jawab Rajesh yang enggan untuk berdiri.


"Ini sudah malam Tuan Muda, tidak baik untuk kita dan lagi saya mau istrhat besok harus bekerja lagi" jawab Nara.


Nara berjalan menunu pintu, membuka dan mempersilahkan tamu tak di undangnya untuk pergi, dan mau tak mau akhirnya Rajesh menuruti perkataan Nara saat melihat jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam.


"Baiklah aku pergi dulu, besok kita bertemu lagi" ucap Rajesh.


"Saya bahkan berharap tidak Tuan"


"Jangan seperti itu karena percuma itu tidak akan terjadi" jawab Rajesh dengan penuh penekanan.


"Ya baiklah terserah anda Tuan Muda" pasrah Nara.


"Baiklah, saya kembali ya. selamat malam moga mimpi indah" ucap Rajesh dengan senyum manisnya.


"Selamat malam juga untukmu" jawab Nara dengan senyum manis pula.


Deg


"Oh Tuhan, jantungku berdegup lagi...dag dig dug aku rasakan hanya karena melihar senyummya" batin Rajesh seraya menyentuh dadanya.


"Hallo..hei Rajesh, kenapa masih disini" Ucap Nara membuat Rajesh tersentak dan tersadar dari lamunanyan.


"Oh eh tidak ada, yasudah aku pergi dan kau masuklah"


"Baiklah selamat malam" jawab Nara.


Rajesh pergi membawa jantungnya yang masih maratonan sedangkan Nara menutup pintu apartementnya dengan senyum yang terbit di sudut bibirnya, dia merasa mulai sedikit nyaman dengan pria yang selalu mengusiknya itu. Dengan langkah yang ringan Nara menuju kamarnya, membaringkan diri dan mulai menutup mata mengarungi malam menyongsong fajar untuk berkativitas kembi nanti.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2