STORY OF NARA

STORY OF NARA
pergi


__ADS_3

"Apa maksud anda?" tanya Mich yang semakin penasaran.


"Maaf, tapi biar ini jadi rahasia saya" jawab Reyhan, menolak untuk mengungkap alasannya.


Rajesh teratawa kecil mendengar Reyhan yang menolak untuk bercerita, tentu saja dia akan menolak pikir Rajesh, karena itu sama saja membongkar aibnya sendiri.


"Ah baiklah, padahal saya suka mendengar kisah cinta seseorang, apalagi seperti anda anda ini" gurau Mich.


"Baiklah, saya pamit lebih dulu Tuan Mich" pamit Reyhan.


"Ya silahkan"


Reyhan langsung melesat pergi meninggalkan gedung milik Rajehs, hatinya sudah tidak kuat lagi melihat keromatisan yang ditunjukan wanita yang diharapkannya bersama dengan pria lain.


"Kamu tau sendiri bukan? akan sulit mendapatkan dirinya kembali" ucap Felix.


Reyhan diam, tidak berniat untuk menimpali pernyataan dari Felix, pikirannya masih kalut dengan apa yang disaksikannya barusan.


Sementara masih didalam gedung, Rajesh yang ditemani sang istri menemani dan mengantarkan Mich hingga keparkiran, tentu saja Rajehs melakukan hal itu untuk menunjukan dirinua sebagai tuan rumah yang baik dan karena kebetulan bertepatan mereka yang akan menjemput Radith.


"Baiklah Tuan Fernandese, saya pamit undur diri" ucap Mich setelah mereka semua sampai diparkiran.


"Silahkan Tuan, hati hati dalam perjalanan anda"


"Baiklah sampai jumpa dipertemuan berikutnya"


Rajesh hanya menganggukkan kepalanya, laku menyusul dia dan istrinya masuk kedalam mobil dengan Leo yang akan mengemudikan mobilnya.


"Gimana rapatnya Mas? bisa menangkan tender?" tanya Nara setelah mobil mulai bergerak berjalan membelah jalanan dan Nara berinisiatif untuk mencari topik pembicaraan.


"Berhasil, hanya saja Mas harus berkolaborasi dengan Reyhan" ucap Rajehs dengan suara yang kesal.


"Loh kenapa?" Nara juga ikut kaget, dia tidak menyangka hasilnya adalah seperti ini, padahal dia berharap suami atau Reyhan yang menang dan bukan kolaborasi seperti ini.


"Tuan Mich menyukai desain interior propertinya, jadi dia meminta agar bagian itu Reyhan yang handle" jawab Rajehs dengan malas.

__ADS_1


"Mas tidak keberatan?" tanya Nara.


Rajehs melihat kearah Nara, " kenapa bertanya seperti itu?" tanya Rajehs dengan kening yang mengerut.


"Hanya sekedar bertanya, karena tidak akan ada khasil jika tidak ada kesepakatan bukan? makanya aku bertanya Mas tidak keberatan bekerja sama dengannya Karena hasilnya sudah seperti ini" jelas Nara.


"Keberata? tentu saja aku keberatan, sangat keberatan malahan tapi Mas tidak bisa berbuat apa apa, untuk mencapai hasil yang memuaskan, bukankah harus ada pengorbanan? dan pengorbanannya adalah Mas harus membuang rasa tidak suka itu untuk memperoleh tender ini" ungkap Rajesh tentang perasaannya saat ini.


"Untuk kali ini saja Mas, lain kali jika memang tidak nyaman yasudah jangan dipaksakan" ucap Nara.


Wanita cantik itu mengerti akan perasaan suaminya, karena sesungguhnya dirinya juga enggan untuk bertemu dengan Reyhan mengingat situasi seperti ini terutama situasi perasaan Reyhan yang masih menginginkannya.


"Iya sayang, hanya untuk kali ini saja"


Sampai di gedung sekolah, Nara langsung turun karena ternyata bertepatan dengan mereka yang sampai, bunyi bel sekolah Radith juga berbunyi menandakan waktu pulang sekolah telah tiba.


"Aku turun sebentar Mas" pamit Nara, tapi justru Rajehs ikut turun juga dan menyenderkan punggungnya di samping mobil yang juga diikuti oleh Leo.


