STORY OF NARA

STORY OF NARA
alasan


__ADS_3

"Iya Nara,apa Rajehs ke luar Negeri lagi?" Lionel ikut bertanya lada adiknya, entah kenapa jika kepo Lionel selalu meronta jika menyangkut kehidupan rumah tangga adiknya dan pembisnis nomor satu itu.


"Tidak kok, Mas Rajehs hanya akan meninjau lokasi proyek baru mereka dan memang itu di luar kota dan nanti akan pulang kok, tapi mungkin agak malam" jelas Nara membuat semuanya hanya ber oh ria saja.


"Oh ya mana keponakanku?" tanya Nara.


"Lagi tidur siang, mungkin sebentar lagi bangun" jawab Martha.


"Kamu bawa apa Nara?" tanya Lionel yang melihat rantangan yang terletak di meja.


"Makan siang untuk semuanya, aku tadi memasaknya" jawab Nara.


"Kebetulan sekali ya, kakakmu ini lapar sekali" ucap Lionel dan langsung memanggil maid untuk menyiapkan semuanya di meja makam.


"Loh, ada apa dengan kakaku ini? kenapa tidak bekerja? apa sudah jadi pengangguran sekarang?" tanya Nara dengan nada mengejeknya.


"Enak saja kakakmu ini kau Katai pengangguran" sergah Lionel, "kakak hanya sedang malas saja" lanjutnya.


"Ckck... CEO macam apa itu? sukanya malas malasan" sindir Nara.


"Jangan menyindir jika kami belum merasakannya, makanya kalau disuruh kerja di perusahaan itu ya nurut jangan malah jadi pekerja pemerintahan" dengkus Lionel.


"Maaf kakakku sayang, adikmu ini tidak pernah tertarik, dan lagi aku sudah mempunya suami ya h sangat kaya raya jadi untuk apa lagi aku bekerja" ucap Nara dengan nada sombongnya.


"Halah... karena sudah cinta saja makanya berkata begitu, dulu saja katanya harta tidak jadi tolak ukur" sindir Lionel membuat Nara hanya bisa mendengkus sebal sedangkan Lionel tertawa penuh kemenangan.


"Sudah, ayo kita makan siang saja" lerai Naina, "kebetulan bukan adikmu bawa banyak makanan"


Dan akhrinya semua menunu meja makan menikmati makanan yang sudah dibawakan Nara dari rumah, karena memang kebetulan belum ada makanan yang masak di rumah Saker karena Naina yang sedang tidak mood memasak.


"Radith tidak makan siang?" tanya Anan saat melihat cucu sambungannya itu tidak menyentuh piring dan Nara juga tidak mengisikan piring Radith lagi.


"No Kakek, aku sudah makan di jalan tadi" jawab Radith lalu kembi fokus pada ponsel milik Nara.


"Loh, maksudnya?" Anan yang tidak paham langsung menunjukan raut wajah bingungnya agar putrinya memberi penjelasan.


"Tadi dijalan dalam mobil sambil makan Yah, aku takut dia kelaparan karena perjalanan sedikit jauh" jelas Nara dan Anan mengangguk mengerti penjelasan putrinya.


"Mom....." di pertengahan Nara dan keluarganua makan Radith berteriak membuat semuanya menghentikan kegiatan makannya.


"Katakanlah" titah Nara.


"Hehehe... suaraku terlalu besar rupanya, Daddy menelpon Mommy" ucap Radith diiringi dengan cengirannya agar Nara tidak memarahinya.

__ADS_1


"Katakan jika Mommy sedang makan, nanti Mommy hubungi kembali" titah Nara dan langsung dilaksanakan oleh Radith.


"Hallo Dad"


Dibarang sana, Rajesh yang juga ingin makan siang langsung menghubungi istrijya terlebih dahulu untuk sekedar menanyakan apakah anak dan istrinya sudah sampai di rumah mertuanya atau tidak dan apakah mereka sudah makan siang atau belum.


"Hallo sayang... diamana Mommy?" tanya Rajwhs saat mendapati putrnya yang mengangkat panggilannya.


"Mommy sedang makan, katanya nanti akan dihubungi kembali" ucap Radith sesuai dengan perkataan Nara.


"Ohh jadi kalian sudah sampai di rumah Kakek dan Nenek?"


"Yes Dad, kami sudah sampai" jawab Nara.


"Tapi kenapa kamu tidak makan jika Mommy sedang makan siang?" tanya Rajesh penuh selidik.


