STORY OF NARA

STORY OF NARA
masih mengharaokannya


__ADS_3

"Dad, aku turun" pamit Radith.


"Belajar dengan baik Boy"


"Ok Dad"


Rajesh mencium kening Radith terlebih dahulu lalu Radith turun menuju gerbang dengan diantar oleh Leo yang memang sengaja keluar dari mobil untuk memberi kesempatan pada pengantin yang sedikit lama itu untuk bermesraan.


"Mas...aku pamit"


"Hati hati sayang, ingat jangan terlalu lelah" ultimatum Rajesh.


"Selalu setiap pagi Mas bilang seperti itu dan jawabanku juga akan tetap sama" kekeh Nara yang merasa lucu dengan sikap suaminya.


"Tentu saja, Mas akan tetap mengingatkan istriku untuk menjadi kesehatan" jawab Rajehs.


"Baiklah Mas, aku mengerti dan aku keluar dulu ya" pamit Nara untuk kedua kalinya.


"Iya sayang," jawab Rajehs dan mencium untuk kedua kalinya juga kening Nara dengan lembut dan mesra.


Nara meninggalkan mobil Rajehs, langkahnya langsung melangkah menuju gerbang sekolah sedangkan Leo kembali memasuki mobil dan mulai mengemudikan mobil membelah jalan raya menuju kantor untuk memulai aktifitas seperti biasa.


Sementara di tempat lain, seorang pria yang masih menyimpan cinta pada seorang wanita yang sudah bersuami yang juga adalah mantan kekasihnya sedang berkutat kegiatannya untuk mengembangkan usahanya dengan pesat dan besar, karena tujuannya saat ini adalah untuk kembali merebut wanita yang dicintainya dan itu semua bisa terjadi jika dia sudah memiliki kekayaan yang menyamai kekayaan suami dari gadisnya.


Dia berkutat dengan laptopnya dengan perusahaan yang bisa dikatakan lebih mirip dengan rumah sederhana dengan anggota hanya dua orang termasuk sekretaris kepercayaan Abraham yang dulu dipercaya pria paru baya itu tapi justru lebih patuh pada Reyhan majikan barunya.


"Bagaimana?" tanya Reyhan.


"Kita harus bisa mendapatkan proyek saur perusahaan Jepang itu, dengan begitu kita bisa mengembangkan dan membesarkan nama perusahaan kita ini" jawab sekretarisnya yang bernama Felix.


"Urus semuanya, dan pastikan tidak ada kekurangan dalam bahan presentasi kita" titah Reyhan dengan penuh ketegasan.

__ADS_1


"Tentu saja, nanti sore akan aku berikan padamu, kamu bisa memeriksanya terlebih dahulu dan besok kita akan segera berangkat" ucap Felix.


"Hemm, terimakasih..." ucap Reyhan dengan tulus.


"Untuk apa?" tanya Felix dengan kening yang mengerut.


"Untuk kamu yang sudah membantuku" ucap Reyhan dengan tulus.


"Tidak masalah, aku suka melakukan ini dan aku ikhlas"


"Padahal kita baru kenal tapi kamu malah memilihku dwrinpada Tuanmu yang sudah memelihara dirimu" ucap Reyhan dengan senyum rendahanya.


"Terimakasih dan aku harap kita bisa terus seperti ini sampai mau yang memisahkan kita, membesarkan nama perusahaan ini menjadi sangat besar dan berkembang" harap Reyhan.


"Tentu, kita akan berusaha untuk membesarkan nama perusahaan, jadi sebaikanya kita makan siang dulu" ajak Felix.


"Ayo kita makan siang" ucap Reyhan menyetujui perkataan pria yang sudah dianggap sebagai sahabatnya. Mereka berjalan menuju mobil, tujuannya saat ini adalah kafe untuk makan siang.


"Bagaimana dengan wanita itu? apa kamu masih mengharapkannya?" tanya Felix tiba tiba.


Reyhan tidak langsung menjawab, dia memikirkan jawaban apa yang harus diberikan tapi yang pasti Reyhan tidak mungkin membohongi Felix yang sudah dianggap sebagai saudaranya.


"Iya..." jawab Reyhan, pada akhirnya mengakui jika dirinya masih begitu sangat mencintai Nara, gadisnya yang sudah mengisi relung hatinya sejak enam tahun terakhir, gadis yang mengajarkan dirinya banyak hal dan gadis yang membuat dirinya juga bertindak bodoh hingga akhirnya kehilangan yang dialami kini.


