
Sampai di danau, Radith lebih dulu turun mencari tempat yang sekurinnya cocok untuk mereka bertiga bersantai, "ayo Dad, cari tempat kita duduk" seru Radith tapi tidak mengunggu Rajehs lagi membuat pria tampan itu hanya bisa menggeleng.
"Dasar anak itu, mengajak cari tempat tapi malah meninggalkanku"
"Dia pasti sangat senang, lantaran Mas jarang sekali mengajaknya berlibur" ucap Nara sengaja memberi sindiran sedikit untuk menyentil suaminya.
Rajehs yang merasa tersentil hanya bisa menggaruk bagian belakang kepalanya, dia tidak bisa mengelak karena memang sudah beberapa bulan ini Rajesh tidak pernah mengajak anak dan istrinya berlibur, tapi itu bukan karena dia sengaja atau karena rasa malah, melainkan pekerjaanlah yang membuat Rajesh tidak memiliki waktu.
"Maaf sayang, Mas terlalu sibuk di kantor... lain kali jika ada waktu senggang maka kita akan berlibur" ucap Rajehs.
"Ya... kalau ada waktu"
Nara memilih mengabaikan perkataan suaminya dan memilih untuk berjalan menyusul Radith putra sambungnya, sementara Rajehs hanya bisa menyusul dari belakang.
Rajehs menggelar tikar kecil yang cukup untuk mereka bertiga duduki, tikar yang tadinya dibelikan sebelum ke danau karena memang sudah diprediksikan oleh pria tampan jika sekiranya mereka akan membutuhkan itu.
Mereka bertiga serempak duduk beralaskan tikar yang sudah digelar oleh Rajehs dan Nara meletakan cemilan serta minuman yang mereka belikan juga sebelumnya, "sini sayang dekat Mommy" pinta Nara.
"Radith hanya menurut, dia duduk disamping Nara yang langsung disambut perintah oleh Nara agar putranya merebahkan diri denhan berbantalan pahanya.
"Ayo rebahan" titah Nara.
Tanpa membantah Radith langsung melakukannya, karena memang inilah yang sangat disukainya, merebahkan diri dengan menjadikan paha Nara sebagai bantal dan meminta agar tangan Nara mengusap pelan rambutnya.
"Usap kepalaku Mom" pinta Rajehs.
"Dengan senang hati sayang" kata Nara.
"Mas juga ingin rebahan disini sayang" Rajehs tidak mau kalah, sehingga dengan wajah imutnya sebagai jurus andalan dia meminta pada Nara agar bisa rebahan juga seperti Radith.
"Kenapa Daddy suka sekali bersaing dengan ku" Radith berdecak kesal melihat tingkah ayahnya yang sanagt manja.
__ADS_1
"Tentu saja, karena Mommymu itu adalah istriku" jawab Rajehs dengan santai.
"Dan dia Ibuku Dad, jangan lupa akan hal itu" sergah Radith yang sama sekali tidak ingin kalah.
"Ckck...anak ini selalu saja membuatku darah tinggi" decak Rajehs.
"Minumlah yang dingin Mas, biar tidak darah tinggi" Nara malah menimpali perkataan Radith, membantu putranya untuk melawan Rajehs membuat pria itu hanya bisa berdecak sebal.
"Dan kau selalu saja membelanya sayang, sedangkan suamimu ini merasa teraniayaya" Rajehs berpura pura teraniayaya dan memasang wajah sedihnya untuk menarik simpati istrinya.
"Jangan beracting Dad, tidak ada yang berani menindasmu dan aku tau itu, jadi Mommy tidak akan tertipu" ejek Radith.
Rajehs kembali menggeram kesal dalam hatinya terus menggerutu akan perbuatan putranya yang terkadang kompak dan kadang juga malah menjadi rivalnya dalam mendapatkan perhatian Nara, tapi walau demikian dia hanya kesal sementara karena pada dasarnya dia jauh lebih menyayangi anak kecil yang sudah delapan tahun memanggilnya Daddy.
"Sudah jangan berdebat, Mas....jangan pasang wajah masam seperti itu, nanti tampanmu berkurang".
