
"Nara..tolong jangan seperti ini, aku tidak sanggup Nara, akuasih mencintai kamu" melas Reyhan.
"Tidak Rey, kita sudah berakhir jadi jangan ganggu aku lagi"
"Tapi Nara, aku masih mencintai kamu" sanggah Reyhan.
"Jika kau cinta maka kau tidak akan menghianatiku Rey, apa pun alasannya tetap kau sudah menghianati cintaku" balas Nara.
"Ku mohon beri kesempatan satu kali saja, aku tidak akan pernah menghianatimu apa pun alasannya" melas Reyhan yang masih bertahan meminta kesempatan.
Nara menatap lekat wajah Reyhan, tidak bisa berbohong jika perasaanya masih untuk pria di hadapannya ini hanya saja, rasanya masih tidak bisa menerima kenyataan kekasihnya menikah dengan wanita lain bahkan dengan tegannya mengirimi undangan dan surat kecil yang berisi harapan agar Nara bisa menghadiri pernikahan mereka, lalu kesilafan mana yang di maksud Reyhan saat dengan sadar undangan sampai di tempatnya.
" Maaf Rey, jangan memaksaku" tegas Nara.
"Tapi Nara sayang aku ingin kau beri kesempatan sati kali saja, aku janju tidak akan mencurangimu lagi" keukeh Reyhan.
"Jangan membuatku semakin membencimu Rey!" ancam Nara.
Seketika Reyhan bungkam mendengar ancaman Nara, sakit? itulah yang di rasakan Reyhan saat ini, sakit melihat kenyataan jika gadisnya yang dulunya selalu lemah lembut kini sisi ketegasan yang dia lihat, sakit ketika kekasih hatinya dulu penuh sisi kehangatan kini tidak tersisa sedikitpun kehangatan itu untuknya.
"Pergilah Rey, bangun ruamh tanggamu dengan dia, walau ada alasan di balik pernikahanmu tapi belajarlah untuk menerima pernikahanmu dan jalanilah dengan baik, aku yakin seiringnya cinta akan bertumbuh di hatimu untuknya" tutur Nara yang kini kembali melembut suaranya.
Walau Nara berucap demikian, ada rasa sakit di dalam sana, sesak di rasakan tapi mau bagaimana lagi dia tidak mau jadi perusak pernikahan, Nara tidak mau jadi duri yang memberi luka bagi rumah tangga wanita lain.
"Tadi dia menjebakku" sanggah Reyhan.
"Itu karena cintanya, hanya saja caranya yang berbeda" jelas Nara.
Ya, sebagai perempuan Naea jelas tau jika Cleora tergila gila pada Reyhan sehingga nekat melakukan sesuatu yang kesepakatan yang di sebut Reyhan sebagai jebakan.
"Tidak, aku tidak bisa mencintainya"
"Maka kau pun tidak akan kembali padaku, jangan pernah berharap!" tegas Nara.
Nara berlalu pergi setelah mengatakan hal itu, dia tidak tahan beralama lama di dekat apa lagi melihat wajah Reyhan yang terus memelas dan memohon padanya. Nara takut jika pertahanannya akan goyah sehingga mau tidak mau, tega tidak tega dia haru pergi.
"Nara....Nara tunggu Nara....Beri aku kesempatan dulu...." teriak Reyhan tapi tidak di hiraukan oleh gadis cantik itu.
Nara melesatkan mobilnya dengan keadaan kacau, jujur saja hatinya kini mulai goyah melihat sendiri Reyhan yang masih terus mengejar dirinya, tapi logika dan prinsipnya jugaasih juat bertahan untuk tidak peduli.
Logika dan hati yanh bertolak belakang hingga pada akhinya prinsip hidupnyalah yang menang karena tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalan raya di tengah hati yang terluka.
.
