STORY OF NARA

STORY OF NARA
Part 15


__ADS_3

"Ms.Nara...! seru Clara.


"Oh nyonya sudah datang rupanya" ucap Nara dengan lembut.


"Maaf Ms.Nara saya terlambat menjempur Radith lagi" ucapnya merasa tidak enak.


"Tidak masalah, lagi pula bukan hanya Radith saja yang masih tertinggal masig banyak yang lain nyonya"


"Aishh Ms.Nara jangan memangnggilku nyonya, panggil saja tante atau kalau mau juga panggil mama saja" goda Clara dengan kekehannya.


Nara hanya tersenyum mendengar candaan Clara, dia tidak tau harus menanggapi seperti apa, "baiklah aku panggil tante saja ya" jawab Nara dengan lembut.


"Yahh...padahal saya pengennya di panghil mama loh, tapi yasudahlah tante juga tidak masalah" ucap Clara yang masih ingin menggoda Nara.


"Nenek...! jangan memintanya memanggil seperti itu, hanya daddy yang boleh memanggil nenek seperti itu" ucap Radith yang merasa tidak suka.


Clara dan Nara serentak menoleh ke bawah melihat Radith yang sudah memasang wajah kesalnya, seketikan ide jail muncul di otak Nara.


"Radith, bagaimana jika kita membuat kesepakatan" usul Nara.


Radith tidak merespon, dia hanya diam enggan atau lebih tepatnya malas untuk merespon saran Nara karena baginya itu tidak penting dan tidak perlu untuk di tanggapi.


Sementara Clara dan Nara masihmenunggu jawaban dari Radith, merasa tidak ada respon membuta Clara hanya menghela napasnya dengan kasar tapi berbeda dengan Nara yang tidak menyerah begitu saja.


"Baiklah karena tidak ada respon maka Ms.Nara akan memanggil nenekmu sebagai mama, kebetulan sekali Ms.Nara mamanya sangat jauh jadi yah.....tidak masalah jika nenekmu jadi mama ku" ucap Nara yang langsung mendapatkan pelototan tajam dari Radith.


"Jangan memanggil yang tidak pantas kau panggil!" sentak Radith.


"Radith..!" sentak Clara, "nenek tidak pernah mengajarimu seperti itu, atau apa daddymu mangajarkanmu seperti itu!"


"Tidak apa tante, ini urusan guru dan muridnya, dan tante lihat saja nanti" tegur Nara dengan lembut di sertai kedipan membuat Clara langsung terdiam.


"Baiklah, tidak akan memanggil mama tapi dengan syarat mulai sekarang Radith harus menurut dengan semua perkataan Ms.Nara"


Radith kembali menlotot tajam mendengar syrat dari Nara, Radith benar benar marah saat ini pada wanita dewasa yancg cantik itu sesuka hati memberi syarat pada Radith.


"Di larang menlolah boy jika kau tidak mau aku merebut nenekmu mama dari daddymu itu" tegas Nara.


"Terserah kau saja!" ketus Radith.


"Ok berarti deal, mulai sekarang tidak boleh tidak mendengarku dan inga seorang pria sejati tidak baik jika incar janji" ucao Nara.


Radith hanya mendengus sebal mendengar gurunya harus bicara masalah kesejatian dirinya, dan sepertinya mau tidak mau dirinya harus mengikuti semua perkataan wanita dewasa itu mulai sekarang.

__ADS_1


"Baiklah boy silahkan kembali, dan ingat jangan lupakan janji kita" goda Nara.


Radith hanya memutar bola matanya malas mendengat gurunya kembali mengingatkannya seperti itu, walau sebenarnya dia malas sekali jika harus berurusan dengan Nara tapi ya...mau bagaimana lagi sudah terlanjur karena pilihan yang menjebak dirinya.


"Ms.Nara, maaf ya kalau Radith tidak sopan" ucap Clara yang merasa tidaj enak hati.


"Tidak masalah, percayalah sebentar lagi dia tidak seperti ini lagi" ucap Nara dengan lembut


"Baiklah Ms, oh ya minta nomornya boleh kan? takut takut nanti ada keperluan soal Radith" ucap Clara.


"Baiklah, silahkan saja"


Selesai bertukar nomor, kini nenek dan cucu itu segera berpamitan barulah Nara menaiki taxi yang sudah di pesan, tadinya Clara menawarjan untuk mengantar Nara, tapi gadis cantik itu menolak karena tidak ingin di repotkan.


Nara sudah sampai di apartemennya, termyata sudah ada Ibu dan Ayahnya besertka kakanya yang menunggu di dalam, ibu sedang memasak sedangkan Ayah dan kakaknya berada di ruang tengah sedang berbincang bincang.