"Kau tau bukan kalau dia sudah bersuami? lalu kenapa masih mengharapkan dia" sentak Felix.


"Terlalu sulit... bahkan sangat sulit untuk aku melupakan dia Lix, kamu tau namanya sudah bersemayam dan tertanam dalam hatiku, jadi sangat tidak mungkin jika aku melupakannya begitu saja, tidak...itu tidak akan aku lakukan" geleng Reyhan, prai tampan itu masih keukeh ingin mempertahankan nama Nara dalam hatinya, menanamkan Nara dalam pikirannya, menjadikan Nara masih sebagai poros hidupnya.


"Apa kau sungguh tidak mencintai Cleora? sungguh kau tidak merasa apapun setelah bercerai dengannya?" tanya Felix lagi saat mengingat gadis malang yang pernah menjadi majikannya harus pulang dengan meneoannpil pahit dan membawa kekalahan dalam perjuangannya karena nyatanya orang yang bahkan tidak mau berjuanglah yang tetap jadi pemenangnya sedangkan gadis malang menurut Felix itu kalah meslski sudah banyak menerjang cobaan.


"Tidak....dan jangan salahkan aku jika dia terluka karena kenyataanya aku sudah pernah berkata padanya tapi dia dengan liciknya menjebakku, menipuku dengan mengatakan Naraku tidak akan mengetahui hal ini tapi nyatanya saat aku kembali ke Indonesi, perpisahan yang aku dapatkan" lirih Reyhan, dia masih mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi Nara saat itu, ekspresi terluka dan kecewa yang untuk pertama kalinya disebabkan oleh pria itu dan Reyhan merasa menjadi pria pengecut dan paling bergengsek saat itu kala tidak bisa mempertahankan gadisnya.

__ADS_1


"Ya aku tidak akan menyelahkanmu, aku hanya berharap dimasa depan kalian tidak lagi bertemu walau tidak disengaja agar tidak membuka luka lama bayi gadis malang itu" ungkap Felix.


"Tidak mungkin, aku tidak mungkin akan bertemu dengannya lagi, kamu tau? aku tidak akan pernah mau berurusan dengan Abraham walau itu menyangkut perusahaan sekalipun" tegas Reyhan tanpa tau seperti apa masa depannya kelak, apakah benar dia tidak akan pernah terikat urusan dengan keluarga Abraham.


"Perimisi Tuan, ini hidangannya silahkan dinikmati" ucap Pelayan yang membawakan makan siang kedua pria tampan itu membuat pembicaraan mereka terpaksa terhenti dan berhati dengan menikmati makan siang yang sudah ada didepan mata.


Nara saat ini sedang menunggu jemputan suaminya bersama Radith putranya tapi karena anak didiknya belum dijemput semua, terpaksa Rajehs menunggu istrinya hingga pulang dan berkeliling sebentar melihat situasi sekolah miliknya.


"Dad....kau tau, jika ada seorang pria yang menyukai Mommy?" tanya Radith, saat ini bocah tampan itu menemani Daddy dengan digendong oleh Rajesh karena kata bocah tampan itu dia kelelahan jika harus berjalan mengelilingi sekolah yang entah berapa luasnya.


Rajehs yang mendengar pertanyaan putranya langsung menoleh kearah putranya, dia tidak pernah tau akan hal ini dan dia sangat tertarik dan ingin tau siapa yang sudah berani menaruh hati pada istri tercintanya.


"Oh ya? kenapa Daddy tidak tau? dan kenapa kau beri mengatakannya?" Rajesh sedikit kesal karena putranya baru mengatakan pada dirinya.


"Aku lupa Dad, dan aku ingat saat aku melihatnya" jawab Radith dan dagunya terangkat menunjuk orang yang dimaksud.


Rajehs mengikuti arah yang ditunjuk Radith dan dia melihat seorang pria yang sedang berdiri dan menghadap kearah istrinya, pandangan yang penuh kekaguman dan itu membuat Rajesh terbakar api cemburu.


"Kepala sekolah itu berani menyukai istri Daddy, Mommymu?" geram Rajesh.


"Yes, bahkan aku sudah pernah mengancamnya tapi dia tidak kapok sepertinya" gumam Radith.


"Pernha menggertaknya? bagaimana kau melakukannya? memangnya apa yang kamu katakan padanya?" tanya Rajehs penasaran.


Radith menyeringai licik tapi sesaat kemudian berubah datar karena peringatannya tempo itu tidak di indahkan oleh kepala sekolah itu.


"Aku mengancamnya dengan....."


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2