__ADS_1
Sementara di kantor, Rajesh mengepalkan tangannya dengan kuat, dia marah setelah mendapat informasi dari orang yang di utus sebagai mata mata memantau semua pergerakan Nara dan hari ini kekhawatiran melanda dirinya yang berubah menjadi amarah saat tau jika mantan kekasih gadis incarannya masih mengejar Nara dan yang lebih membuat Rajesh marah adalah wajah Nara yang menunjukan jika gadinya tengah bimbang dihadapan Reyhan walau akhirnya sedikit kelegaan ada setelah mata matanya mengatakan gadisnya tetap pergi meninggalkan Reyhan.
Tapi tetap saja, walau seperti itu Rajesh tetap khawatir jika Nara akan berubah pikiran dan akhirnya kembali pada mantanya sebelum Rajesh berhasil mengikat gadisnya.
"Tidak...! aku harus gerak cepat, jika seperti in terus maka aku bisa bisa di duluankan pria itu" gumam Rajesh penuh tekat.
"Leo...segera keruanganku!" titah Rajesh.
"Ada yang bisa saya lalukam untumu Tuan Muda?" tanya Leo.
"Kau urus mantan kekasih Nara itu, buat dia sibuk agar tidak mendekati Naraku lagi!"
"Tapi apa yang harus saya lakukan?"
"Bodoh..! begitu saja kau tidak tau, kau hasut saja dia tapi sebelum itu kau cari tau dulu tentangnya, aku yakin pasti ada sesuatu yang bisa kita jadikan senjata untuk membuatnya sibuk!" sentak Rajesh.
"Baik Tuan Muda, besok Tuan akan mendengar kabar baiknya" jawab Leo yang tidak ingin berdebat.
"Pergilah!" usir Rajesh.
Rajesh memikirkan bagaimana cara untuk mendekatkan diri pada Nara, jika di ingat lagi pertemuan terakhir mereka saat undangan makan malam itu, Nara terlihat biasa saja bahkan seperti enggan untuk dekat dengan dirinya.
"Harus seperti apa aku mendekatimu? apa kau harus nekat agar bisa mendapatkanmu?" gumam Rajesh.
Rajesh meraih kunci mobilnya, dia mau ke supermarket untuk membeli bahan makanan, naitnya malam ini dia akan memasak untuk gadisnya, Rajesh akan memulai dari hal ini memberi pelayanan untuk menyentuh hati gadisnya.
"Leo, aku urus pekerjaanku, aku harus segera pulang. Misi sudah menungguku" titah Rajesh dan nyelonong pergi begitu saja.
"Dara Tuan Muda tidak beretika! selalu saja sesukanya bahkan tidak mendengar apa jawabanku dulu" umpat Leo.
Leo hanya bisa menangisi nasibnya yang selalu di limpahlam pekerjaan banyak oleh Tuan Mudanya, nasib bawahan memang seperti ini dan Leo hanya bisa pasrah karena dirinya sudah berhutang hidup pada Tuan Mudanya.
Nara sudab tiba di amaprtemenya dengan wajah lesunya, dia tidak bersemangat karena perasaanya yang sedanh kacau. Dengan malas Nara melangkah menuju kamarnya dan menghempaskan dirinya dengan asal lalu menutup matanya untuk menyingkirkan perasaanya yang sedang kacau.
Nara tidak ingin memikirkan masalah Reyhan lagi, dia sudah memutuskan untuk melupakan pria itu, dengan cepat Nara menutup matanya dan tak lama Nara pun terlelap.
Tak terasa awan sudah menghinta pertanda matahari sudah lembali ke peraduannya, sedangkan gadis cantik yang belum melepaskan seragam dinasnya itu baru menggeliat dan mengerjap beberapa kali untuk menormalkan penglihatannya yang sedikit buram.
D tengah tengah kegiatannya yang masih berusaha menormalkan keasadarannya, suara berisik terdengar di telingannya dan itu jelas sekali berasal dari dapur miliknya, seketikan rasa takut dan duga duga menghampiri. Nara menduga jika itu adalah penjahat dan takut jika itu benar adalah penjahat.