"Ayah...Kakak...!" seru Nara.


"Nara sayang...!" jawab mereja serempak.


Nara berlari dan berhambur di pelukan ayahnya, sudah lama sekali rasanya mereka tidak bertemu hampir dua bulan karena Nara jarang pupang ke rumah dan orang tua serta kakanya yanh sering keluar kota bahkan keluar negeri untuk bisni.


"Kakak..."


"Kakak baik baik saja, bagimana dengan adik kakak yang cantik ini?"


"Aku baik kak, sangat baik" jawabnya dengan wajah yang berseri.


"Hmmm anak ibu datang dan hanya memeluk para lelaki saja, sementara ibu di lupakan" sela ibu yanh baru saja datang daru dapur.


"Ibu...." seru Nara yang baru tau ternyata ibunya pun ikut datang.


"Apa kabar ibu?"


"Ibu baik, sangat baik. lalu bagaimana kabar anak gadis ibu ini?" tanya Ibu dengan tangan yang mengelus lembut rambut Nara.


"Aku sangat baik bu, padahal tadi Nara pikir ibu tidak ikut datang" jawab Nara yang masih bergelayut manja dalam pelukan Ibunya.


"Tentu saja ibu akan datang untuk menemui Princess ibu yang sangat cantik ini"


Nara mengerucutkan bibirnya mendengar ibunya memanggi dirinya Princess, kebiasaan yang sepertinya tidak akan pernah berubah dari keluarganya " bu, jangan memanggilku Princess, aku bukan anak kecil" rajuk Nara.


"Hei, kau memang masih princes kami..!" timpal Anan Saker

__ADS_1


"Iya, ayah dan ibu benar, kau itu adalah princes kami" jawab Lionel


Nara semakin cemberut mendengar semua yang ada di sana malah semakin menggodanya, masih menganggap dirinya anak kecil sehingga kebiasaan memanggil Princess itu terbawa hingga kini.


"Sudah sudah, kita makan dulu" ucap Naina menghentikan keusialn dua pria hebat itu.


Mereka mengikuti perkataan Naina, masing masing mengambil tempat untuk menyantap makan siang yang sudah di hidangkan oleh Naina, dengan semangat Nara terus menyantap membuat ketiga orang dewasa itu hanya menggeleng pelan melihat tingkah Nara.


"Oh ya Nara sayang, kau bisa pulang ke rumah kan?" tanya Anan.


Nara mengerutkan keningnya, tidak langsung menjawab perkataan ayahnya, dia meragu untuk memenuhi keinginan ayahnya tapi sektika kepalanya mengangguk saat mendengar kelanjutan perkataan ayahnya.


"Rekan bisnis ayah meminta untuk kita bertamu nanti malam, dirumahnya dan rasanya sangat tidak lengkap jika putri cantik ayah tidak ikut"


"Biklah, tapi aku harap rekan bisnis ayah memiiki anak perempuan yang cantik" ucap Nra membuat mereka semua melihatnya.


"Untuk apa Nara sayang, apa kau mau melamarnya" seloroh Lionel.


Nara mendengus sebal mendapati pertanyaan kakaknya yang sama sekali tidak masuk akal" tentu saja aku akan melamarnya untuk me jadi istri dati Lioner Saker, kakakku yang tampan tapi kadang menyebalkan" jawab Nara membuat semuany tertawa kecuali Lionel yang merona mereah.


Bukan tanpa alasan pria itu malu, tapi memang tujuan mereka bertami di kediaman rekan bisnis ayahnya adalah untuk pertemuan Lionel dengan anak rekan ayah mereka untuk melakukan perjodohan"


"Wahh... Kakaku yang tampan, kenapa wajahmu memerah seperti tomat matang" goda Nara.


"Tidak ada!" jawab Lionel dengan datar.


"Ckck jangan bilang jika kita akan bertemu debgan calon istrimu" tebak Nara.


Lioenel merasa semakin malu karena adiknya kini secara blak blakan mengatakan apa yang ada di pikirannya yang sialnya itu semua benar.


"Benar kan yah, bu kalau kita akan kerumah calon istri kakakku yang tampan in" tanya Nara yang di tujukan pada ayah dan ibunya.


Mereka mengangguk sebagai jawaban membuat wajah Nara semakin berseri karena sebentar lagi akan memiliki kaka ipar, yang akan di jadikan sebagi temannya seperti keinginanya selama ini.


"Yeiyyy... akhirnya aku akan memiliki kaka ipar" ucap Nara dengan girang.


"Biklah, kita lanjutkan makannya dan ingat Nara harus pulang kerumah untuk kita bisa ke rumah calon mertua kakakmu" ucap Anan yang di angguki oleh semuanya.


"Baiklah."


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2