"Nara....." sapa seseorang.


"Aku baik, bagaimana denganmu? apakah kau baik baik saja?" jawab Vivi dan juga kembali bertanya.


"Aku baik, hanya saja masih keadaan yang sama tidak ada yang menggembirakan" jawab Nara dengan wajah sendunya.


"Sudah, jangan bersedih seperti itu? oh ya setelahnya kamu mau kemana?" tanya Nara dan matanya menatap kearah gerbang sekolah tepat diaman para pria tampan berdiri dengan gaya coolnya disana.


"Jaga matamu Vi, satunya suami orang" tegur Nara membuat Vivi tersadar.


"Aku juga tau ada suamimu disnan, tapi kan mataku bukan menatapnya" ketus Vivi.


"Jadi siapa? Leo asisten suamiku? jangan suka padanya, dia adalah manusi es yang paling beku dam dingin" bisik Nara membuat Vivi kesal setengah mati.


"Halah kamu kayak tidak tau saja, suamimu kurasa jauh lebih dari itu dulu, selain dingin mulutnya juga sangat tajam dan arogant" sergah Vivi membuat Nara melototkan matanya.


"Jangan asal menuduh suamiku" sentak Nara tapi volume suaranya masih minim.

__ADS_1


"Memang kenyataan seperti itu? kamu mungkin tidak merasa karena dia sudah sangat hangat sejak awal padamu, pada orang lain beh... jangan tanyakan lagi sikap suamimu itu, dia paling arogan dan pedas ucapannya" ucap Vivi yang masih keukeh dengan pendapatnya.


Vivi hanya bisa menarik napasnya mendengar perkataan Vivi, memang benar hal itu dan itu juga bukan hanya luar dari mulut satu dua orang, tapi hampir setiap Nara bertemu dengan orang yang mengenalnya pasti akan mengatakan hal serupa.


"Sudahlah, bicara denganmu hanya membuat moodku jelek sana, membicarakan suamiku dihadapan ku sendiri" ketus Nara dan mengfokuskan pandanganya pada Radith ya h baru saja keluar dari ruang kelas.


"Ehh kenapa harus marah? itu adalah fakta" Vivi masih terus mengatakan argumentnya membuat Nara semakin kesal saja tapi tidak bisa berbuat apa apa, mengingat Vivi adalah sahabatnya


"Mommy...." seru Radith.


"Hai Boy, bagaimana pelajaranmu?" tanya Nara basa basi, karena sebenarnya dia bisa menanyakan hal itu di rumah tapi dia melakukan hal itu untuk menyambut sapaan Radith.


"Baik, tapi aku akan membutuhkan bantuan Momny dengan tugasku" ucap Radith.


"Baiklah, nanti kita kerjakan sama sama di rumah" ucap Nara yang di jawab anggukan oleh Radith.


"Apa yang sedang kau perhatian Ms.Vivi?" tanya Radith saat salah satu gurunya dimasa TK sedang memperhatikan kearah ayahnya dan asisten ayahnya.


"Memperhatikan ciptaan Tuhan yang sangat sempurna" jawab Vivi tapi matanya masih disana memperhatikan Leo tepatnya.


"Yang mana yang diperhatikan?" tanya Radith dengan senyum jahilnya.


"Tentu saja yang masih lajang, mana mungkin aku menyukai yang sudah menikah" jawab Vivi tanpa menyadari jika ya saat ini mengajaknya bicara adalah Radith.


"Paman Leo? wahhh ada yang menyukai paman. Leo ternayata" heboh Radith.


"Memangnya kanapa?" tanya Vivi dan Nara bersamaan.


"Dua itu pria dingin, dan aku tidak yakin jika Ms.Vivi bisa menaklukan hatinya" ucap Radith.


"Masa sih?" Vivi semakin penasaran, dan Vivi merasa dengan Radith akan mendapat sedikit pencerahan untuk mengambil hati Leo.


"Tentu saja, karena dia sudah bekerja dengan orang seperti pala jadi bisa dikatakan sudah terkontaminasi, dan siap siap juga menerima ucaan pedasnya" jelas Radith.


"Ya dan itu seperti dirimu" batin Vivi menimpali perkataan Radith.

__ADS_1


__ADS_2