
Rajesh kembali membuat keributan di dapur Nara dan itu sukses membuat sang pemilik risih dan mau tidak mau akhinya bangun melangkah menuju dapur.
"Hei apa yang kau lakukan lagi di apartementku...!" teriak Nara.
Entah kenapa tiba tiba saja Nara merasa sangat kesal pada Rajesh semenjak kejadian pengakuan Rajesh yang ternyata sudah memiliki anak membuatnya ilfeel kepada Rajesh dan tidak mau lagi dekat walau dalam hati kecilnya sebenarnya dia girang.
Rajesh dengan santainya berbalik dan menebarkan senyum hangatnya untuk gadis pujaanya, tapi Rajesh mendapatkan aura tak suka di berikan Nara padanya tapi tidak masalah bagi Rajesh selagi dia bisa membuat Nara menurut walau harus karena paksaan pun tidak apa.
"Kau sudah bangun? kenapa hobi sekali tidur dengan seragammu? apa tidak bisa di tukar dulu baru tidur.? tanya Rajesh perhatian.
"Jangan sok perhatian samaku, lagian kenapa kamu masih disini sih!" ketus Nara.
"Loh kenapa baru keberatan, kenapa gak dari kemarin saja" pancing Rajesh.
Sepertinya pria itu walau tidak pernah memiliki kekasih sekalipun tapi sikap cemburu seorang gadis bisa dia tebak dan dia sangat yakin jika saat ini Nara pun sedang cemburu karena masalah tadi pagi.
"Lebih bain kamu pulang sana, temanai anak dan istrimu!" ketus Nara dengan bibir yang mengerucut.
"Oh gemes banget bibirnya...sangat lucu kalau cemburu" batin Rajesh dengan mengulas senyum manisnya.
"Ikh kenapa malah tersenyum sih..sana pulang" usir Nara lagi.
"Iya nanti aku pulang, setelah makan malam denganmu. Aku rasa putraku memang merindukanku" jawab Rajesh yang sengaja memanasi Nara.
Dan benar saja wajah Nara semakin masam mendengar penuturan Rajesh, dia seakan masih tidak rela dengan keadaan yang terjadi saat ini.
"Dasar pria nyebelin, berani sekali mendekatiku sedangkan dia sudah memiliki anak" gerutu Nara dalam hatinya.
"Benar benar sangat menggemaskan sekali sih gadisku ini, rasanya sudah tidak sabar menjadikan dirinya milikku" batin Rajesh.
"Sudah lebih baik kamu bersihkan diri dulu" kata Rajesh.
Tanpa bicara lagi Nara melangkah kembali kekamarnya membersihkan dirinya meninggalkan Rajesh yang masih menatapi punggunya yang sudah tak terlihat lagi.
Senyum kemenangan terbit di sudut bibir pria tampan itu, merasaka kalau Nara sudah mulai membuka hati untuknya, atau lebih tepatnya mungkin Nara sudah mulai terbiasa dengan hadirnya dirinya dan Rajesh bertekat dia akan masuk semakin dalam di hidup Nara agar gadisnya tidak bisa lagi lepas darinya.
"Aku akan membuatmu bergantung padaku Nara, aku akan masuk semakin dalam di hidupmu sehingga hanya aku dan aku saja yang akan kamu pikirkan" tekat Rajesh.
Tak berselang lama setelah makanan siap di sajikan Rajesh, Nara muncul dari balik pintu kamar dengan keadaan wajah yang lebih fresh dan pakaian rumahan yang tidak membuar aura kecantikannya berkurang, bahkan menurut Rajesh pancaran sinar kecantikan Nara semakin bertambah walau tidak memoles apa pun di wajahnya.
"Aku benar dan tidak salah pilih bidadari hatiku sangat cantik walau hanya pakaian rumahan seperti ini" batin Rajesh.
"Dia kenapa sih melihatku begitu, bikin risih saja. atau jangan jangan istrinya tidak cantik lagi makanya mendekatiku? hem...memang pesona seorang Kanara Saker tidak perlu di pertanyakan lagi" batin Nara berbangga diri.
