STORY OF NARA

STORY OF NARA
Part 49


__ADS_3

"Maafkan ibu nak" lirih Naina.


Naina mendekat kini sudah berada duduk tepat di dekat Nara sedangkan Lionel dan Anan memansang wajah datar karena tak suka dengan sikap Naina. Nara sendiri hanya tersenyum, tidak mungkin marah dengan ibunya tapi sebaliknya benar yang di katakan Ibunya jika tidak ada alasan lagi bagi Nara berada disana tapi entah kenapa rasanya Nara sudah merasa betah disana mungkin karena sudah terbiasa selama tiga tahun ini.


"Kenapa ibu sedih, Nara tidak apa apa. Ibu memang benar tidak ada alasan bagi Nara disana tapi jujur Nara sudah senang dan nyaman tinggal disana" jawab Nara dengan senyum yang di buat sebaik mungkin.


"Ibu kenapa tidak bisa menekan egoh sih, sudah ayah bilang biarkan anak kita memilih jalan hidup tapi ibu egois jadinya malah mengungkit luka" sentak Anan yang benar benar tidak suka dengan sikap istrinya.


"Sudah ayah, jangan seperti itu" ucap Nara melerai ayah dan ibunya.


Naina hanya menundukan wajahnya tidak mau mengelak apalagi membela diri karena benar jika dirinya terlalu egois sehingga malah membuka luka terhadap putrinya yang seharusnya dirinya menghibur dan membuar anaknya lupa akan pria tidak bertanggung jawab itu.


"Ayah hanya ingin ibumu tidak egois lagi Princess, ayah ingin ibu menghargai keputusan kalian" kata ayah dengan tegas.


"Sudah yah, jangan seperti ini. ibu mungkin tidak sengaja" bela Lionel.


"Lihat bahkan kedua anakmu mau mangerti tapu ibu sendiri tidak mengerti" cibir Anan.


"Maafkan ibu yah" ucap Naina dengan bibir yang bergetar.


"Jangan bersedih ibu, aku tidak apa apa, aku tau ibu begini karena khawatir padaku tapi benar Nara tidak apa apa kok bu" jawab Nara dengan senyum sebaik mungkin di tampilkan.


"Maafkan ibu" ucap Naina lagi.


"Sudah bu, jangan minta maaf padaku. Aku tidak masalah"


"Mulai sekarang ibu tidak akan melarangmu lagi, kamu bebas memutuskan masa depanmu hanya saja jangan membuat ibu san ayah kecewa"


"Iya bu, terimakasih" ucap Nara dan langsung memeluk ibunya.


Lionel tersenyum Anan merasa terharu tapi masih berusaha untuk menjaga wibawanya agar istrinya benar benar bisa menepati janjinya pada Nara.


"Oh ya, bagaimana dengan pernikahan kakak? sudah sejauh apa persiapannya?" tanya Nara.


"Sudah hampir sempurna, tinggal beberapa saja yang belum" jawab Lionel.


"Iya termasuk kegugupan kakakmu" celutuk Anan.


Seketika tawa pun pecah di antara mereka, benar sekali jika hingga kini Lionel masih saja merasa gugup padahal pesta pesta sudah sering di hadiri Lionel dan bertemu banyak orang tapi entah kenapa acara yang satu ini benar benar mendebarkan baginya.


"Sudah kakak tidak usah gugup, anggap saja hanya pesta rekan bisnis" ucap Nara.


"Memangnya kalau kamu yang menikah tidak akan gugup seperti kakak?" tanya Lionel.


Nara menggelengkan kepalnya membuat Lionel mengerutkan keningnya tidak paham akan arti gelengan adiknya, "geleng kenapa ini?"


"Tidak tau juga" jawab Nara dengan cengirannya.


Lionel mendengus sebal melihat adiknya mengerjai dirinya, sudah pasti akan tetap gugup karena pernikahan merupakan momen yang paling bersejarah bagi setiap orang, maka kegugupan atua nervous itu pasti selalu ada.


"Hehehe kakak, aku mana tau kan belum menikah" ucap Nara membuat lionel semakin memberengut kesal.


"Tapi sok sok an memberi kekuatan sama kakaknya" cibir Lionel.


"Tentu saja itu untuk kebaikan kakaku" jawab Nara memberi pembelaan.

__ADS_1


"Baiklah terimakasih adik kecil" ucap Lionel.


