STORY OF NARA

STORY OF NARA
berharap hamil


__ADS_3

Selesai dengan pergulatan panas suami istri itu, mereka berdua berpelukan dalam selimut hangat, belum ada yang tidur diantara keduanya walau sudah merasa lelah tapi mata dari keduanya belum ingin terpejam karena masih sibuk dengan kegiatan meraup oksigen untuk menetralkan pernapasan keduanya.


"Sayang ...." panggil Rajehs dengan lembut setelah nafasnya mulai teratur.


"Hemmm..." jawab Nara, wajahnya tenggelam di dada hidang Rajehs, menghirup aroma tubuh suaminya yang mampu membuatnya tenang.


"Dalam bulan ini mungkin Mas akan keluar Negeri" ucap Rajesh.


Nara mendongakkan wajahnya menatap sang suami seolah bertanya ada apa, untuk apa dan Rajehs yang mengerti akan sorot mata itu langsung kembali melantunkan suaranya.


"Kemungkinan bulan ini cabang perusahaan kita akn siap untuk dibuka dan itu diluar Negeri" jelas Rajesh.


Nara menerbitkan senyumnya, walau sebenarnya dia tidak suka ditinggal tapi wanita cantik itu tidak bisa egois karena bagaimanapun pekerjaan suaminya juga penting, "pergilah Mas, aku tau semua tergantung pada kedatanganmu" ucap Nara.


Rajehs tersenyum lembut mendengar jawaban istrinya, inilah yang sangat disyukuri dari Nara, wanitanya sangat mengerti dirinya dan tidak banyak menuntut padanya bahkan terkadang Nara akan mengomel jika Rajehs mengabaikan pekerjaanya, mungkin karena dasarnya Nara wanita yang mandiri.


"Terimakasih sayang atas pengertiannya" ucap Rajesh lalu mencium kening Nara dengan lembut dan mesra sebagai kecupan pengantar tidur untuk istrinya.


"Tidurlah sayang, kamu harus bekerja lagi besok" ucap Rajesh.


Nara memenjamkan matanya, meneggelamkam wajahnya didada bidang suaminya sedangkan Rajehs memeluk Nara semakin erat dan ikut memejamkan matanya untuk menyelami alam mimpinya dengan membawa harapan untuk aktifitas yang baru saja mereka lakukan cepat memberikan hasil yang baik dan memberi kabar bahagia urnu keluarga kecil mereka.


"Semoga kita bisa diberi kepercayaan secepatnya oleh Tuhan sayang" batin Rajehs lalu menutup matanya.


Keesokan harinya, Nara kembali beraktifitas seperti biasanya mempersiapkan sarapan pagi untuk semuanya termasuk mertunya yang masih berada disana karena menginap tadi malam, setelah berkutat dengan dapur bersama ibu mertuanya kini Nara melakukan tugas selanjutnya, tugas yang menjadi rutinitas dirinya setiap hari yaitu menyiapkan pakaian suami dan keperluan putranya.


Tidak pernah sekalipun rasa malas menghinggapi diri Nara karena memang dia senang menyibukan dirinya dengan pekerjaan seperti ini dan dia sudah jelas sangat ikhlas melakukannya.


"Mas...bangun ini sudah pagi" ucap Nara.


Nara yang sudah peka dengan kebiasaan suaminya yang akan kesusahan bangun, akhirnya memilih untuk menyingkap gorden agar sinar matahari pagi bisa masuk dan menyinari wajah suaminya, dan benar saja Rajesh langsung terbangun saat matanya yang terpejam silau.


"Sayang jangan disingkap gordennya" pinta Rajesh dengan suara seraknya.


"Bangun Mas, jangan susah deh untuk bangun," ucap Nara, "aku mau ke kamar Radith, dan nanti saat aku kembali Mas harus sudah rapi" titah Nara lalu pergi meninggalkan kamar mereka.

__ADS_1


Selepas kepergian Nara, Rajehs langsung bergegas bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri agar tidak terkena dari amukan istirnya, Rajehs tidak mau mendengar omelan istirnya yang akan membuat telinganya panas.


Sementara di kamar Radith, bocah tampan itu masih tertidur pulas, tidak biasanya yang selama Nara tau putranya bangun pagi tapi entah kenapa pagi ini, mungkin Radith sedang lelah karena tugas yang diberikan Nara semalam.


Nara menjadi kasihan melihat Radith yang sudah berusaha mempelajari pelajaran SD padanan belum waktunya, tapi apa boleh buat jika sang anak sendiri yang meminta untuk diajarkan demikian.


"Sayang...bangun, ini sudah pagi" ucap Nara dengan lembut.