Ucapan sontak saja membuat senyum Rajesh mengembang, merasa istrinya memujinya secara tidak langsung membuat kebanggaan padanya, dia tidak butuh siapapun memujinya, cukup istrinya saja sudah sangat menyenangkan.
Tidak bisa dipungkiri jika memang senyum mematikan suaminya sangat memikat hati, bahkan tak jarang orang orang bisa kehilangan akal saat menikmatinya begitu juga dengan Nara, mungkin karena memang sudah sangat cinta sehingga apapun itu akan selalu mampu menggetarkan hati.
"Kamu semakin cantik sayang" puji Rajehs tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya bahkan tidak mempedulikan Radith yang hanya bisa memutar bola matanya malas menyaksikan kemesraan orang tuanya.
"Sudahlah, jangan terus bermesraan seperti itu Dad, Mom...aku berasa mau muntah, apalagi sama Daddy yang entah bagaimana bisa bersikap manis seperti itu" ucap Radith dengan cuek.
"Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti hak itu Boy, dan nanti jika sudah dewasa kau akan tau kenapa Daddy seperti itu" jelas Rajesh yang merasa masa bodoh dengan perkataan putranya.
"Ya ya ya.... Aku sudah tau Daddy bucin pada Mommy"
"Kamu tau apa arti bucin? kenapa berkata seperti itu?" selidik Rajesh.
"Aku mendengarnya dari Nenek dan paman Leo, mereka bilang Daddy sudah sangat bucin pada Mommy hingga bertingkah menggelikan seperti itu" jelas Radith memberitahu dari mana dia tau arti bucin itu.
__ADS_1
"Leo?" beo Rajehs.
"Iya, aku sering mendengarnya dan dia aku bertanya apa artinya lalu diberitahu olehnya" jawab Radith lagi tanpa mempedulikan Rajesh yang sudah mengepalkan tangannya menahan kekesalan mendengar penjelasan Radith
"Sepertinya gajinya kelebihan untuk digunakan" gumam Radith.
"Jangan lakukan itu Mas" sergah Nara dan menarik Rajehs agar merebahkan dirinya dipangkuan Nara, "memangnya apa yang dikatakan Leo itu salah ya Mas? Mas tidak cinta padaku? Mas tidak bucin padaku?" tuding Nara dengan banyak pertanyaan.
" Tentu saja Mas sangat mencintaimu, dan Mas Sanga bucin padamu" jawab Rajehs dengan cepat.
"Lalu kenapa harus marah dengan itu?"
"Mas hanya tidak suka dia mengatakan pada banyak orang, cukup kamu dan Mas serta Tuhan yang tau sayang"
Nara tersenyum mendengar perkataan suaminya sedangkan Radith Kembali memutar bola matanya malas mendengar perkataan ayahnya, "benar benar bucin" gumam Radith.
"Ini makan dulu" Nara menyodorkan cemilan yang sudah dibuka kemasannya, menyuapi kedua prianya secara bergantian, lalu akan menyuguhkan minuman untuk diminum oleh kedua pria itu.
Nara sangat senang melakukan hal itu, jarang jarang memang mereka ada di moment moment seperti itu dan Nada sangat memperlakukan Kedua prianya dengan sangat lembut membuat dua pria yang berbeda generai itu merasa sangat dicintai oleh Nara.
Mereka asyik dengan dunia dan kegiatan mereka tanpa tau jika tidak jauh dari tempat mereka rehat ada sepasang mata yang menyaksikan keromantisan keluarga Nara, menatap dengan tatap penuh lukan, mentapa dengan menebalkan hati merasakan semakin perihnya luka.
"Kamu sungguh menyakitiku Nara sangat...menyakiti hatiku ini" gumamnya.
Dia adalah Reyhan, pria yang tadinya datang dengan maksud untuk menenangkan hatinya setelah pikirannya tersita dengan pertemuan dirinya dengan Nara, memikirkan Nara yang dengan terang terangan menolak dirinya untuk kesekian kalinya, wanita yang terlihat dari sorot matanya sudah tidak ada dirinya lagi, wanita yang kini tatapan matanya sudah sangat jauh berbeda, tidak ada kehangatan apalagi cinta dan Reyhan hanya bisa menangisi semua yang dirasakan kini.
.
.
Bersambung...
__ADS_1