"Kakak aku sudah besar bahkan sudah bekerja jadi jangan memanggil adik kecil lagi" kata nAra dengan bibir yang di rucutkan.


"Tapi bagi kakak kamu masih adik kecil kakak, mau seperti apa pun umurmu dan sedewa aoa pun kamu, kakak akan tetap memanjakanmu seperti dulu agar adik kakak tidak menangis" jawab Lionel membuat Nara terharu.


"Kakak memang yang terbaik, semoga kelak aku bisa dapat seperti kakak dan ayah" ucap Nara dengan senyum manisnya.


"Pasti ada" ucap Lionel membalas pelukan Nara.


"Baiklah Nara ke kamar dulu, udah ngantuk" pamit Nara setelah beberap menit berlalu.


"Iya sayang selamat malam"


"Selamat malam sayang"


"Mimpi indah adikku"


Anan, Naina dan Lionel menjawab bersamaan dengan kata yang berbeda di peruntukan untuk sanga adik.


"Bye semua" ucap Nara setelah mencium pipi ketiga orang yang di cintainya.


Sampai di kamar, wajah ceria yang tadi di tampilkan kini berubah menjadi wajah sendu memikirkan betapa tragisnya kisah cintanya.


Padahal dulu Nara sudah berjanji hanya akan jatuh cinta sekali seumur hidupnya, mempertahankan cintanya bersama Reyhan hingga rela meninggalkan rumah hanya untuk tetap bertahan dengan Lionel, menguras semua tabungan untuk Reyhan bisa mulus dalam perkuliahannya, mengabaikan semua kesukaanya dan membiasakan diri dengan kesukaan Reyhan bahkan menutup hati dan diri untuk pria lain agar tidak berpaling dari Reyhan Dewa cintanya dulu.


Tapi ternyata penghianatan yang didapatkan dari samga pujaan hati. Kadang Nara merasa menyesal memikirkan semua kebodohannya dulu tapi kadang lagi berpikir jika tidak ada gunanya menyesal, bukankah jika seseorang yang siap mencintai maka harus siap menerima semua konsekuensinya kelak?.


Ya Nara harus siap menerima konsekuensi dari keputusannya menerima dan menjalin hubungan dulu, jadi tidak perlu menyesal karena menyesal pun tidak akan bisa merunah kenyataan jika orang yang di pertahankan telah berhianat dengan alasan apa pun itu.


Setetes air mata mengalir begitu saja tanpa bisa di cegah, entah kenapa Nara harus melow karena masalah ini padahal Nara sudah berjanji untuk tidak lagi memikirkan Reyhan tapi jujur saja perkataan ibunya tadi di ruang keluarganya membuat dirinya kembali teringat dengan Reyhan.


Walau dia tau Ibunya tidak sengaja tapi tetap saja itu berhasil membuat dirinya kembali memikirkan Reyhan mantan kekasihnya.


Menghela napanya dengan dalam dan membuangnya dengan perlahan membuang sesak seiring denga helaan napas yang berasal dari tubuhnya.


"Ku harap ini terakhir kalinya aku memikirkanmu Rey, semoga tidak pernah lagi ada yang menginggungmu di hadapanku" harap Nara.


Kring Kring Kring


Di tengah lamunannya terhadap kisah cintanya, bunyi ponsel menarik kembali kesadarannya dan dengan segera Nara meraih ponselnya melihat siapa yang menghubungi dan ternyara itu dari Vivi rekan kerjanya.


"Hallo Vivi" sapa Nara dengan lembut.


"Kamu dimana? kenapa ijin lagi sih" cerca Vivi yang memang sudah tau masalah percintaan Nara sahabatnya yang kandas karena penghiatana.


Awalnya Vivi sama sekali tidak percaya dengan hal itu, Vivi berpikir bagaimana bisa seorang Kanar Saker, wanita cantik yang lembut bagai bidadari di hianati oleh kekasihnya dan memilih menikah dengan gadis lain tapi Vivi juga tidak bisa memungkiri keadaan jika hal seperti itu pasti ada, kehilafan pasti ada di setiap orang.


"Aku di rumah, aku cuti karena mengurus pernikahan kakak ku Vi" jawab Nara


"Ha..kakak kamu menikah? loh kok gak ngundang sih?" kesal Vivi.