"Astaga Ya Tuhann....aku kenapa sih, kok malah berbangga karena di sukai oleh suami orang lain, aku tidak mau jadi pelakor..tolong maafkan aku Tuhan, aku bukan pelakor" jerit Nara yang tersadar akan pikirannya..
"Kamu kenapa? pusing kah?" tanya Rajesh dengan mimik yang khawatir melihat Nara menggelengkan kepala.
"Ah..Eh ti...tidak, aku tidak apa apa" jawab Nara kikuk karena tertangkap oleh Rajesh atas sikapnya.
__ADS_1
"Benar kamu tidak apa apa?" tanya Rajesh lagi yang masih ingin memastikan keadaan Nara.
"Benar, aku tidak apa apa" jawab Nara.
"Yasudah ayo kita makan dulu" ajak Rajesh yang hanya di anggukan Nara.
Mereka makan dalam diam, sebenarnya Nara tidak suka dengan situasi ini tapi mengingat dengan tekatnya yang ingin menghindari Rajesh akhinya mempertahankan diri untuk tidak bicara sama sekali dan menjawab beberapa saja jika Rajesh memberi pertanyaan.
"Ada apa dengannya? apa dia masih memikirkan persoalan aku yang katanya duda? tapi biar aja lah kalau dia berpikir begitu, aku ingin dia menyukaiku dengan perasaan sesungguhnya tanpa memikirkan aku seorang duda atau bukan" pikir Rajesh.
"Ish sebal banget sih, ini orang kenapa tidak menjelaskan tentang dia sih, apa aku bertanya saja ya? eh tapi nanti dia kegeeran lagi dan berpikir aku kepo soal dia. Tidak..tidak, aku tidak akan bertanya dan akupun tidak mau peduli" batinnya.
Sepanjang acara makan Nara terus berperan batin antara bertanya atau tidak tentang Rajesh, dan hal itu tidak luput dari penglihatan Rajesh, dia sangat tau kalau saat ini banyak yang berkecamuk dalam hari Nara dan sudah bisa di pastikan itu adalah tentang Rajesh.
Memikirkan hal itu membuat Rajesh geli, dan ide jail kembali terpikirkan untuknya, dia berniat akan membuat Nara semakin uring uringan menduga duga semua tentangnya agar Nara tidak lagi memikirkan mantan kekasihnya.
"Aku akan pergi besok pagi pagi sekali" ucap Rajesh tiba tiba di pertengahan kegiatan makan mereka.
Nara memperhatian Rajesh sejenak kemudian kembali fokus pada makanannya, "pergi saja, kenaa harus mengatakan padaku" jawab Nara cuek.
"Loh loh kenapa malah cuek sih" kesal Rajesh dalam hatinya.
"Aku hanya memberitahukanmu agar kau tidak bertanya tanya nantinya" jawab Rajesh.
"Untuk apa aku menanyakanmu, tidak penting juga"
"Kenapa harus mengatakan lagi padaku, dan kenapa kau selalu memberi alasan putramu sih!" sungut Nara.
"Loh kenapa memangnya? memang putraku adalah alasanya" jawab Rajesh cuek.
"Halahhh bilang saja kau ingin bertemu dengan istrimu tapi tidak bisa kau katakan padaku, sudahlah pergi saja sekarang pun tidak masalah!" ketus Nara.
Rajesh kembali tersenyum melihat aura kecemburan kembali membakar diri Nara, dan dia sangat suka hal ini. Rajesh ingin melihat sejauh mana Nara terus mengingkari keberadaanya.
"Terserah padamu saja, dan aku pergi dulu" ucap Rajesh dan berlalu pergi meninggalkan Nara yang masih di meja makan.
Nara termenung sesaat setelah kepergian Rajesh, ada rasa kosong dirasakan, gusar gelisah bercampur selelah pria yang selalu mengusiknya itu menghilang di balik pintu apartementnya.
"Kenapa terasa kosong?" gumam Nara memengang dadanya.
Nara membereskan piring bekas makanan mereka, rasanya selera makan yang tadinya menghujat kini menguap entah kemana, hanya ada rasa kesal, gelisah dan kehilangan saat ini dirasakannya.