Perlahan Nara bangun dan mengintip siapa yang datang, tapi seketikan rasa takut berganti kala mengingat jika orang tuanya punya kunci cadangan dan hanya mereka yang sering keluar masuk dalam apartementnya.
"Mungkin Ibu yang sedang memasak" gumam Nara.
__ADS_1
Bergegas keluar dan mengahampiri dapurnya, taoi keningnya mengerut saat menyadari ruang tengah sepi tidak ada kakak apa lagi ayahnya, dan lagi orang yang berada di dapur bukanlah ibunya melainkan seorang pria yang jika diliat dari postur tubuhnya berasa tidak asing.
"Hei siapa kau...!" teriak Nara
Pria yang sedang bergelut di dapur berhenti dan menoleh dengan senyum manis ia tunhukan pada Nara yang sedang melotot maruh padanya.
"Kau sudah bangun?" tanyanya dengan lembut
"Hei siapa kau? kenapa bisa masuk ke dalam apartementu?" sentak Nara.
"Astaga...calon istriku yang cantik leboh aik kau mandi dan berganti pakaian dulu, bukankan kau akan menggunakam seragammu itu lagi besok" ucap Rajesh di sertai dengan sindirian halus.
Nara mendengus sebal mendengar penuturan Rajesh, lain yanh di tanya lain pula yang di jawab pria itu, bahkan dengan santainya malah memberi sindirian yang mampu menjatuhkam harga dirinya.
"Jawab pertanyaanku dengan benar, jangan lain yanh ku tanya lain juga yang kau jawab!" ketus Nara.
"Ohh itu, kenapa kau bertanya lagi bukankah kau tau jika aku adalah pemilik seluruh apartement ini? jadi masalah bagaimana aku masuk, kurasa kau pasti sudah tau" jawab Rajesh santai.
Nara melotokan matanya mendengar jawaban Rajesh, jadi pria kaya yanh di kenalnya beberap waktu ini adalah pemilik apartement yang dia huni? lalu seberapa kaya pria ini? bukankah ini adalah adalah salah satu apartement yanh paling bergengsi dan paling mahal di seluruh kota ini bahkan untuk membeli apartement miliknya ini saja kakaknya harus menguras banyak tabungannya.
"Ka...kau pemilik a...apaterment ini?" tanya Nara dengan terbata.
"Benar, jadi kau sudah tau bagaimana caraku masuk?" jawab Rajesh dengan senyum liciknya.
"Tapi tetap saja kau tidak boleh sembarangan masuk dalam apartement orang lain walau kau adalah pemiliknya" sanggah Nara.
"Orang lain bagaimana? kau adalah calon istriku, lalu kenapa kau mangatakan orang lain?" tanya Rajesh dengan kening yang mengerut.
"Hei sudah ku katakan aku bukan calon istrimu!" teriak Nara.
"Sudah, percuma kau membantah karena kenyataanya tidak akan lama lagi kau akan menjadi istriku" jawab Rajesh dengan santai.
Nara hendak menjawab perkataan Rajesh tapi kembali tertelan di tenggorakannya mendengar perkataan Rajesh kembali, "sudahlah lebih baik bersihkan dirimu, aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita" usir Rajesh.
Nara menghentakan kakinya dengan kasar lalu berbalik menuju kamarnya dengan terus menggerutu kesal akan sikap Rajesh yang suka sukanya saja bahkan tidak mau mendengar dirinya.
"Dasar pria itu, suka sekali dia berbuat semaunya! dan apa katanya aku akan menjadi istrinya sebentar lagi? ish jangan harap deh kamu" rutuk Nara.
Rajesh hanya tertawa mendengar gerutuan gadisnya, dia tidak marah malah terlihat lucu dan menggemaskan apa lagi melihat wajah dan bibir Nara yang merepet tanpa henti membuat hasray lelakinya ingin melahapnya, tapi pikiran itu segera di tepis, dia tidak ingin membuat Nara menjauhi dirinya nanti karena kelakuannya.
.
.
__ADS_1
Bersambung...