"Besok undangnya sampai kok, tenang saja" jawab Nara.


"Sungguh? baiklah aku tunggu ya undanganya, pasti acaranya akan sangat mewah ya" seru Vivi.

__ADS_1


"Ah biasa saja, kakak dan calon itrinya tidak suka acara yang megah" jawab Nara merendah.


"Ckck padahal sanggup biayain kenapa malah gk di buat mewah sih"


"Tidak semua suka mewah Vivi, aku pun tidak suka kemewahan" jawab Nara memberi penjelasan.


"Iya sih, kamu benar. Yaudah deh aku tunggu loh undanganya" kata Vivi.


"Iya tunggu saja, besok akan sampai kok"


"Baiklah aku tutup telponnya bye" pamit Vivi.


"Bye Vi" jawab Nara.


Nara mematikan sambungan telponya tapi baru saja panggilan terputus panggilan dari nomor yang di kenal Nara adalah milik Rajesh langsung tersambung di ponselnga.


Di tempat lain setelah pertengaran antara anak dan ayah itu usai, Rajesh memutuskan untuk masuk ke kamarnya, merebahkan dirinya yang kelelahan. Seketika bayangan wajah cantik Nara terlintas membuat Rajesh mendadak rindu, dengan segera meraih ponselnya dam menghubungi Nara.


Beberapa kali di hubungi tapi nomor yang di tuju selalu saja sibuk membuat sang penelpon mengumpat marah karena gadisnya asyik bertelponan yang entah pada siapa, tidak berhenti sampai di situ Rajesh terus saja menghubungi Nara berkali kali hingga akhirnya terhubung dan helaan napas terdengar dari pria tampan itu.


"Hallo..." sapa Nara dengan suara merdunya.


"Kenapa baru bisa di hubungi, siapa saja yang bertelponan dengamu?" tanya Rajesh dengan nada cemburunya.


Nara mengerutkan keningnya tidak paham kenapa pria itu marah jika dirinya sedang bertelponan, seketikan ide muncul dalam benak Nara dan berpikir mungkin dengan begini Rajesh akan menjauhinya.


"Loh apa masalahmu?" tanya Nara dengan tenang.


"Tentu saja aku tidak suka kamu sibuk bertelponan" ketus Rajesh.


"Tidak ada urusannya denganmi Rajesh, kau bukan siapa siapa jadi tidak berhak kau melarangku bagaimana" tantang Nara.


"Jangan membuatku marah Nara, aku tidak suka kau berhubungan dengan pria lain maka jangan berhubungan dengan pria mana pun, hanya boleh padaku saja!" tekan Rajesh.


Kecemburuan Rajesh sudah menghilangkan akalnya, dia yang belum memiliki status apapun dengan Nara sudah terlalu possesif bahkan dengan lantangnya melarang Nara berhubungan dengan pria lain.


"Jangan melarangku Tuan, lebih baik kau urus saja keluargamu!" sinis Nara.


Tidak habis pikir dengan sikap Nara malam ini, entah apa yang merasukinya secara tidak langsung menyatakan kekecewaanya dengan Rajesh yang sudah memiliki keluarga.


Rajesh sendiri terdiam mendengar perkataan Nara, dia lupa jika saat ini Nara berpikir jika dirinya sudah menikah dan dia tidak bisa menyalahkan Nara karena memang dia yang tidak mau menjelaskan apa apa pada Nara.


"Kenapa diam? baru sadar akan statusmu?" sinis Nara.


Tidak ada jawaban dari Rajesh justru kini dia sibuk dengan pikirannya sendiri, menimang nimang apakah harus di ceritakan atau tetap melanjutkan dramanya.


"jadi dia masih berpikir begitu? aoa sebaiknya aku jelaskan? tapi aku ingin mendapatkannya lebih dulu baru ku jelaskan" batin Rajesh.


"Sudahlah jangan ganggu aku" ketus Nara lalu memutuskan panggillanya membuat Rajesh hanya bisa memgumpat marah.


Nara bersungut sungut tak jelas selepas panggilan terputus, padahal tadi dia berharap Rajesh akan menjelaskan tentang dirinya tapi sepertinya tetap saja pria dewasa itu tidak mau buka mulut membuat Nara sangat kesal dan mendumel tak jelas hingga akhinya kelelahan dak tertidur membawa peradaan kesal menyonsong fajar untuk esok hari.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2