"Aku sudah makan lebih dulu dalam perjalanan ke uju rumah Mommy, jadi sekarang aku masih kenyang" jawab Radith, "sudah ya, jangan menggangguku bermain game" ucap Radith dan langsung mematikan sambungan ponselnya, membuat Rajehs hanya bisa menggeram marah sendiri dan meninju udara untuk melampiaskan kekesalannya.


"Dasar anak itu, selalu saja mengabaikanku, untung saja kau putraku, jika tidak pasti sudah kutendang ke Antartika saja dia" decak Rajesh.


"Tuan silahkan makanan anda sudah datang" ucap Leo saat Tuannya malah sibuk mengumpat sendiri.


"Ckck.. kau menganggu waktu yang sedang tidak mood" ketus Rajehs.


"Sayang... biar Ibu saja" ucap Naina yang melihat Nara membereskan piring kotor bersama kakak iparnya Martha.


"Kenapa Ibu bersikap seperti itu, apa aku sekarang jadi tamu disini sehingga tidak boleh berbuat apa apa lagi?" tanya Nara yang sudah langsung berpikiran negatif dengan ibunya.


"Bukan sayang, Ibu hanya tidak mau kamu kelahan" ungkap Naina.


"Kelelahan bagaimana? aku baik baik saja dan aku sudah biasa melakukan ini bukan bahkan sebelum aku menikah" ungkap Nara.


"Tidak apa Ibu, biarkan aku dan Nara saja yang bersihkan, tolong Ibu lihat putriku, apa dia sudah bangun" ucap Martha mengambil alis situasi sambil mengedipkan matanya pada Naina agar tidak memaksa Nara lagi.


"Baiklah, Ibu akan melihatnya" jawab Naina akhirnya pergi meninggalkan putri dan menantunya.


"Nara..." panggil Martha saaat keduanya tengah sibuk dengan kegiatan membersihkan meja makan.


"Ya Kakak ipar" jawab Nara walau masih sangat sibuk.


"Kenapa kami berkata demikian pada Ibu?" tanya Martha.


"Aku hanya kesal karena diperlakukan seperti tamu" keluh Nara.

__ADS_1


"Tidak ada yang mempelakukanmu seperti itu, kamu tau kan kalau Ibu sangat menyayangimu dan dia hanya tidak ingin kamu lelah" jelas Martha.


"Tapikan aku tidak masalah dengan itu, dan aku juga tidak merasa lelah" sanggah Nara.


"Ya baiklah, aku hanya mengatakan apa maksud dari Ibu" pasrah Martha.


"Maaf Kak, aku hanya sedang sensia kayaknya" ucap Nara yang juga merasa menyesal sudah berkata seperti itu pada ibunya.


"Memangnya kamu sedang datang bulan?" tanya Martha sembari tekekeh.


"Tidak, hanya saja memang moodku sedang tidak baik" jawab Nara dengan lirih.


"Emm Nara...." panggil Martha sedikit ragu.


"Ada apa kak? katakan saja" titah Nara yang menangkap ada keraguan dari panggilan Kakak iparnya.


"Apa... moodmu tidak bagus karena Reyhan yang sudah kembali?" tanya Martha akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


Nara terdiam mendengar pertanyaan kakak iparnya, jika sudah seperti itu berarti keluarganya sudah tau perihal Reyhan yang sudah kembali dan pastinya mereka juga tau akan Reyhan yang kini sudah sukses.


"Kakak ipar tau?" Nara justru balik bertanya.


"Ya, Kakakmu yang mengatakannya" jawab Martha.


Nara menghembuskan napasnya dengan kasar, "Bukan sepenuhnya karena dia, hanya saja memang lebih besar karena dia,.." Nara menggantung ucapannya tapi Martha sudah lebih dulu tau.


"Dia masih mengharapkanmu?" tebak Martha.


Nara menatap Kaka iparnya terlebih dahulu, sebelum akhinya menganggukan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Martha, "iya Kak, dia masih mengharapkanku bahkan dengan terang terangan mengatakan niatnya" jawab Nara dan diakhiri dengan helaan napas kasar dari keduanya.


"Tapi kami sudah tidak mencintainya lagi kan?" tanya Martha.


"Tentu saja tidak, aku sudah sangat mencintai suamiku" jawab Nara dengan cepat, "mana mungkin aku masih menyimpan rasa padanya" lanutnya


"Lalu apa yang membuat moodmu tidak baik"


Nara menatap Kaka iparnya, dia tidak tau harus menjawab apa karena sebenarnya bukan hanya itu saja yang membuat moodnya jelek, tapi ada hal lain juga.


"Mereka sudah pernah bertengkar kakak ipar" lirih Nara yang kini menjadikan pertengahan Reyhan Dan Rajehs sebagai alasan.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2