Selesai dengan itu Nara langsung menuju kamarnya merebahkan dirinya menapat langit langit kamar dengan tatapan kosong, entah apa yang di pikirkan gadis itu tapi sudah berulang kali helaan napas berat terdengar darinya.
"Ada apa denganku? kenapa aku tidak rela dengan kenyataan jika dia sudah memiliki keluarga" gumamnya yang kembali menyentuh dadanya.
Lam berpikir akhirnya Nara memutuskan untuk tidur, dia tidak mau terlalu memikirkan dan saat ini dirinya sedang menyelami lautan mimpi untuk menyongsong fajar yang menjadi sahabat salam beraktifitas.
Keesokan paginya, Nara di kejutkan dengan ktukan pintu yang berluang berkali kali membuat Nara yang baru saja berpakaian dinas terpaksa mengurungkan niatnya untuk berdanda dan langkahnya menuju pintu apartementnya.
__ADS_1
Sepanjang kakinya melangkah, hati Nara terus bertanya siapa gerangan yang datang, sempat berharap jika tamu itu adalah Rajesh tapi kenyataan selama ini membuat dia sadar jika benar itu adalah Rajesh maka tidak perlu mengetuk pintu apartement karena pria tampan itu memiliki kunci cadangan apartementnya.
"Siapa sih yang bertamu" gerutu Nara.
Nara mengerutkan keningnya melihat seorang wanita paru baya berada di depan pintu apartementnya dengan rantang yang berada di tangan kanannya, "siapa?" tanya Nara dengan kening yang masih mengerut.
"Ini non Nara kah?"
"Iya saya sendiri"
"Saya bi ijah non, mau antar makanan titipan Tuan RF"
"Tuan RF?" ulang Nara.
"Iya non, Tuan Muda Rajesh Fernandese" kata B Ijah melengkapi nama majikannya.
"Loh baru tau namanya begitu" jawab Nara yang memang baru tau nama panggilan seperti itu.
"Kami dan semua orang memang mengenal dengan sebutan itu nona Muda, karena katanya itu nama kebesarannya"
"Ohh....lalu kenapa harus bawa rantang?"
"Di titip Tuan Muda, katanya Nona harus memakannya dan ada surat juga katanya" kelas Bi Ijah.
"Baiklah terimakasih ya Bi" ucap Nara dengan senyum hangatnya.
"Sama sama Non, saya pemit dulu ya" pamit Bi Ijah.
"Oh iya silahkan Bi, sekalai lagi makasih ya" jawab Nara.
"Baik Neng sama sama"
Nara membawa masuk rantang makanan yanh di bawakan asisten rumah tangga Rajesh, kebetulan sekali memang Nara belum memasak dan berkah makanan di bawakan untuknya jadi tidak perlu tergesa lagi untuk beres beres diri.
Nara mengambil surat kecil dari Rajesh yang di selipkan di tengah penutup rantang kemudoan membaca isinya.
"Selemat pagi calon istri, maaf tidak menemuimu karena aku harus berangkat pagi sekali, ada keperluan mendesak. Kamu sarapan ya, itu buatan aku. Love you calon istri...."
Bukannya sengan Nara malah merasa kesal sendiri karena Rajesh tidak datang ke apartementnya seperti beberapa hari ini, dan lagi entah masalah terdesak apa yang si hadapi Rajesh sehingga pergi sepagi ini dan rak sempat lagi berpamitan padanya.
Nara kembali ke kamarnya merapikan dandanyan barulah nanti dia akan makan rantang dari Rajesh, karena tidak bisa di pungkiri kalau masakan Rajesh selama ini memang sangar lezar bahkan memanjakan lidah Nara membuat dirinya mulai terbiasa dan rasa malas tumbuh dalam dirinya terbukti pagi ini tidak masak dan beruntungnya karena asistrn rumah tangga Rajesh membawakan sarapan jadi tidak terlalu berburu waktu.
Selesai dengan itu Nara memakan sarapannya walau tidak bersemangat karena dia makam hanya sendiri, terasa sangat sepi dan hening. Lama duduk dan menandaskan makananya Nara melesat pergi meninggalkan apartementnya menuju sekolah tempat dirinya bekerja.
.
.
Bersambung...
__ADS_1