Radith menggeliat dibalik selimut, menyusul matanya kini yang terbuka dan melihat ibunya ada dihadapannya dengan suguhan senyum yang selalu Radith sukai, "morning Mom" sapa Radith lalu bangkit berdiri dan mencium pipi Nara.


"Morning Boy, ayo mandi sebelum terlambat" ajak Nara dan Radith langsung melakukan perkataan ibunya tanpa merasa terbeban.


Nara kembali mengemasi barang keperluan Radith untuk ke sekolah sesuai dengan tema pembelajaran hari ini, lalu disusul dengan Nara yang memakaikan pakaian Radith yang kebetulan sudah selesai mandi.


"Sudah sayang, tunggulah di bawah" titah Nara.


"Ok Mom, thank you" ucap Radith dan keluar bersama dengan Nara lalu berpisah saat sampai didepan pinru kamar Rajehs karena wanita cantik itu harus bersiap untuk bekerja.


Selesai dengan semuanya, mulai dari berkemas, sarapan, kini keluarga kecil yang berbahagia itu sedang dalam perjalan menuju sekolah terlebih dahulu untuk mengantarkan Nara dan Radith ke sekolah dan setelahnya barulah mobil yang membawa Rajesh melaju menuju kantor dan mengerjakan pekerjaannya seperti biasanya.


Malam ini Nara sedang berkemas untuk mengepak pakaian Rajehs, sesuai rencana satu Minggu yang lalu Jika Rajehs akan melakukan dinas luar negeri dan besok adalah waktunya untuk Nara berangkat, oleh karena itu Nara mempersiapkan semua keperluan suaminya agar tidak ada yang tertinggal terutama semua pakaian yang harus Rajehs gunakan disana.


"Sayang..." panggil Rajehs.


Nara menghentikan aktifitasnya, dia menoleh kearah suaminya dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Rajehs, "ada apa Mas?"


"Sudah selesai?" tanya Rajehs.


"Sebentar lagi Mas, ini masih menyepaknya" jelas Nara.


"Lekaslah istrahat sayang, Mas tidak ingin kamu capek" ucap Rajehs dengan lembu, tanganya mengusap pipi Nara dengan lembut dan menciumnya sebentar.


"Iya Mas, sebentar lagi aku selesai kok" ulang Nara yang dijawab anggukan oleh Rajehs.


Tak lama setelahnya, pekerjaan Nara mengepak persiapan suaminya telah selesai dan kini kakinya melangkah menuju walk on close untuk bertukar pakaiannya dengan piyama tidurnya dan menyusul suamiya yang berbaring diatas kasur.

__ADS_1


"Kemarilah sayang" titah Rajesh.


Nara menurut, menggeser tubuhnya dan menjadikan lengan suaminya menjadi bantalannya, sementara Rajehs langsung melingkarkan tangan lainnya diymtas perut Nara.


"Besok Mas tidak bisa mengantarmu kerja sayang".


"Iya Mas, tidak masalah" jawab Nara dengan lembut.


"Ingat, selama Mas tidak ada disini kamu jangan sampai kelelahan ya"


"Iya Mas, aku tidak akan kelelahan, lagian tidak ada pekerjaan berat yang akan membuatku kelelahan" kekeh Nara.


"Siapa tua saja kamu mengerjakan pekerjaan rumah yang berlebih" jawab Rajshs, bukan tanpa alasan memberi jawaban seperti itu karena dia tua bagaimana sikap istrinya yang tidak bisa diam karena cepat merasa jenuh.


Nara sendiri hanya terkekeh, dia tau maksud suaminya dan memang benar mungkin nanti itu akan terjadi kala dirinya merasa jenuh dan bosan apalagi tidak ada Rajesh bersamanya.


"Jangan tertawa, dan aku tidak mengijinkanmu melakukan pekerjaan rumah sayang" tegas Rajesh.


"Iya Mas, aku tidak akan melakukan pekerjaan rumah" jawab Nara dan mematuk bibir Rajehs sekilas.


"Sudah muali berani sayang" goda Rajesh, dia merasa senang karena Nara mau menciumnya tanpa diminta.


Nara hanya tersenyum malu menanggapi perkataan suminya, dan Rajehs menangkap ada keinginan tersembunyi dibalik sikap malu malu Nara dan susah bisa dipasti apa itu.


Rajehs yang seakan mendapat umpan langsun terpancing dan malam itu, kembali terjadi penyatuan antara dua manusia yang sudah halal itu, berharap dengan ibadah mereka bisa menghadirkan makhluk hidup di dalam rahim wanita cantik itu.


"Semoga kamu bisa cepat hadir sayang didalam sini" batin Rajehs dan mengelus perut Nara setelah pertempuran mereka selesai.


"Ya Tuhan... semoga semua usaha kami bisa memberi hasil, dan aku bisa hamil" batin Nara.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2